Memahami Anak Sensitif
Anak memang terlahir dari diri kita, tetapi dia bukan
milik kita. Kita tidak dapat mengkloning anak-anak kita untuk menjadi
persis seperti kita (pendidiknya). Kita pun tidak dapat menuntut anak
untuk selalu patuh dan taat kepada kita dengan cara memberikan hukuman
atau memaksa anak. Anak-anak yang dipaksa atau diberi hukuman akan
menjadi pendendam.
Menyadari bahwa setiap anak punya temperamen berbeda
akan membantu kita menerima perbedaan antara anak yang satu dengan anak
yang lain juga antara anak dengan kita sebagai pendidiknya. Kita pun
akan lebih mudah memahami kenapa setiap anak tidak bertingkah laku sama
meskipun mereka sama dalam usia atau berasal dari keluarga yang sama.
Temperamen merupakan istilah yang sering dipakai untuk
menggambarkan perbedaan karakteristik masing-masing individu. Cara-cara
unik tentang bagaimana kita bertingkah laku terhadap orang lain,
lingkungan sosial dan keadaan sesaat didasari oleh temperamen yang kita
miliki.
Pada buku Raising Your Spirited Child, Mary Sheedy
Kurcinka menemukan ada 9 karakteristik yang membentuk temperamen seorang
anak :
-
Kekuatan respon emosi anak yaitu apakah anak mudah
marah atau tidak (intensitas)
-
Mudah atau tidaknya seorang anak menghentikan satu
kegiatan yang penting baginya (persistensi)
-
Kesadaran dan kepekaan anak terhadap rasa, tekstur,
temperatur, suara dan emosi (sensitivitas)
-
Kesadaran anak tentang warna, orang lain, suara dan
benda-benda di sekitar anak. Kesadaran ini yang mempengaruhi apakah
anak mudah memusatkan perhatian atau tidak. (persepsi)
-
Kemampuan anak untuk menyesuaikan diri dengan
perubahan pada jadwal dan rutinitas awal (adaptabilitas)
-
Teratur atau tidak teraturnya anak dalam kegiatan
sehari-harinya seperti makan, tidur dan BAB (buang air besar)-nya (regularitas)
-
Tingkat energi dasar anak - apakah anak tenang dan
rileks atau selalu sibuk dan bergerak (energi)
-
Tingkat kenyamanan atau ketidaknyamanan anak
menghadapi situasi baru (reaksi pertama)
-
Kecenderungan anak untuk bahagia dan merasa cukup
atau serius dan "moody" emosi naik turun tidak mudah
dipuaskan / tidak mudah merasa cukup (mood)
Setiap temperamen mempunyai kekuatan dan tantangan.
Temperamen yang sering dianggap bermasalah ketika anak-anak ternyata
dapat menjadi asset yang luar biasa ketika anak itu dewasa. Salah satu
yang membuat karakter anak mudah atau sulit ditangani orang tua
tergantung dari cocok atau tidaknya temperamen tersebut dengan anggota
keluarga. Temperamen yang tidak sama ataupun yang sama antara anak dan
orang tua, sama-sama memberikan tantangan bagi orang tua.
"Saya orangnya spontan sementara anak saya senang
pada rutinitas. Kalau sudah waktunya tidur siang, dia tidak dapat tidur
siang di tempat lain. Anak saya membutuhkan situasi yang sama setiap
hari, sedangkan saya orangnya pembosan. Ingin segala sesuatunya baru
setiap hari supaya lebih bersemangat." Kata seorang ibu "Punya
anak yang temperamennya sama ternyata susah. Saya dan anak saya
sama-sama keras. Jadi kalau ada masalah sulit bagi salah satu dari kami
untuk mengalah. Kadang saya berpikir kenapa anak saya ini tidak memiliki
sifat seperti ibunya yang pengalah?" Tutur seorang ibu yang lain.
Jadi, baik temperamen anak sama dengan kita atau tidak,
yang jelas kita tidak dapat merubahnya. Yang dapat kita lakukan adalah
memainkan peran membantu anak untuk belajar mengatasi dan mengatur
temperamen yang telah Allah swt berikan sehingga anak-anak menjadi lebih
mudah diajak kerja sama dan mengurangi penolakan anak.
Seorang psikolog bercerita tentang putrinya "ketika
Maya berusia 5 tahun, saya akhirnya menerima kenyataan bahwa Maya sulit
menyesuaikan diri dengan situasi baru. Maya tidak akan bisa secara
langsung menyesuaikan diri. Saya jadi memahami bahwa tugas saya bukan
merubahnya tapi melatih Maya untuk dapat mengantisipasi dan merencanakan
bagaimana menghadapi situasi baru sehingga Maya lebih siap dan lebih
mudah untuk menyesuaikan diri."
