Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

TNI PENGERUH BANGSA DAN PENANGGUK DALAM KEKERUHAN

Oleh: Z. Afif
Member Website Ppi India, tinggal di Swedia

Pengantar:

Kepada Saudara-saudara yang telah menyambut 
DARURAT MILITER DI ACEH - PEMBUNUH BANGSA.

Ada sejumlah sambutan terhadap tulisan itu. Saya merasa 
ada reaksi yang bersifat pemikiran dengan tenang. 
Tetapi lebih banyak yang tidak menyentuh kepada pusat atau hakekat 
persoalan dari saya. Itu memang tergantung kepada tempat tegak masing-
masing. Namun semua itu saya hargai, karena telah mencurahkan enersinya 
dan waktunya untuk menulis tanggapan. Itu berguna sebagai masukan bagi 
saya. Saya sangat berterima kasih kepada semua itu. Bahwa ada kata-kata 
mereka yang kasar atau mengejek, meremehkan, melecehkan, itu semua warna 
warni masyarakat dan kehidupan, dan sudah resiko yang saya perhitungkan 
sebagai penyebar pandangan kepada umum, bukan? 

*****

Saya cenderung setuju pemakaian bangsa untuk yang disebut "suku".
Sebelum berdiri RI yang namanya "suku" disebut bangsa atau orang, memang.
Sekarang pun saya pikir mereka berhak, kalau menyebut dirinya bangsa Batak,
Ambon, Bugis, Dayak, Jawa, Madura, Bali dll.

Sebagai kelahiran Aceh dan berdarah Aceh ibu-ayah, saya menggunakan diri
bangsa Aceh. Bangsa Aceh terdiri dari Aceh, Gayo, Alas, Tamiang, Aneuk Jamee,
Simeulu, Kluet. Bahasa begitu juga, masing-masing punya bahasanya sendiri.
Bahasa pengantarnya Melayu/Indonesia. Dilihat secara sejarah, Aceh sebenarnya 
tidak termasuk dalam kesimpulan sejarah "Nasional" bahwa Indonesia 350 tahun 
dijajah Belanda. Sebenarnya Jawalah yang dijajah 350 kalau mulai dihitung sejak 
Jan Pieter Coen menjadi Gubernur General pada tahun 1618. Ultimatum
Belanda memerangi Aceh baru terjadi pada Maret 1873. Ada kesimpulan sejarah
mengatakan perang Aceh berakhir 1903. Tetapi kenyataan, perang gerilya masih 
terus berlangsung hingga tahun 1930-an. Saya masih sempat mendengar kisah
perang Abunek (kakek) saya sambil mengoles minyak ke pedang daun tebunya.
Setelah tahun-tahun itu kegiatan penyerangan kecil-kecilan terhadap 
Belanda di beberapa tempat masih terjadi hingga masuk Jepang. Masa Jepang
terjadi dua tempat pemberontakan, yang memakan korban pada kedua pihak.
Aceh sebuah kerajaan berdaulat, punya hubungan dagang dengan Tiongkok, 
India,Arab, Turki dan Eropa. Punya hubungan diplomatik dengan beberapa 
negeri Asia, Turki, Belanda, Inggeris. Punya benderanya sendiri, punya 
undang-udang negarnya,punya sistem pemerintahannya. Jadi berdasarkan 
adat warisan Endatu Aceh, beralasan sekali orang Aceh menyatakan dirinya 
bangsa. Ini salah satu jatidiri yang tak boleh hilang, juga untuk
saudara-saudara 
bangsa lainnya di Nusantara.

Uraian saya sebenarnya menentang darurat militer, karena ketidak percayaan
saya kepada TNI akan dapat menyelesaikan masalah Aceh sesuai dengan 
kepentingan dan tuntutan rasional bangsa Aceh. Bagaimana mungkin TNI 
melakukan operasi terpadu, padahal sejak Keppres I/12001 dilanjutkan dengan
Keppres-keppres berikutnya juga dideretkan terpadu operasi pengamanan,
sosial, ekonomi, hukum. Tetapi semua yang lain dimacetkan oleh kepentingan
bedil harus menyalak. 

Orde Baru tumbang secara fisik, memang. Secara spiritual atau 
katakanlah secara ideologi masih kuat melata. Karena akar sosialnya masih 
utuh. Cengkeraman mereka di sektor penting ekonomi masih kuat. 
Ideologi militer masih sangat kuat sebagai penghalang reformasi, juga 
penggerowot demokrasi yang mulai berjalan, sedang di Aceh dibungkamkan.
Penguasa Perang di Aceh, tidak mengizinkan penyiaran berita dari GAM.
Tetapi apakah yang dari militer sudah semuanya dapat dipercaya? AJI 
memprotes. Ini demokratis dan adil, bukan?

Hal itulah yang menyebabkan macetnya refomasi dan gangguan terhadap 
kegiatan demokratis, adil dan damai. Coba saja, Komnasham diancam, kalau 
membentuk KPP HAM untuk mengusut perkara teror 1965-1966, mereka akan 
membunuh orang-orang yang dianggap PKI. Siapa di belakang mereka,
sehingga mereka begitu anggar jago? Yang paling tidak setuju dan takut
direhabilitasi hak-hak kewarganegaraan Ekstapol dan Napol adalah TNI-AD.

Di bidang hukum rakyat Aceh menuntut diadilinya pelanggar HAM
berat masa DOM. Komnas HAM sudah mengumpulkan bahan, data, sudah 
menggali kuburan massal sebagai bukti. Tetapi pihak militer malah 
"menghilangkan" salah seorang kolonel yang memimpin operasi pembunuhan 
massal di Beutong Ateuh, Meulaboh. Yang dikirim ke pengadilan prajurit. 
Selesai keputusan pengadilandi Banda Aceh, mereka diangkut ke Jakarta dan 
ketika pesawat akan berangkat, tertangkap 20 kg ganja di dalam tas salah 
seorang pengawal mereka. 

TNI itu tidak punya nyali bermusyawarah dengan rakyat umum Aceh. Hal ini 
sudah sudah sering diajukan oleh masyarakat Aceh. Bahkan ketika masih hidup
Aly Hasymy, Ketua MUI Aceh kala itu, sudah menghimbau agar penguasa
Jakarta bicara, bermusyawarah dengan masyarakat Aceh agar mengetahui masalah
yang diperjuangkannya. Tetapi tak digubris. Mareka hanya mau bicara dengan
orang yang mau beringgih-ingguh saja kepada pusat.

Bagi TNI yang menjadi tujuan adalah konsepnya dan kepentingannya harus 
diterima. Setelah perundingan Jenewa mencapai kesepakatan "Jeda Kemanusiaan", 
di Aceh orang berhura-hura dan meramaikan mesjid dan meunasah dengan 
sembahyang, berdoa dan baca yasin. Ketika itu saya tulis satu artikel, saya
katakan "Jangan berilusi pada Jeda Kemanusiaan", karena dalam kedua pihak delegasi 
yang berunding tidak ada wakil militernya. Karena itu baik TNI maupun AGAM 
(sekarang TNA) belum tentu mematuhi "Jeda Kemanusiaan" itu. 
AGAM dan TNI tidak terwakili sebagai golongan militer di dalamnya. Dengan 
demikian, keduanya tidak akan bertanggung jawab untuk menjamin terlaksana 
dengan lancar "Jeda Kemanusiaan" di Aceh. Kenyataan kemudian, malah ada 
anggota Tim Monitering dari GAM yang ditembak mati oleh TNI. 


Kecuali serdadu TNI rekrut baru, yang lain sudah pernah operasi di Timtim,
Papua,Ambon dikirim ke Aceh. Ada yang sudah dua tiga kali ke Aceh. Dalam operasi 
lebih banyak bisa didapat daripada gaji tinggal di tangsi. Para jenderal tentu
takut prajuritnya berontak, karena hidup mereka mewah, membangun rumah gedung, 
punya villa, punya usaha. Ya, banyak hal sebenarnya sudah disingkap dalam 
berbagai penerbitan sejak peristiwa Timtim. Saya sebagai anggota dalam Komite
Timor Timur banyak kesempatan bertemu dengan putra-putri negeri itu yang
datang ke Swedia dalam rangka tugas perjuangan. Banyak kisah dari mereka
yang sangat memalukan Indonesia di buat oleh serdadu TNI yang beroperasi
di sana. Benny Murdani yang memimpin penyerbuan ke sana, jadi pemonopoli
dagang kopi. 

