|
| |
From: "Syafei" <syafei@sbi.sws.co.jp>
Date: Wed Mar 26, 2003 2:46 am
Subject: Rengeng-rengeng (6) Aa Gym, Ulil, Inul
Oleh: M. Syafei, Member Website Ppi-india
Asyik juga melihat perbandingan-perbandingan, apalagi jika perbandingan itu
antar person-person tenar yang sudah jadi 'icon' bangsa. Yang lebih membuat
asyik, perbandingan itu menyuruk ke dimensi yang lebih dalam ketimbang sekedar
yang bisa dilihat mata telanjang. Coba saja Anda bayangkan perbandingan Aa Gym
- Inul dan Ulil - Inul. Kalau ada yang bbilang "erotika terselubung makna libido
ada pada Aa Gym, dan makna spiritual pada Inul juga ada", atau mau yang lebih
lugas tanpa tedeng aling-aling seperti ujaran teman saya, Cak Ardi Cahyono yang
moderator Website muhammadiyah2002@ itu : "Nonton Inul lebih bisa membuat pikiran
jadi fresh, ketimbang ceramahnya Aa Gym atau Zainuddin MZ". (Sorry Cak,
kalimatnya tak modifikasi biar lebih mengena .. sekalian selamat
'mempertanggung-jawabkan' ujaran sampeyan itu ..)
Perbandingan berikutnya, antara Ulil - Inul. Dari segi estetika bunyi,
perbandingan yang ini lebih enak ketimbang Aa Gym - Inul. Tapi bukan itu yang
penting. Yang lebih penting adalah perbandingan yang dibuat mas Bimo mengenai
Ulil - Inul. Ulil - Inul merupakan dua sosok yang sama-sama menembus
batas-batas tabu, menurut mas Bimo. Kalau Ulil merobek batas tabu pemikiran
agama, maka si Inul menghajar batas tabu budaya.
Saya sulit menahan diri untuk tidak ikut-ikutan nimbrung soal banding
membanding ini. Apalagi, mengamini mas Bimo, saat ini lagi suntuk di tengah
gencarnya berita tentang perang Bush vs Saddam. Kemudian, daripada
membanding-bandingkan secara terpisah, sekalian saja saya bikin perbandingan
ketiganya sekaligus Ulil - Inul - Aa Gym, atau kalau mau dibalik jadi Aa Gym -
Inul - Ulil juga terserah saja. Saya melihat titik persamaan antara ketiganya,
yang bertemu pada 'gairah kaum muda'. Kebetulan ketiganya memiliki sisi-sisi
tertentu yang juga saya kagumi. Saya urai satu persatu.
Pertama, kekaguman saya terhadap Ulil terletak pada semangat pembaharuan yang
terus menerus dia hembuskan, plus sikap konsekuennya dalam mempertanggung
jawabkan setiap ide-ide yang dia lontarkan. Ulil nampak seperti punya energi
berlebih buat meladeni 'keberatan-keberatan' terhadap pemikirannya secara
elegan. Bukan hanya di seminar-seminar atau media massa, tetapi juga di
internet, khususnya mailing list. Point terakhir ini yang sebenarnya perlu
mendapat catatan khusus. Internet secara umum memiliki sifat yang jauh lebih
egaliter dan demokratis di banding media konvensial (tentunya tetap ada
pengecualian, bahwa kelakuan feodal dan fasis pun ada di internet). Internet,
memiliki mekanisme komunikasi timbal balik yang jauh lebih sederhana di banding
media konvensional. Saat kita melontarkan ide atau pendapat di Internet, ada
dua kemungkinan konsekuensi yang bakal mengikuti. Pertama kita mesti siap
mempertahankan pendapat kita dari gempuran-gempuran orang lain, yang
-barangkali- t! ! idak pernah kita sangkka-sangka, dengan dasar dan
argumen-argumen yang bisa dipertanggung jawabkan. Kemungkinan kedua adalah kita
mesti menarik atau mengoreksi pendapat kita jika memang tidak bisa lagi
dipertahankan. Jika kita menolak kedua kemungkinan itu, jangan kaget kalau
tiba-tiba kita diberi stempel "asal njeplak". Dan Ulil cukup punya keberanian
untuk itu, di saat banyak tokoh-tokoh lain berlindung di balik kata 'sibuk'.
