 |
| Info Intim |
|
Orgasme, sebaiknya pria belakangan
satulelaki.com - Banyak lelaki yang berusaha menunda ejakulasi agar bisa orgasme
bersama-sama dengan pasangannya. Namun, mencari timing agar bisa orgasme bersama bisa
bikin 'kecewa'. Bagi perempuan, dia seperti dipaksa berpikir kapan dia harus orgasme.
Padahal, dia sendiri sedang asyik merasakan nikmatnya berhubungan seks. Konsentrasinya
pecah; antara menikmati aktivitas seks dan upaya mencari timing yang tepat dengan lelaki
pasangannya.
Ketika orgasme bareng, kedua pasangan sedemikian tersedot oleh kenikmatan masing-masing
yang luar biasa. Pada menit pertama, perempuan masih bisa menikmati perhatian penuh lelaki
pasangannya. Namun, pada menit berikutnya semua itu lenyap, karena sang lelaki sudah lemas
tergeletak. Semuanya selesai setelah masing-masing tersedot oleh sensasi kenikmatannya
sendiri.
Begitu pula ketika lelaki merasakan nikmatnya orgasme, dia seperti kehilangan kesempatan
untuk melihat perempuan pasangannya tengah dilanda kenikmatan. Ketika orgasmenya tiba,
perhatian sang lelaki tersedot oleh intensitas kenikmatan yang dirasakannya sendiri,
sehingga kurang menghayati sepenuhnya ekspresi kenikmatan seksual dan perasaan cinta yang
dirasakan wanita pasangannya.
Sebaliknya, jika lelaki mampu menunda orgasmenya (ejakulasi), dia dapat membantu sang
wanita untuk semakin melepaskan kontrol dirinya. Ketika wanita mencapai orgasme, sang
lelaki dapat sepenuhnya menikmati kesenangan yang dirasakan wanita pasangannya. Kemudian,
setelah wanita orgasme, dia sendiri bebas untuk sepenuhnya menghayati kenikmatan yang
dirasakan saat dirinya ejakulasi.
Jadi, seolah-olah terjadi dua kali orgasme, bukan sekali. Kedua pasangan, dengan demikian,
merasakan orgasme masing-masing sepenuhnya. Jika lelaki mengalami orgasme lebih dulu,
perhatian perempuan akan bercabang dalam mencapai gairahnya yang perlahan-lahan itu.
Kemudian, kalaupun perempuan bisa mencapai orgasme, lelaki tak akan sepenuh hati dalam
menghayati orgasme pasangannya karena dia belum bergairah lagi.
Ada dua keuntungan jika orgasme tidak terjadi secara bersamaan. Di tahap pertama, sang
lelaki masih mendapatkan kenikmatannya tetapi tidak berorgasme. Kemudian, di tahap kedua,
sang isteri tahu bahwa waktu selebihnya adalah miliknya hingga tiba pada saat orgasme.
Kadang-kadang wanita tidak selalu mengharapkan orgasme dalam setiap hubungan seks. Tetapi
karena sang suami meluangkan waktunya tanpa membebani harapan isteri, maka sang isteri
bisa terpuaskan. Setelah seorang lelaki mendapatkan kenikmatannya di tahap pertama, maka
ketika gilirannya tiba, sang wanita sudah tentu merasa berhak menerima kenikmatannya juga.
Tanpa perasaan berhak ini, sebagian wanita akan sulit mencapai orgasme [hnl]
|
|
|
 |
 |
|
 |