Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

"Budhisatwati J.KUSNI" <katingan@...> 
Date: Sun Jun 29, 2003 7:09 am
Subject: KEPADA Z.AFIF DAN SURAIYA KAMARUZZAMN

KEPADA Z.AFIF DAN SURAIYA KAMARUZZAMAN

kukenal duka kalian karena kukenal kurasakan dukaku
kupahami tangis kalian karena kurasakan pahitnya jadi dayak 
indonesia diingkari menjelma identik penindasan
kitapun asing di kampunghalaman seperti sia-sia menjadi warga

tak pernah bisa kumengerti salahnya menjadi diri sendiri
aceh, dayak atau papua bukan musuh indonesia negeri mimpi 
kita sudah lama di kampung sendiri sebelum memimpikan indonesia
selayaknya kukira suku atau bangsa tak diberaikan dari manusia

kutanya: masihkah kalian punya mimpi?
kau menyebutku dengan panggilan lama begitu kukenal
raiya memanggilku abang mengandung makna
artinya kemanusiaan adalah negeri kita tapi di sini kita diburu

maka kalau tak mau menanggung duka janganlah mencintai
kalau tak mau menangis janganlah bermimpi 
kalau tak mau jadi manusia janganlah jadi indonesia
jangan pula jadi aceh, dayak atau papua

JJ. Kusni
-------------
Paris 2003 


DEBAT MUSLIHAT OTONOMI ATAU MERDEKA

(antara T. Mirza dan Asammameh)

Sambutan: Z. Afif


Saya merasa bahagia membaca debat antara T. Mirza dan Asammameh. 
Rasanya saya seperti menikmati santapan berkuah asammameh. Tentu 
asamnya adalah asam sunti, baru sah pada lidah Aceh. Berdebat sambil 
menikmati lauk asammameh kiranya akan dapat menghadang gelegak 
darah mendidih karena kehendak mempertahankan pendapat sendiri dan 
menutup pintu qalbu (bukan kalbu!) terhadap pendapat lawan berdebat 
yang bertentangan dengan pendapat kita. 


Saya teringat ke masa tahun 1953. Hari 17 Agustus. Di kota yang indah, 
dengan pantai berteluk dan berpelabuhan. Lebih indah lagi kala matahari 
pagi berayun pelan merambati kaki langit Timur di atas gelombang. 
Sementara itu angin sejuk mengusap tubuh, cemara berderai melenggang-
lenggokkan pucuk-pucuknya di atas dahan yang tinggi dan besar. 


Pada hari itu, petangnya, sebagai kelanjutan perayaan dan pawai diadakan 
juga berbagai perlombaan dan pertandingan. Untuk pertandingan 
diselenggarakan sepakbola antara SMP Negeri dengan SMI (Sekolah 
Menengah Islam). Pelajar SMI tubuhnya lebih besar dari kami, umurnya 
rata-rata juga lebih tua dari kami yang SMP. Ketika itu saya bermain sebagai 
gelandang tengah. Yang menjadi wasit Engku (Bapak) Hasballah, Kepala 
Jawatan Pendidikan Jasmani. Sebelum memangku Jabatan itu beliau guru 
SD di kota lain, mengajar kelas enam. Saya pernah menjadi muridnya. 
Sebagai muridnya, saya tidak punya pengalaman dan kesan yang buruk 
padanya. 


Sebelum mulai bertanding, kepada kedua kesebelasan yang 
berkumpul di tengah lapangan antara lain beliau berpesan: - Kalian
bertanding sebagai dua kesebelasan dari sekolah yang berlainan. Kedua 
kesebelasan satu sama lainnya sebagai lawan, tetapi juga sebagai kawan. 
Lawan dalam pertandingan ini bukanlah sama dengan musuh. Tetapi lawan 
untuk dapat melangsungkan permainan dan pertadingan. Jadi lawan itu juga 
kawan bermain. Kalau lawan bermain kita anggap musuh, maka kita akan 
mencelakakan dia, kita akan menghancurkan dia. Nah, bermainlah baik-baik, 
sportif. Ingat yang kalian perebutkan dan tendang dengan kaki adalah bola, 
jangan anggota tubuh lawan. Kalau kalian bisa jaga begini, pertandingan 
akan berlangsung baik, tidak ada yang cedera, penonton akan senang dan 
memuji kalian, antara kalian tidak akan timbul dendam untuk membalas 
dalam kesempatan pertandingan lain kali.


Pesan itu sangat mengesankan saya, kalau dihubungkan dengan ilmu 
filsafat, ia mengandung makna dialektika juga.


Begitu juga halnya orang berdebat. Pertama-tama apa tujuannya berdebat? 
Untuk menguji kemampuan berfikir kita, keluasan pengetahuan kita, kegunaan 
konsep kita, kebenaran pandangan kita, atau hanya berdebat untuk berdebat
saja. Kalau fikiran, konsep, padangan atau karya kita disampaikan kepada 
umum lewat media cetak, tentu akan ada reaksi dari pembaca. Sebelum kita 
keluarkan bahan itu, tentu kita harus ada persiapan akan datang reaksi yang 
baik dan tidak baik, yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, yang 
memuji dan yang mencela. Kita jangan keliru, mengharapkan sambutan yang 
sesuai dengan selera kita. Kalau berfikir begini lebih baik simpan saja itu 
untuk diri sendiri. Dengan berfikir secara dialektika, reaksi yang tidak
sesuai 
dengan yang kita harapkan, sebaiknya kita usahakan mencari inti sarinya, 
hakikatnya yang bermanfaat bagi memperkuat fikiran, pandangan, konsep 
dan karya kita. 


Kadang-kadang kita temui, orang memberi reaksi atau pendapat tidak 
memasuki masalah pokok, masalah inti atau hakikat yang kita kemukakan. 
Hal ini perlu kita bertanya mengapa begitu? Apakah kesengajaan atau 
keteledoran? Hal ini kita luruskan dulu, kita bawa ke hal yang pokok itu. 
Untuk tidak memperpanjang uraian, saya pikir, yang penting kita bersikap 
kritis dan tidak apriori kepada yang mendebat kita sebagai kawan bertukar 
fikiran. Mengambil hikmah dari pendebat atau pengkritik. Sebagai 
pihak yang didebat, kita jangan menuntut penggunaan suatu cara tertentu 
dari pihak pendebat untuk memperlakukan fikiran, pandangan, konsep 
dan karya kita. Tetapi lihatlah isinya. Sebab ada cara yang muslihat, 
berpegang pada cara etis atau metode yang sopan, sebagai kawan yang 
saling isi mengisi dalam perdebatan. Sebaliknya ada pendebat yang merasa 
diri patut menggurui, mencela, mengejek, bahkan mencarut atau memaki 
pihak yang didebat. Di sini dituntut kesabaran kita. Dari cara orang mendebat, 
kita bisa ukur pengetahuan, pengalaman, kepribadian, watak dan motifnya. 
Tetapi sebagai orang yang didebat, kita sisihkan dulu caranya, kita saring 
isinya, kita ambil manfaatnya. 


Berdebat sengit dengan cara atau metode yang berpegang kepada disiplin 
ilmu, atau dengan kata lain untuk mencari kebenaran dari kenyataan, sangat 
diperlukan. Perdebatan seperti itu akan menambah pengalaman dan 
pengetahuan kedua pihak. Inilah debat seperti filsafat sepakbola tadi. 
Kedua pihak sebagai lawan sekaligus sebagai kawan. Tetapi ada debat 
yang tidak lagi menyangkut bahannya, masalah yang diutarakan, melainkan 
serangan pribadi. Kalau sudah begitu, lebih baik tak usah dilayani. Kalau 
dilayani bisa menjadi bermusuhan. Pendebat yang berlaku begitu akan 
merugikan dirinya sendiri, dia menciptakan musuh.


Saya melihat, perdebatan T. Mirza dengan Asammameh berada dalam jalur 
yang sehat. T. Mirza berusaha menjelaskan mengapa dia berpendapat 
menerima otonomi untuk Aceh. Karena jalan otonomi tidak beresiko perang 
yang memakankorban jiwa dan harta. Asammameh memilih strategi merdeka. 
Sedangkan perang sebagai taktik karena terpaksa. Kalau ahli teori perang 
Clausewick bilang, perang adalah kelanjutan dari politik. Nah, kalau kita lihat 
keduanya ada perbedaan besar. Tetapi mereka masih secara lapang dada 
berdebat. Tidak saling menuduh dengan prasangka-prasangka buruk yang 
tak karuan juntrungannya. Kalau dapat diusahakan dalam berdebat juga 
saling bantu memberikan bahan rujukan (referensi). Debat Asammameh 
dengan T. Mirza adalah debat bermartabat, debat bermuslihat, debat dalam 
lingkaran lawan sekaligus kawan. Jika ini dapat dipertahankan akan sangat 
baik dalam melangkah mencari persamaan, memecahkan atau menyelesaikan 
selangkah demi selangkah perbedaan dengan semangat musyawarah untuk 
mencapai mufakat, sehingga bangsa Aceh (khususnya di rantau) tiba pada 
satu persatuan barisan. Ini akan memberi pengaruh baik ke dalam Nanggroe.


Dalam berdebat kita juga berusaha menengok kebelakang, apa hasil, apa 
kegagalan, apa yang tepat, apa yang salah, apa yang negatif, apa yang 
positif. Dengan cara ini kita simpulkan pengalaman. Sehingga kita dapat 
melangkah secara ilmiah dari praktek ke teori dan kembali lagi dari teori 
ke praktek, sehingga dapat terus maju selangkah demi selangkah.


Saya mengusulkan (kalau boleh), coba disatukan dulu hal-hal yang sama 
yang telah diperdebatkan, apakah itu politik, taktik, strategi. Apa yang 
mendesak sekarang bagi bangsa Aceh, tuntutan taktik atau strategi. Apakah 
tuntutan aman, damai dan sejahtera, atau syariah Islam, undang-undang 
NAD. Ini sekadar contoh saja. Sebab kalau tidak disatukan dulu hal-hal yang 
sama, boleh jadi akan terus berdebat tanpa ujungnya. Ini satu cara atau
metode yang lazim yang disebut ilmiah. Seperti kita makan, kan mesti 
sesuap demi sesuap, tidak mungkin sekali telan satu piring, kan? Marilah 
membangun cara berdebat yang dapat menunjukkan marwah dan 
martabat bangsa Aceh. 


Saya membaca di Lantak satu sambutan atas perdebatan T. Mirza dengan 
Asammameh yang ditulis oleh Deena Abaya. Saya menyokong sambutannya. 
Ditulisnya begini: "Diskusi seperti inilah yang saya suka, tidak ada kata-kata 
kasar dan menyakitkan hati. Seyogianya kita mulai belajar menjadi diplomat 
untuk diri sendiri. Juga mendidik anak-anak kita sejak dini supaya dapat 
berkomunikasi dengan santun, berdiskusi dengan menggunakan logika-
logika ilmiah sekaligus menjaga persaudaraan yang tetap erat. Saya 
anjurkan, berdebatlah terus hingga tuntas. Paparkan argumentasi masing-
masing secara ilmiah. Diskusi penting untuk menambah wawasan, 
memperkecil perbedaan persepsi, serta untuk mencari kesepakatan terbaik
(karena Maha Besar adalah Allah swt.). Jika diskusi berjalan baik dan 
berkualitas, saya yakin nanti akan diperoleh titik temu. Masing-masing boleh 
ajukan strategi untuk jadi topik diskusi yad." 


Motto berdebat bagi saya: Mencari kesamaan, mengatasi perbedaan, 
menemukan kebenaran dan mengeratkan persatuan!


St., Sw. 30-06-2003.



BACK

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1