Kedua, kekaguman saya terhadap Inul si 'goyang ngebor'. Melihat catatan
perjalanan karir Inul yang benar-benar dimulai dari bawah, dari kampung ke
kampung sampai mencapai ketenaran seperti sekarang, yang gaungnya juga
terdengar sampai ke manca negara. Hebatnya, loncatan hebat karir anak ini sama
sekali tidak membuat dirinya gagap. Inul adalah seorang profesional sejati.
Ketiga tentang Aa Gym. Kekaguman saya terhadap si Aa, di samping karena
perjalanan 'karir' Aa yang mirip-mirip si Inul, juga terletak pada kemampuannya
meramu -ini istilah saya- "tasawuf pop". Aa mampu membuat short cut-short cut
yang relatif sederhana dalam memahami agama, terutama tasawuf. Dan kemampuan Aa
ini menemukan momentum yang tepat, di saat banyak orang gandrung dengan short
cut-short cut, serta mampu menjadi satu tawaran alternatif di samping short
cut-short cut lain, yang penekanannya lebih pada teologi dan fiqh dengan wacana
yang -menurut saya- lumayan mengerikan.
Apakah dengan kekaguman saya itu berarti juga saya menyetujui, menggemari atau
mengikuti mereka ? Tidak. Mengagumi sisi-sisi tertentu dengan menyetujui atau
apalagi mengikuti adalah hal yang berbeda.
Di banding Ulil yang masih bermain-main di dinding, yang membuatnya belum bisa
keluar dari posisi defensif, atau di banding Aa Gym yang masih terkungkung
dalam konsep teologi yang cenderung fatalistik dan bakalan membuatnya hanya
bisa berputar-putar, (bukan nyombong lho) saya lebih memilih gagasan saya
sendiri daripada mengikuti mereka. Soal Inul pun, meski saya juga gemar musik
dangdut, tapi saya jelas punya penyanyi dangdut favorit sendiri, dan itu bukan
Inul.
Namun, point-point terakhir yang saya tulis di atas, tidaklah menggugurkan
kekaguman saya, dan juga tidak mengurangi respek saya terhadap mereka.
WelcomeSent: Friday, March 28, 2003 12:25 PM
Rengeng-rengeng(7)
Oleh: M. Syafei
Saya tertegun, saat melihat ada masjid di tengah-tengah komplek
perkantoran yang setiap urusan selalu UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Saya awasi
terus masjid itu, kali aja tuhan nongol. Pengin saya tonjok jidatnya.
Sepi-sepi aja. Nggak sabar, saya samperi itu masjid. Tepat di depan masjid
saya bilang,"Han, ngapain aja elu di situ. Maen gaple ya ?" Nggak ada
jawaban. Saya ulang beberapa kali, tetap saja nggak ada jawaban. Kesimpulan
saya, tuhan di masjid itu kalo nggak budeg ya bisu.
Saat mendengar orang ngomong diawali 'Assalamu alaikum warahmatuLlahi wa
barakatuh' dan ditutup dengan kata yang sama, tapi isinya blekethek bunek
bikin eneg, saya bergumam dalam hati, "Nah tuh, tuhan barusan ngapusi."
Saat mendengar teman ngomong "Demi Tuhan bla..bla..bla.." tapi
kenyataannya bli..bli..bli.., saya celingukan sambil melototi setiap sudut
ruangan, kali aja tuhan nongkrong di sana dan bisa ditanyain. Tapi nggak
kelihatan juga batang hidungnya.
Mas Ulil, sugeng rawuh Mbak Inul, selamat datang Aa Gym.
|