Depan

Akhlak

Al Qur'anul Karim

Perempuan

Anak

 

 

Light Of Islam

Bismillahir rohmanir rohiim

Father's Love : Why It's Critical?

Irwan Rinaldi Direktur Lembaga Psikologi AMNA

Saya ingin bercerita tentang seorang ayah yang tak pernah lupa memeluk anaknya (balita) saban hari. Meski ia, awalnya, tak tahu benar apa makna dan dampaknya. Ia seorang ayah biasa tanpa pendidikan tinggi dan pekerjaan mentereng. Namanya Pak M, seorang ayah yang akhirnya mampu menemukan arti cinta untuk anak-anaknya. Ia kini jadi orang yang telah berubah : ia bukan lagi seorang ayah yang kering dan tegang. Menjadi ayah yang kering dan tegang -dalam pengalamannya- ternyata seperti bisul di pantat : benjolan kecil itu selalu saja menyimpan berbagai kekhawatiran. Ia bisa meletus kapan saja.

Pak M memulai karier ke-ayah-annya sebagai beban bukan tanggungjawab. Dulu, di usia pernikahannya yang masih muda, ia memaksa dirinya dengan berbagai aturan-aturan. Ia ingin membuktikan banyak hal pada lingkungannya dengan cara revolusi bukan evolusi. Jadilah Pak M seorang ayah yang sangat serius sepanjang hari. Wajahnya tegang dan kering. Saking seriusnya, ia tidak tahu lagi untuk siapa sebenarnya jerih payah yang dilakoninya. Istrinya, ibu M dan dua anak kecil mereka yang lucu-lucu tak banyak mendukung. Dan Pak M kalah. Tapi, ia ingin terus mencoba. Suatu hari, setelah tujuh tahun pernikahannya, tiba-tiba ia merasa hampir semua makhluk dan benda di sekeliling melawannya. Pekerjaan, tetangga, istri, rumah dan bahkan anak-anak seperti bagian dari bisul yang akan segera meletus. Ia pun berusaha melawan semua kekhawatiran tersebut. Namun ia kalah untuk kedua kalinya.

"Segala sesuatu harus dimulai dan pelihara dengan cinta," kata salah seorang sahabatnya, ketika Pak M menceritakan kelelahannya. "Manusia dilahirkan karena cinta," sambung sahabatnya itu. Akhirnya, Pak M mencoba mengalirkan cinta ke seluruh jagad tubuhnya -luar dalam-. Salah satunya dengan berlatih memeluk anak-anaknya. Sesuatu pekerjaan yang dulu dianggapnya membuang-buang waktu. Kini ia adalah Pak M yang baru, seorang ayah yang tidak lagi menjadikan hidup ini sebagai beban melainkan tanggungjawab. Pak M berhasil karena ia mau melakukan perubahan!

Bagaimana dengan ayah-ayah lain? Entahlah, yang jelas sebagian besar anak-anak sekarang merasa sangat sedikit melakukan atau bahkan banyak yang kehilangan kontak dengan ayahnya. Penelitian terakhir menunjukkan bahwa banyak anak-anak hanya bertemu ayahnya selama beberapa menit saja. Dan itu pun bukan pada waktu prime time.

Ketiadaan ayah dan cintanya

Banyak ayah yang lebih terpikat pada pekerjaannya atau tekanan lain yang mereka hadapi setiap hari. Mereka tidak mempunyai waktu untuk terlibat dalam kehidupan anak-anak mereka. Bisa jadi mereka tidak pernah menyadari betapa dirinya sangat berharga dalam kehidupan anak-anaknya. Jangan-jangan ayah-ayah ini sudah lupa untuk menikmati anak-anaknya. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang berkembang tanpa cinta ayah cenderung akan: drop-out, menderita kemiskinan kehangatan, melakukan tindakan yang merusak, terlibat dalam penggunaan narkoba dan lain-lain.

Pentingkah ayah? Tentu!

  • Pertama, ayah merupakan wakil / agen sosial yang mempersiapkan anak untuk menghadapi dunia di luar rumah.

  • Kedua, ayah memberikan disiplin yang berbeda dengan disiplin yang diberikan ibu. Disiplin ibu cenderung lebih melindungi sementara disiplin ayah adalah disiplin tantangan.

  • Ketiga, anak-anak lebih senang bermain dengan ayahnya karena ayah biasanya lebih kreatif. Seluruh tubuh ayah bisa menjelma atau dapat dijadikan alat permainan.

  • Keempat, pendekatan yang dilakukan ayah biasanya berbeda dengan yang dilakukan ibu. Ibu melakukan pendekatan yang serius, penuh cinta dan menenangkan. Sementara ayah melakukan pendekatan yang penuh rangsangan dan selalu baru. Ayah pandai memproduksi berbagai kegiatan yang merangsang anak. Ketika bermain ayah cenderung lebih menggunakan fisik misalnya bergulat, pantomim dan lain-lain. Sementara ibu lebih banyak menggunakan bahasa lisan dan menggunakan mainan untuk berinteraksi dengan anak. Sesuai dengan perkembangannya, anak akan lebih menyukai ayahnya karena ayah mampu membuat anak bergerak dan melakukan kegiatan fisik, negatif atau positif, penuh ketakutan atau gembira, mendorong anak untuk bisa mengatur emosinya.

Alirkanlah cinta dengan perubahan sikap

Setiap saat, tanpa terasa, banyak yang berubah di dunia ini. Hidup kita tidak bisa diulang. Karena itulah kita butuh pak M -pak M yang baru- ayah yang berani berubah. Atau pak siapa saja yang tanpa gengsi mau bermain kuda-kudaan, memeluk, menelpon walau sebentar, berdiskusi ringan dan sebagainya dengan anak. Atau pak-pak siapa saja yang dengan rela melepaskan prinsip bahwa menjadi seorang ayah yang baik haruslah dengan wajah tegang, kering dan sok wibawa. Atau ayah yang rela membersihkan ingus bocahnya, ompol dan buang air besar, muntah atau apa saja yang menjijikkan dengan ikhlas.

Anak-anak banyak belajar dari keberadaan ayah dan cintanya. Anak belajar membaca emosi ayah via ungkapan wajah ayah, nada suara dan ciri non-verbal lainnya. Apakah ayah akan mengejarku dan menangkapku atau ayah hanya main-main saja? Apakah saya telah melukai ayah karena saya memukul matanya? Apakah ayah mau main atau ia sedang lelah? Anak belajar untuk mengkomunikasikan emosinya secara jelas. Contoh sederhana, seorang anak yang menangis ingin menunjukkan kepada ayahnya bahwa permainan yang dilakukan terlalu kasar dan menakutkan anak. Anak-anak juga menunjukkan ketika permainan tidak menyenangkan maka mereka akan kehilangan minatnya. Anak belajar untuk mendengar keadaan perasaannya. Contohnya anak akan belajar bahwa jika mereka terlalu lelah dan mulai menangis akan membuat ayah sebagai pasangan bermain pergi menjauh.

Konsekuensi dari penguasaan emosi seperti diceritakan di atas dampaknya luar biasa pada anak. Kemampuan anak untuk bisa mengatasi hal-hal yang merangsang dan interaksi yang menuntut keluwesan perasaan, membuat anak belajar bahwa mereka ternyata dapat mengubah perasaan mereka (masalah internal diri) dan dunia luar (tingkah laku ayah).

Kembali kepada cerita Pak M. Menurut saya, dia adalah ayah yang juara dalam hidupnya. Dia bisa dan biasa menyelinap dalam masa emas anak-anaknya yang tidak terlalu panjang. Dia biasa dan tidak malu untuk belajar dan ditegur oleh berbagai kesalahan masa lalu. "Kita punya utang dalam hidup ini," begitu Pak M suatu hari menjelaskan pada sahabatnya tentang perubahan sikapnya. Ia meminta kita menjawab pertanyaan sederhana ini dengan jujur:

  • Apakah saya banyak memeluk anak saya?

  • Apakah saya sering mengatakan kepada anak saya "ayah sayang kamu nak?"

  • Apakah saya merasa sukses karena dapat membuat anak saya terbuka untuk menceritakan masalahnya?

  • Apakah saya akan mencoba memahami mengapa dia marah ketika anak berkata "aku benci ayah?"

  • Apakah saya menghentikan semua kegiatan dan mendengarkan, ketika anak berbicara dengan saya?

  • Apakah saya lebih banyak memberikan pujian daripada kritik pada anak saya?

  • Apakah saya sabar menghadapi anak saya?

  • Apakah saya dapat mengatasi masalah pekerjaan saya dan tidak membawanya pulang ke rumah?

  • Apakah saya dapat memberikan aturan yang adil pada anak saya?

  • Apakah saya menunjukkan kepada anak saya bahwa saya menghormati dan menghargainya?

  • Apakah saya membantu anak saya untuk mengungkapkan perasaannya?

  • Apakah saya mengatakan kepada anak saya apa yang saya sukai darinya?

"Jika kita menjawab 50% dari pertanyaan di atas dengan jawaban benar maka kita sedang dalam perjalanan untuk mencintai anak kita."  jelas pak M. "Selamat! Cinta ayah itu memang penting" sambungnya tertawa lepas.

Irwan Rinaldi

Sumber : http://www.ummigroup.co.id/
Ummi No.01 Tahun XII


Last updated : 15-Aug-2009 16:16

Disclaimer :
The contents of this web site were collected from any sources. Web Master and Web Designer are not responsible for the contents.

This site developed and maintained by SeWiWi Art 'n Design Division

 

1