Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

From: "Syafei" <syafei@sbi.sws.co.jp> 
Date: Sun Mar 30, 2003 6:53 pm
Subject: Rengeng-rengeng (8)


Ada fenomena menarik dari aksi yang digelar KISRA kemarin. Hidayat Nur Wahid,
Presiden PK yang juga koordinator aksi tersebut tidak lagi mengedepankan
isyu-isyu agama dalam menggelar aksinya. Saya bilang menarik, karena untuk
ukuran PK itu sudah lompatan yang lumayan berarti, dari terus-terusan
mengedepankan agama, berganti dengan mengedepankan kemanusiaan.

Dalam suatu diskusi yang saya ikuti tentang partai yang merupakan hasil
metaformosis dari Jama'ah Tarbiyah ini, mencuat satu pemikiran yang lumayan
menarik. (Singkatnya) Kita beri kesempatan PK yang masih muda ini menemukan
jadi dirinya, jati diri yang lebih ngindo dan tidak terkungkung dalam
Ikhwanisme yang merupakan basic ideologi mereka. (Secara resmi memang tidak ada
keterkaitan PK dengan IM, namun wacana-wacana yang diusung tidak bisa
dipungkiri, berkiblat ke IM). Saat itu juga saya lontarkan pandangan saya,
bahwa sambil memberi ruang PK buat berproses, kita juga bisa memerankan diri
sebagai sparring partner. Dan sebagaimana layaknya sparring partner, kita perlu
terus menerus melontarkan 'jab-jab', yang kadang diselingi 'hook' dan
'upper-cut'. Saya, secara pribadi juga sayang, kalau PK yang gerakannya
terkoordinasi lumayan bagus dan punya basis massa yang punya semangat ketulusan
tinggi ini lenyap begitu saja dalam kancah pemikiran agama di Indonesia.

Posisi PK sendiri memang tanggung. Di antara sesama gerakan yang berbasis pada
gerakan salafiyah, PK terus jadi bulan-bulanan gerakan sejenis seperti Hizbut
Tahrir dan Salafy. Namun di sisi lain, mereka juga terlalu puritan untuk ukuran
partai atau gerakan yang terbuka dan modern. Dalam posisi itu, mau tidak mau
akan terjadi tarik-menarik dalam tubuh PK sendiri, mau bergerak surut kembali
ke Ikhwanisme-nya, atau bergerak maju menjadi lebih modern dan terbuka.

Aksi yang di arsiteki Hidayat Nur Wahid ini, mudah-mudahan jadi pertanda bahwa
PK sedang bergerak maju, dan bukannya surut. PK mau tidak mau harus melihat
kenyataan, bahwa wacana-wacana mereka makin sulit dipertahankan dalam kancah
'perang wacana'. PK harus cukup bisa berbesar hati bahwa Ikhwanisme mereka kian
hari kian terdesak di tengah komunitas yang bisa dan berani berpikir mandiri.
PK juga tidak bisa selamanya meneteki dan melindungi pengikutnya, karena hati
dan akal itu memang tidak bisa dibendung oleh apapun, kecuali jika PK memang
mau pengikutnya hanya jadi robot yang gampang digerakkan. 

Jika perkiraan saya itu benar, saya pengin mengucapkan pada PK : "Selamat
datang di dunia yang lebih penting mengurus manusia ketimbang mengurus Tuhan."
Tuhan sudah bisa mengurus diri-Nya sendiri, dan kita tidak perlu menurunkan
derajat-Nya dengan berlagak perlu dan sanggup mengurus-Nya.
From: "Syafei" <syafei@sbi.sws.co.jp> 
Date: Tue Apr 1, 2003 7:44 pm
Subject: Rengeng-rengeng (9)


perang .. perang lagi
semakin menjadi
berita ini hari
berita jerit pengungsi ..

Lagu lama Iwan Fals itu tanpa sadar saya nyanyikan lagi pagi ini. Lagu itu
terasa pas jadi sarapan di tengah berita tentang Irak, yang bisa saja kita
santap dengan kepala dingin maupun dengan emosi campur aduk antara miris,
sedih, geram dan marah. Belum lagi berita tentang perang yang lain dari pulau
seberang. Bukan perang melawan manusia atau negara manapun, tapi perang melawan
virus SARS.

Perang terbaru ini, meskipun sempat dibahas, ternyata kurang mendapat
perhatian, setidaknya dibanding perang Irak. Tak ada massa turun ke jalan, tak
ada pernyataan resmi, himbauan atau apalagi tindakan dari pemerintah RI.
Barangkali karena memang nilai politisnya yang rendah, jadi bisa dikesampingkan
dulu.

Masih banyak perang-perang yang lain, baik yang mendapat perhatian luas maupun
sekedar kebagian jatah cuek. Sebut saja -antara lain- perang melawan kebodohan
dan pembodohan, perang melawan kemiskinan, penindasan, sampai perang yang -kata
pak Kyai- paling besar : perang melawan hawa nafsu.

Sepertinya hidup memang persis seperti yang ditulis Steve Vai di salah satu
lagunya : Life is just passion and warfare.

From: "Syafei" <syafei@sbi.sws.co.jp> 
Date: Fri Apr 11, 2003 9:59 pm
Subject: Rengeng-rengeng (10)



Saat di satu situasi saya terpaksa duduk berhimpitan dengan seorang teman
perempuan, ada yang ngledek saya ,"Wah tuh .. Syafei seneng donk empet-empetan
.." Waktu itu ringan saja saya menjawab, "Siapa bilang cuman aku yang seneng ..
si Mbak itu pasti juga seneng .." 

Entah gimana si teman itu menafsirkan jawaban saya. Bisa jadi dianggapnya
sekedar ngeles. Padahal jawaban ringan saya itu juga mengandung protes pada
ledekannya yang masih didasari pandangan : perempuan adalah objek seksual. 

Sebagai laki-laki yang dikaruniai badan sehat dan berfungsi normal, saya pun
tidak mungkin bisa luput dari menganggap perempuan sebagai objek seksual. Namun
pada saat yang sama saya juga dikaruniai akal, yang dengannya saya bisa
melampaui naluri kebinatangan saya itu. Akal saya mengatakan, bahwa dalam
urusan esek-esek, perempuan sebenarnya memiliki posisi yang sama dengan
laki-laki : sebagai objek dan subjek sekaligus. Karena perempuan bukanlah
sekedar seonggok daging sebagai hidangan santapan, namun seperti juga
laki-laki, perempuan juga dilengkapi dengan akal dan rasa. Itu baru soal
esek-esek, belum ke soal yang lainnya.

Memang malang benar nasib kaum perempuan, yang tidak pernah diberi hak memilih
untuk dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan itu. Di dunia mereka
dikondisikan jadi pelayan laki-laki. Penolakan terhadap pengkondisian ini akan
membuat status 'shalihah' mereka dicabut. Tercabutnya status shalihah,
automatis akan mengantarkan mereka ke neraka yang -katanya- mayoritas
penghuninya kaum perempuan. Jadi, tidak seperti laki-laki, jalan menuju ke
sorga bagi kaum perempuan jauh lebih rumit dan sulit. Malangnya lagi, sudah
rumit dan sulit jalannya, kalau berhasil masuk sorga pun mesti bersaing lagi
dengan 72 bidadari. "Weleh .. weleh .. nasibmu Nduk," pinjem kata-kata Simbah.

Apakah saya sedang membela perempuan ? Atau saya sedang melakukan 'class
suicide', yang katanya merupakan prasyarat seorang laki-laki agar bisa menerima
emansipasi ? Tidak. Jika membela, maka itu artinya saya masih dihinggapi
perasaan superioritas laki-laki atas perempuan. Juga istilah 'class suicide'
itu terlalu bombastis bagi saya. Yang perlu dilakukan oleh laki-laki agar bisa
menerima emansipasi hanyalah perasaan legawa, rela. Rela mengakui bahwa
laki-laki selama ini memang lebih diuntungkan melalui kebohongan dan
mitos-mitos. Baik mitos yang diciptakan oleh laki-laki terhadap laki-laki,
laki-laki terhadap perempuan, maupun sebaliknya. Baik mitos yang dilestarikan
melalui tradisi, maupun mitos yang diciptakan atas nama Tuhan yang (lebih
digambarkan) laki-laki itu.

Emansipasi bukanlah keinginan melawan kodrat, seperti yang dituduhkan sebagian
orang, tapi upaya menciptakan hubungan yang lebih proporsional antara laki-laki
dan perempuan. Proporsional dalam hak dan kewajiban masing-masing berdasarkan
'perundingan' yang lebih bisa diterima nalar, dan bukannya atas dasar
mitos-mitos. Emansipasi bukanlah perlawanan terhadap Tuhan, namun jalan menuju
Tuhan dengan membongkar kebohongan yang mengatas namakan Tuhan. Jika Tuhan
masih digambarkan sebagai laki-laki, itu artinya jalan menuju Tauhid, menuju
Tuhan yang tidak laki-laki dan tidak perempuan itu masih panjang. 

Emansipasi sebenarnya tidak merugikan laki-laki. Karena tidak ada bertambahnya
hak kecuali bertambah pula kewajiban. Tidak ada berkurangnya hak kecuali
berkurang pula kewajiban. Dalam emansipasi, sebenarnya ada juga keuntungan yang
bisa diperoleh laki-laki. Dengan emansipasi, laki-laki juga bisa memposisikan
dirinya dengan lebih baik dan masuk akal, serta tidak terkungkung terus menerus
oleh mitos. Laki-laki tidak perlu lagi merasa malu menyusun daftar serta
melaporkan kekerasan perempuan terhadap laki-laki, misalnya.

Jadi, apa lagi alasan untuk tidak legawa dengan emansipasi ? Segeralah ke sana,
karena rasa legawa inilah yang akan menghindarkan ketegangan dalam hubungan
laki-laki dan perempuan. Ketegangan yang diwarisi turun temurun dari rasa
dendam dan kebencian yang menghuni alam bawah sadar masing-masing. Rasa legawa
inilah yang akan jadi jalan memutus mata rantai ketegangan itu. Jika tetap
harus ada ketegangan dalam hubungan laki-laki dan perempuan, biarlah itu hanya
di seputar wilayah antara perut dan lutut saja.

BACK

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1