Depan

Akhlak

Al Qur'anul Karim

Perempuan

Anak

 

 

Light Of Islam

Bismillahir rohmanir rohiim

Memahami Anak Sensitif

Anak memang terlahir dari diri kita, tetapi dia bukan milik kita. Kita tidak dapat mengkloning anak-anak kita untuk menjadi persis seperti kita (pendidiknya). Kita pun tidak dapat menuntut anak untuk selalu patuh dan taat kepada kita dengan cara memberikan hukuman atau memaksa anak. Anak-anak yang dipaksa atau diberi hukuman akan menjadi pendendam.

Menyadari bahwa setiap anak punya temperamen berbeda akan membantu kita menerima perbedaan antara anak yang satu dengan anak yang lain juga antara anak dengan kita sebagai pendidiknya. Kita pun akan lebih mudah memahami kenapa setiap anak tidak bertingkah laku sama meskipun mereka sama dalam usia atau berasal dari keluarga yang sama.

Temperamen merupakan istilah yang sering dipakai untuk menggambarkan perbedaan karakteristik masing-masing individu. Cara-cara unik tentang bagaimana kita bertingkah laku terhadap orang lain, lingkungan sosial dan keadaan sesaat didasari oleh temperamen yang kita miliki.

Pada buku Raising Your Spirited Child, Mary Sheedy Kurcinka menemukan ada 9 karakteristik yang membentuk temperamen seorang anak :

  1. Kekuatan respon emosi anak yaitu apakah anak mudah marah atau tidak (intensitas)

  2. Mudah atau tidaknya seorang anak menghentikan satu kegiatan yang penting baginya (persistensi)

  3. Kesadaran dan kepekaan anak terhadap rasa, tekstur, temperatur, suara dan emosi (sensitivitas)

  4. Kesadaran anak tentang warna, orang lain, suara dan benda-benda di sekitar anak. Kesadaran ini yang mempengaruhi apakah anak mudah memusatkan perhatian atau tidak. (persepsi)

  5. Kemampuan anak untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pada jadwal dan rutinitas awal (adaptabilitas)

  6. Teratur atau tidak teraturnya anak dalam kegiatan sehari-harinya seperti makan, tidur dan BAB (buang air besar)-nya (regularitas)

  7. Tingkat energi dasar anak - apakah anak tenang dan rileks atau selalu sibuk dan bergerak (energi)

  8. Tingkat kenyamanan atau ketidaknyamanan anak menghadapi situasi baru (reaksi pertama)

  9. Kecenderungan anak untuk bahagia dan merasa cukup atau serius dan "moody" emosi naik turun tidak mudah dipuaskan / tidak mudah merasa cukup (mood)

Setiap temperamen mempunyai kekuatan dan tantangan. Temperamen yang sering dianggap bermasalah ketika anak-anak ternyata dapat menjadi asset yang luar biasa ketika anak itu dewasa. Salah satu yang membuat karakter anak mudah atau sulit ditangani orang tua tergantung dari cocok atau tidaknya temperamen tersebut dengan anggota keluarga. Temperamen yang tidak sama ataupun yang sama antara anak dan orang tua, sama-sama memberikan tantangan bagi orang tua.

"Saya orangnya spontan sementara anak saya senang pada rutinitas. Kalau sudah waktunya tidur siang, dia tidak dapat tidur siang di tempat lain. Anak saya membutuhkan situasi yang sama setiap hari, sedangkan saya orangnya pembosan. Ingin segala sesuatunya baru setiap hari supaya lebih bersemangat." Kata seorang ibu "Punya anak yang temperamennya sama ternyata susah. Saya dan anak saya sama-sama keras. Jadi kalau ada masalah sulit bagi salah satu dari kami untuk mengalah. Kadang saya berpikir kenapa anak saya ini tidak memiliki sifat seperti ibunya yang pengalah?" Tutur seorang ibu yang lain.

Jadi, baik temperamen anak sama dengan kita atau tidak, yang jelas kita tidak dapat merubahnya. Yang dapat kita lakukan adalah memainkan peran membantu anak untuk belajar mengatasi dan mengatur temperamen yang telah Allah swt berikan sehingga anak-anak menjadi lebih mudah diajak kerja sama dan mengurangi penolakan anak.

Seorang psikolog bercerita tentang putrinya "ketika Maya berusia 5 tahun, saya akhirnya menerima kenyataan bahwa Maya sulit menyesuaikan diri dengan situasi baru. Maya tidak akan bisa secara langsung menyesuaikan diri. Saya jadi memahami bahwa tugas saya bukan merubahnya tapi melatih Maya untuk dapat mengantisipasi dan merencanakan bagaimana menghadapi situasi baru sehingga Maya lebih siap dan lebih mudah untuk menyesuaikan diri."

