Harga Diri Anak Bisa Rusak!
Bersikap keras atau memberi hukuman secara fisik pada
anak, betapapun ringannya perlu dihindari. Anak-anak yang terbiasa hidup
dalam suasana kekerasan, apalagi menjadi korban penganiayaan serius yang
mengancam keselamatan jiwanya, sulit untuk berkembang menjadi anak-anak
normal. Baik secara fisik maupun psikologis.
Sebagian besar orangtua, kerabat atau pengasuh memang
tidak pernah menempeleng, mengikat, menendang, merotan atau melakukan
tindak penganiayaan "serius" lainnya pada anak. Tetapi cukup
banyak pula yang terbiasa menghukum anak dengan hukuman "ringan"
seperti mencubit, menjewer, mengguncang atau mengeplak anak. Mereka
beranggapan bahwa tindakan-tindakan "ringan" seperti ini sama
sekali tidak berarti bagi perkembangan anak.
Kekerasan fisik pada anak yang mengakibatkan luka fisik
atau kematian mudah diamati dan, pada kasus tertentu, dapat disembuhkan.
Namun "luka" jiwa pada anak, selain sering terabaikan juga
membekas pada diri anak hingga dewasa. Secara psikologis, anak-anak yang
terbiasa menerima tindak kekerasan akan mengalami berbagai penyimpangan
kepribadian seperti agresif, mudah marah, konsep dirinya negatif, mudah
mengalai depresi, harga dirinya rusak dan yang paling menonjol adalah
anak akan meyakini kekerasan sebagai sebuah alternatif yang dapat
diterima untuk mengatasi sebuah konflik.
Perilaku anak korban kekerasan juga terganggu. Paola
Muchuca, koordinator Society for the Protection and Care of Children (SPCC)
di Rochester Amerika Serikat mengemukakan beberapa perilaku abnormal
biasa terjadi pada anak-anak yang sering mengalami tindak kekerasan. Di
antaranya adalah anak sering mengalami mimpi buruk, ngompol, suka
menyakiti diri sendiri, dan mudah melakukan tindak kekerasan juga pada
orang lain semisal pada teman sebaya.
Anak-anak dengan "luka" jiwa seperti ini akan
sulit beradaptasi dengan lingkungan sosialnya. Mereka memiliki
kepercayaan diri yang rendah dan memandang kehidupan dengan pandangan
yang muram dan pesimis. Lisa Butt, pekerja sosial pada SPCC menemukan
bahwa anak-anak korban kekerasan ini bahkan cenderung menggambar manusia
berwajah sedih saat diminta untuk menggambar wajah manusia.
Jauh sebelum masa ini, Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah-nya
juga telah mengingatkan bahwa sikap keras yang berlebihan pada anak
berarti telah membiasakan anak bersikap penakut, menghilangkan semangat,
membuat anak malas dan mendorong anak untuk berdusta demi menghindarkan
diri dari hukuman-hukuman yang akan diterimanya.
"Rasa percaya diri sendiri seorang anak korban
kekerasan akan hancur. Bila mereka ternyata tidak dapat mempercayai
orang yang mereka cintai yang selama ini menjadi sandaran mereka,
bagaimana mungkin mereka dapat mempercayai diri mereka sendiri?"
ungkap Muchuca pula.
Setelah mengetahui betapa mengerikannya dampak tindak
kekerasan pada anak, masihkah kita memilih hukuman fisik untuk mendidik
mereka? (Zirlyfera Jamil)
http://www.ummigroup.co.id/
Ummi No.03 Tahun XII |