Iman
Bertambah dan Berkurang
Oleh:
Zuhair bin Syarif
Iman bagi seorang hamba
mempunyai kedudukan tinggi dan luhur. Dia adalah kewajiban yang paling wajib
dan kepentingan yang paling penting. Setiap kebaikan dunia dan akhirat
tergantung pada kebaikan dan keselamatan iman. Betapa banyak faidah melimpah,
buah-buahan yang beraneka ragam, panen yang lezat dan makanan yang tak
kunjung habis serta kebaikan yang terus mengalir karena keimanan. Dari sini
kaum Muslimin berlomba-lomba untuk menjaga, memurnikan dan menyempurnakan
imannya. Seorang Muslim yang diberi taufiq oleh Allah seharusnya
menomorsatukan penjagaannya terhadap keimanan di atas segalanya dalam rangka
mencontoh Salafus Shalih Radliyallahu ‘Anhum Ajma’in. Para Salaf
selalu bersungguh-sungguh menjaga keimanan mereka, memeriksa amal mereka dan
saling berwasiat di antara mereka. Atsar-atsar mereka yang demikian sangat
banyak di antaranya:
|
1. |
Atsar dari Umar bin Al
Khaththab Radliyallahu ‘Anhu. Beliau berkata kepada para
shahabatnya: “Marilah kemari, kita menambah keimanan.” |
|
2. |
Atsar dari Abdullah bin
Mas’ud Radliyallahu ‘Anhu. |
Beliau berkata: “Duduklah
bersama kami, kita menambah keimanan.” Beliau juga biasa mengatakan dalam
doanya: “Ya Allah, tambahlah iman, keyakinan dan kepahamanku.”
|
3. |
Mu’adz bin Jabal
Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Duduklah bersama kami, kita beriman
sejenak.” |
|
4. |
Abdullah bin Rawahah
Radliyallahu ‘Anhu pernah mengambil tangan sekelompok shahabatnya
sambil berkata: “Marilah kemari menambah iman sejenak, marilah berdzikir
kepada Allah dan menambah keimanan dengan taat kepada-Nya. Semoga Dia
mengingat kita dengan membawa ampunan-Nya.” |
|
5. |
Abu Darda’
Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Termasuk dari kepahaman agama seorang
hamba adalah dia mengetahui apakah imannya bertambah atau berkurang dan
dia mengetahui bisikan-bisikan setan dari mana saja ia datang.” |
|
6. |
Umair bin Hubaib Al
Khithami Radliyallahu ‘Anhu berkata: “Iman itu bertambah dan
berkurang.” |
Dia ditanya: “Apa yang
menyebabkan bertambah dan berkurangnya?” Dia menjawab: “Apabila kita
berdzikir kepada Allah Azza wa Jalla, memuji-Nya dan bertasbih
kepada-Nya maka itulah bertambahnya iman. Dan apabila kita lalai,
menyia-nyiakan dan melupakan-Nya maka itulah berkurangnya iman.”
|
7. |
Alqamah bin Qais An
Nakha’i Rahimahullah (salah seorang tokoh ulama tabi’in) berkata
kepada para sahabatnya: “Marilah berjalan bersama kami menambah keimanan.” |
|
8. |
Abdurrahman bin Amr Al
Auza’i Rahimahullah pernah ditanya tentang keimanan apakah bisa
bertambah? |
Beliau menjawab: “Betul (bertambah)
sampai seperti gunung.” Beliau ditanya lagi: “Apakah bisa berkurang?” Beliau
menjawab: “Ya, sampai tidak tersisa sedikit pun.”
|
9. |
Imam Ahlus Sunnah Ahmad bin Hanbal Rahimahullah
pernah ditanya tentang keimanan apakah bisa bertambah dan berkurang
beliau menjawab: “Iman bertambah sampai puncak langit yang tujuh dan
berkurang sampai kerak bumi yang tujuh.” Beliau juga berkata: “Iman itu
ucapan dan amalan, bertambah dan berkurang. Apabila engkau mengamalkan
kebajikan maka ia bertambah dan apabila engkau menyia-nyiakannya maka ia
pun akan berkurang.” |
Atsar-atsar dan pernyataan
mereka sangat banyak. Kalau kita memperhatikan sejarah hidup mereka dan
membaca kabar tentang mereka kita akan mengetahui begitu besar perhatian
mereka terhadap keimanan.