Ada empat macam temperamen dalam diri anak yang dapat menjelaskan mengapa anak sering kali cocok dengan satu cara pendekatan dibanding cara lain. Empat temperamen ini secara umum dapat membantu para pendidik/orangtua untuk mencari cara yang paling pas dalam mendidik anak. Temperamen ini tidaklah menunjukkan karakteristik yang buruk tapi menunjukkan adanya perbedaan atau keunikan. Ada anak yang memiliki salah satu temperamen secara dominan namun ada juga yang memiliki keempat temperamen sama banyak. Karena kombinasi temperamen ini begitu banyak, maka setiap anak menjadi unik dan spesial. Marilah kita pelajari satu persatu.

Sensitif

Ciri-ciri :

  1. Rentan, sering mendramatisir kejadian dan sangat perasa.

  2. Mereka sangat sadar dan peka akan kebutuhannya, keinginannya dan harapannya untuk dihargai oleh orang di sekitarnya.

  3. Ciri khas anak ini adalah mengeluh, membutuhkan waktu yang panjang untuk mengerjakan satu hal (tidak dapat dipaksa).

  4. Anak-anak ini ingin mengetahui bahwa dia tidak sendirian dalam penderitaannya (menurut versi anak) dan mereka ingin pendidik juga merasakan perasaan yang sama.

Contoh kasus

Farhan pulang sekolah mengeluh kepada ibunya "Tidak ada orang yang bicara dengan aku hari ini di sekolah."

"Wah jadi kamu sedih ya," tanggap ibunya.

Lalu, Farhan berkata lagi "Sarah baik sekali Bu, dia bilang dia senang dengan gambarku."

Kesalahan Pendidik

  1. Biasanya ketika dimengerti perasaannya, akan terjadi perubahan atau pergeseran perasaan, lalu pendidik langsung berkomentar "Kalau Sarah bicara dengan kamu berarti masih ada dong orang yang bicara dengan kamu." (Hal ini akan membuat anak merasa tidak dimengerti. Maka biarkan saja terjadi perubahan mood)

  2. Menghibur anak atau mencoba menyelesaikan masalah anak. Anak-anak akan semakin mendramatisir perasaannya. Jika anak sedang sedih, tidak akan ada gunanya melarang anak untuk bersedih. Membicarakan hal-hal yang positif justru akan membuat mereka semakin mendramatisir keadaan supaya orang lain mau meahami perasaannya. Jangan tergoda untuk langsung mencoba menyelesaikan masalah anak walaupun maksudnya untuk membuat anak merasa lebih enak. Cobalah untuk mendengar dalam rangka memahami anak bukan untuk memberikan tanggapan.

Disiplin

  1. Dimengerti dan didengarkan.

  2. Mereka perlu tahu bahwa mereka tidak sendiri saat merasa kesulitan.

  3. Jika anak menolak melakukan sesuatu katakan "ibu tahu kamu tidak ingin melakukan itu tapi ibu minta kamu untuk pergi ke tempat itu" (dengan kata-kata empati, beri anak waktu dan kesempatan untuk merasa enak sehingga ia lebih mudah diajak kerja sama)

Yang Perlu Diperhatikan

  1. Anak sensitif biasanya sulit menyesuaikan diri dengan situasi/orang baru. Anak-anak ini membutuhkan waktu lebih banyak untuk membentuk persahabatan. Ketika persahabatan sudah terjalin, anak-anak ini sangat loyal, tetapi jika disakiti sulit pula untuk memaafkan.

  2. Anak-anak ini perlu belajar keterampilan memaafkan dan melupakan. Jika pendidik mau mendengar dan mengerti, hal ini sangat membantu anak untuk menyesuaikan diri dengan kekecewaan dalam hidup dan meningkatkan kemampuan anak untuk memaafkan.

Ciri Kepribadian Sensitif Saat Dewasa

Jika anak-anak ini mendapatkan disiplin yang tepat maka kelebihan dan kekuatan yang dimilikinya akan berkembang. Jika mendapatkan disiplin yang tepat, anak sensitive biasanya akan menjadi anak-anak yang penuh perhatian, punya pemahaman yang tajam, kreatif, komunikator yang baik dan jujur. Mereka penuh kasih sayang, hangat, lembut dan suka menolong. Mereka mendapatkan kepuasan dengan memberikan pelayanan pada orang lain dan dunia.

Sumber : http://www.ummigroup.co.id/
Ummi No.03 Tahun XII


Last updated : 15-Aug-2009 16:16

Disclaimer :
The contents of this web site were collected from any sources. Web Master and Web Designer are not responsible for the contents.

This site developed and maintained by SeWiWi Art 'n Design Division

 

1