|
From: en nadvi <ennadvi@.com>
Date: Tue Jul 15, 2003 3:25 am
Subject: Mengintip perilaku perempuan Aceh
Mengintip Prilaku Perempuan Aceh
Saat itu malam sabtu, jarum jam menunjukkan pukul 22.15 penulis bersama seorang
teman kebetulan ingin ngopi di warung sekitar depan Masjid Raya Baiturrahman.
Malam itu jalanan dan situasi kota Banda Aceh mulai sunyi, berbeda dengan
malam-malam sebelumnya ketika darurat militer belum diberlakukan.
Hanya beberapa orang saja penduduk kota Banda Aceh yang memanfaatkan malam itu
untuk beristirahat diluar rumah. ltupun kebanyakan laki-laki yang umumnya
diamati dari penampilan mereka adalah arapat karena markasnya memang tidak jauh
dari lokasi masjid raya.
Namun tidak begitu dengan beberapa perempuan yang seharusnya tidak lagi layak
'berkeliaran' diluar rumah. Mereka dengan pakaian ketat yang mencolok tampak
berkeliaran di sekitar kawasan masjid kebanggaan umat Islam Aceh itu. Ada
sebagian yang duduk secara berkoloni dengan sekelompok laki-laki di sebuah
warung kopi.
Terlihat mereka begitu santai mengobrol sambil tertawa cekikikan. Tentu
penampilannya mereka sama dengan pakaian serba ketat. Mereka tampak begitu
liar, dan dari dialek mereka sudah diduga adalah perempuan Aceh.
Gambaran yang penulis temukan di sekitar Banda Aceh itu sesungguhnya potret
perempuan Aceh yang juga terdapat di daerah- daerah. Sisi lain dari perempuan
di Aceh saat ini. Sisi yang sangat kontras bahkan menyimpang dari karakter
budaya dan prilaku perempuan-perempuan Aceh masa lalu. Perempuan Aceh hari ini
melekat suatu citra yaitu baju ketat, pamer aurat dan sulit dengan gaya hidup
hedonisme dan hura-hura.
Karenanya itu bukan suatu barang aneh ketika tim penertiban Polresta menciduk
sekoloni wanita peramu birahi, beberapa waktu lalu. Kejadian tersebut sebagian
dianggap suatu situasi "radikal" yang terjadi di Aceh berkaitan dengan prilaku
perempuan Aceh saat ini. Tentu sangat beralasan karena memang Aceh yang
notabene beragama Islam --apalagi dikenal sangat fanatis dan fundamen terhadap
nilai Islami, akan menjadi suatu yang aneh, dan sangat ironi. Lebih tragis lagi
karena pelakunya penyimpangan perilaku radikal itu justru "produksi dalam
negeri". Dan keadaan itu bukan memang tidak dapat digeneralisir tetapi juga
bukan sekedar kasuistik dari moral sebagian perempuan Aceh, tetapi merupakan
gambaran suatu prilaku budaya yang hilang. Sehingga tidak boleh disepelekan.
Faktor penyebab
Beberapa faktor terjadi degradasi nilai dan budaya Aceh, antara lain pemahaman
kita yang menilai fenomena itu adalah suatu yang biasa terjadi seperti di
daerah lain. Sisi lain kebijakan atau aturan yang selama ini hanya sebatas
wacana politis yang tekstual tidak dalam kontekstual. Misalnya, soal penerapan
Syariat Islam di Aceh. Dengan demikian, terjadinya pelanggaran wilayah moral
dan etika serta budaya, hanya dilihat secara terpilah-pilah atau sepotong-
potong.
Bahwa, untuk membangun eksistensi perempuan Aceh selama ini hanya terfokus pada
pemahaman ruang-ruang politik, kemanusiaan dan kebijakan public. Ternyta tidak
pernah menyentu bagi membangun dan mendesain atas landasan agama, moral yang
kuat dan kompeherensif.
Fenomena tentang penyimpangan prilaku perempuan-perempuan Aceh itu sebagai
indikator kecil terjadinya demoralisasi sporadic. Pada giliranya akan
melahirkan defensifitas kolektif dari komunitas penyimpangan prilaku secara
permanentm dan tercipta suatu ketika sebuah produk perempuan Aceh bebas nilai.
Faktor lain kenapa prilaku penyimpangan itu terjadi adalah desakan kehidupan
ingin serba gampang. sehingga moralitas dianggap hanya sebuah sekat untuk bebas
dan terus menderita. Di samping itu adalah superioritas kaum laki-laki.
Sehingga sangat tidak adil bila hanya menohok dan menghujat kaum perempuan
secara sepihak. Walaupun dalam menyikapi hal ini kita harus menggunakan
perspektif keperempuanan dalam melihat persoalan demoralisasi perempuan Aceh.
Faktor itu, pertama, lelaki juga memiliki andil dan saham dam membangun
demoralisasi perempuan-perempuan Aceh. Terutama ketika konsep superior-inferior
dan produsen-konsumen masih tetap menjadi pemahaman umum yang berkembang dalam
masyarakat.
Lelaki adalah superior sementara itu perempuan adalah inferior. Lelaki adalah
produsen dan perempuan adalah konsumen. Pemahaman ini menjadikan lelaki semakin
menganggap wanita adalah konsumen dan objek yang dapat dimanfaatkan kapan saja
dan dimana saja. Sayangnya lagi kesempatan ini pun dijadikan peluang oleh
perempuan, bahkan tidak jarang perempuan lebih dahulu mengambil inisiatif untuk
bisa lebih dekat dengan sosok lelaki.
Ini terbukti dengan banyaknya prilaku-prilaku yang tidak sopan dan 'merangsang'
yang dipertontonkan perempuan lebih dominant ketimbang prilaku laki-laki. Jika
kita merujuk pada teori niat dan kesempatan maka demoralisasi perempuan Aceh
ternyata juga merupakan andil yang cukup besar dan perempuan Aceh itu sendiri.
Kedua, konflik yang berkepanjangan. Hal ini tentu saja factor yang paling
berpengaruh dalam membentuk karakter perempuan Aceh. Kondisi psikologis yang
tidak stabil menyebabkan perempuan-perempuan Aceh menjadi kehilangan pegangan.
Moralitas yang bersumber dan ajaran agama secara perlahan-lahan mulai
terpinggirkan. Ajaran Islam yang mengagungkan nilai-nilai kewanitaan pun
sepertinya tidak lagi dipegang secara teguh.
Tidak hanya itu, kekerasaan demi kekerasan yang secara langsung maupun tidak
langsung menimpa perempuan Aceh, kondisi social ekonomi yang makin terpuruk dan
ketidakstabilan kondisi keluarga membuat orientasi perempuan Aceh menjadi
berubah. Nilai-nilai Islam yang selalu dijadikan bahan pertimbangan dalam
menentukan arah tujuan hidup sedikit demi sedikit mulai tergantikan dengan
pertimbangan nilai-nilai materialistis.
Ketiga, efek globalisasi. Pergaulan bebas yang mulai menggeliat dan melanda
generasi muda di Aceh -dan secara pasti melibatkan perempuan-perempuan Aceh
adalah sebagai akibat dari globalisasi dan westernisasi yang secara sistematis
diperuntukkan bagi generasi muda Islam.
Di Aceh, fenomena ini begitu mudah kita dapatkan, mulai dari mode pakaian
perempuan, cara gaul yang nauzubillah dan sayangnya perempuan-perempuan Aceh
hanya sedikit sekali yang dapat menyaring budaya-budaya 'asing' yang
bertentangan dengan nilai-nilai ke Acehan tersebut. Lebih disayangkan lagi,
ternyata hanya sedikit sekali dari institusi-institusi keperempuanan di daerah
ini yang concern dengan demoralisasi perempuan Aceh, mereka lebih tertarik
membicarakan bagaimana perempuan-perempuan Aceh dapat terwakilkan secara social
dan politik dilembaga-lembaga formal social politik. Bahkan wacana yang coba
dibangunpun hampir tidak menyentuh hal-hal prinsipil seperti persoalan
demoralisasi yang telah penulis sebutkan di atas.
Karakter perempuan Aceh
Inong Aceh sepertinya memang tengah berada di persimpangan jalan. Bahkan
terindikasai semakin gamang dalam menyikapi dan menjalani aktivitas
kesehariannya. Apalagi ternyata karakter wanita Aceh yang seharusnya melekat
pada din inong-inong Aceh mulai luntur dan terkesan mulai dijauhi. Untuk itu
perempuan-perempuan Aceh harus kembali ke 'khittah'nya membangun karakter
perempuan Aceh yang orisinil dan bersahaja yaitu religius, heroic dan feminim.
Membangun karakter perempuan Aceh yang berlandaskan moralitas adalah hal
prioritas yang harus diperhatikan oleh semua pihak di Aceh. Tidak bisa ditawar
lagi perempuan Aceh harus kembali membangun tiga karakter tersebut yaitu;.
Perempuan Aceh adalah perempuan religius yang dalam kesehariannya dan semua
aspek kehidupannya diwarnai oleh nilai-mlai Islam yang mulia, baik itu dalam
menyikapi mode, pakaian dan tingkah laku secara umum.
Heroisme juga ciri khas perempuan Aceh yang mesti di 'genggam' kembali. Sejarah
telah membuktikan betapa perempuan Aceh siap menjadi 'singa-singa' yang mampu
melawan musuhnya dimanapun dan kapapun. Dan dalam konteks kekinian, maka musuh
perempuan Aceh hari ini adalah sikap putus asa, westernisasi dan nilai-nilai
materialisme.
Begitu juga dengan sikap feminim. Bahwa perempuan-perempuan Aceh adalah
perempuan-perempuan feminim yang sadar akan kodrat dan makna penciptaan
dirinya. la juga harus menyadari keterbatasan dan keagungan sosok perempuan
dalam membangun generasi di masa mendatang. Perempuan Aceh seharusnya menjadi
ibu-ibu generasi yang dengan kefeminimannya mencetak generasi-generasi Aceh
yang gemilang. "Memelihara seorang lelaki ibarat memelihara seorang manusia,
namun memelihara seorang -wanita ibarat memelihara seluruh manusia," begitu
sebuah ungkapan untuk lebih menajamkan visi dan orientasi perempuan Aceh agar
benar-benar tidak salah jalan dalam mengelola semangat keperempuanan yang
semakin menggelora.
Komentar:
From: Irene Shanty <setko2992@m>
Date: Wed Jul 16, 2003 1:55 am
Subject: Re: [ppiindia] Mengintip perilaku perempuan Aceh
Kejadian serupa dengan Anda juga pernah saya temui ketika untuk satu kerja saya
pernah beberapa kali ke Aceh. Saat itu saya menginap di sebuah penginapan di
jalan panglima polem. Malam hari ketika perut lapar saya berniat mencari
makanan di depan penginapan. Betapa terkejutnya saya ketika di lobby hotel saya
mendengar ketawa cekikikan sekelompok perempuan muda dengan dandanan yang
"asing" bagi mata saya. "Asing", karena saya terbiasa melihat
perempuan-perempuan Aceh berpakaian santun dengan menggunakan jilbab. Hal itu
terus terang hingga saya membaca posting anda saya simpan dan masih menjadi
pertanyaan sendiri, Perempuan Acehkah mereka?. Kendati demikian dengan tetap
meletakan hormat dan bangga saya pada para perempuan Aceh saya yakin kelompok
tersebut hanyalah sebuah kelompok kecil yang tidak akan pernah mampu mendorong
akumulasi kelompok-kelompok lain dalam jumlah besar.
|