Istiqamah di Atas Tauhid
Oleh:
Azhari Asri

Sesungguhnya orang-orang
yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah.” Kemudian mereka meneguhkan
pendirian mereka maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan):
“Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih dan bergembiralah
dengan memperoleh surga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah
pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat. Di dalamnya kamu
memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula di dalamnya apa yang
kamu minta. Sebagai hidangan bagimu dari Yang Maha Pengampun dan lagi Maha
penyayang.”
(QS. Fushilat : 30-32)
Makna lafadh:

Sesungguhnya orang-orang
yang mengatakan: “Rabb kami adalah Allah.” Kemudian mereka istiqamah.
Maksudnya adalah mereka
berkata bahwa Allah adalah Rabb dan sembahan kami. Tidak ada sesembahan yang
haq kecuali Dia. Mereka mengatakan hal itu dengan terang-terangan dan
didasari dengan keimanan.
Selain itu mereka tetap
kokoh tegar dan istiqamah di atas apa yang diucapkan. Mereka tidak mengganti,
merubah dan meninggalkan penghambaan diri kepada Allah Subhanahu wa
Ta’ala. Mereka melakukan segala perintah-Nya dan meninggalkan segala
larangan-Nya. Demikian Syaikh Abu Bakr Al Jazairi menerangkan dalam
Aisarut Tafasir 4/575.
Ada beberapa penafsiran
para shahabat dan tabi’in tentang makna istiqamah dalam ayat tersebut:
|
a. |
Abu
Bakr Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Mereka tidak
mempersekutukan Allah sedikit pun dan tidak berpaling kepada selain Allah.
Mereka istiqamah di atas keyakinan bahwa Allah adalah Rabb mereka.” |
|
b. |
Ibnu
Abbas Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Mereka istiqamah di atas
persaksian bahwa tidak ada ilah yang berhak disembah kecuali Allah.” |
|
c. |
Umar
bin Al Khathab Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Mereka istiqamah dengan
taat kepada Allah dan tidak menyimpang sebagaimana menyimpangnya serigala.” |
|
d. |
Ali
Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Mereka istiqamah dalam
menjalankan kewajiban-kewajiban yang Allah perintahkan.” |
|
e. |
Mujahid dan Ibrahim An Nakha’i Rahimahumallah berkata: “Mereka mengucapkan La
ilaha illallah dengan tidak berbuat syirik setelahnya hingga berjumpa
dengan Allah.” |
|
f. |
Abul
Aliah berkata: “Mereka berkata (Rabb kami
adalah Allah) kemudian mengikhlaskan agama dan amalannya untuk Allah.” |
|
g. |
Qatadah berkata: “Mereka istiqamah di atas
ketaatan kepada Allah.” |
Demikianlah beberapa
penafsiran yang disebutkan oleh sebagian ahli tafsir antara lain Imam Al
Qurthubi, Imam Asy Syaukani dan Imam Ibnu Rajab Al Hanbali yang dinukil
dalam Kitab Jami’ul Ulum wal Hikam.
Imam Al Qurthubi setelah
menyebutkan beberapa penafsiran di atas mengatakan:
Pendapat-pendapat ini antara satu dengan yang lainnya saling
melengkapi tetapi intinya adalah mereka konsekuen di atas ketaatan kepada
Allah, baik dalam segi aqidah, ucapan maupun perbuatan mereka. Mereka
istiqamah di atas semua itu.

Para malaikat turun kepada
mereka.
Yaitu para malaikat yang
mulia yang terus-menerus turun kepada mereka. Mereka memberi kabar gembira
kepada kaum Mukminin menjelang sakaratul maut. (Taisir Karimir
Rahman 6/573)