Patut diingat, bukan TNI namanya kalau tidak menangguk di air keruh. Karena 
Menteri Dalam Negeri seorang jenderal Angkatan Darat, Sabarno, maka kesempatan
memperluas wilayah di berbagai pulau di luar Jawa. Provinsi dipecah menjadi
lebih banyak kabupaten dan kota administrasi; kabupaten dilipatgandakan 
kecamatannya; kecamatan dipetak-petak menjadi lebih banyak desa. Ini 
mengembangbiakkan jumlah markas TNI khususnya Kodim, Koramil, Babinsa. 
Jadi biarpun Dwifungsi hapus dan jumlah anggota di legislatif dikurangi, 
tetapi markas pengontrol sipil di basis bertambah banyak. Baju hitam merayap 
di mana-mana, menyaingi polisi.

Tentang sikap saya kepada ASNLF/GAM sebenarnya dapat dilihat dalam
tulisan saya tahun ini seperti serie Catatan dari Stavanger (Norwegia),
serie Inmemoriam Teungku Daud Husen (kedua serie itu belum habis) dan 
beberapa artikel lepas. 

Memang bisa terjadi begitu, Sdr Ubes Hartoni Ing, kalau GAM tidak 
melakukan seperti yang saya tulis dalam penutup tulisan yang lalu itu, 
yaitu: menarik pengalaman positif dan negatif, kekurangan dan kesalahannya, 
Segala langkah yang pernah dibuat sengaja atau tidak sengaja yang
merugikan rakyat, menyinggung perasaan rakyat, harus dijauhi, dan bersamaan
itu tegakkan sungguh-sungguh amar makruf nahi mungkar, agar dicinta dan 
dibela oleh rakyat. Kalau tidak mereka akan terisolasi dan dikalahkan oleh
lawan. 

Sudah pernah beberapa kali saya tulis dan saya bicara langsung kepada 
ASNLF/GAM, kalau mereka memeras rakyat militer tinggal numpang 
melakukannya, yang buruk nama GAM juga. Kalau mereka melakukan 
pembakaran, militer juga numpang bertingkah serupa. 

Saya punya hubungan langsung dengan keluarga yang berserak dari 
ujung utara Sumatra hingga ke Jawa. Setiap ada peristiwa saya cek langsung. 
Pasar kota kelahiran saya dibakar habis oleh aparat RI setelah seorang 
anggotanya mati ditembak OKT. Kota Idi dibakar oleh aparat negara RI dengan 
alasan pos mereka di serang oleh GAM. Ini sebuah dari banyak contoh 
kekerasan negara RI atas rakyat. Pengalaman seperti ini saya tahu persis 
ketika masa DI/TII, juga dari bukti-bukti masa PRRI/Permesta, 
di Ambon, Papua, Timtim. 

Tetapi Pemimpin ASNLF/GAM tidak perlu membantah "tidak pernah melakukan 
pembakaran", melainkan sebagai Islam yang jujur, Pemimpinnya, Perdana 
Menterinya serukanlah larangan agar anggota dan kader ASNLF/GAM jangan 
melibatkan diri dalam politik bumi hangus, apalagi terhadap bangunan tempat 
bintang harapan bangsa Aceh menuntut ilmu. Saya juga bilang, kalau GAM 
menyita KTP penduduk, sama dengan menyerahkan jiwa pemiliknya ke tangan 
TNI sebagai korban.

A D A A N A L I S A yang bagus tentang TNI dalam Sinar Harapan 20 dan 
21 Mei 2003 ini: TNI dan Wilayah Periferi Indonesia - Operasi Militer Harus
Jauh
dari Maksud Memperlemah Aceh. Bagi militer artikel itu tentu ujung duri 
ke mata. Barangkali Sdr-sdr ada kesempatan untuk melihatnya dan 
menyanggahnya.

Stockholm, Sweden, 24 Mei 2003.


BACK

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1