Masa Kecil-ku
Masa kecil adalah masa yang paling indah
dalam ukuran waktu itu karena aku bisa bermain kesana kemari meski harus dibatasi dan
diawasi, aku lahir di desa kecil tepatnya di Randublatung 25 Km dari kota minyak Cepu
Blora Jawa tengah. Aku senang bermain di kebun yang waktu itu penuh sekali dengan buah dan
tanaman yang lain seperti cabe, mangga, jambu dan lain-lain.
Apalagi sewaktu Iduel Fitri tiba semua
saudaraku datang yang barang tentu merupakan pertemuan yang menyenangkan karena aku bisa
bermain dengan saudara sebayaku, apalagi dengan suasana desa yang sejuk dan damai membuat
hatiku tentram dan gembira.
Untuk ukuran anak-anak aku waktu itu suka
bermain air dan api kalau binatang aku suka melihat ular bahkan waktu itu aku pernah
menangkapnya. Untuk air biasanya aku buat macam pancuran dimana waktu itu ada botol bekas
yang aku lubangi dan aku sambungkan dengan selang yang kemudian aku taruh ditempat yang
agak tinggi dan aliran air berpindah dari satu botol ke botol yang lain sampai-sampai lupa
makan kalau udah asik bermain, air juga aku buat sebagai ukuran sewaktu aku bermain
sepeda, ceritanya air itu aku masukin ke botol dan botol tersebut aku lubagi kecil dan aku
beri garis-garis semacam alat ukur yang seandainya air itu habis berarti lama waktu
bersepeda udah selesai dan itu aku berlakukan pada teman sebayaku dengan membayar karet
sebagai penggantinya , api aku buat sebagai penerang sewaktu aku membuat semacam layar
tancap dimana kertas buku aku sambung dengan lem dan penyangganya aku pakai bambu tusuk
sate yang diantaranya aku kasih benang sebagai penggeraknya dimana orang-orangan akan aku
letakkan di benang itu dan bisa aku gerak-gerakkan karena adanya rol bekas benang dan
citra bayangan akan nampak di depan kertas tersebut yang aku anggap sebagai layarnya oleh
karena adanya pancaran api lilin sehingga nampak layaknya kalau kita melihat wayang dimana
dibelakang layar dapat dilihat bayangan wayang kulit tersebut digerakkan oleh dalangnya.
Memang masa-masa tersebut pinginnya tahu aja,
sampai-sampai aku bersama teman sebayaku mencari cecak di pasar yang cara menangkapnya
dengan membuat macam kelabang-kelabangan dari karet atau pakai lidi sebagai mata panahnya
dan busurnya terbuat dari batang lidi yang dibentangkan dengan karet. Wah waktu itu dapat
cecak banyak, sampai-sampai ada ide gila untuk memakannya dan itu aku lakukan dengan
terlebih dahulu membakar cecak itu sampai aku anggap matang dan baru aku makan, gila
memang.
Ada yang lebih gila lagi mungkin untuk ukuran
waktu itu yaitu memakan karet dimana karet tersebut aku potong kecil-kecil lalu aku makan
seperti layaknya makan mie goreng, enggak tahu ya ternyata aku nggak apa-apa tuh !!!. Dan
aku berpura-pura kesurupan setelah menahan napas sekian detik aku berusaha untuk dapat
mengangkut teman-temanku yang naik di bak sampah bayangkan bak sampah itu ukurannya 10
kali ukuran badanku waktu itu dan diatasnya teman-teman sebayaku naik diatasnya sekitar 4
sampai 5 anak lalu aku berusaha memutar dan menarik bak tersebut sampai berjalan,
melelahkan memang tetapi sungguh menyenangkan karena aku merasa puas.
Sungguh hal yang tak mungkin terlupakan,
memang lingkungan mempengaruhi segalanya, waktu itu temanku mengajakku untuk berenang di
sungai atau comberan wah tempatnya jauh lagi dan aku naik angkutan bak dengan cara
mencegat mobil pick up kosong dan aku ikut naik tetapi sewaktu akan turun aku terjatuh dan
terseret sampai kakiku terluka dan sejak itu aku kapok untuk tidak naik lagi. Bersambung
..
|