Telah diketahui dari mereka
bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan menjalankan
sebab yang membuat kuatnya iman. Oleh karena itu sangat penting bagi setiap
Muslim untuk mengetahui sebab-sebab yang menjadikan keimanan bertambah dan
berkurang atau yang menguatkan dan melemahkan (membatalkannya), Al Alamah
Abdul Rahman Ibnu Sa’di mengatakan:
Seorang Mukmin yang diberi taufiq oleh Allah, dia senantiasa
berusaha melakukan dua hal yaitu:
Pertama, memurnikan keimanan dan cabang-cabangnya dengan cara
mengilmui dan mengamalkannya.
Kedua, berusaha untuk menolak atau membentengi diri dari
bentuk-bentuk ujian yang tampak maupun tersembunyi yang dapat menafikan (menghilangkan)nya
dan membatalkannya atau mengikisnya. (At Taudlih wal Bayan
Lisyajaratil Iman halaman 38)
Dari sini saya akan
menukilkan beberapa keterangan para ulama tentang sebab-sebab bertambah dan
berkurangnya iman. Di antara sebab bertambahnya adalah mempelajari ilmu yang
bermanfaat berdasarkan Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam.
Ibnu Rajab mendefinisikan
ilmu sebagai berikut: “Ilmu yang bermanfaat adalah mempelajari dengan
seksama isi Al Kitab dan As Sunnah serta makna-maknanya berdasarkan atsar
shahabat dari tabi’in serta tabi’ut tabi’in di dalam memahami keduanya serta
ucapan mereka dalam permasalahan halal, haram, kezuhudan, permasalahan hati,
ilmu pengetahuan dan lain-lain.” (Fadlu Ilmis Salaf ‘alal Khalaf
halaman 45)
Sebab yang paling besar
dalam bertambahnya iman perhatikanlah nash-nash dari Al Quran dan Al Hadits
berikut ini.
Allah berfirman:
“Allah menyaksikan bahwa
tidak ada ilah yang berhak disembah melainkan Dia, Yang Menegakkan Keadilan.
Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga mengatakan yang demikian
itu). Tidak ada ilah yang berhak untuk disembah melainkan Dia Yang Maha
Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Ali Imran : 18)
Juga firman Allah:
“Tetapi orang-orang yang
mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang Mukmin mereka beriman
dengan apa-apa yang telah diturunkan kepadamu (Al Quran) dan apa yang telah
diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan
zakat dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah
yang akan Kami berikan pahala yang besar.”
(QS. An Nisa : 162)
Serta firman-Nya:
“Sesungguhnya yang takut
kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya hanyalah ulama.”
(QS. Fathir : 28)
Serta ayat lain yang
semakna. Adapun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Barangsiapa yang
dikehendaki oleh Allah dengan kebaikan maka Allah akan menfaqihkannya dalam
perkara agama.”
(HR. Bukhari 1/164, 6/217, 12/293 dan Muslim 3/1524)
Juga sabdanya:
“Barangsiapa yang menempuh
suatu jalan dalam rangka menuntut ilmu, Allah akan memudahkan baginya jalan
ke surga. Dan sesungguhnya para malaikat meletakkan sayap-sayap mereka
kepada pencari ilmu karena ridha dengan apa yang dia perbuat. Sesungguhnya
seorang yang alim akan dimintakan ampunan baginya oleh semua yang ada di
langit dan bumi sampai ikan hiu di dalam air. Sesungguhnya keutamaan orang
alim atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaan bulan di malam
purnama atas segala bintang-bintang. Sesungguhnya para ulama adalah pewaris
para nabi dan para nabi tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham akan
tetapi mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya maka
berarti dia telah mengambil bagian yang banyak.”
(HR. Imam Ahmad 5/196, Abu Daud 3/317, Tirmidzi 5/49, Ibnu Majah
1/81, Ad Darimi 1/98, Ibnu Hibban 1/152 dan dishahihkan oleh Al Albani di
dalam Shahihul Jami’ 5/302)
Serta sabda beliau
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Keutamaan seorang alim
atas seorang ahli ibadah adalah seperti keutamaanku atas orang yang paling
rendah di antara kalian. Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla, para malaikat-Nya
serta penduduk langit dan bumi sampai semut yang ada di lubangnya dan ikan
hiu semua mengucapkan shalawat atas seorang yang mengajarkan kebaikan kepada
manusia.”
(HR. Tirmidzi 5/50 dishahihkan oleh Syaikh Al Albani di dalam
Shahih Tirmidzi 2/343)
Nash-nash di atas
menerangkan kedudukan dan keagungan serta pentingnya ilmu dan akibat atau
pengaruhnya di dunia dan di akhirat berupa ketundukan dan keterikatan pada
syariat Allah serta merealisasikannya. Maka seorang alim yang mengenal
Rabbnya, nabinya, perintah dan batasan-batasan hukum Allah dapat membedakan
perkara-perkara yang dicintai dan diridlai Allah dengan perkara-perkara yang
dibenci-Nya. Inilah ilmu yang bermanfaat.
Bertambahnya iman yang
dihasilkan dari sisi ilmu terjadi dari beberapa segi di antaranya adalah
keluarnya si penuntut ilmu untuk mencari ilmu, duduknya di majlis-majlis
dzikir, berdiskusi dalam permasalahan ilmu, bertambahnya pengenalan mereka
kepada Allah dan syariat-syariat-Nya, aplikasinya tentang apa yang
dipelajari kemudian dia ajarkan yang dengan ini dia mendapatkan pahala dan
sebagainya.
Adapun dalam bagian-bagian
ilmu syar’i yang bisa menyebabkan bertambahnya ilmu adalah:
|
1. |
Membaca dan tadabbur Al Quran Al Karim. |
Hal ini termasuk ilmu yang
paling agung yang menyebabkan bertambah dan tetap serta kuatnya keimanan.
Allah telah menurunkan Kitab-Nya sebagai penerang bagi hamba-hamba-Nya,
sebagai petunjuk, rahmat, cahaya, kabar gembira dan peringatan bagi
orang-orang yang ingat.
Banyak sekali nash-nash
yang menerangkan tentang perkara ini di antaranya Allah berfirman:
“Dan sesungguhnya Kami
telah menurunkan sebuah Kitab (Al Quran) kepada mereka yang Kami telah
menjelaskannya atas dasar pengetahuan Kami. Menjadi petunjuk dan rahmat bagi
orang-orang yang beriman.”
(QS. Al A’raf : 52)
Juga pada surat Al An’am 92
dan 155, An Nahl 89, Shad 29, Al Isra 9 dan 82, Qaf 37 dan lain-lain.
Ayat-ayat ini menerangkan
keutamaan Al Quran Al Karim. Orang yang membaca, mentadaburi dan
memperhatikannya akan mendapatkan ilmu dan pengetahuan yang menjadikan
imannya kuat dan bertambah. Allah mengabarkan tentang orang-orang Mukminin
yang berbuat demikian.
“Sesungguhnya orang-orang
beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati
mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman
mereka dan kepada Rabblah mereka bertawakkal.”
(QS. Al Anfal : 2)
Imam Al Ajurri
Rahimahullah berkata:
Barangsiapa yang tadabur (memperhatikan) Al Quran, dia akan
mengenal Rabbnya Azza wa Jalla dan mengetahui keagungan, kekuasaan
dan qudrah-Nya serta ibadah yang diwajibkan atasnya. Maka dia
senantiasa melakukan setiap kewajiban dan menjauhi dari segala sesuatu yang
tidak disukai maulanya (yaitu Allah).
Ayat-ayat di atas adalah
dalil yang sangat jelas dalam menerangkan pentingnya Al Quran dan pentingnya
memperhatikan dan penjagaan kepadanya serta kuatnya pengaruh terhadap hati.
Inilah yang paling tinggi kedudukannya dan menyebabkan bertambahnya iman.
Ibnul Qayyim
Rahimahullah berkata:
Kesimpulannya adalah tidak ada sesuatu yang lebih bermanfaat
bagi hati daripada membaca Al Quran dengan tadabur dan tafakur.
|
2. |
Mengenal Asmaul Husna dan sifat Allah yang terdapat dalam
Al Quran dan As Sunnah yang menunjukkan kesempurnaan Allah secara mutlak
dari berbagai segi. |
Apabila seseorang hamba
mengenal Rabbnya dengan pengetahuan yang hakiki kemudian selamat dari jalan
orang-orang yang menyimpang tentang pengenalan terhadap Allah yang dibangun
di atas tahrif, ta’thil, takyif atau tasybih
terhadap asma dan sifat-sifat Allah, sungguh dia telah diberi taufik dalam
mendapatkan tambahan iman. Karena seorang hamba apabila mengenal Allah
dengan jalan yang benar dia termasuk orang yang paling kuat imannya dan
ketaatannya, takutnya dan muraqabah-nya kepada Allah Ta’ala.
Allah berfirman:
“Sesungguhnya yang takut
kepada Allah dari para hamba-Nya adalah ulama.”
(QS. Fathir : 28)
Ibnu Katsir mengatakan:
Sesungguhnya hamba yang benar-benar takut kepada Allah adalah
ulama yang mengenal Allah. (Ibnu Katsir 3/553. Ahmad bin Ashim
Al Anthadi berkata: “Barangsiapa yang lebih mengenal Allah maka dia lebih
takut kepada-Nya.” [Ar Risalah Al Qusyairi halaman 141])
|
3. |
Memperhatikan sirah/perjalanan hidup Rasulullah
Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. |
Termasuk dari sebab
bertambahnya iman adalah mengamati dan memperhatikan serta mempelajari sirah
nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan sifat-sifat beliau yang baik
serta perangainya yang mulia. Dialah pilihan Allah di kalangan para
makhluk-Nya, yang dipercaya untuk wahyu-Nya, yang diutus dengan agama yang
kokoh dan manhaj yang lurus. Allah mengutus beliau sebagai rahmat bagi
seluruh alam dan sebagai imam serta hujah atas hamba-hamba-Nya.
Ibnul Qayyim berkata:
Dari sini kamu mengetahui sangat pentingnya hamba untuk
mengenal Rasul dan apa yang dibawanya dan membenarkan pada apa yang beliau
kabarkan serta mentaati apa yang beliau perintahkan karena tidak ada jalan
kebahagiaan dan keberuntungan di dunia dan tidak pula di akhirat kecuali
dengannya (tuntunan Rasul). Tidak ada jalan untuk mengetahui baik dan jelek
secara mendetail kecuali darinya. Maka kalau seseorang memperhatikan sifat
dan akhlak Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di dalam Al Quran
dan hadits, dia akan mendapatkan manfaat dengannya yaitu ketaatan dia kepada
Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjadi kuat dan bertambah
cintanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah tanda
bertambahnya keimanan yang mewariskan mutaba’ah dan amalan shalih.
|
4. |
Mempraktikkan kebaikan-kebaikan agama Islam. |
Sesungguhnya ajaran Islam
semuanya baik, paling benar aqidahnya, paling terpuji akhlaknya, paling adil
hukum-hukumnya. Dari pandangan yang mulia ini, Allah menghiasi keimanan di
hati seorang hamba dan membuatnya cinta kepada iman. Sebagaimana Allah
memenuhi cintanya kepada pilihan-Nya dari kalangan makhluk-Nya yakni
Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan firman-Nya:
“Tetapi Allah menjadikan
kamu cinta kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah dalam hatimu.”
(QS. Al Hujurat : 7)
Maka iman di hati seorang
hamba adalah sesuatu yang sangat dicintai dan yang paling indah. Oleh karena
itu seorang hamba akan merasakan manisnya iman yang ada di hatinya sehingga
dia akan menghiasi hatinya dengan pokok-pokok dan hakikat-hakikat keimanan
dan menghiasi anggota badannya dengan amal-amal nyata. (Lihat
At Taudlih wal Bayan halaman 32-33)
Apabila kita memperhatikan
kebaikan-kebaikan yang terdapat dalam agama ini berupa perintah-perintah dan
larangan-larangan, syariat dan hukum-hukum akhlak dan adab-adab yang menjadi
sebab bagi orang tidak beriman semakin menjauh dan sebagai bahan tambahan (iman)
bagi orang yang beriman. Bahkan barangsiapa yang kuat perhatiannya kepada
kebaikan-kebaikan agama ini kakinya akan semakin kokoh di dalam mengenal
kebaikan serta kesempurnaannya. Begitu pula jika ia memperhatikan
kejelekan-kejelekan akibat karena menentang agama maka dia akan termasuk
orang yang paling kuat dan kokoh imannya.
Oleh karena itu Ibnul
Qayyim Rahimahullah berkata:
Orang-orang yang khusus dan berakal tatkala akal mereka
menyaksikan kebaikan, kemuliaan dan kesempurnaan agama ini dan menyaksikan
kejelekan dan kerendahan sesuatu yang menentangnya (agama) jika bercampur
dengan keimanan, kecintaan dan kejernihan hati maka kalau pun dia disuruh
memilih antara dimasukkan ke neraka dengan memilih selain agama ini (Islam)
serta dia lebih memilih untuk dimasukkan ke api atau dipotong-potong anggota
badannya dan tidak memilih agama lain. Contoh ini adalah manusia yang
kaki-kaki mereka kokoh dalam keimanan, paling jauh kemungkinan untuk murtad
darinya dan yang paling berhak untuk tetap atasnya sampai hari bertemu
Allah. (Miftahud Daris Sa’adah halaman 340-341)
Ucapan beliau itu didukung
oleh hadits Anas bin Malik Radliyallahu ‘Anhu bahwa Rasulullah
bersabda:
“Tiga perkara yang
barangsiapa ada padanya dia akan mendapatkan manisnya iman. Yaitu jika Allah
dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, jika ia mencintai
seseorang tidaklah mencintainya kecuali karena Allah dan jika dia benci
untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci untuk dilemparkan ke
neraka.”
