Father's Love : Why It's Critical?
Irwan Rinaldi Direktur Lembaga Psikologi AMNA
Saya ingin bercerita tentang seorang ayah yang tak
pernah lupa memeluk anaknya (balita) saban hari. Meski ia, awalnya, tak
tahu benar apa makna dan dampaknya. Ia seorang ayah biasa tanpa
pendidikan tinggi dan pekerjaan mentereng. Namanya Pak M, seorang ayah
yang akhirnya mampu menemukan arti cinta untuk anak-anaknya. Ia kini
jadi orang yang telah berubah : ia bukan lagi seorang ayah yang kering
dan tegang. Menjadi ayah yang kering dan tegang -dalam pengalamannya-
ternyata seperti bisul di pantat : benjolan kecil itu selalu saja
menyimpan berbagai kekhawatiran. Ia bisa meletus kapan saja.
Pak M memulai karier ke-ayah-annya sebagai beban bukan
tanggungjawab. Dulu, di usia pernikahannya yang masih muda, ia memaksa
dirinya dengan berbagai aturan-aturan. Ia ingin membuktikan banyak hal
pada lingkungannya dengan cara revolusi bukan evolusi. Jadilah Pak M
seorang ayah yang sangat serius sepanjang hari. Wajahnya tegang dan
kering. Saking seriusnya, ia tidak tahu lagi untuk siapa sebenarnya
jerih payah yang dilakoninya. Istrinya, ibu M dan dua anak kecil mereka
yang lucu-lucu tak banyak mendukung. Dan Pak M kalah. Tapi, ia ingin
terus mencoba. Suatu hari, setelah tujuh tahun pernikahannya, tiba-tiba
ia merasa hampir semua makhluk dan benda di sekeliling melawannya.
Pekerjaan, tetangga, istri, rumah dan bahkan anak-anak seperti bagian
dari bisul yang akan segera meletus. Ia pun berusaha melawan semua
kekhawatiran tersebut. Namun ia kalah untuk kedua kalinya.
"Segala sesuatu harus dimulai dan pelihara dengan
cinta," kata salah seorang sahabatnya, ketika Pak M menceritakan
kelelahannya. "Manusia dilahirkan karena cinta," sambung
sahabatnya itu. Akhirnya, Pak M mencoba mengalirkan cinta ke seluruh
jagad tubuhnya -luar dalam-. Salah satunya dengan berlatih memeluk
anak-anaknya. Sesuatu pekerjaan yang dulu dianggapnya membuang-buang
waktu. Kini ia adalah Pak M yang baru, seorang ayah yang tidak lagi
menjadikan hidup ini sebagai beban melainkan tanggungjawab. Pak M
berhasil karena ia mau melakukan perubahan!
Bagaimana dengan ayah-ayah lain? Entahlah, yang jelas
sebagian besar anak-anak sekarang merasa sangat sedikit melakukan atau
bahkan banyak yang kehilangan kontak dengan ayahnya. Penelitian terakhir
menunjukkan bahwa banyak anak-anak hanya bertemu ayahnya selama beberapa
menit saja. Dan itu pun bukan pada waktu prime time.
Ketiadaan ayah dan cintanya
Banyak ayah yang lebih terpikat pada pekerjaannya atau
tekanan lain yang mereka hadapi setiap hari. Mereka tidak mempunyai
waktu untuk terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka. Bisa jadi mereka
tidak pernah menyadari betapa dirinya sangat berharga dalam kehidupan
anak-anaknya. Jangan-jangan ayah-ayah ini sudah lupa untuk menikmati
anak-anaknya. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang berkembang
tanpa cinta ayah cenderung akan: drop-out, menderita kemiskinan
kehangatan, melakukan tindakan yang merusak, terlibat dalam penggunaan
narkoba dan lain-lain.
Pentingkah ayah? Tentu!
-
Pertama, ayah merupakan wakil / agen sosial yang
mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia di luar rumah.
-
Kedua, ayah memberikan disiplin yang berbeda dengan
disiplin yang diberikan ibu. Disiplin ibu cenderung lebih melindungi
sementara disiplin ayah adalah disiplin tantangan.
-
Ketiga, anak-anak lebih senang bermain dengan
ayahnya karena ayah biasanya lebih kreatif. Seluruh tubuh ayah bisa
menjelma atau dapat dijadikan alat permainan.
