Semoga Allah Yang Maha Menatap, Maha Gagah, Maha
Menguasai segala-galanya mengaruniakan kepada kita hati yang bersih
sehingga bisa menangkap hikmah di balik kejadian apapun yang kita rasa
dan kita saksikan, karena penderitaan dalam hidup bukan karena kejadian
yang menimpa tapi karena kita tertutup dari hikmah.
Allah menakdirkan apapun Maha Cermat, tidak pernah mendzolimi
makhluk-makhluk-Nya. Kita sengsara adalah karena kita yang mendzolimi
diri sendiri.
"Barangsiapa yang tidak mensyukuri nikmat Allah, sesungguhnya ia
telah membuka jalan hilangnya nikmat dari dirinya. Akan tetapi
barangsiapa yang mensyukuri nikmat Allah, maka sungguh ia telah memberi
ikatan yang kuat pada kenikmatan Allah itu."
Firman Allah SWT: La in Syakartum la-aziidannakum (jika kalian
bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)
Wa maa bikummin ni'matin faminallohi tsumma idzaa massakumudllurru
failaihi tajaruun (Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari
Allah-lah datangnya, dan bila kamu ditimpa oleh kemudaratan , maka hanya
kepada-Nya-lah kamu meminta pertolongan.(QS.16: 53)
Wa ammaa bini'mati rabbika fahaddits (Dan terhadap Nikmat
Tuhan-mu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur).(QS.93:
11)*
*(diambil dari kitab Al Hikam; Syekh Ahmad Atailah)
Jadi setiap nikmat itu menjadi pembuka atau penutup pintu nikmat lainnya.
Kita sering menginginkan nikmat padahal rahasia yang bisa mengundang
nikmat adalah syukur atas nikmat yang ada. Jangan engkau lepaskan nikmat
yang besar dengan tidak mensyukuri nikmat yang kecil.
Tidak usah risau terhadap nikmat yang belum ada, justru risaulah
kalau nikmat yang ada tidak disyukuri. Allah sudah berjanji kepada kita
dengan janji yang pasti ditepati, La in syakartum la-aziidannakum
(jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah rezekimu)(QS.14: 7)
Maka, daripada kita sengsara oleh nikmat yang belum ada lebih baik
bagaimana yang ada bisa disyukuri. Sayangnya kalau kita mendengar kata
syukuran itu yang terbayang hanya makanan, padahal syukuran itu adalah
bentuk amal yang dahsyat sekali pengaruhnya.
Syarat yang pertama menjadi ahli syukur adalah hati tidak
merasa memiliki, tidak merasa dimiliki kecuali yakin segalanya milik
Allah SWT. Makin kita merasa memiliki sesuatu akan makin takut
kehilangan, takut kehilangan adalah suatu bentuk kesengsaraan. Tapi
kalau kita yakin semuanya milik Allah, maka diambil oleh Allah tidak
layak kita merasa kehilangan karena kita merasa tertitipi. Makin merasa
rejeki itu milik manusia kita akan merasa berharap kepada manusia dan
akan makin sengsara, senikmat-nikmat dalam hidup adalah kalau kita tidak
berharap kepada mahluk tetapi berharap hanya kepada Allah SWT.
Rahasia yang kedua ahli syukur adalah "orang yang selalu
memuji Allah dalam segala kondisi". Karena apa? Karena kalau
dibandingkan antara nikmat dengan musibah tidak akan ada apa-apanya.
Musibah yang datang tidak sebanding dengan samudera nikmat yang tiada
bertepi. Apa yang harus membuat kita menderita? Adalah menderita karena
kita tamak kepada yang belum ada.
Ciri yang ketiga dari ahli syukur adalah manfaatkan nikmat
yang ada untuk mendekat kepada Allah. Alkisah ada tiga pengendara kuda
masuk kedalam belantara, ketika dia tertidur kemudian saat terjaga
dilihat kudanya telah hilang semua. Betapa kagetnya mereka dan pada saat
yang sama dalam keadaan kaget, ternyata seorang raja yang bijaksana
melihat hal tersebut dan mengirimkan kuda yang baru lengkap dengan
perbekalan. Ketika dikirimkan reaksi ketiga pengendara yang hilang
kudanya itu berbeda-beda. Si-A kaget dan berkomentar, "Wah ini
hebat sekali kuda, bagus ototnya, bekalnya banyak pula!" Dia sibuk
dengan kuda tanpa bertanya kuda siapakah ini.
Si-B, gembira dengan kuda yang ada dan berkomentar, "Wah ini
kuda hebat," sambil berterima kasih kepada yang memberi. Sikap C
beda lagi, ia berkomentar "Lho ini bukan kuda saya, ini kuda milik
siapa? Yang ditanya menjawab, "Ini kuda milik raja." Si-C
bertanya kembali "Kenapa raja memberikan kuda ini? Dijawab "Sebab
raja mengirim kuda agar engkau mudah bertemu dengan sang raja". dia
gembira bukan karena bagusnya kuda, dia gembira karena kuda dapat
memudahkan dia dekat dengan sang raja.
Nah begitulah, si-A adalah manusia yang kalau mendapatkan mobil,
motor, rumah, dan kedudukan sibuk dengan kendaraan itu, tanpa sadar
bahwa itu adalah titipan. Orang yang paling bodoh adalah orang yang
punya dunia tapi dia tidak sadar bahwa itu titipan Allah. Yang B mungkin
adalah model kita yang ketika senang kita mengucap Alhamdulillah, tetapi
ahli syukur yang asli adalah yang ketiga yang kalau punya sesuatu dia
berpikir bahwa inilah kendaraan yang dapat menjadi pendekat kepada Allah
SWT.
