 |
| Opini |
|
Betulkah Amien Rais Berambisi Jadi Presiden?
Teman-teman asal Indonesia yang kini berada di Perth, Australia, makin gencar mempertanyakan manuver-manuver politik Amien Rais yang tampaknya sering menyerang pemerintahan Abdurrahman Wahid. Kecenderungan ini saya tangkap dari suatu percakapan dengan mereka di hari pertama saya menginjakkan kaki di Perth hari Minggu 25 Juni 2000 lalu. Mereka mempersoalkan sikap Amien dan beberapa elit politik lainnya yang -- menurut pandangan mereka -- terlalu cepat bereaksi atas setiap rencana kebijakan Gus Dur. ''Gus Dur belum melangkah, sudah dikritik. Kapan ia dapat bekerja, kalau begitu terus?'' tanya mereka. Sebagian dari mereka juga percaya atas pernyataan Gus Dur bahwa Amien sebenarnya sangat berambisi menjadi presiden, sehingga melakukan manuver-manuver yang dapat dinilai 'overdosis'.
Skenario Amien
Ihwal ambisi Amien ini, beberapa hari sebelum berangkat ke Australia, saya juga mendengar beberapa tokoh yang menyampaikan dugaan tentang skenario Amien ketika dulu mencalonkan Gus Dur menjadi presiden. Dikatakan bahwa dulu Amien menawarkan jabatan presiden kepada Gus Dur semula hanya untuk memancing Gus Dur agar menyatakan tidak mau dan -- seperti layaknya orang timur -- justru sebaliknya Gus Dur mempersilakan Amien untuk menjadi presiden. Amien, menurut skenario ini, menggunakan cara Solo, yakni menawarkan sesuatu agar orang yang ditawari merasa rikuh dan menyerahkan apa yang ditawarkan itu kepada dirinya. Tapi sialnya ternyata Gus Dur mau menerima tawaran Amien itu.
Skenario lainnya mengatakan bahwa Amien mencalonkan Gus Dur ketika itu dengan perhitungan bahwa Gus Dur akan menyatakan berhenti di tengah jalan dengan alasan kesehatan; dan pada saat itu jabatan presiden bisa diambil alih atau berpindah kepada Amien.
Itulah analisis politik tentang skenario yang diduga dibuat oleh Amien Rais ketika dulu mencalonkan Gus Dur sebagai presiden. Intinya, Amien sejak semula telah berambisi menjadi presiden dan untuk itu dia menyusun skenarionya sendiri. Apalagi Gus Dur sendiri pernah mengatakan bahwa Amien pernah mengutus Fuad Bawazier agar Gus Dur mendukungnya menjadi presiden.
Meskipun tudingan dan tuduhan itu dibantah habis-habisan oleh Amien, namun dugaan tentang skenario seperti itu tidak dapat dipersalahkan begitu saja, sebab manuver-manuver Amien selama ini memang kerap kali dianggap 'overdosis' dan memperkuat kepercayaan para tokoh politik atas skenario seperti itu.
Pertemuan Radisson
Tetapi terlepas dari soal benar-tidaknya sekarang ini Amien berambisi jadi presiden, saya punya catatan dari pertemuan tanggal 4 Juli 1999 di Hotel Radisson Yogyakarta, saat nama Gus Dur dimunculkan sebagai calon presiden yang 'sungguh-sungguh' oleh Amien Rais. Pada malam itu saya ikut dalam pertemuan dengan Amien Rais di Hotel Radisson Yogyakarta, yang memutuskan pencalonan Gus Dur sebagai alternatif dari dua calon yang dianggap sama-sama berisiko tinggi -- yaitu BJ Habibie dan Megawati Sukarnoputri.
Dalam pertemuan itu yang sangat saya ingat, selain Amien, hadir juga Nurmahmudi Ismail, Fuad Bawazir, Tanzil, dan dua orang tokoh Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Ada juga Busyro Muqoddas, dekan Fakultas Hukum Universitas Islam Indonesia yang juga aktivis Muhammadiyah. Saya sendiri datang bersama Chairil Anwar dari Pusat Pengkajian Strategi dan Kebijakan (PPSK), suatu lembaga studi yang didirikan oleh Amien Rais.
Singkatnya, ada kesamaan pandangan bahwa dari dua calon yang menguat ketika itu -- yaitu BJ Habibie dan Megawati -- sama-sama berisiko tinggi. BJ Habibie akan ditolak keras oleh orang-orang PDI Perjuangan, sedang Megawati akan ditentang oleh kalangan Islam. Namun Amien bersama parpol-parpol Islam akan mendukung BJ Habibie asalkan calon ini bersedia mengemban agenda reformasi, terutama membawa Soeharto ke pengadilan.