-
Keempat, pendekatan yang dilakukan ayah biasanya
berbeda dengan yang dilakukan ibu. Ibu melakukan pendekatan yang
serius, penuh cinta dan menenangkan. Sementara ayah melakukan
pendekatan yang penuh rangsangan dan selalu baru. Ayah pandai
memproduksi berbagai kegiatan yang merangsang anak. Ketika bermain
ayah cenderung lebih menggunakan fisik misalnya bergulat, pantomim
dan lain-lain. Sementara ibu lebih banyak menggunakan bahasa lisan
dan menggunakan mainan untuk berinteraksi dengan anak. Sesuai dengan
perkembangannya, anak akan lebih menyukai ayahnya karena ayah mampu
membuat anak bergerak dan melakukan kegiatan fisik, negatif atau
positif, penuh ketakutan atau gembira, mendorong anak untuk bisa
mengatur emosinya.
Alirkanlah cinta dengan perubahan sikap
Setiap saat, tanpa terasa, banyak yang berubah di dunia
ini. Hidup kita tidak bisa diulang. Karena itulah kita butuh pak M -pak
M yang baru- ayah yang berani berubah. Atau pak siapa saja yang tanpa
gengsi mau bermain kuda-kudaan, memeluk, menelpon walau sebentar,
berdiskusi ringan dan sebagainya dengan anak. Atau pak-pak siapa saja
yang dengan rela melepaskan prinsip bahwa menjadi seorang ayah yang baik
haruslah dengan wajah tegang, kering dan sok wibawa. Atau ayah yang rela
membersihkan ingus bocahnya, ompol dan buang air besar, muntah atau apa
saja yang menjijikkan dengan ikhlas.
Anak-anak banyak belajar dari keberadaan ayah dan
cintanya. Anak belajar membaca emosi ayah via ungkapan wajah ayah, nada
suara dan ciri non-verbal lainnya. Apakah ayah akan mengejarku dan
menangkapku atau ayah hanya main-main saja? Apakah saya telah melukai
ayah karena saya memukul matanya? Apakah ayah mau main atau ia sedang
lelah? Anak belajar untuk mengkomunikasikan emosinya secara jelas.
Contoh sederhana, seorang anak yang menangis ingin menunjukkan kepada
ayahnya bahwa permainan yang dilakukan terlalu kasar dan menakutkan anak.
Anak-anak juga menunjukkan ketika permainan tidak menyenangkan maka
mereka akan kehilangan minatnya. Anak belajar untuk mendengar keadaan
perasaannya. Contohnya anak akan belajar bahwa jika mereka terlalu lelah
dan mulai menangis akan membuat ayah sebagai pasangan bermain pergi
menjauh.
Konsekuensi dari penguasaan emosi seperti diceritakan di
atas dampaknya luar biasa pada anak. Kemampuan anak untuk bisa mengatasi
hal-hal yang merangsang dan interaksi yang menuntut keluwesan perasaan,
membuat anak belajar bahwa mereka ternyata dapat mengubah perasaan
mereka (masalah internal diri) dan dunia luar (tingkah laku ayah).
Kembali kepada cerita Pak M. Menurut saya, dia adalah
ayah yang juara dalam hidupnya. Dia bisa dan biasa menyelinap dalam masa
emas anak-anaknya yang tidak terlalu panjang. Dia biasa dan tidak malu
untuk belajar dan ditegur oleh berbagai kesalahan masa lalu. "Kita
punya utang dalam hidup ini," begitu Pak M suatu hari menjelaskan
pada sahabatnya tentang perubahan sikapnya. Ia meminta kita menjawab
pertanyaan sederhana ini dengan jujur:
-
Apakah saya banyak memeluk anak saya?
-
Apakah saya sering mengatakan kepada anak saya
"ayah sayang kamu nak?"
-
Apakah saya merasa sukses karena dapat membuat anak
saya terbuka untuk menceritakan masalahnya?
-
Apakah saya akan mencoba memahami mengapa dia marah
ketika anak berkata "aku benci ayah?"
-
Apakah saya menghentikan semua kegiatan dan
mendengarkan, ketika anak berbicara dengan saya?
-
Apakah saya lebih banyak memberikan pujian daripada
kritik pada anak saya?
-
Apakah saya sabar menghadapi anak saya?
-
Apakah saya dapat mengatasi masalah pekerjaan saya
dan tidak membawanya pulang ke rumah?
-
Apakah saya dapat memberikan aturan yang adil pada
anak saya?
-
Apakah saya menunjukkan kepada anak saya bahwa saya
menghormati dan menghargainya?
-
Apakah saya membantu anak saya untuk mengungkapkan
perasaannya?
-
Apakah saya mengatakan kepada anak saya apa yang
saya sukai darinya?
"Jika kita menjawab 50% dari pertanyaan di atas
dengan jawaban benar maka kita sedang dalam perjalanan untuk mencintai
anak kita." jelas pak M. "Selamat! Cinta ayah itu memang
penting" sambungnya tertawa lepas.
Irwan Rinaldi
Sumber : http://www.ummigroup.co.id/
Ummi No.01 Tahun XII |