Anak-Anak Kita
Hari itu Bekasi kembali diguyur hujan lebat. Awan hitam
menggantung di langit. Hujan masih terus mengguyur kota pinggiran ini.
Di dorong tuntutan menunaikan kewajiban, saya berangkat menuju tujuan.
Kalau menuruti kata hati, enaknya meringkuk dibawah selimut tebal
menikmati waktu.
Angkot kijang 'doyok' belum lagi berisi setengahnya.
Serombongan anak-anak berseragam kemeja putih dan celana gantung biru
mencegatnya. Berebutan mereka memilih menggantung di bibir pintu. Tawa
dan canda tak henti keluar dari mulut mereka. Asap rokok mengepul
membuat pengap suasana. Kata-kata jorok dan kasar berhamburan dari bibir
kehitaman karena nikotine. Wajah mereka kelam, tak sedap dipandang.
Padahal mereka baru beranjak belasan, masih pantas disebut anak-anak.
Inikah potret generasi mendatang bangsaku? Hati saya miris.
Di pangkuan saya ada sebuah buku memoar seorang manusia
'besar'. Tiba-tiba hati saya serasa disayat sembilu. Bukan apa-apa.
Potret hidup di depan mata saya begitu kontras dibandingkan potret dalam
buku memoar yang saya baca. Kontras laksana bumi dan langit. Bayangkan,
betapa anak-anak usia belasan berkumpul membentuk Perhimpunan Akhlak
Mulia. Mereka sepakat menegakkan aturan, "Siapa memaki saudaranya,
didenda satu millim (mata uang terkecil Mesir); memaki ayahnya didenda
dua millim; memaki ibunya didenda satu qirsy (sen Mesir); mencela agama
didenda dua qirsy; bertengkar dengan temannya didenda dua qirsy. Sanksi
ini akan dilipatgandakan jika yang melakukannya personil anggota dewan
pimpinan dan pimpinannya. Siapa yang tidak mau menunaikan sanksi, ia
diasingkan teman-temannya hingga mau menunaikan. Denda-denda yang
terkumpul akan diinfakkan untuk kegiatan kebaikan dan sosial."
Subhannallah, perhimpunan yang dimotori anak-anak belasan tahun ini
benar-benar memberikan pengaruh yang besar pada kejiwaan mereka. Jauh
lebih bermanfaat dari dua puluh mata pelajaran teoritis lainnya. Pernah
suatu ketika, ada mayat tak dikenal mengambang di sungai Nil yang
kebetulan melintas di depan sekolah mereka. Pengurusan mayat tersebut
dilakukan dengan menggunakan uang kas perhimpunan.
Belum puas dengan usaha tersebut, mereka pun mendirikan
Asosiasi Anti Haram. Aktifitas yang dilakukan adalah memberi teguran
dengan tulisan pada pelaku dosa. Siapa saja yang ketahuan tidak
melakukan sholat, akan dikirimi surat teguran oleh asosiasi. Siapa yang
tidak berpuasa di bulan Ramadhan akan menerima perlakukan serupa. Siapa
saja, tua muda tanpa pandang bulu bila terlihat melakukan perbuatan dosa
akan dikirimi surat teguran. Seorang pemilik kafe yang ketahuan
menghadirkan penari wanita juga tak luput dari teguran. Uniknya, mereka
bekerja secara rahasia, hingga tak ada yang tahu siapa dibalik asosiasi
tersebut.
Benarlah kata Rasulullah, setiap anak dilahirkan dalam
keadaan fitrah. Pada dirinya telah Allah titipkan potensi untuk menjadi
orang baik-baik. Bila potensi ini disirami, dipupuki dan dirawat ia akan
tumbuh menjadi manusia bertaqwa. Sebaliknya bila potensi ini dibiarkan
tak terurus, ia akan tumbuh kerdil bak tanaman bonsai. Kekerdilannya
membuat kesuciannya tertutupi hingga tak nampak dalam perilaku hidup.
Anak-anak sekarang adalah wajah negeri kita esok hari. Bila kita biarkan
wajah mereka tetap kelam, begitulah negeri kita kelak. Jangan pernah
berdalih, "Ah, yang penting anakku di rumah tak seperti itu…."
Tahukah kita, anak-anak kita pun pada saatnya akan bergaul dengan mereka
dan bukan tak mungkin tertulari kekelaman. Sadarkah kita, anak-anak yang
berhak memperoleh cahaya kebenaran bukan hanya anak-anak yang kita
lahirkan dari rahim sendiri?
Sumber :http://www.ummigroup.co.id/ |