Futur Itu...
1. Melakukan ma'shiat dan dosa berulang
kali.
Terlalu sering melakukan kesalahan,
menjadikannya sebagai kebisaan yang bahkan sulit ditinggalkan.Dari
kebiasaan tersebut, hilanglah kesan kesalahan atau dosa yang dilakukan
sampai seseorang menjadi berani melakukan dosa dan kesalahan berikutnya.
Anas ra. pernah berkata : "Demi Allah,
niscaya kalian melakukan suatu dosa yang kalian anggap dosa itu lebih
tipis dari rambut.Dahulu kami menganggap perbuatan tersebut termasuk
dalam mauqibat (dosa besar)."
Rasulullah bersabda : "Setiap ummatku akan
dimaafkan kecuali orang yang berani melakukan dosa secara
terang-terangan." (HR.Bukhari)
2.Merasakan adanya kekerasan dan kebekuan
hati.
Sehingga dirasakan laksana batu keras yang
tak dapat diusik atau dipengaruhi oleh kejadian-kejadian di
sekelilingnya serta sulit menerima teguran dan nasihat.
3. Kesulitan menekunkan diri dalam
beribadah.
Seperti sulit khusyu dalam shalat, dzikir,
membaca Al-Qur'an dan berdoa.
4. Munculnya rasa malas melakukan amal
ta'at dan ibadah, atau bahkan cenderung meremehkannya.
Enggan atau meremehkan hadir shalat
berjamaah dan mendirikan shalat di awal waktu. Dan bila melakukan amal
ibadah namun hal tsb hanya merupakan aktivitas yang kosong dari ruh.
Allah menyifati orang munaiq dalam firman-Nya : "Dan apabila mereka
berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas." (An-Nisaa':142)
5. Perasaan cepat gelisah dan dada yang
terasa menyesak laksana orang yang tengah menghadapi masalah berat yang
menghimpit, padahal hanya masalah yang remeh saja. Juga perasaan tidak
tabah dan pucat pasi ketika mendapat musibah atau cobaan.
6. Suasana jiwa yang tak tersentuh dengan
kandungan ayat suci Al-Qur'an.
Baik janji, ancaman, perintah, maupun larangan. Timbulnya sikap malas
untuk
mendengar dan menyimak Al-Qur'an, apalagi membacanya.
7. Lalai atau segan melakukan dzikir,
karena merasakannya sebagai pekerjaan yang paling berat.
Firman Allah SWT : "Dan mereka tidak
menyebut Allah kecuali hanya sedikit sekali." (An-Nisaa':142)
8. Berkurangnya rasa kemarahan atau tidak
bergeming sama sekali tatkala melihat pelanggaran terhadap hal-hal yang
diharamkan Allah SWT.
Kurangnya kecintaan atau lenyap sama sekali
kecintaan terhadap perbuatan ma'ruf dan ketaatan. Atau dengan kata lain,
segala permasalahan dianggap sama, sehingga tak terbetik dalam hati
untuk melarang atau menganjurkan. Hal ini berarti pula kemalasan
seseorang untuk aktif dalam dakwah Islam.
9. Menilai sesuatu dari sisi terjadinya
dosa atau tidak, dan tidak mau melihat dari sisi perbuatan yang makruh.
Sebagian orang bila ingin melakukan
perbuatan, ia bertanya apakah perbuatan tersebut dosa atau tidak ?
Apakah hal tersebut haram atau sekedar makruh saja ? Hal ini akan
menyeret seseorang pada perkara syubhat. "Barangsiapa yang terjerumus
dalam syubhat berarti ia berada dalam yang haram," kata Rasulullah yang
diriwayatkan Muslim.
10. Lemahnya perhatian terhadap
urusan-urusan kaum muslimin.
Tidak mau berdoa apalagi mengeluarkan infaq
untuk mereka. Perasaannya dingin dan beku, dalam memandang permasalahan
ummat yang tengah dikuasai musuh, diintimidasi, dibantai dan sebagainya.
Tidak mau bersusah-susah berjuang mengatasi kondisi ummat Islam adalah
indikasi ketiadaan rasa tanggung jawab terhadap agama. Adalah para
sahabat ra., setelah masuk Islam, selalu tergugah untuk mengajak
ummatnya ke dalam Islam.
11. Cenderung memperbanyak perbantahan atau
debat dan menjauhi masalah amal.
Perdebatan tanpa argumen, pengetahuan dan
dalil yang jelas justru menjadikan hati keras dan beku, bahkan cenderung
menimbulkan benih perpecahan.
12. Terlalu memperhatikan dunia hingga
berlebih-lebihan dalam memperhatikan diri sendiri, baik masalah makan,
minum, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya.
13. Menghindar atau memisahkan diri dari
lingkup persahabatan dengan orang-orang baik.
Munculnya perasaan tidak enak bila berada
diantara lingkungan orang-orang yang berjuang di jalan Allah.
Disarikan dari buku "Obat lemahnya Iman",
Muhammad Sholih al-Munajjid
dan beberapa sumber. |