Ada empat macam temperamen dalam diri anak yang dapat
menjelaskan mengapa anak sering kali cocok dengan satu cara pendekatan
dibanding cara lain. Empat temperamen ini secara umum dapat membantu
para pendidik/orangtua untuk mencari cara yang paling pas dalam mendidik
anak. Temperamen ini tidaklah menunjukkan karakteristik yang buruk tapi
menunjukkan adanya perbedaan atau keunikan. Ada anak yang memiliki salah
satu temperamen secara dominan namun ada juga yang memiliki keempat
temperamen sama banyak. Karena kombinasi temperamen ini begitu banyak,
maka setiap anak menjadi unik dan spesial. Marilah kita pelajari satu
persatu.
Sensitif
Ciri-ciri :
-
Rentan, sering mendramatisir kejadian dan sangat
perasa.
-
Mereka sangat sadar dan peka akan kebutuhannya,
keinginannya dan harapannya untuk dihargai oleh orang di sekitarnya.
-
Ciri khas anak ini adalah mengeluh, membutuhkan
waktu yang panjang untuk mengerjakan satu hal (tidak dapat dipaksa).
-
Anak-anak ini ingin mengetahui bahwa dia tidak
sendirian dalam penderitaannya (menurut versi anak) dan mereka ingin
pendidik juga merasakan perasaan yang sama.
Contoh kasus
Farhan pulang sekolah mengeluh kepada ibunya "Tidak
ada orang yang bicara dengan aku hari ini di sekolah."
"Wah jadi kamu sedih ya," tanggap ibunya.
Lalu, Farhan berkata lagi "Sarah baik sekali Bu,
dia bilang dia senang dengan gambarku."
Kesalahan Pendidik
-
Biasanya ketika dimengerti perasaannya, akan terjadi
perubahan atau pergeseran perasaan, lalu pendidik langsung
berkomentar "Kalau Sarah bicara dengan kamu berarti masih ada
dong orang yang bicara dengan kamu." (Hal ini akan membuat anak
merasa tidak dimengerti. Maka biarkan saja terjadi perubahan mood)
-
Menghibur anak atau mencoba menyelesaikan masalah
anak. Anak-anak akan semakin mendramatisir perasaannya. Jika anak
sedang sedih, tidak akan ada gunanya melarang anak untuk bersedih.
Membicarakan hal-hal yang positif justru akan membuat mereka semakin
mendramatisir keadaan supaya orang lain mau meahami perasaannya.
Jangan tergoda untuk langsung mencoba menyelesaikan masalah anak
walaupun maksudnya untuk membuat anak merasa lebih enak. Cobalah
untuk mendengar dalam rangka memahami anak bukan untuk memberikan
tanggapan.
Disiplin
-
Dimengerti dan didengarkan.
-
Mereka perlu tahu bahwa mereka tidak sendiri saat
merasa kesulitan.
-
Jika anak menolak melakukan sesuatu katakan "ibu
tahu kamu tidak ingin melakukan itu tapi ibu minta kamu untuk pergi
ke tempat itu" (dengan kata-kata empati, beri anak waktu dan
kesempatan untuk merasa enak sehingga ia lebih mudah diajak kerja
sama)
Yang Perlu Diperhatikan
-
Anak sensitif biasanya sulit menyesuaikan diri
dengan situasi/orang baru. Anak-anak ini membutuhkan waktu lebih
banyak untuk membentuk persahabatan. Ketika persahabatan sudah
terjalin, anak-anak ini sangat loyal, tetapi jika disakiti sulit
pula untuk memaafkan.
-
Anak-anak ini perlu belajar keterampilan memaafkan
dan melupakan. Jika pendidik mau mendengar dan mengerti, hal ini
sangat membantu anak untuk menyesuaikan diri dengan kekecewaan dalam
hidup dan meningkatkan kemampuan anak untuk memaafkan.
Ciri Kepribadian Sensitif Saat Dewasa
Jika anak-anak ini mendapatkan disiplin yang tepat maka
kelebihan dan kekuatan yang dimilikinya akan berkembang. Jika
mendapatkan disiplin yang tepat, anak sensitive biasanya akan menjadi
anak-anak yang penuh perhatian, punya pemahaman yang tajam, kreatif,
komunikator yang baik dan jujur. Mereka penuh kasih sayang, hangat,
lembut dan suka menolong. Mereka mendapatkan kepuasan dengan memberikan
pelayanan pada orang lain dan dunia.
Sumber : http://www.ummigroup.co.id/
Ummi No.03 Tahun XII |