 |
| Info
Teknologi |
|
Semakin sulit menjaga hak cipta di internet
satulelaki.com – Di masa depan, internet akan semakin berkembang menjadi suatu arena di mana segala sesuatunya gratisan, bukan komersial. Salah satu contohnya adalah Napster, perangkat lunak yang bisa didownload secara gratis dan menjadi wahana penyebarluasan segala sesuatu yang bersifat digital, termasuk musik.
Akibatnya, hak cipta menjadi terancam karena seorang pemilik lagu-lagu karya Al Jarreau misalnya, bisa dengan mudah melakukan transfer lagu itu ke berapa pun titik yang ia inginkan di seluruh dunia.
Ini menambah panjang daftar produk yang bisa dengan mudah ditransfer dan dipindahtangankan secara digital melalui berbagai sarana di internet, setelah sebelumnya teks dan gambar juga mengalami nasib serupa.
Napster sendiri kini tengah menghadapi ancaman gugatan dari sejumlah produser lagu kelas dunia, namun mereka berkilah bahwa netters-lah yang menyalahgunakan fungsi itu, sementara perangkat itu sendiri bebas nilai, yang sedari awal diciptakan untuk mempermudah pertukaran segala sesuatu yang dikemas secara digital.
Napster, menurut Matei Mihalca, kepala riset Internet Merrill Lynch di Hong Kong, kabarnya sangat populer di Amerika dan digunakan oleh lebih 70% mahasiswa di sana, sebagaimana Gnutella dan Freenet yang fungsinya kurang lebih sama juga mendapatkan popularitas serupa. Mereka berlaku seperti search engine, mencari, menemukan, memindahkan. Semuanya dalam hitungan detik saja.
Tak heran jika para seniman merasa terancam dengan kehadirannya. Itu dari sudut pandang seniman dan para pencipta.
Dari segi pengguna internet, wahana wira-wiri itu sudah berubah menjadi sebuah perpustakaan raksasa, atau suatu database mondial. Isinya bisa diakses oleh siapa saja, dari mana saja, secara anonim, dengan cara apa saja.
Karakter internet itu sendiri sedari awal adalah gratisan, dalam arti semula dirancang menjadi sarana komunikasi pertahanan Amerika yang tak bisa dihentikan oleh siapa pun, bahkan oleh perang nuklir sekalipun.
Kemudian berubah menjadi sarana pertukaran bahan antara berbagai universitas di Amerika. Belakangan, sejak era 1990-an, internet semakin menemukan bentuknya yang komersial.
Sejumlah penyedia content seperti (Asia) Wall Strett Journal dan The Street.com bahkan bisa hidup dari jasa menjual contentnya.
Kembali ke Napster, inilah yang dinamakan revolusi internet, memisahkan content dari mediumnya. Kalau dulu membeli lagu berarti membeli kaset dan CD-nya sekaligus maka sekarang mendapatkan sebuah lagu –entah membeli atau bukan-- tak mesti ada hubungannya dengan CD atau kaset selaku mediumnya.
Untuk transaksi bisnis dan perdagangan, internet mendatangkan keuntungan bagi kerumitan birokrasinya, dengan menyederhanakan ‘transaction costs’ atau efisiensi.
Pebisnis bisa mencari tahu peluang investasi di Riau, misalnya, dengan satu kali klik ke sebuah Gelombang Otak tentang daerah itu: Mencari, menemukan, mendapatkan, melakukan tawaran dan perjanjian didapatkan. Hal-hal itu bila dilakukan tanpa melalui internet akan memakan biaya dan waktu. [mgh]
|
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |