|
Israil
adalah sebuah kata majemuk, tersusun dari kata Isra dan El.
Isra yang berarti hamba, dan El atau Eli yang
bermakna ilah. Sehingga Israil bermakna “hamba Allah” seperti nama
dalam bahasa Arab “Abdullah”.
Bani
Israil --sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir-- adalah turunan Nabiyullah
Ya’qub ‘Alaihis Salam. Beliaulah yang dijuluki dengan nama
Israil (hamba Allah). Sehingga ketika Ibnu Katsir menafsirkan ayat
Allah :
“Wahai
Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang Aku berikan kepada kalian dan
tepatilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi janji-Ku kepada
kalian dan hanya kepada-Ku-lah kalian harus takut.” (Al Baqarah : 40)
Beliau
berkata : “Allah memerintahkan kepada Bani Israil untuk masuk kepada
Islam, mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
dengan memberikan semangat kepada mereka dengan menyebut nama bapak
mereka, Israil, yaitu Nabiyullah Ya’qub ‘Alaihis Salam.
Seakan-akan Allah berkata : ((Wahai turunan seorang yang shalih yang
taat kepada Allah, jadilah kalian seperti bapak kalian dalam mengikuti
kebenaran)). Seperti ketika engkau mengatakan kepada seseorang :
((Wahai anak orang yang dermawan, jadilah engkau dermawan)). Atau
seperti engkau berkata : ((Wahai anak orang yang pemberani, lawanlah
mereka)). Atau engkau berkata kepada seseorang : ((Wahai anak seorang
ulama, carilah ilmu)) dan seterusnya.” (Tafsir Ibnu Katsir
juz 1 hal. 88)
Inilah
Bani Israil yang akan kita ambil pelajaran-pelajaran dari kisah
mereka. Mereka sesungguhnya satu bangsa yang banyak mendapatkan
kenikmatan dan keistimewaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala,
namun karena perbuatan mereka dan kekufuran mereka, Allah cabut semua
kenikmatan itu dan kemudian Allah laknat menjadi bangsa yang keras
hatinya, yang terjajah dan tertindas, dan tidak memiliki negara
sepanjang masa.
KENIKMATAN
ALLAH TERHADAP BANI ISRAIL
Allah
Subhanahu wa Ta'ala mengajak Bani Israil untuk kembali kepada
tauhid dan mengikuti Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam
dengan mengingatkan mereka pada bapak mereka Ya’qub dan kepada
kenikmatan-kenikmatan yang telah Allah berikan kepada mereka.
Di
antara kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan kepada Bani Israil
adalah diangkatnya para Nabi dari kalangan mereka mulai dari Nabi
Ya’qub sampai Isa ‘Alaihis Salam. Demikian pula
diistimewakan Bani Israil dengan diberikannya kepada mereka
makanan-makanan surga seperti manna dan salwa, yang
tidak diberikan kepada bangsa lain selain mereka. Juga Allah
istimewakan mereka dengan dipancarkannya 12 mata air --sesuai dengan
jumlah suku mereka-- dari sebuah batu. Dan yang lebih penting lagi
diturunkannya kitab-kitab Allah kepada mereka sehingga mereka dikenal
dengan Ahlul Kitab.
Allah
ingatkan mereka dengan kenikmatan-kenikmatan tersebut agar bersyukur
kepada-Nya dan mengikuti Nabi-Nya yang terakhir Shallallahu 'Alaihi
Wa Sallam :
“Wahai
Bani Israil, ingatlah nikmat-Ku yang Aku berikan kepada kalian dan
tepatilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku akan penuhi janji-Ku kepada
kalian.” (Al
Baqarah : 40)
Janji
mereka kepada Allah adalah : Bahwa mereka telah mengetahui akan
datangnya seorang Nabi yang menyeluruh, Nabi yang agung, yang akan
ditaati oleh seluruh bangsa. Jika mereka mengikutinya dan menaatinya,
maka Allah berjanji untuk memasukkan mereka ke dalam surga, mengampuni
dosa-dosanya dan memberikan pahala bagi mereka dua kali lipat. Janji
Allah ini tertera dalam kitab-kitab mereka yang mereka baca seperti
Kitab Taurat dan Injil.
Maka
mereka berkata : “Jika datang Nabi tersebut kami akan menjadi
pengikutnya.” Bahkan mereka mengancam orang-orang musyrikin Arab
dengan ancaman : “Kalau datang kepada kami Nabi yang dijanjikan,
kami akan memerangi kalian bersama Nabi tersebut.”
“Padahal
mereka sebelumnya biasa memohon kedatangan Nabi untuk mendapatkan
kemenangan atas orang-orang kafir (musyrikin Arab) … .” (Al
Baqarah : 89)
Inilah
janji yang Allah tagih dari mereka. Sekarang telah datang Rasulullah Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam, Nabi yang
agung, Nabi untuk seluruh bangsa. Tapi apakah mereka mau beriman
kepadanya ? Ternyata mereka menolak dan mengingkarinya sebagaimana
Allah kisahkan dalam lanjutan ayat tadi :
“…
ketika datang apa yang mereka ketahui (yakni Nabi tersebut), mereka
mengingkarinya (kafir kepadanya) … .” (Al Baqarah : 89)
Hingga
Allah katakan kepada mereka di akhir ayat tersebut :
“…
maka laknat Allah atas orang-orang kafir.”
(Al Baqarah : 89)
LEPAS
DARI IMPERIUM EGYPT (QIBTI)
Termasuk
kenikmatan yang Allah berikan kepada mereka adalah dilepaskannya
mereka dari penjajahan Fir’aun dan tentaranya di Mesir.
Sejak
ditemukannya Nabi Yusuf ‘Alaihis
Salam oleh kafilah dagang bangsa
Qibti yang kemudian beliau dijadikan budak yang diperjualbelikan,
mulailah bangsa Israil dari keluarga Yusuf ‘Alaihis Salam
dan kerabatnya tinggal di negeri Mesir, meninggalkan tempat asalnya
yaitu Siria. Apalagi ketika beliau diangkat menjadi bendahara
kerajaan.
Jumlah
mereka ketika itu sekitar tujuh puluh orang, dan jumlah ini terus
menerus bertambah. Namun setelah rentang waktu yang panjang dan jauh
dari masa kenabian Yusuf ‘Alaihis
Salam serta dilupakannya
ilmu beliau, bangsa Qibti kembali menganggap bahwa Bani Israil adalah
turunan budak yang hina. Mulailah Fir’aun-Fir’aun yang melampaui
batas dan lalim muncul, menindas dan menjajah seluruh keturunan Bani
Israil.
Perlu
pembaca ketahui bahwa Fir’aun atau Pharaoh adalah nama
julukan bagi seluruh penguasa Qibti (Egypt), sebagaimana Kaisar
bagi seluruh penguasa Romawi, Kisra untuk seluruh penguasa
bangsa Persia dan Najasyi bagi seluruh penguasa Habasyah.
Adapun
nama Fir’aun di masa Musa ‘Alaihis
Salam adalah Qabus
(sebagaimana dalam riwayat Ahli Kitab). Sedangkan menurut beberapa
Ahli Tafsir bahwa nama sebenarnya adalah Al Walid bin Mush’ab bin
Rayyan dari suku Amlaq atau Amaliqah bin Lawudz dari turunan Sam bin
Nuh ’Alaihis Salam. (Al
Jami’ li Ahkamil Qur’an 1/326)
Disebutkan
oleh Abu Ja’far Ibnu Jarir At Thabari dari Ibnu Ishaq bahwa waktu
itu Fir’aun menyiksa mereka dengan menjadikan mereka budak-budak
pekerja (kerja paksa). Ia membagi mereka dalam tugas-tugas yang
rendah, sebagian mereka menjadi buruh-buruh bangunan, sebagian lain
menjadi buruh-buruh tani dan seterusnya. Sedangkan yang tidak bekerja
dipaksa membayar upeti. Inilah yang dimaksud oleh Allah :
“Mereka
menimpakan kepada kalian sejelek-jelek adzab.” (Tafsir
Ath Thabari 1/310)
Kemudian
Fir’aun sang taghut
tersebut bermimpi melihat sebuah sinar dari Baitul Maqdis ke Mesir
kemudian membakar bangsa Qibti dan menyelamatkan Bani Israil. Maka
para ahli takwil kerajaan mengatakan kepadanya bahwa kerajaannya akan
hancur dengan datangnya seorang lakii-laki dari Bani Israil. Maka
segeralah ia memerintahkan untuk membunuh semua anak laki-laki dari
Bani Israil dan membiarkan para wanitanya. Dengan ini bertambah
dahsyatlah kesengsaraan Bani Israil. (Lihat Tafsir
Ibnu Katsir 1/96)
Ibnu
Abi Hatim berkata : “Sesungguhnya Fir’aun menguasai mereka 400
tahun lamanya. Kemudian para dukun kerajaan berkata kepadanya : ((Akan
lahir seorang laki-laki di Mesir yang kamu akan binasa di tangannya)).
Maka Fir’aun mengutus tentaranya pada seluruh penduduk Mesir untuk
mendatangi wanita-wanita hamil. Jika lahir bayi laki-laki, maka dibawa
ke Fir’aun dan kemudian disembelihnya.” (Tafsirul
Qur’anil Adhim juz 1/106)
Sesungguhnya
itu adalah tanda-tanda akan diselamatkannya Bani Israil dari Imperium
Egypt dengan didatangkannya seorang dari Bani Israil sebagai Nabi dan
Utusan Allah. Namun iblis melalui anak buahnya dari para dukun-dukun
kerajaan membisikkan kepada Fir’aun untuk membunuh semua anak
laki-laki yang lahir dari Bani Israil.
Di
saat seperti inilah lahir dari keluarga Bani Israil Nabiyullah Musa ‘Alaihis
Salam. Sebelum tentara Fir’aun
mendapatkan bayi tersebut, Allah mengilhamkan kepada Ibu Musa ‘Alaihis
Salam untuk menghanyutkan bayi Musa ‘Alaihis Salam
di sebuah sungai, sehingga terdampar di kebun istana Fir’aun.
Bayi ini kemudian dipelihara oleh Asiah, istri Fir’aun sendiri.
Inilah takdir Allah dalam menyelamatkan Nabi-Nya, hingga beliau
dibesarkan di istana tersebut.
Ketika
Musa ‘Alaihis Salam
telah dewasa, terjadilah --dengan takdir Allah-- perkelahian
antara beliau dan seorang pemuda dari bangsa Qibti yang berakhir
dengan terbunuhnya pemuda tersebut. Peristiwa itu menyebabkan Musa ‘Alaihis
Salam melarikan diri ke
daerah Madyan hingga bertemu dengan Nabiyullah Syu’aib. Melalui
beliaulah Allah mengajari Musa ‘Alaihis Salam
agama tauhid, agama yang mengajarkan manusia untuk beribadah dan
memperbudak dirinya hanya kepada Allah, dan sekaligus melepaskan
manusia dari segala bentuk perbudakan makhluk.
Sekembalinya
Musa ‘Alaihis Salam
dari Madyan, tepatnya di lembah Thuwa yang suci, ia dipanggil oleh
Allah dan di ajak bicara secara langsung. Allah memilihnya sebagai
Rasul utusan-Nya. Beliau diperintahkan untuk beribadah dan mendirikan
shalat, serta diberikan kepadanya beberapa mukjizat. Kemudian Allah
perintahkan kepadanya untuk mendatangi Fir’aun dan mengajaknya
beribadah kepada Allah saja.
Allah
berfirman kepada Musa ‘Alaihis
Salam :
“Sesungguhnya
Aku ini adalah Rabb-mu, maka tanggalkanlah kedua terompahmu,
sesungguhnya kamu berada di lembah yang suci, Thuwa. Dan aku telah
memilih kamu, maka dengarkanlah apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada sesembahan (yang haq)
kecuali Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat
Aku. Sesungguhnya hari kiamat itu akan datang, Aku merahasiakan
(waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia
usahakan. Maka sekali-kali janganlah kamu dipalingkan daripadanya oleh
orang yang tidak beriman kepadanya dan oleh orang yang mengikuti hawa
nafsunya, yang menyebabkan kamu jadi binasa. ‘Apakah itu yang di
tangan kananmu, hai Musa?’ Berkata Musa : ‘Ini adalah tongkatku,
aku bertelekan padanya, dan aku pukul (daun) dengannya untuk
kambingku, dan bagiku ada lagi keperluan yang lain padanya.’ Allah
berfirman : ‘Lemparkanlah ia, hai Musa!’ Lalu dilemparkannyalah
tongkat itu, maka tiba-tiba ia menjadi seekor ular yang merayap cepat.
Allah berfirman : ‘Peganglah ia dan jangan takut. Kami akan
mengembalikannya kepada keadaan semula. Dan kepitkanlah tanganmu ke
ketiakmu, niscaya ia keluar menjadi putih cemerlang tanpa cacat,
sebagai mukjizat yang lain (pula). Untuk kami perlihatkan kepadamu
sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Kami yang sangat besar. Pergilah
kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas.’ ” (Thaha
: 12-24)
Musa
‘Alaihis Salam
berangkat dengan perintah dari Allah tersebut kepada Fir’aun
dengan misi pembebasan, seperti apa yang diajarkan oleh Allah dalam
ayat-Nya sebagai berikut :
”Allah
berfirman : Maka datanglah kamu berdua kepadanya (Fir’aun) dan
katakanlah : ‘Sesungguhnya kami berdua adalah utusan Rabb-mu, maka
lepaskanlah Bani Israil bersama kami dan janganlah kamu menyiksa
mereka. Sesungguhnya kami telah datang kepadamu dengan membawa bukti
(atas kerasulan kami) dari Rabb-mu. Dan keselamatan itu dilimpahkan
kepada orang yang mengikuti petunjuk.’ ”
(Thaha : 46 – 47)
Dengan
aqidah yang ditanamkan kepada Bani Israil, Nabiyullah Musa ‘Alaihis
Salam berharap mereka mengerti
bahwa Fir’aun tidaklah memiliki apa-apa di hadapan Allah. Allah-lah
satu-satunya Dzat yang memiliki kekuasaan mutlak. Yang memiliki
seluruh alam, memiliki langit dan bumi, memiliki surga dan neraka.
Dakwah
Nabi Musa ‘Alaihis Salam
bukanlah dakwah politik. Beliau tidak mengajak Bani Israil untuk
merebut kekuasaan atau menggulingkan Fir’aun. Dakwah beliau adalah
“dakwah tauhid” yaitu mengajak Fir’aun dan seluruh bangsa Qibti
serta Bani Israil untuk beriman kepada Allah dan tidak boleh beribadah
kepada manusia atau meminta untuk diibadahi.
Fir’aun
yang merasa sebagai tuhan penguasa yang paling tinggi terkejut dengan
dakwah ini. Maka dia bertanya pada Musa ‘Alaihis
Salam sebagaimana Allah
kisahkan :
“Berkata
Fir’aun : ‘Kalau begitu, siapakah Rabb-mu berdua, hai Musa?’ “
(Thaha : 49)
Musa
‘Alaihis Salam
menjawab :
“Musa
berkata : ‘Rabb kami ialah (Rabb) yang telah memberikan kepada
tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk.’
” (Thaha : 50)
Namun
Fir’aun menuduh Musa ‘Alaihis
Salam akan menggulingkan
kekuasaannya dan mengusir dia dan bangsa Qibti dari negerinya. Dia
berkata sebagaimana Allah kisahkan dalam surat yang sama :
“Berkata
Fir’aun : ‘Adakah kamu datang kepada kami untuk mengusir kami dari
negeri kami (ini) dengan sihirmu, hai Musa?’ “
(Thaha : 57)
Fir’aun
menganggap mu’jizat yang dibawa Musa ‘Alaihis
Salam adalah sihir. Maka
dia menantang untuk bertanding dengan para tukang sihir kerajaan, yang
tentu saja berakhir dengan kemenangan mu’jizat Musa ‘Alaihis
Salam. Bahkan tukang-tukang sihir
tersebut mengerti kalau yang dibawa oleh Musa ‘Alaihis
Salam bukanlah sihir,
melainkan mu’jizat yang datang dari Allah. Dengan serentak mereka
pun beriman pada Allah, Rabb-nya Musa dan Harun ‘Alaihimas
sallam :
“Lalu
tukang-tukang sihir itu tersungkur dengan bersujud, seraya berkata :
‘Kami telah percaya kepada Rabb-nya Harun dan Musa.’ ”
(Thaha : 70)
Fir’aun
pun murka. Lalu ia mengancam tukang-tukang sihir itu dengan siksaan
yang pedih. Dia berkata sebagaimana Allah kisahkan dalam ayat
selanjutnya :
“Berkata
Fir’aun : ‘Apakah kamu beriman kepadanya (Musa) sebelum aku
memberi ijin kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang
mengajarkan sihir kepadamu sekalian. Maka sesungguhnya aku akan
memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan bersilang secara
bertimbal balik, dan sesungguhnya aku akan menyalib kamu sekalian pada
pangkal pohon kurma dan sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa di
antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya.’ “
(Thaha : 71)
Lihatlah,
Fir’aun menantang Allah ketika Musa ‘Alaihis
Salam mengancam dengan adzab Allah
yang pedih dengan berkata : “Siapakah di antara kita yang lebih
pedih dan lebih kekal siksaannya?”
Inilah
thaghut yang sesungguhnya, yang menantang Allah dan Rasul-Nya, yang
menghalangi manusia dari jalan yang lurus. Inilah makna thagha
dalam ayat di atas :
“Pergilah
kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas.” (Thaha
: 43)
Kemudian
Allah memerintahkan Musa ‘Alaihis
Salam untuk membawa Bani Israil pada
malam hari keluar dari Mesir dan lepas dari perbudakan Fir’aun.
“Dan
sesungguhnya telah Kami wahyukan kepada Musa : ‘Pergilah kamu dengan
hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, maka buatlah untuk mereka
jalan yang kering di laut itu, kamu tidak usah khawatir akan tersusul
dan tidak usah takut (tenggelam).”
(Thaha : 77)
Pada
malam itu juga berangkatlah Musa ‘Alaihis
Salam membawa Bani Israil yang
berjumlah 670 ribu orang untuk keluar dari Mesir, lepas dari
penindasan Fir’aun. Allah membuatkan untuk mereka jalan kering
dengan membelah lautan, hingga ketika Fir’aun mengejarnya dan tepat
di tengah lautan tersebut, Allah tenggelamkan mereka, maka binasalah
Fir’aun dan tentaranya.
“Maka
Fir’aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup
oleh laut yang menenggelamkan mereka.” (Thaha
: 78)
Inilah
kenikmatan besar yang Allah berikan kepada Bani Israil. Bangsa Israil
yang sebelumnya merupakan bangsa yang tertindas, sebagai budak-budak
bangsa Qibti (Egypt) di Mesir, dengan datangnya Nabi Musa ‘Alaihis
Salam, mereka mendapatkan
kemerdekaannya dan kebebasan dari perbudakan.
Allah
selalu ingatkan kenikmatan ini kepada Bani Israil dan turunannya agar
mereka bersyukur, karena walaupun keturunannya tidak merasakan siksaan
Fir’aun, kenikmatan itu mengenai mereka juga. Sebab jika Allah tidak
selamatkan Bani Israil dari Fir’aun dan tentaranya, tentu
keturunannya akan tetap sebagai budak-budak yang tertindas hingga hari
ini. Allah berfirman :
“Dan
ingatlah ketika Kami selamatkan kalian dari Fir’aun dan
pengikut-pengikutnya, mereka menimpakan siksaan kepada kalian yang
seberat-beratnya, mereka menyembelih anak laki-laki kalian dan
membiarkan hidup anak perempuan kalian. Dan pada yang demikian itu
terdapat cobaan yang berat dari Rabb kalian.” (Al
Baqarah : 49)
PEMBANGKANGAN
BANI ISRAIL
Bani
Israil yang mendapatkan banyak keutamaan dari Allah, ternyata bukanlah
suatu bangsa yang pandai bersyukur. Bangsa ini terkenal sombong dan
merasa sebagai anak emas yang diistimewakan oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala. Mereka berkata sebagaimana Allah kisahkan :
“Berkata
orang-orang Yahudi dan Nashrani : [Kami adalah anak-anak Allah dan
kekasihnya].” (Al Maidah :
18)
Cukuplah
kisah mereka dengan Nabi Musa ‘Alaihis
Salam sebagai contoh betapa
jeleknya perangai mereka terhadap Nabinya. Mereka diselamatkan oleh
Allah melalui dakwah Nabi Musa ‘Alaihis Salam
dari penjajahan bangsa Qibti. Namun begitu rapuhnya iman mereka
sehingga sedikit saja mereka mendapat cobaan, mereka segera
menyalahkan Nabi Musa ‘Alaihis Salam.
Pada
malam ketika Musa ‘Alaihis Salam
dan Bani Israil berangkat meninggalkan Mesir, Fir’aun mengejarnya
dengan tentara Qibti yang berjumlah 600.000 orang. Sesampai di pantai,
seseorang dari Bani Israil yang bernama Yusya’ bin Nun berkata :
“Musa mana janji Tuhanmu, wahai Musa!” Nabi Musa ‘Alaihis
Salam menunjuk ke laut.
Tetapi ketika kuda Yusya’ menyentuh lautan, lautan itu tetap tidak
berubah menjadi kering. Maka dia kembali pada Musa ‘Alaihis
Salam dan bertanya kepadanya :
“Mana janji Tuhanmu, wahai Musa?” Musa ‘Alaihis Salam
menjawab : “Demi Allah, aku tidak berdusta dan tidak pula
didustai.” Sambil menunjuk ke laut.
Dalam
keadaan yang sangat genting, yaitu ketika mereka terkepung, di depan
mereka lautan sedangkan di belakang mereka tentara Fir’aun, mereka
mengeluh kepada Musa ‘Alaihis
Salam dan menganggap bahwa
Musa-lah penyebabnya. Seraya mengatakan bahwa mereka pasti dibinasakan
oleh Fir’aun.
“Maka
setelah kedua golongan itu saling melihat, berkatalah
pengikut-pengikut Musa : [Sesungguhnya kita benar-benar akan
tersusul].” (Asy Syu’ara :
61)
Dalam
Al Bidayah Wan Nihayah
dikatakan bahwa mereka sampai-sampai berkata : “Kami tinggal
di Mesir (yakni di bawah penindasan Fir’aun) lebih baik daripada
kami binasa di lautan ini.” (Al Bidayah 1/258)
Dalam
keadaan seperti ini, Musa ‘Alaihis
Salam berdoa kepada Allah
dan Allah memberikan jalan keluar dengan membelah lautan untuk mereka.
Allah memanjakan mereka dengan memberikan dua belas jalan kering di
lautan.
Bani
Israil terus mengeluh. Ketika mereka melewati jalan itu, mereka
mengatakan bahwa saudara-saudara mereka di jalan yang lain pasti telah
binasa dibantai oleh Fir’aun. Maka Allah pun menjadikan
dinding-dinding lautan yang memisahkan mereka menjadi transparan.
Mereka dapat melihat saudara-saudara mereka di jalan lain dengan
jelas, bahkan dapat mendengar suara mereka, sehingga mereka yakin
bahwa saudara-saudara mereka selamat. (Ma’alimut Tanzil juz 1
hal. 80)
Setelah
Allah menyelamatkan mereka dan membinasakan musuhnya, Bani israil
masih tidak percaya. Mereka masih tetap yakin bahwa Fir’aun tidak
akan mati dan terus mengejar mereka. Hingga Allah memerintahkan laut
untuk melemparkan jasad Fir’aun ke daratan agar Bani israil
melihatnya. Inilah makna ayat :
“Dan
(ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu
dan Kami tenggelamkan (Fir’aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu
sendiri menyaksikan.” (Al
Baqarah : 50)
Berkata
Imam Qurthubi ketika menafsirkan ucapan Allah, “Dan kalian
melihatnya” :
[
Dikatakan
bahwa Fir’aun terapung-apung di atas air dan Bani Israil menyaksikan
mereka tenggelam, sedangkan diri mereka dalam keadaan selamat. Yang
demikian ini merupakan kenikmatan yang besar dari Allah Subhanahu
wa Ta'ala.
Dikatakan
pula bahwa bangkai mereka terdampar di pantai sedangkan Bani Israil
menyaksikannya. Inipun merupakan kenikmatan di atas kenikmatan.
Namun
dikatakan pula bahwa kata-kata, “Kalian
melihat” [ yakni bermakna :
“Kalian dapat menyaksikan kejadian tersebut dan kalian mendapatkan
pelajaran, karena mereka tidak sempat ketika itu untuk berhenti dan
menyaksikan dengan mata-mata mereka karena mereka sedang sibuk
melarikan diri” ].
Pendapat
lain menyatakan : Maknanya bahwa : “Kalian dalam keadaan dapat
melihatnya kalau kalian mau melihat. Sebagaimana salah seorang
berkata, ((perkara ini adalah perkara yang bisa kau dengar dan kau
lihat)). Yakni kalau mau melihat, kalau mau mendengar sesungguhnya
engkau bisa.”
Demikian
pendapat-pendapat para ahli tafsir. Namun pendapat pertama lebih dekat
dengan keadaan Bani Israil, karena mereka sesungguhnya bukan kaum yang
bisa mengambil pelajaran. Sebagaimana ketika Bani Israil berhasil
melewati lautan, Allah telah menyelamatkan mereka dan menenggelamkan
musuh mereka, mereka masih menggugat Musa ‘Alaihis
Salam dengan berkata :
“Ya Musa, sesungguhnya hati-hati kami belum tenang bahwa Fir’aun
telah tenggelam.” Hingga Allah memerintahkan lautan untuk
melemparkan jasadnya ke pantai dan disaksikan oleh mereka.
Disebutkan
oleh Abu Bakar ibnu Syaibah dari Qais ibnu Ubad bahwa Bani Israil
berkata : “Fir’aun tidak mati dan dia tidak mati
selama-lamanya.” Belum sempat pendustaan itu terdengar oleh
Nabi-nya, Musa ‘Alaihis Salam,
laut telah melemparkan bangkai Fir’aun seperti banteng merah ke
daratan, dan peristiwa ini disaksikan oleh Bani Israil. ]
Selesai
ucapan Qurthubi. (Lihat Al
Jami’ li Ahkamil Qur’an 1/335)
Setelah
mereka yakin kebinasaan Fir’aun dan tentaranya, mereka mengutus
orang untuk kembali ke Mesir guna mengambil harta-harta peninggalan
mereka. Inilah makna ayat Allah :
“Demikianlah
halnya dan Kami anugerahkan semuanya itu (harta peninggalan Fir’aun)
kepada Bani Israil.” (Asy Syu’ara : 59)
Tetapi
apakah Bani Israil bersyukur ?
Bani
Israil tetap Bani Israil. Mereka bukan kaum yang pandai bersyukur.
Mereka adalah orang-orang yang lemah keyakinannya dan rapuh imannya.
Mereka dibawa oleh Musa ‘Alaihis
Salam kembali ke tempat
nenek moyang mereka Ya’qub ‘Alaihis Salam
di Syam. Namun di perjalanan mereka melihat suatu kaum dari bangsa
Qibti menyembah berhala. Maka mereka pun meminta kepada Musa ‘Alaihis
Salam agar diberikan kepada mereka berhala sebagaimana mereka punya
berhala.
Lihatlah
Bani Israil yang telah selamat dari penindasan bangsa Qibti secara
fisik, ternyata mental mereka masih terjajah.
Mereka masih menganggap Fir’aun adalah penguasa yang paling kuat dan
tidak akan mati. Kemudian sekarang mereka menganggap bangsa Qibti
adalah bangsa yang hebat dan apa yang datang dari mereka pasti hebat
pula. Sampai-sampai mereka menganggap bahwa penyembahan berhala yang
dilakukan oleh bangsa Qibti adalah sesuatu yang perlu ditiru dan
diikuti.
Nabi
Musa ‘Alaihis Salam
marah besar dan berkata kepada mereka : “Apakah tuhan selain Allah
yang kalian inginkan, padahal Allah telah mengutamakan kalian di atas
seluruh alam (yakni alam di jaman itu) ?”
“Dan
Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah
mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka,
Bani Israil berkata : ‘Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan
(berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).’
Musa menjawab : ‘Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak
mengetahui (sifat-sifat Tuhan).’ ” (Al
A’raf : 138)
Di
dalam perjalanannya, mereka diperintahkan untuk berjalan memasuki
Baitul Maqdis, negeri yang suci tempat asal nenek moyang mereka
sendiri. Akan tetapi negeri tersebut dikuasaai oleh penguasa-penguasa
yang jahat (Jabbarin)
dan untuk memasukinya, mereka harus mengusir Jabbarin
terlebih dahulu dengan peperangan.
Namun
Bani Israil sebagaimana biasanya membantah perintah Nabinya, mereka
berkata : “Apakah engkau menghendaki agar kami menjadi daging
santapan mereka? Kalau engkau membiarkan kami di tangan Fir’aun,
niscaya lebih baik bagi kami.”
Maka
Allah ceritakan tentang mereka dalam ayat-Nya :
“Hai
kaumku, masuklah ke tanah suci (Palestina) yang telah ditentukan Allah
bagimu, dan janganlah kamu lari ke belakang (karena takut kepada
musuh). Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi. Mereka berkata :
‘Hai Musa, sesungguhnya dalam negeri itu ada orang-orang yang gagah
perkasa, sesungguhnya kami sekali-kali tidak akan memasukinya sebelum
mereka keluar daripadanya. Jika mereka keluar daripadanya, pasti kami
akan memasukinya.’ Berkatalah dua orang di antara orang-orang yang
takut (kepada Allah, yakni Musa dan Harun) yang Allah telah memberi
nikmat atas keduanya : ‘Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang
(kota) itu, maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. Dan
hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakal, jika kamu benar-benar
orang yang beriman.’ Mereka berkata : ‘Hai Musa, kami sekali-kali
tidak akan memasukinya selama-lamanya, selagi mereka ada di dalamnya.
Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu
berdua, sesungguhnya kami hanya duduk menanti di sini saja.’ “
(Al Maidah : 21-24)
Akibatnya
Allah cela mereka sebagai orang-orang fasiq. Sebagai balasannya, Allah
jadikan mereka mengembara tanpa arah dan tidak memiliki tempat
bermukim selama empat puluh tahun.
Dalam
pengembaraan yang sesungguhnya akibat ulah mereka sendiri, Bani Israil
kembali menyalahkan Nabinya. Mereka menganggap semua ini karena Nabi
Musa ‘Alaihis Salam
mengajak mereka keluar dari Mesir. Mereka mengeluh kehausan, mereka
mengeluh kelaparan, mereka mengeluh kepanasan, dan seterusnya.
Nabi
Musa ‘Alaihis Salam
pun berdoa kepada Allah agar Allah memaafkan mereka. Allah
kemudian mengirimkan awan yang menaungi mereka dari panas matahari,
menurunkan manna yang
turun seperti salju menyelimuti pohon-pohon dan batu-batu, rasanya
sangat manis seperti madu.
Diriwayatkan
bahwa Bani Israil mengatakan kepada Musa ‘Alaihis
Salam : “Manisnya manna
akan membunuh kami, wahai Musa. Berdoalah kepada Tuhanmu agar memberi
makan untuk kami dengan daging!” Maka Allah menurunkan kepada mereka
salwa, berupa daging
burung yang telah masak dan siap dimakan. Turun seperti awan kemudian
menghujani mereka dengan salwa
tersebut, hingga daging-daging burung tersebut berada satu tombak di
atas tanah seluas satu mil. Dengan mudah Bani Israil mengambilnya. (Ma’alimut
Tanzil : 1/87)
Demikianlah
manna
dan salwa turun mulai
terbit fajar hingga terbit matahari. Bani Israil mengambilnya untuk
kebutuhan sehari itu. Inilah yang Allah kisahkan dalam ayat-Nya :
“Dan
Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu ‘manna’
dan ‘salwa’. Makanlah dari makanan yang baik-baik yang telah Kami
berikan kepadamu. Dan tidaklah mereka menganiaya Kami, akan tetapi
merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.”
(Al Baqarah : 57)
Kembali
Bani Israil memprotes Nabinya. Mereka merasa bosan dengan makanan yang
itu-itu terus, mereka meminta sayur mayur, bawang, dan lain-lain.
“Dan
(ingatlah), ketika kamu berkata : ‘Hai Musa, kami tidak bisa sabar
(tahan) dengan satu macam makanan saja. Sebab itu mohonkanlah untuk
kami kepada Tuhanmu, agar Dia mengeluarkan bagi kami dari apa yang
ditumbuhkan bumi, yaitu : Sayur mayurnya, ketimunnya, bawang putihnya,
kacang adasnya, dan bawang merahnya.’ Musa berkata : ‘Maukah kamu
mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik?
Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta
… .’ ” (Al Baqarah : 61)
Maka
Allah marah dan menetapkan bagi mereka kerendahan dan kehinaan.
Sebagaimana Allah katakan dalam lanjutan ayat tersebut.
“…
lalu ditimpakan kepada mereka kenistaan dan kehinaan, serta mereka
mendapatkan kemurkaan dari Allah. Yang demikian itu karena mereka
selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para Nabi tanpa
kebenaran. Yang demikian karena mereka selalu berbuat durhaka dan
melampaui batas.” (Al Baqarah
: 61)
Ketika
Nabi Musa ‘Alaihis Salam
dipanggil oleh Allah ke bukit Thursina untuk diberi Kitab Taurat
sebagai pegangan dan syari’at bagi Bani Israil, beliau menjanjikan
kepada mereka untuk pergi tidak lebih dari empat puluh malam.
Ternyata
iman mereka sangatlah rapuh. Di saat Nabi Musa ‘Alaihis
Salam meninggalkan mereka, dengan mudah, mereka diperdaya oleh Samiri.
Ia membuat seekor lembu dari perhiasan-perhiasan mereka dan
menjadikannya bersuara. Setelah itu Samiri mengatakan bahwa itulah
tuhannya Musa. Maka sesatlah Bani Israil, mereka menyembah anak sapi
tersebut. Dari 670.000 orang, hanya Harun ‘Alaihis Salam
dan 12 ribu orang saja yang tidak mau menyembahnya.
Al
Baghawi dalam Ma’alimut Tanzil
menyebutkan bahwa Bani Israil telah mengkhianati janji Musa. Mereka
menghitung malam dan siang sebagai dua malam sehingga setelah lewat
dua puluh hari mereka menganggap telah habis masa yang dijanjikan oleh
Musa yaitu 40 malam. Mereka tidak mau lagi memegang pesan-pesan Nabi
Musa ‘Alaihis Salam.
Mereka mengira Musa telah mati, kemudian mereka mengikuti ucapan
Samiri dan tidak mau mendengarkan nasihat Nabi Harun. Sebagian besar
dari mereka menjadi pengikut Samiri dan menjadi penyembah anak sapi,
bahkan mereka beri’tikaf (tirakat) di sekiktar anak sapi tersebut
kecuali Harun dan pengikutnya (Ma’alimut Tanzil jilid 1 halaman
82)
Sekembali
Musa ‘Alaihis Salam dari
pertemuannya dengan Allah, beliau mendapati kaumnya seperti itu. Maka
beliau pun sangat marah dan meminta mereka untuk bertaubat kepada
Allah. Maka mereka bertanya : ‘Bagaimana kami bertaubat?’ Maka
Allah memerintahkan kepada mereka untuk membunuh diri-diri mereka
sebagaimana Allah kisahkan :
“Dan
(ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya : ‘Hai kaumku,
sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah
menjadikan anak lembu (sesembahanmu), maka bertaubatlah kepada Tuhan
yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. Dan itu adalah lebih baik
bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu, maka Allah akan menerima
taubatmu. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha
Penyayang.” (Al Baqarah : 54)
Yakni
menurut Imam Al Baghawi hendaklah orang yang tidak menyembah anak sapi
membunuh orang yang menyembah anak sapi.
Maka
mereka pun duduk bersila di depan kemah-kemah mereka. Kemudian
dikatakan pada mereka : ‘Barangsiapa pindah dari tempatnya,
menjulurkan tangan kepada pembunuhnya atau mencoba menangkis dengan
tangan dan kakinya, maka dia terlaknat.’ Sedangkan orang-orang yang
tidak menyelisihi Musa dan Harun diperintahkan untuk membunuh mereka
dengan pedang-pedangnya.
Akan
tetapi mereka tidak tega mengayunkan pedang kepada saudaranya,
bapaknya, anaknya, kerabatnya, temannya, ataupun tetangganya, dalam
keadaan mereka melihatnya, hingga tidak mungkin bagi mereka untuk
melakukan perintah Allah tersebut. Mereka bertanya pada Musa : ‘Apa
yang harus kita lakukan?’
Dengan
tiba-tiba Allah mengirimkan pada mereka kabut hitam yang menyelimuti
mereka, mendadak cuaca gelap. Masing-masing tidak bisa melihat siapa
yang ada di hadapannya. Maka muncullah semangat dari 12.000 orang
pengikut Musa untuk membunuh orang-orang yang durhaka yang sudah duduk
di halamannya masing-masing. Pembantaian besar-besaran pun terjadilah
sehingga setelah beberapa saat berlangsung, Nabi Musa dan Harun
menangis dan memohon pada Allah : ‘Wahai Rabb kami, telah binasa
Bani Israil, sisakanlah mereka, sisakanlah mereka!’ Allah pun
menyingkapkan kembali awan hitam tersebut dan memerintahkan mereka
untuk berhenti membunuh. Maka terlihatlah oleh mereka puluhan ribu
mayat (Lihat Ma’alimut Tanzil 1/84-85)
Diriwayatkan
dari Ali bin Abi Thalib radhiallahu
'anhu bahwasanya ia berkata :
‘Jumlah mayat mereka yang terbunuh adalah 70.000 orang. Kejadian ini
menyedihkan Nabi Musa ‘Alaihis Salam.
Maka Allah mewahyukan padanya : ((Tidakkah engkau ridha Aku memasukkan
yang membunuh dan terbunuh ke dalam surga? Karena orang yang terbunuh
dari mereka sebagai syahid dan yang tersisa diampuni dosanya))’ (Masih
dalam sumber yang sama)
Inilah
makna ayat Allah :
“Maka
Allah pun menerima taubat kalian. Sesungguhnya Dia-lah yang Maha
Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”
(Al Baqarah : 54)
Tidak
cukup sampai disitu kedurhakaan Bani Israil kepada Nabi-Nya. Mereka
juga meminta untuk mendengar ucapan Allah secara langsung, yaitu
ketika Musa memilih 70 orang dari kaumnya yang termasuk orang-orang
pilihan. Nabi Musa memerintahkan pada mereka untuk berpuasa dan
mensucikan diri serta pakaiannya, kemudian mereka dibawa ke bukit
Thursina. Di sana mereka berkata : ‘Mintakan agar kami dapat
mendengar ucapan Rabb kami!’ Musa menjawab : ‘Saya akan
lakukan.’
Ketika
Musa mendekat ke puncak gunung Thursina, awan hitam turun menutupi
gunung sehingga gunung itu seluruhnya diselimuti awan hitam. Musa
berkata kepada mereka : ‘Mendekatlah.’ Maka mendekatlah mereka
hingga memasuki awan hitam tersebut dan mereka tersungkur sujud.
Ketika
Allah mengajak bicara Musa, terlihatlah cahaya yang memancar ke wajah
Nabi Musa dengan sangat terangnya sehingga tidak ada seorang pun dari
manusia yang mampu memandangnya.
Allah
pun kemudian memperdengarkan suara-Nya kepada Bani Israil. Maka mereka
mendengar ucapan Allah yang memberikan perintah dan larangan kepada
Musa.
Setelah
selesai dialog Musa dengan Rabb-nya dan disingkapkan kembali awan
tersebut. Mereka berkata sebagaimana Allah kisahkan dalam Al Qur’an
:
“Dan
ingatlah ketika kalian berkata : ‘Wahai Musa, kami tidak akan
percaya kepadamu hingga kami melihat Allah secara langsung (dengan
mata kepala mereka)… .’ “
(Al Baqarah : 55)
Maka
Allah murka dan bergelegarlah petir menyambar mereka dari langit satu
persatu. Sebagian terhadap sebagian yang lain saling melihat bagaimana
api menyambar mereka dari langit. Inilah yang Allah katakan dalam
kelanjutan ayat-Nya :
“…
maka kalian disambar halilintar sedangkan kalian menyaksikannya.”
(Al Baqarah : 55)
Nabi
Musa menangis sedih melihat mereka binasa dan berkata kepada Allah :
“Apa yang akan aku katakan kepada Bani Israil jika aku datang kepada
mereka, sedangkan orang-orang pilihan mereka telah binasa.” Kemudian
Nabi Musa berkata seperti Allah kisahkan :
“Kalau
Kau kehendaki kau binasakan mereka sebelum ini dan juga aku. Apakah
Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang bodoh di
antara kami?” (Al A’raf : 155)
Akhirnya
Allah mengabulkan doa Musa. Dengan kasih sayangnya Allah menghidupkan
kembali orang-orang pilihan tersebut agar mereka bersyukur. Inilah
yang dikatakan oleh Allah Subhanahu
wa Ta'ala :
“Dan
ingatlah, ketika Kami berfirman : ‘Masuklah kamu ke negeri ini
(Baitul Maqdis), dan makanlah dari hasil buminya, yang banyak lagi
enak di mana yang kamu sukai, dan masukilah pintu gerbangnya sambil
bersujud, dan katakanlah : ‘hitthah’ (Bebaskanlah kami dari dosa),
niscaya Kami ampuni kesalahan-kesalahanmu dan kelak Kami akan menambah
(pemberian Kami) kepada orang-orang yang berbuat baik.’ “
(Al Baqarah : 58)
“Lalu
orang-orang yang dhalim mengganti perintah dengan (mengerjakan) yang
tidak diperintahkan kepada mereka, sebab itu Kami timpakan atas
orang-orang yang dhalim siksa dari langit, karena mereka berbuat
fasiq.” (Al Baqarah : 59)
Ketika
Nabi Musa tidak mau mandi bersama, seperti layaknya Bani Israil,
mereka menunduh Nabi-Nya berpenyakit kelamin (adar),
tuduhan ini betul-betul menyakitkan hati Musa ‘Alaihis
Salam. Maka Allah berfirman mengingatkan kita agar jangan seperti mereka :
“Hai
orang-orang yang beriman, jangan kalian menjadi seperti orang yang
menyakiti hati Musa, maka Allah membersihkannya dari tuduhan-tuduhan
yang mereka katakan. Dan adalah dia seorang yang mempunyai kedudukan
terhormat di sisi Allah.” (Al
Ahzab : 69)
Dan
terus mereka membantah Nabi-Nya, mendebatnya, menentangnya, dan
seterusnya.
Ketika
Nabi Harun ‘Alaihis Salam
meninggal, mereka menuduh Musa ‘Alaihis Salam
karena dengki.
Mereka
meminta bukti-bukti nyata kalau kurban mereka telah diterima oleh
Allah.
Mereka
meminta bukti-bukti yang nyata kalau dosa-dosa mereka telah
dihapuskan.
Mereka
merubah-ubah Taurat, berdusta atas nama Allah, menulis dengan
tangan-tangan mereka sendiri dan kemudian menyatakan : ‘Ini dari
Allah.’ Karena menginginkan keuntungan dunia.
Mereka
menghapus hukum rajam.
Mereka
menghalalkan riba.
Mereka
… .
Mereka
… . Dan seterusnya.
Kemudian
yang terakhir, mereka tidak mau menepati janjinya kepada Allah untuk
mengikuti Nabi terakhir, Nabi untuk seluruh bangsa, untuk seluruh
manusia, Nabi Muhammad Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam dengan merubah
semua berita-berita Taurat yang berkaitan dengan Nabi Muhammad Shallallahu
'Alaihi Wa Sallam. Maka Allah
melaknatnya sampai hari kiamat.
PENUTUP
Demikianlah
Bani Israil yang dijajah, ditindas dan diperbudak selama 400 tahun
oleh bangsa Qibti. Kemudian Allah selamatkan mereka daripadanya,
dengan diutusnya Nabi Musa ‘Alaihis
Salam membawa dakwah tauhid.
Namun
terlihat walaupun mereka telah merdeka secara fisik, mental mereka
masih terjajah. Mereka masih menganggap kebesaran dan kehebatan
Fir’aun sehingga mereka tetap belum percaya kalau Fir’aun dan
tentaranya telah binasa di Laut Merah. Mereka mengatakan Fir’aun
tidak akan mati, hingga Allah memperlihatkan kepada mereka bangkai
Fir’aun.
Juga
mereka masih menganggap bangsa Qibti adalah bangsa yang besar dan
mulia. Semua yang datang dari bangsa Qibti adalah hebat hingga
cenderung untuk mengikuti budaya mereka. Bahkan yang paling parah
mereka meminta kepada Musa ‘Alaihis
Salam agar dijadikan untuk mereka
berhala seperti mereka punya berhala.
Mental
mereka masih tetap mental budak, kerdil dan penakut. Sehingga ketika
mereka dihadapkan untuk berperang melawan Jabbarin
di Baitul Maqdis, mereka mengatakan : ‘Lebih baik kami tetap di
Mesir (di bawah jajahan Fir’aun) daripada kami jadi santapan Jabbarin.’
Demikian
pula pikiran mereka masih terjajah dengan pikiran Fir’aunisme yang
mengatakan :
“Wahai
Hamman, bangunlah untukku menara yang tinggi supaya aku sampai ke
pintu-pintu, yaitu pintu-pintu langit, supaya aku bisa melihat
tuhannya Musa. Dan sesungguhnya aku yakin Musa berdusta.”
(Al Ghafir : 36-37)
Yakni
Fir’aun tidak percaya dengan perkara yang ghaib kecuali kalau
melihatnya sendiri dengan mata kepala mereka. Inilah Fir’aunisme
yang masih merasuk di kepala-kepala Bani Israil sehingga mereka
berkata kepada Nabi Musa :
“Dan
ingatlah ketika kalian berkata kepada Musa : ‘Kami tidak akan
percaya kepadamu (wahai Musa) hingga kami melihat Allah dengan mata
kepala kami … .” (Al
Baqarah : 55)
Lihatlah
wahai pembaca! Sering kali penjajahan membentuk kepribadian suatu
bangsa. Maka bagaimana dengan bangsa kita yang dijajah selama 350
tahun oleh bangsa asing dengan misi kristenisasinya.
Tentunya
jika kita ingin merdeka dengan makna yang sebenarnya, tidak cukup kita
hanya mengusir penjajah secara fisik. Tetapi kita harus memperbaiki
kembali mental bangsa kita dan membuang mental bangsa terjajah atau
mental budak yang telah terbentuk.
Di
antara contoh mental budak adalah :
1.
Ketika berada di bawah dia menjilat atasan, ketika berada di
atas dia menindas dan menginjak-injak yang ada di bawah kekuasaannya.
2.
Bersifat oportunis, mementingkan keselamatan dan keuntungan
pribadi, tidak peduli dengan bangsanya sendiri, membebek kepada bangsa
asing, meniru budaya mereka yang notabenenya budaya kafir.
Ketergantungan pada negara-negara
penjajahnya dalam hal ekonomi dan lain sebagainya.
3.
Perasaan takut dan minder kepada negara-negara eks penjajahnya
atau negara Eropa lainnya secara umum. Ingat penjajahan anak bangsa
lebih kejam dari penjajahan bangsa asing.
Dan
perlu diketahui bahwa tidak akan terwujud perbaikan mental terjajah
menjadi mental seorang yang mulia dan merdeka kecuali dengan dakwah
tauhid yang mengajarkan manusia untuk hanya beribadah kepada Allah,
hanya mengagungkan Allah dan tidak mau diperbudak kecuali oleh Allah
melalui Nabi dan utusan-Nya dengan bimbingan para ulama pewaris Nabi.
Bahkan tidak mau diperbudak oleh harta dunia ataupun hawa nafsu
sendiri sekalipun. Wallahu A’lam
Bish Shawab.
DAFTAR
PUSTAKA
1.
Al Qur’anul Adhim.
2.
Al Jami’ li Ahkamil Qur’an.
Abi Abdillah Al Qurthubi, penerbit Darus Sa’bi.
3.
Al Bidayah Wan Nihayah. Abul Fida’ Al Hafidh Ibnu Katsir. Penerbit Darul Kutub Al Ilmiyah.
Beirut.
4.
Jami’ul Bayan fi Ta’wilil Qur’an.
Abu Ja’far At Thabari. Penerbit Darul Kutub Al Ilmiyah. Beirut. 1412
H / 1992 M.
5.
Tafsirul Qur’anil Adhim. Ibnu Katsir. Penerbit Darus Salam. Tanpa Tahun.
6.
Tafsirul Qur’anil Adhim. Imam Ibnu Abi Hatim. Penerbit Nizar Musthafa Al Baz. 1419 H / 1999 M.
7.
Ma’alimut Tanzil fit Tafsiri wa Ta’wil.
Abu Muhammad Al Baghawi. Penerbit Darul Fikr. 1405 H / 1985 M.
|