Sayangnya, menurut Amien dan Nurmahmudi yang telah bertemu BJ Habibie, pada saat itu BJ Habibie tidak menunjukkan minatnya untuk membawa Soeharto ke pengadilan. Bahkan BJ Habibie mengatakan bahwa jabatan presiden bukan segalanya bagi dirinya. Pernyataan ini diartikan sebagai penegasan bahwa BJ Habibie lebih memilih tidak didukung untuk menjadi presiden daripada harus membawa Soeharto ke pengadilan.
Baru-baru ini saya juga mendapat konfirmasi dari Prof Ismail Suny bahwa BJ Habibie memang pernah menyatakan bahwa ''jabatan presiden bukan segalanya bagi dirinya'', yang oleh Ismail Suny diartikan juga sebagai keengganan BJ Habibie untuk memproses Soeharto secara hukum.
Atas sikap Presiden BJ Habibie yang seperti itu, maka Amien Rais (dan kami) ketika itu memunculkan nama Gus Dur sebagai calon alternatif. Alasan kami, Gus Dur adalah tokoh yang diterima oleh hampir semua kalangan. Meskipun secara fisik Gus Dur bermasalah, tetapi pada waktu itu dipergunakan dalil bahwa ''jika kita menghadapi banyak pilihan darurat, maka kita harus memilih tindakan darurat yang risikonya paling kecil''. Ketika itu, memilih Gus Dur memang telah dirasakan sebagai darurat, namun setelah dikalkulasi ternyata risikonya paling kecil.
Amien sendiri saat itu menyatakan dengan tegas bahwa dirinya 'tahu diri' untuk tidak nekat menjadi calon presiden. Sebab partainya, Partai Amanah Nasional (PAN), hanya mendapat suara tujuh persen dalam pemilu yang sudah demokratis. Kami sendiri ketika itu mendukung Amien untuk menjadi Ketua DPR saja. Dan kami bersepakat untuk secara tulus menggalang dukungan melalui berbagai saluran bagi tampilnya Gus Dur sebagai presiden.
Tak lama setelah itu, muncullah kekuatan Poros Tengah yang merupakan kekuatan politik utama pendukung Gus Dur. Poros Tengah menghimpun kekuatan-kekuatan politik yang tadinya akan membentuk Fraksi Islam, namun nama Fraksi Islam ditolak oleh Amien Rais sebab PAN yang dipimpinnya telah menyatakan dirinya sebagai partai inklusif.
Bersatunya dua tokoh
Saya tidak tahu persis pikiran dan agenda politik Amien Rais sekarang ini. Tetapi kalau dikaitkan dengan awal gebrakan politiknya ketika mencalonkan Gus Dur, saya sangat yakin bahwa Amien tidak punya skenario tersembunyi untuk -- pada suatu saat -- mengambil alih jabatan presiden.
Ketika itu dukungan Amien sangat tulus dan saya yakin Gus Dur tahu itu. Bahkan kita semua sangat bergembira dan terharu bahagia ketika pada SU-MPR 1999 Amien terlihat sangat akrab dengan Gus Dur. Amien menyebut Gus Dur sebagai 'kakak', sedangkan Gus Dur menyatakan akan bergandeng tangan dengan Amien untuk membela gerakan Islam.
Masih tergiang di telinga kita, ketika dalam suatu makan malam di sebuah warung kakilima menjelang pemilihan presiden, Gus Dur mengatakan bahwa ''siapa pun yang menghalang-halangi gerakan Islam akan berhadapan dengan kami''. Setelah itu kita mencatat perkembangan yang sangat menggembirakan, yakni saling mendekatnya anak-anak muda Nahdlatul Ulama dan anak-anak muda Muhammadiyah melalui berbagai program bersama. Sayangnya sekarang ini suasana seperti itu sudah mulai meredup.
Kita sangat mendambakan dan merindukan bersatunya Gus Dur dan Amien Rais. Kita sangat berharap agar keduanya tidak mudah diadu domba oleh orang-orang yang sebenarnya ingin keduanya hancur karena saling hantam. Banyak yang meyakini bahwa kerukunan keduanya tidak kalah pentingnya jika dibandingkan dengan kursi presiden dan ketua MPR yang kini mereka duduki. Namun, siapa yang bisa menyadarkan mereka tentang ini?
Penulis :Mohammad Mahfud MD
|
|
| Pilihan
Berita Lainnya |
Pilihan Berita :
|
|
 |
 |
|
 |