Depan

Akhlak

Al Qur'anul Karim

Perempuan

Anak

 

 

Light Of Islam

Bismillahir rohmanir rohiim

Anak-Anak Kita

Hari itu Bekasi kembali diguyur hujan lebat. Awan hitam menggantung di langit. Hujan masih terus mengguyur kota pinggiran ini. Di dorong tuntutan menunaikan kewajiban, saya berangkat menuju tujuan. Kalau menuruti kata hati, enaknya meringkuk dibawah selimut tebal menikmati waktu.

Angkot kijang 'doyok' belum lagi berisi setengahnya. Serombongan anak-anak berseragam kemeja putih dan celana gantung biru mencegatnya. Berebutan mereka memilih menggantung di bibir pintu. Tawa dan canda tak henti keluar dari mulut mereka. Asap rokok mengepul membuat pengap suasana. Kata-kata jorok dan kasar berhamburan dari bibir kehitaman karena nikotine. Wajah mereka kelam, tak sedap dipandang. Padahal mereka baru beranjak belasan, masih pantas disebut anak-anak. Inikah potret generasi mendatang bangsaku? Hati saya miris.

Di pangkuan saya ada sebuah buku memoar seorang manusia 'besar'. Tiba-tiba hati saya serasa disayat sembilu. Bukan apa-apa. Potret hidup di depan mata saya begitu kontras dibandingkan potret dalam buku memoar yang saya baca. Kontras laksana bumi dan langit. Bayangkan, betapa anak-anak usia belasan berkumpul membentuk Perhimpunan Akhlak Mulia. Mereka sepakat menegakkan aturan, "Siapa memaki saudaranya, didenda satu millim (mata uang terkecil Mesir); memaki ayahnya didenda dua millim; memaki ibunya didenda satu qirsy (sen Mesir); mencela agama didenda dua qirsy; bertengkar dengan temannya didenda dua qirsy. Sanksi ini akan dilipatgandakan jika yang melakukannya personil anggota dewan pimpinan dan pimpinannya. Siapa yang tidak mau menunaikan sanksi, ia diasingkan teman-temannya hingga mau menunaikan. Denda-denda yang terkumpul akan diinfakkan untuk kegiatan kebaikan dan sosial." Subhannallah, perhimpunan yang dimotori anak-anak belasan tahun ini benar-benar memberikan pengaruh yang besar pada kejiwaan mereka. Jauh lebih bermanfaat dari dua puluh mata pelajaran teoritis lainnya. Pernah suatu ketika, ada mayat tak dikenal mengambang di sungai Nil yang kebetulan melintas di depan sekolah mereka. Pengurusan mayat tersebut dilakukan dengan menggunakan uang kas perhimpunan.

Belum puas dengan usaha tersebut, mereka pun mendirikan Asosiasi Anti Haram. Aktifitas yang dilakukan adalah memberi teguran dengan tulisan pada pelaku dosa. Siapa saja yang ketahuan tidak melakukan sholat, akan dikirimi surat teguran oleh asosiasi. Siapa yang tidak berpuasa di bulan Ramadhan akan menerima perlakukan serupa. Siapa saja, tua muda tanpa pandang bulu bila terlihat melakukan perbuatan dosa akan dikirimi surat teguran. Seorang pemilik kafe yang ketahuan menghadirkan penari wanita juga tak luput dari teguran. Uniknya, mereka bekerja secara rahasia, hingga tak ada yang tahu siapa dibalik asosiasi tersebut.

Benarlah kata Rasulullah, setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Pada dirinya telah Allah titipkan potensi untuk menjadi orang baik-baik. Bila potensi ini disirami, dipupuki dan dirawat ia akan tumbuh menjadi manusia bertaqwa. Sebaliknya bila potensi ini dibiarkan tak terurus, ia akan tumbuh kerdil bak tanaman bonsai. Kekerdilannya membuat kesuciannya tertutupi hingga tak nampak dalam perilaku hidup.
Anak-anak sekarang adalah wajah negeri kita esok hari. Bila kita biarkan wajah mereka tetap kelam, begitulah negeri kita kelak. Jangan pernah berdalih, "Ah, yang penting anakku di rumah tak seperti itu…." Tahukah kita, anak-anak kita pun pada saatnya akan bergaul dengan mereka dan bukan tak mungkin tertulari kekelaman. Sadarkah kita, anak-anak yang berhak memperoleh cahaya kebenaran bukan hanya anak-anak yang kita lahirkan dari rahim sendiri?

Sumber :http://www.ummigroup.co.id/


Last updated : 15-Aug-2009 16:16

Disclaimer :
The contents of this web site were collected from any sources. Web Master and Web Designer are not responsible for the contents.

This site developed and maintained by SeWiWi Art 'n Design Division

 

1