Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

From: "Syafei" <syafei@sbi.sws.co.jp> 
Date: Mon Mar 3, 2003 11:56 pm
Subject: Rengeng-rengeng (2) Setan
Oleh: M. Syafei, Batam

Member Website Ppi India

Waktu ngaji masih kecil dulu, Kyai di kampung saya ngasih penjelasan sederhana
bahwa setan itu ada dua macem, berujud jin dan manusia (minal jinnati wannaas).
Kata pak kyai, "Kalau kalian suka ngajak-ngajak berbuat yang tidak baik,
artinya kalian sudah menjelma jadi setan." Habis itu, seperti layaknya
sekumpulan anak yang masih ingusan, saya dan temen-temen suka saling memberi
label setan jika ada yang mengajak berbuat tidak baik.

Sejak itu bisa dibilang setan dalam pemahaman saya bukan lagi sosok gaib yang
muncul di saat-saat tertentu dengan wajahnya yang mengerikan. Setan bukan lagi
sesuatu yang abstrak, tetapi riil. Setan selalu hadir dan bisa dijumpai di
mana-mana. Setan yang bisa dijumpai ini bukan hanya berujud manusia sebagai
sosok makhluk, seperti yang diajarkan oleh kyai kampung saya, tapi sudah berupa
manusia-manusia yang saling tali temali satu sama lain. Atau dengan kata lain,
bisa dibilang setan sudah berujud sebagai suatu system. Setan inilah yang luar
biasa dahsyatnya. Setan jenis ini yang bisa mendorong pada kejahatan massal dan
terstruktur, bisa menimbulkan rasa keputus asaan secara massal. Setan model
beginian adalah biangnya segala biang setan.

Berbanding lurus dengan berkembangnya pemahaman tentang setan, sebagai
personifikasi yang jahat-jahat, maka berkembang pula pemahaman tentang tuhan
yang merupakan kebalikan setan, menjadi personifikasi yang baik-baik (terkadang
juga dipersonifikasikan pada malaikat). Tuhan bukan lagi sekedar sosok
"antah-berantah" seperti digambarkan dalam tafsir klasik agama-agama. Tapi
tuhan juga merupakan sesuatu yang riil dan bisa dijumpai di mana-mana. Dijumpai
di sini pun bukan sekedar seperti gambaran sufisktik, tersingkapnya tirai gaib,
namun juga dijumpai di setiap saat di hadapan kita dengan penalaran yang masih
sehat dan 'nggenah'.

Sodoran mas Agus Syafii tentang basmalah versus lampu terasa begitu mengena,
jika kita mau secara kreatif mengembangkannya lebih jauh. (Mas Agus, sesuai
prinsip "matinya pengarang", harap jangan protes tulisan sampeyan tak kembangin
lebih jauh meski itu -mungkin- nggak sama dengan maksud sampeyan). Kita bisa
buat pertanyaan sendiri, "Di mana tuhan dalam kasus menghidupkan lampu itu.
Pada basmalahnya atau pada proses integral mulai dari arus listrik, tombol,
tangan manusia sampai bertemunya dua arus melalui medium di dalam bolahm ?
Salah satu, atau pada kedua-duanya, atau tidak pada kedua-duanya ?" Kemudian
bisa dilanjutkan lagi, apa alasan kita memilih salah satu dari tiga kemungkinan
itu ?

(dilanjut minggu depan, kalau ada waktu ..... dan ada mood :-))

ps. jika ada komentar, harap cc-kan ke japri, karena saya ganti ke no-mail
sampai akhir minggu ini

From: "Syafei" <syafei@sbi.sws.co.jp> 
Date: Mon Mar 17, 2003 7:11 pm
Subject: Rengeng-rengeng (3) Tuhan dan Agama


Sebenarnya saya sudah bosan terus-terusan ngomong soal
tuhan-agama-tuhan-agama-tuhan-agama, seolah-olah nggak ada soal lain yang lebih
penting dan mendesak ketimbang tuhan-agama. Tapi kenyataannya saya belum
sepenuhnya bisa mengelak, karena dua hal. Pertama, agar nyambung dengan
"rengeng-rengeng" saya kemarin yang masih seputar tuhan-agama. Kedua, bangsa
Indonesia -katanya- termasuk bangsa yang keranjingan sama tuhan-agama (kata pak
guru sih .. bangsa yang relijius ..). Jadi, paling banter yang bisa saya
lakukan adalah membuat omongan tentang tuhan-agama nggak lagi membosankan,
setidaknya buat saya sendiri.

Biar terasa santai, saya mulai saja dengan cerita. Lebih sepuluh tahun yang
lalu, saya pernah ditanya sahabat saya. Singkatnya, sahabat saya itu kenal
dengan seseorang yang sangat baik dari segi sosial. Dia sangat ringan tangan
membantu orang lain yang mengalami kesulitan, meskipun terhadap orang yang
belum begitu dikenal baik, termasuk sahabat saya itu salah satunya. Namun orang
itu juga dikenal suka mabuk, jajan ke lokalisasi dan tidak pernah sholat, tapi
puasa kalau bulan ramadhan. Sahabat saya nanya, "Orang itu orang baik atau
jahat ? Dia bakalan masuk sorga atau neraka ?"

Waktu itu pertanyaan tersebut tidak saya jawab, karena memang saya belum bisa
menjawab. Sampai beberapa tahun kemudian saat kami ketemu lagi, (saya agak
terkejut sebenarnya) dia ulangi lagi pertanyaannya. Akhirnya saya jawab, "Dia
orang baik." 

Semula saya kira persoalan selesai dengan jawaban saya itu, ternyata belum.
Sahabat saya masih ngejar lagi,"Kalau orang baik mestinya masuk sorga dong.
Padahal orang yang suka berzina, mabuk-mabukan dan tidak pernah sholat itu
bakalan masuk neraka. Masak orang baik masuk neraka, yang bener aja kamu .."
Begitu ulah sahabat saya. Setelah agak lama terdiam, saya baru bisa berkomentar
lagi, "Dia orang baik. Aku tetap berpendapat dia orang baik. Soal dia mau masuk
sorga atau neraka, itu bukan urusanku."

Si sahabat ini tidak lagi mempersoalkan isi jawaban saya, tapi dia meragukan
kesungguhan saya. Beberapa kali dia nanya apakah saya sungguh-sungguh dengan
jawaban itu, dan beberapa kali pula saya harus meyakinkan bahwa itulah jawaban
yang sesungguhnya. Sebenarnya tidaklah sulit menemukan jawaban seperti itu,
karena sesungguhnya pertanyaan yang sama terhadap kasus yang kurang lebih sama
juga ada di benak saya selama bertahun-tahun. Jika di kesempatan pertama saya
belum bisa memberi jawaban, semata-mata karena saya hanya perlu memantapkan
diri dan bukan mencari jawabannya.

Di tengah-tengah masyarakat yang keranjingan terhadap agama, nyaris segala
sesuatu diukur berdasarkan agama. Konyolnya, agama - yang selalu gatal mengukur
segala sesuatu ini - keberatan kalau dirinya dibedah atau dikoreksi. Koreksi
terhadap agama sama dengan koreksi terhadap Tuhan. Mengoreksi agama artinya
melawan Tuhan, begitu kurang lebih aturan yang berlaku. Dan sungguh, tuhan dan
agama seperti itulah yang membuat saya bosan. Bukan saja bosan mengomongkannya,
tapi bosan terhadap tuhan dan agama itu sendiri. Bagaimana dengan Anda ?

(ntar disambung lagi kalau ada waktu luang :-))

Batam, 18 Mar 2003

BACK

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1