Ketika mempunyai uang dia mengucap Alhamdulillah, uang inilah
pendekat saya kepada Allah, dia tidak berat untuk membayar zakat, dia
ringan untuk bersadaqah, karena tidak akan berkurang harta dengan
bersadaqah.
Maka, jika sahabat ingin banyak uang, sederhana saja rumusnya,
pakailah uang yang ada untuk berjuang di jalan Allah. Jangan heran jika
rejeki datang melimpah. Punya rumah ingin nikmat bukan masalah ada atau
tidak ada AC, bukan masalah ukuran, tetapi rumah yang nikmat adalah
rumah yang menjadi kendaraan untuk mendekat kepada Allah. Bangunlah
rumah yang tidak membuat kita sombong, belilah asesoris rumah yang
membuat setiap tamu yang datang menjadi dekat kepada Allah, bukan ingat
kepada kekayaan kita. Pasanglah hiasan yang mebuat tamu kita ingat
kepada kekuasaan Allah bukan kekuasaan kita. Itulah rumah yang Insya
Allah tenang dan barokah. Tapi kalau rumah dipakai untuk pamer dan
menginginkan kursi yang amat mewah, potret-potretnya yang tidak membuat
ingat kepada Allah, malah ujub, riya takabur, tidak usah heran rumah itu
semakin diminati pencuri, dan rumah yang diminati pencuri itu membuat
strees bagi yang punya. Dia harus menyewa alarm, menggaji satpam, di
depan harus ada anjing. Coba kalau rumahnya ingat kepada Allah dia tidak
akan sesibuk itu.
Mohon maaf kepada saudara-saudaraku yang kaya tidak apa-apa memiliki
yang bagus, tapi usahakan setiap tamu yang masuk ke rumah bukan ingat
kepada kita tetapi ingat kepada kekayaan Allah. Andai kita mempunyai
jabatan, lalu bagaimana cara mensyukurinya? Gunakanlah jabatan itu agar
karyawan kita dekat kepada Allah.
Kesungguhan kita untuk mendidik anak lebih baik daripada punya anak
tetapi tidak tahu agama, lalu bagaimana anak itu akan memuliakan ibu
bapaknya? Ketika kita mati mereka hanya berebut harta warisan jangankan
mensholatkan ibu bapaknya.
Maka orang yang bersyukur yang adalah orang yang mendidik anaknya
supaya dekat dengan Allah. Di dunia nama orang tuanya terbawa harum
karena anaknya mulia. Di kubur lapang kuburnya karena doa anaknya. Di
akherat Insya Allah akan terbawa karena barokah mendidik anak.
Kunci syukur yang keempat adalah berterima kasih kepada yang
telah menjadi jalan nikmat. Seorang anak disebut ahli syukur kalau dia
tahu balas budi kepada ibu dan bapaknya. Dimana-mana anak sholeh itu
harum namanya. Tapi anak durhaka tidak pernah ada jalan menjadi mulia
sebab kenapa? Karena mereka tidak tahu balas budi. Benar orang tua kita
tidak seideal yang kita harapkan, tetapi masalah kita bukan bagaimana
sikap orang tua kepada kita, tetapi sikap kita kepada orang tua.
Saudara-saudaraku yang budiman negeri kita dikatakan negeri bersyukur
kalau sadar bahwa negeri ini adalah titipan dari Allah, bukan milik
seseorang, bukan milik pahlawan, bukan milik siapapun yang membangun
negeri. Tapi negeri ini tidak ada pemiliknya selain Allah tapi kita
episodenya hidup di Indonesia. Maka syukuri, jangan minder jadi orang
Indonesia yang disebutkan negara koruptor, tetapi justru kita yang harus
bangkit untuk tidak korupsi! Dengan minder tidak akan menyelesaikan
masalah. Kita harus bangkit! Negara ini harus jadi ladang untuk mendekat
kepada Allah.
Dengan ada perasaan dongkol, sakit hati, itu semuanya tidak akan
menyelesaikan masalah tetapi justru akan menambah masalah. Sekarang
justru kesempatan kita menjadi bagian dari masalah atau menjadi bagian
dari solusi. Daripada sibuk mempermasalahkan masalah lebih baik mari
kita sedikit demi sedikit menyelesaikan masalah. Itulah namanya syukur
nikmat.
Dan sahabat-sahabat, salah satu tugas kita untuk mensyukuri nikmat
adalah kita harus memilih pemimpin kita yang berakhlaq baik yang bisa
membimbing kita. Rakyat seluruh negeri ini menjadi orang yang baik-baik.
Kita membutuhkan suri tauladan yang baik. Jangan pernah melihat orang
dari topeng duniawinya tetapi lihatlah orang dari akhlaqnya karemna
akhlaq adalah buah dari keimanan dan keilmuan yang diamalkan. Harta,
gelar, pangkat, jabatan dan kedudukan yang tidak menjadikan kemuliaan
akhlaq seseorang berarti dia telah terpedaya. Kita tidak membutuhkan
topeng. Yang kita butuhkan adalah isi dan isi inilah milik orang-orang
yang ahli syukur kepada Allah.
Mudah-mudahan daripada kita memikirkan yang tidak ada lebih baik
mensyukuri yang ada. Wallahu a'lam Bishowab.
Disampaikan dalam Kajian Hikam Kamis 29 Agustus 2002 di Masjid Daarut
Tauhiid dan disiarkan trans TV Ahad 8 Agustus 2002.