(Para malaikat berkata):
“Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu merasa sedih.”
Maknanya adalah:
Jangan kalian takut terhadap perkara akhirat yang akan kalian
hadapi dan jangan bersedih atas urusan duniawi yang kalian tinggalkan, baik
menyangkut anak, keluarga dan harta atau utang-piutang. Kamilah yang akan
menjamin semua perkara itu.
Demikian perkataan beberapa
ahli tafsir antara lain Mujahid, Ikrimah dan Zaid bin Aslam. (Tafsir
Ibnu Katsir 4/99)
Seorang Mukmin ketika
mendengar kabar gembira tersebut dia akan senang dan sangat cinta untuk
berjumpa dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa cinta berjumpa
dengan Allah maka Allah cinta berjumpa dengan dia. Dan barangsiapa benci
berjumpa dengan Allah maka Allah benci berjumpa dengan dia.” Aisyah bertanya
(atau sebagian istri Nabi): “Bukankah kita benci kepada maut?” (Nabi)
menjawab: “Bukan demikian maksudnya! Akan tetapi seorang Mukmin ketika maut
menjemputnya dia diberi kabar gembira dengan keridlaan Allah dan kemuliaan
yang Allah berikan. Maka tidak ada sesuatu yang paling dia cintai
dibandingkan dengan apa yang ada di hadapannya (yakni apa yang dia hadapi
setelah kematian, pent.). Dia cinta berjumpa dengan Allah dan Allah pun
cinta berjumpa dengan dia. Adapun orang kafir ketika sakaratul maut diancam
dengan adzab Allah dan siksa-Nya. Maka tidak ada sesuatu yang paling dia
benci dibandingkan apa yang ada di hadapannya. Dia benci berjumpa dengan
Allah. Allah juga benci berjumpa dengan dia.”
(HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah dan Nasai dari
Aisyah Radliyallahu ‘Anha)

Kami adalah
pelindung-pelindungmu di dunia dan akhirat.
Imam Ismail bin Katsir
Rahimahullah menerangkan maknanya adalah bahwa ketika sakaratul maut
para malaikat berkata kepada orang-orang Mukmin: “Kamilah wali-wali kalian
yang menyertai kalian di dunia ini. Kami menemani kalian di dalam kengerian
alam kubur dan kedahsyatan ketika sangkakala hari kiamat ditiup. Kami
menjaga keamanan kalian ketika hari kebangkitan pada hari kiamat. Dan kami
akan menjalankan kalian di atas shiratal mustaqim hingga sampai ke surga
yang penuh kenikmatan.” (Lihat Tafsir
Ibnu Katsir)

Bagi kalian di dalamnya apa
yang kalian inginkan dan kalian minta.
Syaikh Abdur Rahman bin
Nashir As Sa’di Rahimahullah berkata:
Maknanya adalah bagi kalian apa yang kalian minta dari setiap
apa yang kalian inginkan dan dari berbagai macam kelezatan dan kesenangan
yang tidak pernah dilihat oleh mata, didengar oleh telinga dan terbetik
dalam hati. (Tafsir Al Karimir Rahman 6/574)

