|
| |
"Budhisatwati J.KUSNI" <katingan@...>
Date: Sun Jun 29, 2003 7:09 am
Subject: KEPADA Z.AFIF DAN SURAIYA KAMARUZZAMN
KEPADA Z.AFIF DAN SURAIYA KAMARUZZAMAN
kukenal duka kalian karena kukenal kurasakan dukaku
kupahami tangis kalian karena kurasakan pahitnya jadi dayak
indonesia diingkari menjelma identik penindasan
kitapun asing di kampunghalaman seperti sia-sia menjadi warga
tak pernah bisa kumengerti salahnya menjadi diri sendiri
aceh, dayak atau papua bukan musuh indonesia negeri mimpi
kita sudah lama di kampung sendiri sebelum memimpikan indonesia
selayaknya kukira suku atau bangsa tak diberaikan dari manusia
kutanya: masihkah kalian punya mimpi?
kau menyebutku dengan panggilan lama begitu kukenal
raiya memanggilku abang mengandung makna
artinya kemanusiaan adalah negeri kita tapi di sini kita diburu
maka kalau tak mau menanggung duka janganlah mencintai
kalau tak mau menangis janganlah bermimpi
kalau tak mau jadi manusia janganlah jadi indonesia
jangan pula jadi aceh, dayak atau papua
JJ. Kusni
-------------
Paris 2003
DEBAT MUSLIHAT OTONOMI ATAU MERDEKA
(antara T. Mirza dan Asammameh)
Sambutan: Z. Afif
Saya merasa bahagia membaca debat antara T. Mirza dan Asammameh.
Rasanya saya seperti menikmati santapan berkuah asammameh. Tentu
asamnya adalah asam sunti, baru sah pada lidah Aceh. Berdebat sambil
menikmati lauk asammameh kiranya akan dapat menghadang gelegak
darah mendidih karena kehendak mempertahankan pendapat sendiri dan
menutup pintu qalbu (bukan kalbu!) terhadap pendapat lawan berdebat
yang bertentangan dengan pendapat kita.
Saya teringat ke masa tahun 1953. Hari 17 Agustus. Di kota yang indah,
dengan pantai berteluk dan berpelabuhan. Lebih indah lagi kala matahari
pagi berayun pelan merambati kaki langit Timur di atas gelombang.
Sementara itu angin sejuk mengusap tubuh, cemara berderai melenggang-
lenggokkan pucuk-pucuknya di atas dahan yang tinggi dan besar.
Pada hari itu, petangnya, sebagai kelanjutan perayaan dan pawai diadakan
juga berbagai perlombaan dan pertandingan. Untuk pertandingan
diselenggarakan sepakbola antara SMP Negeri dengan SMI (Sekolah
Menengah Islam). Pelajar SMI tubuhnya lebih besar dari kami, umurnya
rata-rata juga lebih tua dari kami yang SMP. Ketika itu saya bermain sebagai
gelandang tengah. Yang menjadi wasit Engku (Bapak) Hasballah, Kepala
Jawatan Pendidikan Jasmani. Sebelum memangku Jabatan itu beliau guru
SD di kota lain, mengajar kelas enam. Saya pernah menjadi muridnya.
Sebagai muridnya, saya tidak punya pengalaman dan kesan yang buruk
padanya.
Sebelum mulai bertanding, kepada kedua kesebelasan yang
berkumpul di tengah lapangan antara lain beliau berpesan: - Kalian
bertanding sebagai dua kesebelasan dari sekolah yang berlainan. Kedua
kesebelasan satu sama lainnya sebagai lawan, tetapi juga sebagai kawan.
Lawan dalam pertandingan ini bukanlah sama dengan musuh. Tetapi lawan
untuk dapat melangsungkan permainan dan pertadingan. Jadi lawan itu juga
kawan bermain. Kalau lawan bermain kita anggap musuh, maka kita akan
mencelakakan dia, kita akan menghancurkan dia. Nah, bermainlah baik-baik,
sportif. Ingat yang kalian perebutkan dan tendang dengan kaki adalah bola,
jangan anggota tubuh lawan. Kalau kalian bisa jaga begini, pertandingan
akan berlangsung baik, tidak ada yang cedera, penonton akan senang dan
memuji kalian, antara kalian tidak akan timbul dendam untuk membalas
dalam kesempatan pertandingan lain kali.
Pesan itu sangat mengesankan saya, kalau dihubungkan dengan ilmu
filsafat, ia mengandung makna dialektika juga.
Begitu juga halnya orang berdebat. Pertama-tama apa tujuannya berdebat?
Untuk menguji kemampuan berfikir kita, keluasan pengetahuan kita, kegunaan
konsep kita, kebenaran pandangan kita, atau hanya berdebat untuk berdebat
saja. Kalau fikiran, konsep, padangan atau karya kita disampaikan kepada
umum lewat media cetak, tentu akan ada reaksi dari pembaca. Sebelum kita
keluarkan bahan itu, tentu kita harus ada persiapan akan datang reaksi yang
baik dan tidak baik, yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, yang
memuji dan yang mencela. Kita jangan keliru, mengharapkan sambutan yang
sesuai dengan selera kita. Kalau berfikir begini lebih baik simpan saja itu
untuk diri sendiri. Dengan berfikir secara dialektika, reaksi yang tidak
sesuai
dengan yang kita harapkan, sebaiknya kita usahakan mencari inti sarinya,
hakikatnya yang bermanfaat bagi memperkuat fikiran, pandangan, konsep
dan karya kita.
Kadang-kadang kita temui, orang memberi reaksi atau pendapat tidak
memasuki masalah pokok, masalah inti atau hakikat yang kita kemukakan.
Hal ini perlu kita bertanya mengapa begitu? Apakah kesengajaan atau
keteledoran? Hal ini kita luruskan dulu, kita bawa ke hal yang pokok itu.
Untuk tidak memperpanjang uraian, saya pikir, yang penting kita bersikap
kritis dan tidak apriori kepada yang mendebat kita sebagai kawan bertukar
fikiran. Mengambil hikmah dari pendebat atau pengkritik. Sebagai
pihak yang didebat, kita jangan menuntut penggunaan suatu cara tertentu
dari pihak pendebat untuk memperlakukan fikiran, pandangan, konsep
dan karya kita. Tetapi lihatlah isinya. Sebab ada cara yang muslihat,
berpegang pada cara etis atau metode yang sopan, sebagai kawan yang
saling isi mengisi dalam perdebatan. Sebaliknya ada pendebat yang merasa
diri patut menggurui, mencela, mengejek, bahkan mencarut atau memaki
pihak yang didebat. Di sini dituntut kesabaran kita. Dari cara orang mendebat,
kita bisa ukur pengetahuan, pengalaman, kepribadian, watak dan motifnya.
Tetapi sebagai orang yang didebat, kita sisihkan dulu caranya, kita saring
isinya, kita ambil manfaatnya.
Berdebat sengit dengan cara atau metode yang berpegang kepada disiplin
ilmu, atau dengan kata lain untuk mencari kebenaran dari kenyataan, sangat
diperlukan. Perdebatan seperti itu akan menambah pengalaman dan
pengetahuan kedua pihak. Inilah debat seperti filsafat sepakbola tadi.
Kedua pihak sebagai lawan sekaligus sebagai kawan. Tetapi ada debat
yang tidak lagi menyangkut bahannya, masalah yang diutarakan, melainkan
serangan pribadi. Kalau sudah begitu, lebih baik tak usah dilayani. Kalau
dilayani bisa menjadi bermusuhan. Pendebat yang berlaku begitu akan
merugikan dirinya sendiri, dia menciptakan musuh.
Saya melihat, perdebatan T. Mirza dengan Asammameh berada dalam jalur
yang sehat. T. Mirza berusaha menjelaskan mengapa dia berpendapat
menerima otonomi untuk Aceh. Karena jalan otonomi tidak beresiko perang
yang memakankorban jiwa dan harta. Asammameh memilih strategi merdeka.
Sedangkan perang sebagai taktik karena terpaksa. Kalau ahli teori perang
Clausewick bilang, perang adalah kelanjutan dari politik. Nah, kalau kita lihat
keduanya ada perbedaan besar. Tetapi mereka masih secara lapang dada
berdebat. Tidak saling menuduh dengan prasangka-prasangka buruk yang
tak karuan juntrungannya. Kalau dapat diusahakan dalam berdebat juga
saling bantu memberikan bahan rujukan (referensi). Debat Asammameh
dengan T. Mirza adalah debat bermartabat, debat bermuslihat, debat dalam
lingkaran lawan sekaligus kawan. Jika ini dapat dipertahankan akan sangat
baik dalam melangkah mencari persamaan, memecahkan atau menyelesaikan
selangkah demi selangkah perbedaan dengan semangat musyawarah untuk
mencapai mufakat, sehingga bangsa Aceh (khususnya di rantau) tiba pada
satu persatuan barisan. Ini akan memberi pengaruh baik ke dalam Nanggroe.
Dalam berdebat kita juga berusaha menengok kebelakang, apa hasil, apa
kegagalan, apa yang tepat, apa yang salah, apa yang negatif, apa yang
positif. Dengan cara ini kita simpulkan pengalaman. Sehingga kita dapat
melangkah secara ilmiah dari praktek ke teori dan kembali lagi dari teori
ke praktek, sehingga dapat terus maju selangkah demi selangkah.
Saya mengusulkan (kalau boleh), coba disatukan dulu hal-hal yang sama
yang telah diperdebatkan, apakah itu politik, taktik, strategi. Apa yang
mendesak sekarang bagi bangsa Aceh, tuntutan taktik atau strategi. Apakah
tuntutan aman, damai dan sejahtera, atau syariah Islam, undang-undang
NAD. Ini sekadar contoh saja. Sebab kalau tidak disatukan dulu hal-hal yang
sama, boleh jadi akan terus berdebat tanpa ujungnya. Ini satu cara atau
metode yang lazim yang disebut ilmiah. Seperti kita makan, kan mesti
sesuap demi sesuap, tidak mungkin sekali telan satu piring, kan? Marilah
membangun cara berdebat yang dapat menunjukkan marwah dan
martabat bangsa Aceh.
Saya membaca di Lantak satu sambutan atas perdebatan T. Mirza dengan
Asammameh yang ditulis oleh Deena Abaya. Saya menyokong sambutannya.
Ditulisnya begini: "Diskusi seperti inilah yang saya suka, tidak ada kata-kata
kasar dan menyakitkan hati. Seyogianya kita mulai belajar menjadi diplomat
untuk diri sendiri. Juga mendidik anak-anak kita sejak dini supaya dapat
berkomunikasi dengan santun, berdiskusi dengan menggunakan logika-
logika ilmiah sekaligus menjaga persaudaraan yang tetap erat. Saya
anjurkan, berdebatlah terus hingga tuntas. Paparkan argumentasi masing-
masing secara ilmiah. Diskusi penting untuk menambah wawasan,
memperkecil perbedaan persepsi, serta untuk mencari kesepakatan terbaik
(karena Maha Besar adalah Allah swt.). Jika diskusi berjalan baik dan
berkualitas, saya yakin nanti akan diperoleh titik temu. Masing-masing boleh
ajukan strategi untuk jadi topik diskusi yad."
Motto berdebat bagi saya: Mencari kesamaan, mengatasi perbedaan,
menemukan kebenaran dan mengeratkan persatuan!
St., Sw. 30-06-2003.
BACK
|