Menyambut Kelahiran Anak
Pendidikan di dalam masyarakat Islam bermula dari
individu. Pendidikan individu bermula sejak dia di dalam kandungan ibu.
Malah, sebelum itu lagi, yaitu pada diri ibu dan ayah anak ini. Ibu dan
ayah mestilah terlebih dahulu mendidik diri agar menjadi seorang muslim
yang soleh. Seorang mukmin yang patuh dan tunduk kepada perintah
Tuhannya.
Kemudian berlanjut kepada masa pemilihan bakal isteri
atau suami. Masa pertunangan. Pernikahan. Hubungan jenis. Selama
mengandung. Dalam waktu ini ada peraturan, adab-adab dan amalannya yang
diajarkan oleh al-Quran dan Sunnah.
-
Azan dan Iqamat
Di antara pendidikan awal terhadap anak ialah sesaat
setelah dia dilahirkan ke dunia. perkara pertama yang sunat dilakukan
ialah mengazankan dan mengiqomahkan ke telinga anak.
Azan di telinga kanannya. Iqomah di telinga kirinya.
Dalilnya ialah hadis Nabi saw. : Dari Abu Rafi', katanya, "Aku
melihat Rasulullah saw. mengumandangkan azan di telinga al-Hasan bin
Ali ketika ibunya (Fatimah) melahirkannya." (HR Abu Daud &
al-Tarmizi).
Dari al-Hasan bin Ali dari Rasulullah saw., baginda
bersabda, "Barangsiapa yang anaknya baru dilahirkan, kemudian dia
mengumandangkan azan ke telinga kanannya dan iqamat di telinga kirinya,
maka anak yang baru lahir itu tidak akan terkena bahaya 'ummu shibyan'."
'Ummu shibyan' ialah angin yang dihembuskan kepada
anak, sehingga anak itu takut kepadanya. Ada juga yang berkata bahwa
ia adalah 'qarinah', yaitu jin.
Mengapa Azan dan Iqamat? Adalah wajar anak ini
diazankan dan diiqamatkan agar kalimah pertama yang didengarnya dan
tembus ke gendang telinganya adalah kalimah seruan Yang Maha Agung.
Kalimah yang mengandung kesaksian (syahadah) terhadap keesaan Allah
dan kesaksian terhadap kerasulan Muhamad bin Abdullah saw.
Anak yang baru menghirup udara dunia ini telah
diajarkan dengan aqidah dan syariat Islam, sebagaimana seseorang yang
akan mati diajarkan dengan kalimah tauhid 'Laa ilaha illallah'. Agar
pengaruh azan ini dapat meresap ke dalam diri anak ini.
Azan ini ialah untuk mengusir syaitan yang memang
menanti-nanti kelahiran bayi ini.
Azan dikumandangkan ke telinga bayi agar seruan dakwah
kepada Allah dan agamanya dapat mendahului seruan jahat syaitan.
Azan dan iqomah yang diperdengarkan akan direkam oleh
bayi tersebut yang menjadi sebagian dari pendidikan tauhid, syariat
dan akhlak.
-
Tahnik
Di antara sunnah yang perlu diamalkan terhadap bayi
ialah 'tahnik', yaitu menggosok langit-langit bayi dengan kurma.
Caranya, kurma yang dikunyah diletakkan di atas jari, kemudian
memasukkan jari berkenaan ke dalam mulut bayi. Gerak-geraknya ke kanan
dan ke kiri dengan lembut hingga merata.
Jika sukar untuk memperoleh kurma, boleh diganti
dengan manisan lain.
Dan yang lebih utama, 'tahnik' ini hendaklah dilakukan
oleh seseorang yang mempunyai sifat taqwa dan soleh. Ini adalah
sebagai suatu penghormatan danharapan agar anak ini juga akan menjadi
seorang yang taqwa dan soleh.
Hadis Rasulullah saw. dari Abu Burdah, dari Abu Musa
ra., katanya : "Aku telah dikurniakan seorang anak. Lalu aku
membawanya kepada Nabi saw. dan baginda menamakannya dengan Ibrahim,
men-'tahnik'-nya dengan kurma serta mendoakannya dengan keberkatan.
Kemudian baginda saw. menyerahkannya kembali kepadaku." (HR
Bukhari & Muslim)
-
Mencukur Rambut
Di antara sunnah menyambut kelahiran anak ialah
mencukur kepala anak pada hari ketujuh kelahirannya. Kemudian
bersedekah kepada orang-orang fakir dengan perak seberat timbangan
rambutnya itu.
Terdapat beberapa hadis yang menjelaskan perkara ini,
antaranya ialah : Dari Ja'far bin Muhamad dari ayahnya, dia berkata :
"Fatimah ra. telah menimbang rambut kepala Hasan, Husin, Zainab
dan Ummu Kalsum. Lalu dia menyedekahkan perak seberat timbangan rambut
tersebut." (HR Imam Malik)
Yahya bin Bakir meriwayatkan dari Anas bin Malik ra.,
bahwa Rasulullah saw. telah menyuruh agar dicukur kepala al-Hasan dan
al-Husin pada hari ketujuh dari kelahiran mereka. Lalu dicukur kepala
mereka, dan baginda menyedekahkan perak seberat timbangan rambut.
Begitulah yang terdapat di dalam sunnah.
Cabang Permasalahan Mencukur Rambut
Tanya :
Sehubungan dengan mencukur rambut bayi. Kebiasaannya di
kampung-kampung ada acara mencukur rambut yang akan disertai dengan
Marhaban (pembacaan Sholawat ). Ketika bersholawat, bayi itu dibawa
keluar dan digunting sedikit rambutnya. Apakah ini mengikuti syariat
Islam?
Jawab :
Apa yang saudara sebutkan di atas adalah adat di dalam masyarakat. Di
dalam acara tersebut rambut bayi akan digunting sedikit. Jika begini,
ia tidak menepati sunnah yang menganjurkan agar mencukurnya. Tapi
banyak yang beranggapan bahwa sudah memadai dengan berbuat demikian.
Mengenai acara kenduri yang diadakan seperti yang
disebutkan ada ulama yang mengatakannya tidak mengapa, dan tidak
kurang juga yang mengatakannya sebagai bid'ah. Perselisihan ini karena
perbedaan masing-masing tentang definisi bid'ah.
Soal mau mengadakan acara bercukur seperti yang
saudara sebutkan ataupun tidak itu tergantung pada pendapat yang
diikuti. Jika dianggap bid'ah, jangan dilakukan. Jika dianggap tidak
mengapa, ya lakukan.
Namun yang paling penting ialah melaksanakan sunnah
sebagaimana yang dianjurkan oleh Rasulullah saw.
-
Memberi Nama yang Baik
Di antara sunnah menyambut kelahiran bayi ialah
memberinya nama dengan nama-nama yang baik. Dari Abu Darda' ra.,
bersabda Rasulullah saw. : "Sesungguhnya pada hari kiamat nanti
kamu akan dipanggil dengan nama-nama kamu dan nama-nama bapak kamu.
Oleh karena itu, berilah nama yang baik untuk anak kamu." (HR Abu
Daud)
Waktu Memberi Nama
Berdasarkan hadis-hadis Rasulullah saw., ada yang
menunjukkan pada hari pertama kelahirannya. Ini berdasarkan hadis
riwayat Muslim dari Sulaiman bin al-Mughirah dari Thabit dari Anas ra.,
katanya, "Rasulullah saw. bersabda : 'Malam tadi telah lahir
seorang anakku. Kemudian aku menamakannya dengan Ibrahim.'"
Ada juga hadis yang menunjukan pada hari ketujuh
berdasarkan riwayat Samirah, katanya Rasulullah saw. telah bersabda :
"Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya. Disembelihkan
untuknya pada hari ketujuhnya, diberi nama dan dicukur rambutnya. (HR
Ashabus Sunan)
Dapat disimpulkan dari hadis-hadis tersebut bahwa
Islam memberi kelonggaran terhadap waktu pemberian nama anak. Boleh
pada hari pertama, boleh dilewatkan pada hari ketiga, dan boleh pada
hari ketujuh.
-
Aqiqah
Di antara sunah menyambut kelahiran bayi ialah
beraqiqah. Hadis Rasulullah saw.: Samirah, katanya Rasulullah saw.
telah bersabda: Setiap anak itu digadaikan dengan aqiqahnya.
Disembelihkan untuknya pada hari ketujuhnya, diberi nama dan dicukur
kepalanya. (HR Ashabus Sunan)
Berdasarkan hadis di atas dan hadis-hadis lain bahwa
aqiqah dilakukan pada hari ketujuh kelahiran bayi. Namun demikian
berdasarkan pendapat imam Malik bahwa penentuan hari ketujuh seperti
yang dilihat pada dzahir hadis hanyalah berbentuk anjuran saja. Oleh
karena itu, seandainya tidak dapat dilakukan pada hari tersebut, maka
beraqiqah pada hari keempat, delapan, kesepuluh atau hari berikutnya
sudah memadai.
Masalah aqiqah ini telah dibahas oleh ulama dengan
panjang lebar pada bab khusus mengenainya.
-
Memberi Ucapan Selamat dan Mendoakannya
Di antara sunnah menyambut kelahiran bayi ialah setiap
muslim dianjurkan memberi ucapan selamat dengan mendoakan
kesejahteraan anak dan ibu bapaknya, serta ikut bergembira.
Firman Allah Ta'ala : "Kemudian Malaikat (Jibril)
memanggil Zakaria, sedang dia sedang berdiri sembahyang di mihrab, 'Sesungguhnya
Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya.'"
(3:39)
Ibnu Qoyyum al-Jauziyah menyebutkan di dalam Tuhfatul
Maudud, dari Abu Bakar al-Munzir, bahwa dia berkata : "Telah
meriwayatkan kepada kami dari al-Hasan al-Basri bahwa seorang lelaki
telah datang kepadanya, dan di sisinya ada seorang lelaki yang baru
dianugerahi seorang anak kecil. Lelaki itu berkata kepada orang yang
mempunyai anak itu : 'Selamat bagimu atas kelahiran seorang penunggang
kuda.'
Hasan al-Basri berkata kepada lelaki itu : 'Apakah
kamu tahu, apakah dia seorang penunggang kuda atau penunggang keledai?'
Lelaki itu bertanya : 'Jadi bagaimana cara kami
mengucapkannya?'
Hasan al-Basri menjawab : 'Katakanlah, semoga kamu
diberkati di dalam apa yang diberikan kepadamu. Semoga kamu bersyukur
kepada yang memberi. Semoga kamu diberi rezeki dengan kebaikannya, dan
semoga ia mencapai masa balighnya.'"
Begitulah secara asasnya beberapa sunnah menyambut
kelahiran bayi. Sunah-sunah ini masih belum terasa janggal untuk
diamalkan karena banyak yang mengamalkannya. Oleh karena tu, kita juga
perlu sama-sama mengamalkannya, semoga akan menjadi sebagian dari tahap
pendidikan ke arah mewujudkan genarasi Muslim yang berakhlak mulia serta
bertaqwa kepada Allah swt. |