 |
| Info Intim |
Penderita Disfungsi Ereksi Meningkat
Jumlah penderita disfungsi ereksi (DE) terus meningkat. Makin tinggi usia, makin banyak
jumlah penderitanya. Mereka yang berobat ke RSCM berusia sekitar 40 hingga 60 tahun. Hal
ini diutarakan Dr Akmal Taher dan hasil penelitian yang dikeluarkan Subbagian Urologi
RSCM.
Menurut Taher, jumlah terbanyak ditemukan pada usia 55-57. Di Amerika penderita DE sampai
10 juta. Sedangkan di Indonesia jumlah penderita sekitar 6 juta penderita. Meski demikian
jumlah yang datang berobat ke klinik baik di Amerika maupun Indonesia perbandingannya
sangat jauh. "Banyak pasien yang enggan berobat karena beberapa alasan. Biasanya
karena malu, pengobatan tidak efektif, merasa DE disebabkan pikiran dan konsekuensi dari
usia lanjut," ujar Taher.
Di samping itu tentu saja masih banyak mitos yang melingkupi DE sehingga orang berpikir
salah kaprah tentang itu. Di antaranya masturbasi diidentifikasikan sebagai penyebab DE.
Aktivitas seksual tidak baik, sirkumsisi meningkatkan fungsi ereksi, jamu-jamuan mengobati
DE. Dan yang mengkhawatirkan masih banyak beranggarapan bahwa itu bukan penyakit.
Padahal disfungsi ereksi terjadi jika keluarnya cairan akibat rangsangan hormon dan dampak
psikis. Ada gangguan syaraf akibat penyakit diabetes, alkoholik dan trauma tulang
belakang. Disfungsi ereksi juga disebabkan oleh pembuluh darah yang tercemar karena
diabetes, merokok dan kolesterol.
Taher menyarankan sebelum pasien berobat, sebaiknya berdiskusi dulu dengan isteri atau
pasangannya. Bicarakan faktor risikonya dan minta diterangkan pada staf medis soal tujuan
pengobatan serta pilihan pengobatan yang paling tepat.
Untuk itu ada beberapa pilihan pengobatan yang bisa dilakukan pasien DE. Pengobatan yang
biasa dilakukan di Indonesia antara lain dengan silderafil yang lebih populer dengan
sebutan viagra.
Sedangkan di Amerika pengobatan dengan pompa vakum menjadi pilihan favorit. Bisa juga
dengan memasukkan obat melalui lubang saluran pembuangan air seni. Atau dengan suntikan
intrakorpus kavernosum yaitu injeksi di bagian pangkal penis. Sebagai alternatif terakhir
boleh dengan operasi penis (prostesi).
Kalau pasien DE sudah melakukan pengobatan seperti tersebut di atas, dokter akan melakukan
konsultasi untuk mengetahui seberapa jauh pengobatan harus dilakukan. Oleh karena itu
dokter harus mengetahui parameter kesembuhan pasien. "Setelah beberapa waktu dokter
akan menanyakan berapa persen sukses melakukan senggama. Apakah pasien puas (orgasme) saat
bersenggama. Demikian pula untuk pihak istri, apakah isteri lebih puas. Selain itu perlu
diketahui pula adakah efek samping dan angka droup outnya," papar Taher
menjelaskan.(nk/rh)
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |