Depan

Akhlak

Al Qur'anul Karim

Perempuan

Anak

 

 

Light Of Islam

Bismillahir rohmanir rohiim

Perlindungan Wanita

Anna Mariani K.

Beberapa tahun lalu, sepasang suami istri yang bersahaja menunaikan ibadah haji. Ada sebuah pelajaran berharga yang dipetik dari kisah perjalanan tersebut. Mereka berusia lima puluhan dan telah menikah lebih dari tigapuluh tahun. Sang suami berpostur tinggi, sekitar 175 cm, sementara sang istri yang mungil hanya sekitar 150 cm. Mereka sangat rukun ibarat "mimi lan mintuno" kata orang Jawa.

Ketika itu beredar rumor di kalangan jamaah haji Indonesia tentang rawannya keamanan jamaah haji perempuan. Pak Amir -sebut saja begitu- ketika di tanah air mendapat amanah dari anak-anaknya yang sudah dewasa semua untuk menjaga ibu mereka. Ketika ia mendengar adanya kejadian pencurian kecil-kecilan di penginapan calon haji, setiap malam Pak Amir tidur di depan pintu kamar sang istri. "Untuk jaga-jaga," katanya.

Ke mana sang istri pergi Pak Amir selalu siap mengantar, termasuk mengantar ke kamar mandi penginapan yang berjarak kurang lebih empat meter dari kamar. Ketika melontar jumroh Aqobah di Mina dalam keadaan padat jamaah, sang istri yang berperawakan mungil itu tenggelam dalam kerumunan jamaah Afrika dan Arab yang bertubuh tinggi besar hingga terpisah dengan sang suami. Berkat pertolongan Allah ia pun selamat melontar jumroh. Selesai melontar jumroh, Ibu Amir mendapati suaminya di pinggir jalan sedang berjongkok dan menangis. Rupanya sang suami mengkhawatirkan si istri yang hilang di tengah orang banyak. Ia memikirkan pertanggungjawaban amanah yang dititipkan anak-anaknya di tanah air. Dengan izin Allah, mereka tiba di tanah air dengan selamat. Semoga Allah merahmati mereka dan menjadikan mereka haji yang mabrur.

Banyak hikmah yang dapat kita ambil. Kita dapat melihat bagaimana sepasang suami istri saling mengasihi, bagaimana seorang suami menjaga amanah, bagaimana seorang laki-laki menjaga kehormatan dan keselamatan seorang wanita. Sang istri sendiri tidak menganggap pengawalan sang suami sebagai pengekangan, ia merasa aman dan menikmatinya dengan penuh rasa syukur dan terima kasih.

Seorang wanita seharusnya dapat menghargai dirinya sendiri. Adakalanya harkat dan martabat seorang perempuan jatuh karena sang wanita kurang menghargai dirinya.Pengabdian terhadap orang tua, keluarga dan suami mestinya tidak mengorbankan penghormatan yang dianugerahkan oleh Allah swt. Allah menempatkan kedudukan wanita begitu tinggi sehingga tidak ada sedetik pun waktu dalam kehidupan seorang wanita yang tidak wajib mendapatkan perlindungan. Allah telah menciptakan sistem yang demikian sempurna untuk melindungi wanita.

Dijadikan-Nya laki-laki mencintai wanita. Dijadikan-Nya Nabi Muhammad saw memiliki rasa kecintaan yang amat besar kepada wanita dan anak-anak. Dijadikan-Nya Islam sebagai sistem hidup yang mewariskan nilai-nilai penghargaan dan penghormatan yang tinggi terhadap perempuan. Islam tidak mengagung-agungkan wanita sebagai dewi ataupun merendahkannya sebagai objek penderita.

Tragedi wanita seringkali berkaitan -baik langsung ataupun tidak langsung- dengan pudarnya rasa penghargaan wanita terhadap dirinya. Kasus perkosaan maupun tindak pelecehan seksual terhadap perempuan, misalnya, banyak dipicu oleh ulah segelintir perempuan. Mereka berpakaian seksi, berpose seronok, atau berakting diluar batas-batas kesusilaan (baca: Islami). Sayangnya sedikit orang yang peduli dan menyadari bahwa perilaku tersebut berbahaya bagi sesama wanita dan anggota masyarakat umum lainnya.

Dalam Al-Quran surat Yusuf ayat 28 : "Sesungguhnya tipu dayamu amatlah besar." Tipu dayamu di sini adalah tipu daya seorang wanita (Zulaikha istri Al-Aziz). Dalam ayat lain surat An-Nisa ayat 76 dikatakan bahwa : "Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah." Betapa berbahayanya wanita yang bermaksiat. Masyaa Allah.

Belum lama ini hangat dibicarakan nasib saudari-saudari kita yang terpaksa menghambakan diri di negeri orang. Benar-benar menghamba karena di sana mereka diperlakukan tidak sebagai manusia. Tetapi itu sapi di seberang lautan, sebenarnya ada gajah di pelupuk mata : pekerja wanita di negeri ini juga tak kurang malang nasibnya. Mereka bekerja dengan upah rendah dan hak-hak kodrati mereka banyak diabaikan.

Sungguh berbeda keadaan wanita dalam pandangan Islam. Dalam segi ibadah wanita mendapatkan dispensasi dan pemanjaan yang berlimpah. Islam pun tidak meminta pertanggungjawaban wanita secara ekonomi. Allah menentukan seorang wanita haid tidak sholat dan wanita hamil boleh tidak puasa, mengapa ada pengusaha yang berani melarang seorang wanita mengambil cuti haid dan melahirkan. Apa salahnya haid dan melahirkan? Bukankah seorang wanita menjadi mulia tatkala ia menjadi seorang ibu?

Rasulullah saw mewajibkan kepada kita untuk lebih memuliakan dan menghormati ibu daripada bapak. Ketika beliau ditanya tentang siapa yang lebih berhak dihormati dan dimuliakan, beliau menjawab : "Ibumu, lalu ibumu, lalu ibumu. Kemudian bapakmu." Kemudian pesan beliau kepada anak laki-laki maupun wanita bahwa : "Surga ada di telapak kaki ibu." Bukankah setiap kita semua adalah anak dari seorang ibu?

Dalam Islam hukuman memukul seorang istri dengan sandal adalah kiasan untuk  menegur istri dengan pukulan kasih sayang yang tidak menyakitkan, tidak meninggalkan bekas dan bukan pada wajah. Tetapi ada saja suami yang memukuli istri dengan tangan, kaki ataupun barang keras lainnya tanpa peduli. Tampaknya pembiasaan main tampar dan kekerasan terhadap wanita di sinetron kita berhasil, sehingga kekerasan dalam rumah tangga sudah biasa.

Wahai para istri yang teraniaya, mengadulah dan gugatlah suami-suami penyiksa seperti itu. Allah menurunkan surat Al Mujaadilah karena Khaulah binti Tsa'labah diperlakukan tidak adil oleh suaminya. Nabi bersabda : "Yang terbaik di antara kamu adalah yang terbaik dalam memperlakukan istrinya. Dan aku adalah orang yang terbaik dalam memperlakukan istriku."

Amanah

Seperti kisah sepasang suami istri di awal tulisan, seorang wanita adalah amanah. Orang tua wajib melindungi dan menyelenggarakan semua keperluan hidupnya, hingga amanah itu beralih kepada suaminya. Seorang janda adalah amanah bagi setiap muslim dalam komunitasnya sampai beralih kepada suaminya jika ia menikah kembali. Seorang wanita adalah amanah bagi semua orang.

Ibnu Hisyam dari Abu Aun meriwayatkan ada seorang wanita Arab yang datang ke pasar Bani Qainuqa. Dia duduk di dekat seorang pengrajin perhiasan. Beberapa orang di antara mereka hendak menyingkap kerudung yang menutupi wajahnya. Tentu saja wanita Muslimah itu berontak. Dengan diam-diam, pengrajin perhiasaan tersebut mengikat ujung baju perempuan tadi. Ketika ia bangkit, auratnya tersingkap. Mereka pun tertawa.

Spontan wanita itu berteriak. Seorang laki-laki Muslim yang ada di dekatnya melompat ke arah pengrajin perhiasan dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi lainnya mengikat laki-laki Muslim itu lalu membunuhnya (Sirah Nabawiyah karangan Syaikh Syafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury). Peristiwa ini kemudian melatarbelakangi peperangan antara kaum Muslimin dengan Bani Qainuqa.

Wanita dibela dengan mempertaruhkan nyawa. Tetapi jika orang yang diberi hak istimewa itu cenderung melepaskan diri dari sistem yang melindunginya, dengan alasan aktualisasi diri dan kebebasan, maka wanita akan menemukan dirinya berada dalam rimba belantara. Mungkin itu sebabnya mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Naudzubillahimindzalik.

Untuk menjadi manusia yang utuh, wanita membutuhkan perangkat sistem yang sempurna. Yaitu perangkat sistem yang melindungi dan menjamin kesejahteraannya. Selama ini wanita dibolehkan berkiprah di bidang ekonomi tetapi keselamatan mereka dipertaruhkan. Perempuan dibolehkan mengaktualisasikan diri tetapi kehormatan mereka tergadaikan. Pengabaian seperti ini diperparah dengan sikap wanita sendiri yang seolah-olah siap menjadi martir yang mengorbankan diri untuk tujuan nisbi. Wanita mengorbankan hak mendapat perlindungan untuk mengajar hak-hak lain yang bersifat duniawi.

Asiah istri Firaun memiliki segalanya di dunia, tetapi ia lebih memilih sebuah rumah di surga. "Ya Rabbku, bangunkanlah untukkku sebuah rumah di sisiMu dalam surga, dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya, dan selamatkan aku dari kaum yang dzalim.." (QS. At Tahrim : 11)

Wahai saudariku, ingatlah bahwa dunia ini tidak pernah akan sempurna, maka carilah kesempurnaan akhirat. Wallahualam bishawab.


Last updated : 15-Aug-2009 16:21

Disclaimer :
The contents of this web site were collected from any sources. Web Master and Web Designer are not responsible for the contents.

This site developed and maintained by SeWiWi Art 'n Design Division

1