(HR. Bukhari 1/60 dan Muslim 1/66)
Al Walid hafidlahullah
menyebutkan beberapa faidah dari hadits itu di antaranya hadits tersebut
menunjukkan perbedaan tingkatan keimanan dan bahwa iman itu bertambah dengan
ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Barangsiapa memiliki tiga
perangai itu maka dia akan mendapatkan manisnya iman berbeda dengan lainnya.
(Isyruna Haditsan min Shahih Bukhari halaman 167)
|
5. |
Membaca sirah Salaf umat ini. |
Salaf umat ini yaitu para
shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang
yang mengikuti mereka dengan baik adalah generasi pertama dalam Islam,
sebaik-baik generasi, penjaga Islam, pembimbing para makhluk, orang-orang
yang menyaksikan kejadian-kejadian yang agung, pembawa-pembawa agama ini dan
penyampai risalah kepada zaman sesudah mereka, manusia yang paling kuat
imannya dan kokoh ilmu di kalangan manusia, yang paling baik hatinya dan
paling suci jiwa-jiwa mereka. Mereka diberi kekhususan oleh Allah dengan
melihat nabinya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mendengar langsung
suara dan ucapan beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mengambil
agama dari beliau sehingga jiwa mereka kokoh.
Keutamaan mereka disebutkan
dalam firman Allah:
“Kalian adalah umat terbaik
yang dikeluarkan bagi manusia.” (QS. Ali Imran : 110)
Yang maknanya adalah mereka
adalah sebaik-baik umat dan yang paling bermanfaat bagi manusia.
Dan sabda Rasulullah:
“Sebaik-baik umatku adalah
generasi saat aku diutus kemudian orang yang sesudahnya ….”
(HR. Muslim 4/1964)
Barangsiapa memperhatikan
dan membaca perjalanan hidup mereka akan mengetahui kebaikan-kebaikan mereka,
akhlak-akhlak yang agung, ittiba’ mereka kepada Allah, perhatian
mereka terhadap iman, rasa takut mereka dari dosa, kemaksiatan, riya’
dan nifaq, ketaatan mereka dan bersegera dalam kebaikan, kekuatan iman
mereka dan kuatnya ibadah mereka kepada Allah dan sebagainya. Dengan
memperhatikan keadaan mereka maka iman menjadi kuat dan timbul keinginan
untuk menyerupai mereka dalam segala hal sebagaimana ucapan Syaikhul Islam
Ibnu Taimiyah: “Barangsiapa lebih serupa dengan mereka (shahabat) maka dia
lebih sempurna imannya (Al Ubudiyah halaman 94) dan
barangsiapa yang menyerupai suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka.”
Sebab-Sebab Berkurangnya Iman
Kita mengetahui sebab-sebab
berkurangnya iman sebagai tameng dan kehati-hatian kita agar tidak terjatuh
ke dalamnya. Sebagaimana ucapan Hudzaifah Ibnul Yaman Radliyallahu ‘Anhu:
“Para shahabat bertanya
kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang kebaikan sedangkan
aku bertanya tentang kejelekan karena aku takut kejelekan itu mengenaiku.”
(Al Bukhari 7/93 dan Muslim 3/1975)
Ibnul Jauzi berkata:
“Mengetahui kejelekan adalah agar berhati-hati dari terjatuh padanya.” (Talbis
Iblis halaman 4 dan Al Fatawa Ibnu Taimiyah 10/301)
Serta ucapan seorang
penyair:
Aku mengetahui kejelekan bukan untuk melakukannya
Akan tetapi untuk menghindarinya
Barangsiapa yang tidak mengenal kejelekan dikawatirkan dia
akan terjerumus padanya
Sebab-sebab berkurangnya
iman terbagi menjadi dua bagian dan setiap bagian terbagi lagi dalam
beberapa bagian.
Bagian pertama,
sebab-sebab dari dalam berupa:
|
a. |
Kobodohan sebagai lawan dari ilmu. |
Sebagaimana ilmu menjadi
sebab bertambahnya iman maka kebodohan juga menjadi sebab berkurangnya iman.
Terjadinya perbuatan dosa dan kemaksiatan sering disebabkan karena kebodohan.
Allah berfirman menceritakan kebodohan kaum Musa Alaihis Salam:
Mereka (kaum Musa) berkata:
“Wahai Musa, buatkan bagi kami tuhan-tuhan sebagaimana mereka mempunyai
tuhan-tuhan.” Musa berkata: “Sesungguhnya kalian adalah kaum yang bodoh.”
(QS. Al A’raf : 138)
Juga banyak ayat lain yang
menerangkan tentang yang demikian.
Oleh karena itu Imam At
Thabari menyebutkan di dalam Tafsir-nya riwayat dari Abu
Aliyah bahwa beliau berkata: “Setiap dosa yang dilakukan seseorang hamba
adalah karena kebodohannya.”
Qatadah berkata: “Para
shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersepakat
berpendapat bahwa setiap perbuatan maksiat terhadap Allah adalah karena
kebodohan, baik secara sengaja atau tidak.”
Mujahid berkata: “Setiap
orang yang bermaksiat kepada Allah maka hal itu karena kebodohannya sampai
dia mau bertaubat.”
As Suddi berkata: “Selama
seorang hamba bermaksiat kepada Allah maka dia adalah orang yang bodoh.”
Ibnu Zaid mengatakan:
“Setiap seorang berbuat suatu maksiat kepada Allah maka dia bodoh sampai dia
berlepas diri darinya.” (Lihat atsar-atsar ini di dalam Tafsir
At Thabari 3/229, 5/209, Tafsir Al Baghawi 1/407,
Al Fatawa 7/22, Tafsir Ibnu Katsir 1/463)
Maka kebodohan dan rusaknya
ilmu adalah sebab pokok rusaknya amal dan berkurangnya iman.
|
b. |
Lalai, berpaling dan lupa. |
Tiga perkara ini merupakan
sebab yang besar di antara sebab-sebab berkurangnya iman. Barangsiapa yang
diliputi oleh kelalaian dari taat kepada Allah dan disibukkan oleh lupa
kepada Allah maka muncullah dari dirinya penentangan sehingga akan kurang
dan lemah imannya yang akhirnya hatinya menjadi sakit dan mati dan dia akan
dikuasai oleh syahwat dan syubhat.
Allah mensifati orang yang
menentang sebagai orang yang paling zhalim dan termasuk orang-orang yang
berdosa dengan firman-Nya:
“Dan siapakah yang lebih
dhalim daripada orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat Rabbnya
kemudian ia berpaling darinya? Sesungguhnya Kami akan memberikan balasan
kepada orang-orang yang berdosa.”
(QS. As Sajdah : 22)
Allah juga mengabarkan
bahwa Dia menutup hati orang-orang yang menentang sehingga mereka tidak
mendapat petunjuk dengan firman-Nya:
“Dan siapakah yang lebih
dhalim daripada orang-orang yang telah diperingatkan dengan ayat-ayat dari
Rabbnya lalu dia berpaling darinya dan melupakan apa yang telah dikerjakan
oleh kedua tangannya? Sesungguhnya Kami telah meletakkan tutupan di atas
hati mereka (sehingga mereka tidak) memahami dan (Kami letakkan pula)
sumbatan di telinga mereka dan kendati pun kamu menyeru mereka kepada
petunjuk niscaya mereka tidak akan mendapat petunjuk selama-lamanya.”
(QS. Al Kahfi : 57)
Allah juga menerangkan
bahwa penentangan terhadap-Nya menyebabkan kehidupan yang sempit di dunia
dan di akhirat sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
“Dan barangsiapa berpaling
dari peringatan-Ku maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit dan
Kami akan menghimpunnya pada hari kiamat dalam keadaan buta.”
(QS. Thaha : 124)
Demikian pula mereka di
hari kiamat nanti akan membawa dosa dan mendapat adzab. Sebagimana
firman-Nya:
“Barangsiapa berpaling dari
Al Quran maka sesungguhnya ia akan memikul dosa yang besar pada hari kiamat.”
(QS. Thaha : 100)
Dan firman-Nya yang lain:
“Barangsiapa berpaling dari
peringatan Rabbnya akan dimasukkan ke dalam adzab yang besar.”
(QS. Al Jin : 18)
Masih banyak lagi ayat-ayat
yang mengabarkan tentang bahayanya berpaling dari ayat-ayat atau peringatan
Allah. Bahaya yang paling besar adalah hilangnya keimanan bagi yang
menentang, menjadikan lemahnya iman orang yang beriman sesuai dengan
penolakan seorang hamba tadi.
|
c. |
Melakukan kemaksiatan dan dosa-dosa. |
Sebagian besar Salaf
menyatakan bahwa iman itu bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan
kemaksiatan. Sebagaimana suatu perbuatan yang diperintahkan oleh Allah
berupa kewajiban dan sunnah dapat menambah iman begitu juga melakukan
sesuatu yang dilarang dari bentuk haram dan makruh akan mengurangi iman.
Syaikh Muhammad Al Utsaimin
hafidlahullah berkata: “Melakukan kemaksiatan akan menyebabkan iman
berkurang sesuai dengan kadar kemaksiatan tersebut dan sikap meremehkannya.”
Berkurangnya iman dengan
sebab melakukan dosa-dosa besar akan lebih dratis daripada dengan sebab
melakukan dosa-dosa kecil. Berkurangnya iman dengan sebab membunuh jiwa yang
diharamkan untuk membunuhnya akan lebih dratis daripada berkurangnya iman
dengan sebab mengambil harta orang lain tanpa hak. Berkurangnya keimanan
dengan sebab mengerjakan dua maksiat akan lebih dratis daripada dengan satu
kemaksiatan dan begitulah seterusnya ….
|
d. |
Nafsu yang selalu menyuruh kepada kejelekan. |
Allah menjadikan nafsu
amarah bis su’ (nafsu yang selalu menyuruh kepada kejelekan)
sebagai tabiat dan pembawaan serta karakternya kecuali nafsu yang diberi
taufik, dikuatkan serta ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menceritakan tentang Yusuf
Alaihis Salam:
“Dan aku tidak membebaskan
diriku (dari kesalahan) karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada
kejahatan. Kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Rabb-ku. Sesungguhnya
Rabb-ku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS. Yusuf : 53)
Dan firman Allah:
“Sekiranya tidaklah karena
karunia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian niscaya tidak seorang pun
dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar itu)
selama-lamanya.”
(QS. An Nur : 21)
Dan firman Allah kepada
sebaik-sebaik makhluk-Nya yakni Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
“Dan kalau Kami tidak
memperkuat (hati)mu niscaya kamu hampir-hampir condong kepada mereka.”
(QS. Al Isra : 74)
Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam juga mengajari para shahabat beliau khuthbah hajat
dengan sabdanya:
“Segala puji bagi Allah,
kami memuji-Nya, minta pertolongan kepada-Nya dan minta ampunan kepada-Nya.
Dan kami minta perlindungan kepada Allah dari kejahatan-kejahatan jiwa (nafsu)
kami dan dari kejelekan amalan-amalan kami. Barangsiapa yang Allah beri
hidayah maka tidak ada yang menyesatkannya dan barangsiapa yang
disesatkan-Nya maka tidak ada yang dapat menunjukinya.”
(HR. Abu Dawud 2/238, An Nasa’i 3/105)
Di dalam nash-nash ini
diterangkan bahwa kejelekan yang terdapat pada jiwa akan mengakibatkan
kejelekan amalan kecuali yang diberi taufik dan ditolong oleh Allah niscaya
dia akan selamat.
Allah menjadikan
nafsu-nafsu ini sebagai lawan nafsu muthma’inah sebagaimana ucapan
Ibnul Qayyim Rahimahullah:
Allah menciptakan manusia atas dua nafsu, nafsu amarah bis
su’ dan nafsu muthma’inah yang keduanya saling bertentangan.
Setiap salah satu ringan maka yang lainnya menjadi berat. Setiap yang satu
darinya merasakan kelezatan maka yang lain akan merasa sakit. Bagi nafsu
amarah tidak ada yang lebih berat daripada beramal karena Allah dan
mengutamakan ridla Allah. (Al Jawabul Kafi halaman 184-185)
Maka tidak ada yang lebih
berbahaya atas iman dan agama seseorang daripada nafsu amarahnya yang
merupakan sebab yang pokok di dalam lemahnya iman.
Bagian kedua, yaitu sebab-sebab dari luar yang mempengaruhi
berkurangnya iman yaitu:
Di antara sebab-sebab luar
yang mempengaruhi lemahnya iman adalah godaan setan. Setan adalah musuh
besar orang-orang Mukmin. Ia senantiasa membuat propaganda kepada mereka dan
tidak ada tujuan mereka (setan) kecuali mencabik-cabik, melemahkan dan
merusakkan iman di hati orang-orang Mukmin. Barangsiapa menyerah kepada
bisikan setan dan tidak berlindung kepada Allah darinya maka imannya akan
lemah dan berkurang bahkan akan hilang darinya. Oleh karena itu, Allah
Subhanahu wa Ta’ala memperingatkan kaum Mukminin dari bahaya-bahaya
setan dan akibat-akibat mengikutinya. Allah berfirman:
“Wahai orang-orang beriman,
janganlah engkau mengikuti langkah-langkah setan dan barangsiapa mengikuti
langkah-langkah setan maka sesungguhnya dia menyuruh kepada (perkara) yang
keji dan munkar ….”
