 |
| Info Islami |
Belajar Dari Kekalahan
Memang , dapatlah di katakan bahwa, sumber kehancuran dan kejatuhan ummat Islam nyaris
sama: Cekcok tentang harta benda dan kekuasaan itu. Mulai sebelum Islam berdaulat hingga
menguasai sebagian wilayah dunia penyebabnya itu-itu juga; Perebutan kekuasaan dan harta
dunia. Apa yang kita saksikan hari ini di Pakistan, Banglades, Arab Saudi, dan di
negara-negara Islam di Timur Tengah, tetap saja picuan konflik berhulu dari harta dan
kekuasaan. Pun nampaknya tidak terkecuali juga apa yang terjadi di Tanah Air tercinta kita
sebagai penghuni Islam mayoritas di dunia, sumbernya juga sama. Memang kita telah kalah
telak dalam perolehan suara pemilu lalu di bandingkan dengan partai nasionalis dan
sekuler. Kita semua terharu dan getir. Seiring dengan itu, di balik kegetiran dan
kecemasan, kita berdoa kiranya ada jalan ajaib guna mengurangi rasa duka dan
luka. Alhamdulillah di tingkat parlemen para elit kita (Islam) mampu mempengarui suhu
politik dan dapat bermain cantik hingga bisa mengantar Gus Dur ke pucuk Pimpinan Nasional.
Kita telah kompak dan hasilnya, kita sedikit bisa tersenyum. Di sana ada Salawat
Badar, ada lagu Indonesia Raya dan ada linangan air mata haru. Tapi setelah
itu tali itu nampak kendur kembali.
Sebenarnya Allah sudah memberi pelajaran yang cukup mahal, melalui aneka pertempuran dan
kekalahan. Sayangnya kurang dihargai. Peristiwa kekalahan kurang diperhatikan sebagai
pelajaran. Lihatlah, keruntuhan Daulah Ustmaniyah dan Abbasiyah itu, penyebabnya itu-itu
juga, sebagaimana pada perang Uhud dan Hunain. Intinya ya kekuasaan dan harta benda itu.
Tragedi di perang Uhud diabadikan oleh Allah swt bukanlah pelajaran yang percuma. Itulah
peristiwa sejarah yang sepatutnya kita rekam secara baik. Tentu bukan sebuah peristiwa
`kebetulan' sehingga drama menegangkan yang nyaris mengorbankan nyawa Rasulullah saw Allah
tampilkan. Firman-Nya:
Dan sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, membunuh mereka dengan
izin-Nya, sampai pada saat kamu lemah dan berselisih paham dalam urusan itu ( yaitu urusan
pelaksanaan perintah Nabi untuk bertahan ditempat) dan mendurhakai Nabi sesudah Allah
memperhatikan kepadamu apa yang kamu sukai (kemenangan dan harta rampasan). Di antara kamu
ada yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah
memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu. Dan sesungguhnya Allah telah memaafkan
kamu. Dan Allah mempunyai karunia (yang dilimpahkan)atas orang yang beriman. (QS.Ali
Imran: 152)
Terjadinya perang Uhud adalah sebuah misteri. Mengapa peristiwa yang tragis ini terjadi
justru pada saat Rasulullah masih berada di tengah-tengah mereka? Beliau sendiri yang
langsung memimpin peperangan. Rasanya sulit dipercaya, bila hal itu terjadi. Untunglah
Allah telah membuka tabir persoalan sebenarnya. Melalui firman-Nya, kita dapat mendeteksi
bahwa pokok persoalan ini adalah karena masih adanya di antara mereka yang lebih mencintai
dunia ketimbang akhirat. Di antara pasukan perang yang gagah perkasa masih menyelinap
jiwa-jiwa yang ingin merebut harta benda.
Sikap lebih mencintai dunia itulah yang menyebabkan dilanggarnya garis strategis
Rasulullah di mana pasukan yang ditempatkan di salah satu bukit meniggalkan posnya sehinga
dengan cepat diambil alih musuh. Akibatnya sangat fatal. Detik-detik itu nyaris membuat
perjalanan Islam berakhir, ummat Islam telah berada pada posisi tersudut.
Nabi sendiri sudah terjepit. Dalam sejarah dicatat, bahwa ada dua pergelangan besi yang
bersarang di wajah Nabi, sehingga pada waktu dicopot tanggallah giginya. Demikian pula
ketika gelang satunya diambil, rontok pula gigi Nabi. Bukan itu saja, batu yang
dilemparkan kepada Nabi, oleh karena besarnya dan saking kerasnya, mengakibatkan Nabi
roboh. Kepala dan mulut beliau yang mulia terluka, hingga darahnya membasahi dadanya.
Begitu kritisnya kondisi hingga Nabi bersabda: Bagaimana mungkin suatu kaum
memperoleh kejayaan, mereka mengalirkan darah diwajah Nabinya yang mengajak mereka ke
jalan Allah.
Yang menambah tegangnya situasi karena serangan musuh dipusatkan pada diri Rasulullah.
Kendatipun ada sepuluh sahabat ternama segera mengelilingi Nabi, tapi kondisi cukup gawat.
Para sahabat tadi ada yang terobek-robek tangannya karena menahan anak panah yang
dibidikkan kepada Nabi. Ada pula yang sempat keluar biji matanya.
Dalam kondisi seperti itu dinas intelejen musuh segera menyebarluaskan berita bahwa Nabi
terbunuh. Berita ini sengaja diekspose kaum kafir guna menurunkan moral pasukan Islam.
Syukurlah, Allah masih melindungi Rasul-Nya. Kita tidak bisa membayangkan bagaimana
jadinya kalau waktu itu betul-betul Nabi terbunuh. Hanya karena kurangnya disiplin jamaah
(pasukan Islam), akibat terpengaruh pada harta rampasan, peristiwa tragis itu terjadi.
Sungguh salah besar bila ummat Islam sekarang tidak mengambil pelajaran yang berharga ini.
Jika kita menginginkan keutuhan ummat Islam di masa-masa mendatang, peristiwa ini tidak
boleh diabaikan. Beberapa hikmah daripadanya:
Pertama, ternyata di saat Nabi masih hidup dan berada di tengah-tengah kaum muslimin,
pengaruh harta sangat luar biasa. Harta punya daya pikat dan daya bius yang dapat
melunturkan disiplin dan memporak-porandakan perjuangan, yang nyaris mengundang kehancuran
total.
Kedua, mutlaknya ditempuh langkah antisipasi menghadapi kemungkinan tersebut agar jangan
sampai terjadi berulangkali. Sebab, telah terbukti daya bius harta terhadap perjuangan
bagi para pejuang ummat Islam.
Ketiga, Ancaman yang paling mutlak harus diperhitungkan baik-baik bukan yang datangnya
dari luar, akan tetapi yang datangnya dari dalam. Sejarah menjadi saksi berapa pun
besarnya ancaman yang didatangkan dari luar dapat dibendung dengan pengerahan kekuatan
secara maksimal, akan tetapi ketika ancaman itu dalam bentuk harta, kaum muslimin sering
tergelincir.
Keempat, bahwa ternyata harta bisa merontokkan disiplin, serta merusak iman, sehingga
lewat harta, malapetaka itu datang tiba-tiba. Akibat keasyikan dan mabuk dengan harta
sehingga peringatan-peringatan yang ada tidak lagi memberi manfaat. Hati menjadi gelap.
Peluang yang terlewatkan
Sudah sering sekali kesempatan untuk memimpin dunia diberikan Allah kepada ummat Islam,
akan tetapi kita kurang berhasil memanfaatkannya, bahkan kita sia-siakan atau
disalahgunakan. Akibatnya, berlakulah hukum sejarah: Siapa yang siap, dialah yang
berkuasa. Artinya, Allah akan memberikan tampuk kekusaan kepada mereka yang telah
mampu/siap mengatur jagad ini. Itulah wujud Maha Pengasih-Nya. Mereka telah berusaha
sungguh-sungguh, maka mereka layak memperoleh apa yang telah mereka inginkan. Maka bila
kerusakan yang terjadi tidak selayaknya ummat Islam menyalahkan mereka.
Anehnya justru sikap sebagian ummat Islam. Mereka sering kali keliru, menganggap bahwa
kekuasaan itu akan diberikan-Nya secara cuma-cuma. Direncanakan tidak direncanakan, kalau
Allah menghendaki, pasti kekuasaan itu akan tiba di tangan. Benarkah ungkapan ini?
Bukankah sebuah pohon yang kokoh dilahirkan dari kecambah yang begitu lemah? Kemudian
ditempa oleh waktu dan kesabaran; digoyang oleh angin dan diancam serangga nakal?
Semestinya tidak ada pangku tangan. Peluang yang terbuka segera disergap dengan sigap. Ada
upaya-upaya menanam, merawat, memerangi hama dan benalu, termasuk siap menantang badai.
Malah mereka kadang menganggap kekuasaan itu sebagai warisan yang abadi. Bila sudah
waktunya, `hadiah dari langit' itu pasti tiba juga. Sehingga tidak perlu bersiap
menghadapi kemungkinan yang bakal terjadi, menyongsong perguliran tampuk kepemimpinan.
Kita kurang menyiapkan generasi Islam secara matang, kita belum memiliki apa yang
dikatakan sebagai Ahsanu amala (baik strateginya, sistemnya, kebersamaannya dsb). Secara
jujur kita memang telah memiliki banyak sarjana, namun adakah mereka telah memiliki
kejujuran, integritas dan loyalitas seperti yang diinginkan Islam: yakni mereka yang
memiliki cita-cita, pandangan, harapan dan juga hidup matinya untuk kejayaan dan memuliaan
Islam saja bukan untuk yang lain? Itulah barang kali yang belum kita miliki dan itulah
pula barangkali yang membuat Tuhan menunda turunnya pembelaan terhadap mereka.
Wallahu'alam.
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |