|
| |
KOMENTAR
'MENYIKAPI SOAL ACEH'
Oleh:
Suraiya Kamaruzzaman
Bapak Mario yang baik...
Terimakasih banyak atas komentar Anda. Saya juga tidak
punya usulan yang baku, bagaimana mendiskusikan soal
"Aceh dan GAM serta pernik2nya" pinjam istilah Anda :))
secara lebih cool dan santai agar kita dapat saling
mengerti.
Poin penting saya adalah bagaimana memperlakukan orang
di Aceh (ini karena kita sedang mendiskusikan persoalan
Aceh) secara bermartabat dan manusiawi. Mau GAM/tidak
kah Dia, Gayo, Jawa, Pidie dll bukan soal yang utama.
Kalau kita menitik beratkan diskusi dari segi ini, saya
fikir kesalahpahaman akan berkurang...
Apalagi dalam kondisi perang sekarang ini, masyarakat
di Aceh bukan hanya kesulitan mengakses air bersih
(gara-gara PDAM engga berfungsi karena di hancurkan
atau listrik tidak ada), makanan dan kebutuhan harian
terkadang sangat terbatas dan sangat mahal (tergantung
situasi keamanan dan pasukan dari Medan), listrik 3
hari mati, 4 jam hidup, telpon di sadap atau susah
diakses dari luar, internet belum tentu bisa berfungsi
linenya. Tapi, yang paling membuat suasana mencekam
adalah perasaan ketakutan (takut ada yang ngetuk pintu
tengah malam, lalu menghilang besoknya jadi manyat;
takut di tuduh GAM; takut dituduh antek TNI; takut di
siksa dua hari dua malam lalu di dor; takut di potong
leher; takut diperkosa....dan berbagai rasa ketakutan
lainnya. Barangkali saja, buat teman-teman yang lahir
dan besar di daerah yang "cukup aman" maka sulit
membayangkan bagaimana rasa takut itu justru menjadi
momok yang paling mengerikan untuk saat ini di Aceh.
Cobadeh baca artikel di Kompas tanggal 24 Juni tentang
"pengalaman wartawan" yang ketakutan di medan perang di
Aceh.
Nah, saya fikir...sudah cukup penderitaan yang dialami
sekarang oleh mereka. Kalaupun saudara-saudaranya yang
berada di luar Aceh tidak bisa atau tidak mau bantu ya
engga apa-apa. Ya, tapi janganlah diperparah..dengan
menyakiti hatinya lagi. Itu saja. Bukankah
selemah-lemahnya iman dengan diam saja (cat: bagi yang
muslim).
Tak peduli Dia Aceh atau bukan, tetapi bila tidak
diperlakukan sebagai manusia yang bermartabat, lalu
dalam diskusi diusulkan untuk di bom atau di rudal
seenaknya, maka melakukan diskusi dengan orang yang
paling sabarpun akhirnya akan meledak juga..Entah kalo
diskusi dengan Nabi...
Begitu Bapak Mario, tapi mungkin ada pandangan yang
berbeda dari anggota netter lainnya?
Peace,
Suraiya
BACK
|