(QS. An Nur : 21)
Dan Allah berfirman juga:
“Sesungguhnya setan itu
musuh bagimu. Maka jadikanlah dia musuh(mu) karena sesungguhnya setan-setan
itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang
menyala-nyala.”
(QS. Fathir : 6)
Di antara sebab-sebab
berkurang dan lemahnya iman hamba adalah sibuk dengan tujuan-tujuan hidup di
dunia yang fana. Waktu-waktunya dipenuhi dengan mencarinya, berjalan terus
di bawah naungan kelezatan, fitnah dan hal-hal yang menipu. Tatkala
kecintaan hamba dan keterkaitannya kepada dunia membesar maka ketaatannya
akan melemah dan iman akan berkurang.
Oleh karena itu Allah
Ta’ala mencela dunia di dalam Kitab-Nya dan menerangkan kerendahannya di
banyak ayat-ayat-Nya di antaranya:
“Ketahuilah bahwa
sesungguhnya dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan,
perhiasan dan bermegah-megah di antara kamu serta berbangga-bangga tentang
banyaknya harta dan anak seperti hujan yang tanam-tanamannya menakjubkan
para petani kemudian tanaman-tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat
warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada adzab
yang keras dan ampunan dari Allah serta keridlaan-Nya. Dan kehidupan dunia
ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.”
(QS. Al Hadid : 20)
Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Demi Allah, bukanlah
kefakiran yang aku takutkan atas kalian. Akan tetapi aku takut dibentangkan
dunia atas kalian sebagaimana dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian
kemudian kalian berlomba-lomba (untuk dunia) sebagaimana mereka
berlomba-lomba sehingga dunia membinasakan kalian sebagaimana ia
membinasakan mereka.”
(HR. Bukhari 6/258, 7/320 dan Muslim 4/2274)
|
c. |
Teman-teman yang jelek. |
Teman-teman yang jelek
sangat membahayakan keimanan, perbuatan dan akhlak seseorang. Bercampur dan
bershahabat dengan mereka merupakan sebab yang besar di antara sebab-sebab
berkurang dan lemahnya iman. Oleh karena itu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa
Sallam bersabda:
“Seseorang di atas Dien (kebiasaan)
kekasihnya. Maka lihatlah orang yang dia kasihi (temani).”
(HR. Abu Dawud 13/179, At Tirmidzi 4/589, Ahmad 2/303, Al Hakim 4/171
dan Al Baghawi dalam Syarhus Sunnah 13/70, hadits hasan)
Mengomentari hadits ini
Ibnu Abdil Barr berkata:
Makna hadits ini --Wallahu A’lam-- adalah bahwa
seseorang terbiasa dengan sesuatu yang dia lihat dari perbuatan-perbuatan
orang yang diakrabinya. Oleh karena itu beliau (Rasulullah Shallallahu
‘Alaihi wa Sallam) memerintahkan agar tidak bershahabat kecuali dengan
orang yang dipandang memiliki kebaikan karena kebaikan itu adalah kebiasaan.
Abu Sulaiman Al Khitabi
berkata:
Makna hadits ini adalah jangan kamu bersahabat kecuali dengan
orang yang kamu ridlai agama dan amanahnya. Maka jika kamu bersahabat
dengannya dia akan menuntun kepada agama dan madzhabnya.
Nukilan-nukilan ini
membuktikan kepada kita bahwa seseorang bersama yang ditemani dan yang dia
sahabati. Oleh karena itu teman dan shahabat sangat mempengaruhi lemah
kuatnya iman, madzhab, akhlak dan perangai seseorang. Kalau seseorang
bercampur dengan orang-orang yang fasik dan jelek maka hal ini adalah sebab
yang besar dalam lemah dan berkurangnya iman bahkan kadang-kadang sampai
menghancurkannya.
Dari pembahasan di atas
setelah kita mengetahui sebab-sebabnya bertambah dan berkurangnya iman maka
marilah kita selalu berusaha untuk melaksanakan sebab-sebab yang dapat
menguatkan keimanan dan menghindari sebab yang dapat melemahkan dan
menguranginya. Allah-lah tempat kita minta taufik dan ketetapan di atas Al
Haq. Wallahu A’lam.
Dinukil dan disusun kembali
dari Kitab Asbabu Ziyadatil Iman wa Nuqshanihi karya
Abdurrazaq bin Abdil Muhsin Al Abbad Al Badr.