Sebagai hidangan dari Yang
Maha Pengampun dan Yang Maha Penyayang.
Maknanya adalah balasan
yang berlipat ganda dan kenikmatan yang terus-menerus merupakan rizki yang
dipersiapkan untuk kalian dan rezki ini termasuk karunia Allah yang Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
Penjelasan
Ayat
Allah menerangkan keadaan
orang-orang kafir pada ayat-ayat sebelumnya (Fushilat 25-29). Mereka adalah
orang-orang yang merugi dan akan merasakan adzab yang sangat pedih akibat
keingkaran mereka terhadap ayat-ayat Allah. Keadaan orang-orang kafir
tersebut merupakan keadaan yang paling jelek di akhirat nanti.
Lain halnya dengan keadaan
kaum Muslimin yang Allah terangkan pada ayat-ayat sesudahnya (Fushilat
30-32). Keadaan mereka adalah yang terbaik. Tempat kembali mereka merupakan
tempat yang terindah yaitu surga yang penuh kenikmatan.
Hal itu mereka dapatkan
tidak lain karena mereka mengatakan: “Rabb kami adalah Allah. Tidak ada
sesembahan yang haq (benar) melainkan Allah.”
Mereka tetap istiqamah di
atas apa yang mereka ucapkan. Tidak mempersekutukan Allah dengan sesembahan
lainnya sedikit pun ketika beribadah kepada-Nya. Mereka benar-benar
memurnikan ibadah, agama, hidup dan mati mereka semata-mata untuk Allah
Subhanahu wa Ta’ala. Selain itu mereka tetap istiqamah dalam meniti
jalan atau petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Dan
tidak menyimpang sedikit pun kepada jalan-jalan yang menyelisihi petunjuk
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para shahabatnya.
Oleh karena itu ketika
menjelang wafat, para malaikat turun memberi kabar gembira: “Kalian jangan
takut terhadap perkara-perkara yang akan kalian hadapi, baik di alam barzakh
atau alam kubur. Kalian jangan bersedih hati karena meninggalkan anak,
keluarga dan harta harta kalian.”
Para malaikat juga memberi kabar gembira dengan hilangnya
kesengsaraan mereka dan datangnya kebaikan untuk mereka: “Kamilah yang akan
menjaga kalian dengan perintah Allah ketika di alam dunia. Dan kami tetap
akan menyertai kalian hingga kalian memasuki surga.”
Selain itu para malaikat
juga mengatakan: “Bagi kalian di dalam surga apa yang diinginkan oleh setiap
jiwa, apa yang enak dipandang oleh mata dan bahkan tidak pernah terbetik di
hati manusia sedikit pun. Kemuliaan dan kenikmatan tersebut adalah jaminan
dan pemberian dari Dzat Yang Maha Mengampuni dosa-dosa kalian. Dialah Allah
yang mengampuni dan menutupi dosa hamba-Nya. Kemudian merahmati
hamba-hambanya dengan berbagai macam kenikmatan.”
Istiqamah
di Atas Kemurnian Tauhid
Kalau kita melihat realita
yang ada di negeri kita, mayoritas kaum Muslimin telah digerogoti oleh
penyakit syirik tanpa mereka sadari. Aqidah mereka sedikit demi sedikit
terkikis dengan perbuatan-perbuatan syirik yang mereka lakukan. Di antara
mereka ada yang berdoa di makam-makam, minta kepada wali-wali yang telah
meninggal, minta kepada dukun-dukun, mempercayai barang-barang mistik, keris
pusaka, pedang pusaka, susuk konde dan berbagai keyakinan-keyakinan syirik
lainnya.
Pada kenyataan lain
terdapat sejumlah orang yang pada awalnya Muslim. Tetapi karena keimanan
yang tipis dan penderitaan duniawi (kemiskinan) yang dialaminya
mengakibatkan mereka dengan mudahnya menjual aqidah mereka dengan sebungkus
mie dan selembar pakaian.
Dari kenyataan tersebut
mestinya kita senantiasa mengkhawatirkan diri dan keluarga kita. Apakah kita
sanggup untuk tetap istiqamah di atas Islam dan di atas aqidah yang murni
hingga maut menjemput kita? Ataukah --na’udzubillah-- kita termasuk
orang-orang yang merugi di dunia maupun di akhirat? Allah abadikan dalam Al
Quran kisah bapak para Nabi yakni Ibrahim Alaihis Salam.
Beliau mengkhawatirkan
dirinya dan anak keturunannya dari peribadatan kepada selain Allah atau
perbuatan syirik:
Dan (ingatlah) ketika
Ibrahim berkata: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah) negeri yang aman
dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya
Rabbku, sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan
manusia. Maka barangsiapa mengikutiku maka sesungguhnya orang itu termasuk
golonganku dan barangsiapa yang mendurhakai aku maka sesungguhnya Engkau
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Ibrahim : 35-36)
Syaikh Abdur Rahman bin
Hasan menyatakan --setelah menyebutkan ayat tersebut--:
Apabila manusia telah mengetahui bahwa kebanyakan manusia
terjerumus dalam syirik akbar dan tersesat karena menyembah berhala tentunya
hal itu menyebabkan dia takut jangan sampai terjerumus seperti halnya
kebanyakan manusia dalam kesyirikan yang tidak diampuni oleh Allah.
Ibrahim At Taimi berkata:
Siapakah yang merasa aman dari bala’ (terjerumus dalam
kesyirikan, pent.) setelah Ibrahim? Tiada yang merasa aman dari terjerumus
dalam kesyirikan kecuali orang yang tidak mengerti makna syirik dan tidak
mengetahui perkara-perkara yang dapat membebaskan dia dari kesyirikan yakni
mengenal Allah dan perintah Allah terhadap Rasul-Nya berupa kewajiban untuk
bertauhid dan larangan berbuat syirik. (Fathul Majid halaman
93)
Oleh karena itu Ibrahim
Alaihis Salam mendapatkan pujian dari Allah karena keistiqamahan beliau
di atas agama tauhid meskipun dia hidup di tengah-tengah manusia yang ketika
itu semuanya kafir atau musyrik. Allah berfirman:
“Sesungguhnya Ibrahim
adalah seorang Imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan
hanif.
Dan sekali-kali dia bukan termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.
Dia mensyukuri nikmat-nikmat Allah …”
(QS. An Nahl : 120-121)
Demikian halnya Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengkhawatirkan umatnya jangan sampai
terjerumus dalam perbuatan syirik hingga syirik yang paling kecil sekali pun
yaitu riya’:
Dari Mahmud bin Labid
Radliyallahu ‘Anhu bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda:
“Sesungguhnya yang paling
aku takutkan atas kalian adalah syirkul ashgar (syirik kecil).” Para
shahabat bertanya: “Apakah syirik ashgar itu, wahai Rasulullah?” Beliau
menjawab: “Riya’. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman pada hari kiamat
ketika membalas amal-amal manusia: ‘Pergilah kepada orang-orang yang kalian
berbuat riya’ kepada mereka ketika di dunia! Lihatlah! Apakah kalian
mendapatkan balasan di sisi mereka?’”
(HR. Ahmad dan At Thabrani, dishahihkan Syaikh Al Albani dalam
As Shahihah nomor 591 dan Shahih Al Jami’ nomor 1551.
Lihat Fathul Majid halaman 94)
Bahkan Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Syirik itu lebih
tersembunyi dari langkah semut.” Abu Bakar bertanya: “Wahai Rasulullah,
bukankah syirik itu tidak lain beribadah kepada selain Allah atau
mempersekutukan Allah ketika berdoa?” Rasulullah berkata: “Apakah ibumu
telah kehilangan engkau (yakni kalimat hardikan)? Syirik itu bagi kalian
lebih tersembunyi daripada langkah semut.”
(HR. Bukhari nomor 4293)
Begitu khawatirnya
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap para shahabatnya.
Padahal mereka Radliyallahu ‘Anhum adalah orang-orang terbaik dari
umat beliau. Tentunya hal itu menjadi pelajaran berharga bagi kita untuk
lebih mawas diri dari segala bentuk kesyirikan. Jangan menganggap remeh
perkara syirik. Meskipun syirik kecil diperselisihkan oleh para ulama apakah
termasuk dosa yang diampuni Allah atau tidak yang jelas kita wajib
berhati-hati dari kesyirikan secara mutlak dan mengingat firman Allah:
“Sesungguhnya Allah tidak
mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik)
itu bagi yang dikehendaki-Nya ….”
(QS. An Nisa : 48, 116)
Juga sabda Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Barangsiapa menjumpai
Allah dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah sedikit pun, dia akan masuk
surga. Dan barangsiapa menjumpai-Nya dalam keadaan mempersekutukan-Nya
dengan sesuatu, dia akan masuk neraka.” (HR. Muslim nomor 152 dari Jabir Radliyallahu
‘Anhu)
Penutup
Dari uraian di atas maka
dapat diambil beberapa faidah:
|
a. |
Keutamaan iman dan istiqamah di atas keimanan dengan menjalankan
kewajiban-kewajiban dan meninggalkan larangan-larangan. |
|
b. |
Kabar
gembira berupa surga bagi Ahli Iman dan istiqamah menjelang wafatnya. |
|
c. |
Kabar
gembira tersebut hanya didapatkan oleh orang-orang yang membersihkan
tauhidnya dari noda-noda syirik dan tetap menjaga kemurnian tauhidnya hingga
berjumpa dengan Allah. |
|
d. |
Di
dalam surga terdapat segala yang diingini oleh setiap jiwa dan segala
kenikmatan yang belum pernah dilihat dengan mata, didengar oleh telinga dan
terbetik di hati. |
Wallahu Ta’ala A’lam.