Depan

Akhlak

Al Qur'anul Karim

Perempuan

Anak

 

 

Light Of Islam

Bismillahir rohmanir rohiim

Harga Diri Anak Bisa Rusak!

Bersikap keras atau memberi hukuman secara fisik pada anak, betapapun ringannya perlu dihindari. Anak-anak yang terbiasa hidup dalam suasana kekerasan, apalagi menjadi korban penganiayaan serius yang mengancam keselamatan jiwanya, sulit untuk berkembang menjadi anak-anak normal. Baik secara fisik maupun psikologis.

Sebagian besar orangtua, kerabat atau pengasuh memang tidak pernah menempeleng, mengikat, menendang, merotan atau melakukan tindak penganiayaan "serius" lainnya pada anak. Tetapi cukup banyak pula yang terbiasa menghukum anak dengan hukuman "ringan" seperti mencubit, menjewer, mengguncang atau mengeplak anak. Mereka beranggapan bahwa tindakan-tindakan "ringan" seperti ini sama sekali tidak berarti bagi perkembangan anak.

Kekerasan fisik pada anak yang mengakibatkan luka fisik atau kematian mudah diamati dan, pada kasus tertentu, dapat disembuhkan. Namun "luka" jiwa pada anak, selain sering terabaikan juga membekas pada diri anak hingga dewasa. Secara psikologis, anak-anak yang terbiasa menerima tindak kekerasan akan mengalami berbagai penyimpangan kepribadian seperti agresif, mudah marah, konsep dirinya negatif, mudah mengalai depresi, harga dirinya rusak dan yang paling menonjol adalah anak akan meyakini kekerasan sebagai sebuah alternatif yang dapat diterima untuk mengatasi sebuah konflik.

Perilaku anak korban kekerasan juga terganggu. Paola Muchuca, koordinator Society for the Protection and Care of Children (SPCC) di Rochester Amerika Serikat mengemukakan beberapa perilaku abnormal biasa terjadi pada anak-anak yang sering mengalami tindak kekerasan. Di antaranya adalah anak sering mengalami mimpi buruk, ngompol, suka menyakiti diri sendiri, dan mudah melakukan tindak kekerasan juga pada orang lain semisal pada teman sebaya.

Anak-anak dengan "luka" jiwa seperti ini akan sulit beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Mereka memiliki kepercayaan diri yang rendah dan memandang kehidupan dengan pandangan yang muram dan pesimis. Lisa Butt, pekerja sosial pada SPCC menemukan bahwa anak-anak korban kekerasan ini bahkan cenderung menggambar manusia berwajah sedih saat diminta untuk menggambar wajah manusia.

Jauh sebelum masa ini, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya juga telah mengingatkan bahwa sikap keras yang berlebihan pada anak berarti telah membiasakan anak bersikap penakut, menghilangkan semangat, membuat anak malas dan mendorong anak untuk berdusta demi menghindarkan diri dari hukuman-hukuman yang akan diterimanya.

"Rasa percaya diri sendiri seorang anak korban kekerasan akan hancur. Bila mereka ternyata tidak dapat mempercayai orang yang mereka cintai yang selama ini menjadi sandaran mereka, bagaimana mungkin mereka dapat mempercayai diri mereka sendiri?" ungkap Muchuca pula.

Setelah mengetahui betapa mengerikannya dampak tindak kekerasan pada anak, masihkah kita memilih hukuman fisik untuk mendidik mereka? (Zirlyfera Jamil)

http://www.ummigroup.co.id/
Ummi No.03 Tahun XII


Last updated : 15-Aug-2009 16:16

Disclaimer :
The contents of this web site were collected from any sources. Web Master and Web Designer are not responsible for the contents.

This site developed and maintained by SeWiWi Art 'n Design Division

 

1