|
| |
From: "Syafei" <syafei@sbi.sws.co.jp>
Date: Thu Feb 27, 2003 12:41 am
Subject: Rengeng-rengeng (1) Penolakan Cak Nur Sbg. Capres
Oleh: M. Syafei
Akhir-akhir ini ada beberapa hal yang sempat saya catat. Pertama penolakan Cak
Nur buat dicalonkan jadi presiden, kedua tampilnya Jaya Suprana di acara Who
Wants To Be The President, dan last but not least tulisan ringan mas Agus
Syafii (kok kebetulan nama belakangnya sama dengan saya, cuma beda ejaan)
"Tuhan sedang ngapain ?" serta "Ada apa dengan syetan" dan masih disusul lagi
dengan "Setanpun pengen Tobat".
Tobat .. tobat .. Bocah kok nakale kayak setan. Kurang lebih mungkin begitu
(belagak sok tahu dikit ah) kenakalan mas Agus itu dikomentari. Nakal memang,
tapi sulit dibantah. Coba hayo, silakan bantah bahwa mencet tombol lampu tanpa
basmalah pun lampu tetap saja nyala. Terus itu anekdotnya tentang setan yang
mengeluh terus-menerus dikambing hitamkan .. apa tidak cespleng ? Celoteh mas
Agus itu mengingatkan saya pada seorang netter yang lain yang kurang lebih
pernah bilang begini : "Kalau segala masalah cukup dinisbatkan pada Tuhan atau
syetan, tentu ilmu psikologi, sosiologi, anthropologi tidak akan pernah bisa
berkembang seperti sekarang ini" (ZY, cmiiw).
Suka atau tidak, mau jujur atau ndak, diakui atau diingkari, mau
manggut-manggut atau ngamuk, kenyataannya dunia bisa mencapai kemajuan seperti
sekarang ini justru setelah manusia berani dan bisa keluar dari tuhan sentrisme
yang ribuan tahun memebelenggu. Tuhan sentris, yang pada kenyataan sebenarnya
agamawan sentris, telah berhasil dipatahkan. Dunia segera berpaling pada
manusia-sentris. Tuhan-pun, jika masih ada, digeser cukup menghuni bilik-bilik
individu. Akal gantian mengambil peran paling depan dalam kancah dunia
berikutnya. Persetan kata tuhan (agamawan maksudnya), manusia memilih berpikir
sendiri dan melesat bak anak panah lepas dari busurnya, meninggalkan tuhan yang
tertatih-tatih sambil misuh-misuh.
Berikutnya soal Cak Nur. Cak Nur adalah sosok di luar partai yang banyak
diminati orang untuk menduduki kursi presiden, selain Aa Gym. Kebetulan
kedua-duanya menolak, meski dasar penolakannya berbeda. Si Aa, yang terkenal
piawai mengaduk-aduk emosi ini, mengemukakan alasan bahwa beliau bukan figur
yang layak untuk mengemban amanat seperti itu. Tidak ada yang baru (kecuali
yang belum tahu he..he..). Sedang Cak Nur, si pendekar dari nJombang,
menegaskan kembali pendiriannya untuk tetap konsern pada pendidikan jangka
panjang, dan tidak mau bangsa ini tertinggal lebih lama lagi. Tertinggal soal
apa ? Nah ini ..
Untuk membedakan ciri masyarakat modern dengan tradisional salah satunya bisa
dilihat dari caranya memilih pemimpin. Pada masyarakat modern, kepemimpinan itu
ditekankan pada system. Sedang pada masyarakat tradisional, kepemimpinan
tekanan utamanya pada figur. Figur, dalam tata masyarakat modern meski tetap
penting, hanyalah prioritas nomor sekian setelah system di nomor satu dan
-barangkali- hal-hal lain di nomor berikkutnya. Sedang pada masyarakat
tradisional, figur bisa berarti segalanya. Seolah-olah negara tidak akan bisa
berjalan tanpa seorang figur.
Sayangnya Cak Nur ini orangnya serius, sehingga buah pikirannya sulit masuk ke
wilayah di mana banyak orang lebih kepengin yang ndagel-ndagel. Sayangnya lagi,
Cak Nur ini sukanya pakai bahasa dewa, sehingga hanya orang-orang yang punya
akses dan pernah berkenalan dengan kahyangan yang bisa memahami. Kalau saja Cak
Nur ini doyan ndagel-ndagel sedikit, tentu gema buah pikirannya bisa menjangkau
wilayah yang lebih luas lagi. Tapi biarlah, Cak Nur ya Cak Nur, dengan pikiran
dan gayanya sendiri. Kalau ikut-ikutan ngepop, nanti Aa Gym jadi dapat saingan,
meskipun bisa saja itu jadi sesuatu yang bagus. Satunya ngepop dan pintar
memainkan emosi, yang satunya lagi ngepop dan jago merangsang nalar supaya
lebih sehat serta berfungsi. Kalau si Aa mau hadir di konsernya Slank, si Cacak
boleh nongol di panggungnya si Inul ( Inul lagi ! :-( ). Kalau si Slank pengin
dapat pengalaman spiritual (atau emosional -> emosional religi, hayo?), maka
Inul pun bisa dikasih pengalaman intelektual. Apik tho ?
Lha, terus si Jaya Suprana ? He..he.. kalau ketemu pengin saya jitak si juragan
jamu itu. Lha wong acara Who Wants To Be The President itu acara serius kok
malah dipakai ndagel. Sudah jelas nongol di TV yang dikhususkan buat
orang-orang yang pengin jadi presiden, kok bilang tidak ingin jadi presiden.
Yang berlaku umum kan seperti yang disindir di Butet itu, kalau giat misuhi
korupsi masalah sebenarnya bisa jadi sekedar "kenapa gue nggak kebagian ?".
Atau seperti yang dibilang Cak Nun (bukan Cak Nur, lho !), orang
mengutuk-ngutuk KKN, padahal intinya "Kapan gue yang dapet giliran KKN ?". Si
Jaya ini mentang-mentang punya ilmu kelirumologi, terus main pleset-plesetan.
Lagipula itu, kata "pemerintah" yang sudah ratusan tahun mapan kok mau diganti
abdi rakyat, piye tho? Padahal si Jaya betul. Nah, lho ?!
(Wis lah, ntar kalau ada waktu luang tak sambung lagi)
BACK
|