Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

Catatan atas sebuah laporan -

BEKAL SERDADU RI KE ACEH : SATU GEMBONG GAM 100 JUTA
Oleh: Z. Afif
Member Website Ppi India


SEKITAR 700-an serdadu dari Batalyon Infanteri (Yonif) 521/Dadaha Yodha 
yang dikomandani Letnan Kolonel (Infanteri) Ucu Subagia, berlayar dengan 
kapal Teluk Bayur ke Aceh dari Surabaya pada pertengahan 2002. Mereka 
bertolak dari asramanya di Kediri, tempat yang sangat ganas membantai 
rakyat, khusus kaum buruh dan tani pada Oktober 1965-1966. Serdadu-
serdadu itu sudah punya pengalaman menggempur rakyat Ambon dan 
Timor Timur. Dibalut pengalaman penghadangan oleh pasukan GAM 
sepanjang perjalanan beroperasi di Aceh, seorang Letnan Dua bernama 
Ruben Rihi menjadi senget saraf: "... saya ndak percaya lagi sama orang 
Aceh. ... Orang Aceh itu (memang) tidak bisa dipercaya". 

Pernyataan itu sudah cukup memberikan isyarat penarikan garis yang 
memisahkan bangsa Aceh dari "keluarga bangsa Indonesia". Yang 
kelanjutannya akan menghalalkan nyawa orang Aceh. Kalau seorang 
Letnan yang tentunya orang berpendidikan sudah bicara begitu, tangkainya 
melekat pada hati komandan dan instrukturnya, kemudian moral itu
menetes ke anak buahnya yang tinggal membabi buta.

P r a j u r i t kepala itu namanya Muhamad Khusnur Rokhim. Asal Kediri, 
Jawa Timur. Dia tergabung dalam Batalyon Infantri 521/Dadaha Yodha yang 
bermarkas di kota rokok Gudang Garam itu.Tugas utama batalyon itu di Aceh 
untuk "mengamankan" wilayah Aceh Barat dari Lambaro hingga Beutong, 
yang dari ujung ke ujung jaraknya sekitar 150 kilometer. Beutong ---, nama 
yang mencengkam bagi orang Aceh. Segera teringat Beutong Ateuh, juga 
di Aceh Barat, tempat pengajian asuhanTeungku Bantaqiah. Timah panas 
pasukan Kostrad berhamburan, menyambar Teungku pengasuh dan 
orang-orang asuhannya yang telah dibariskan oleh serdadu di depan 
Dayahnya. Pembunuhan massal, sudah menjadi karya penting TNI, 
khususnya Angkatan Darat. 

Dengan seizin Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan Aceh, 
Mayor Jenderal Djali Yusuf, seorang penulis laporan menemui pasukan 
batalyon tersebut pada awal September 2002, setelah sekitar tiga bulan 
mereka mendarat di pelabuhan Malahayati. Kemudian dia ikut dalam 
operasi mereka dan membuat laporan panjang yang melukiskan kehidupan
pasukan itu.

R e p o r t e r yang mengemban perasaan murni kemanusiaan, mengaku 
pernah merepet seharian setelah melihat seorang Aceh (Ruslan) tewas 
ditenggo (ditembak). Mayatnya sudah tertelungkup di atas kolam ikan nila 
di belakang sebuah rumah di desa Tanjung, sekitar seperempat jam dari 
Meulaboh. Karena itu dia kena tegur dari serdadu: 

"Mas ini seorang sipil. Kalau ada gerak pasukan di lapangan yang Mas 
tidak suka jangan diperlihatkan. Simpan dalam hati saja."

Dia lanjutkan ceritanya ---, beberapa serdadu di situ bilang kejadiannya baru 
saja. Tapi tampak padanya, mayat lelaki yang seluruh rambutnya memutih 
itu sudah kaku. Rahangnya sulit dirapatkan. Dia yakin kejadiannya sudah 
lebih dari sejam. Satu regu serdadu yang berada di sana saat kejadian 
bergerombol di simpang jalan desa, yang memberi kesan enggan berkotor-
kotor mengurusi jenazah korbannya. Serdadu berdalih, Ruslan sudah dua 
kali mencoba melarikan diri. Saat mencoba peruntungannya yang ketiga, 
di hari yang sama, dia berubah jadi "laron merah" - istilah TNI-AD untuk 
orang Aceh yang mereka tembak.

"Saya sulit mengecek klaim itu," tulisnya "Dua-tiga letusan senapan di siang 
bolong sudah cukup membuat warga desa meringkuk ketakutan di rumah 
masing-masing."

S e o r a n g serdadu mencoba balik mayat yang telah membengkak itu. 
Jelaslah, nampak padanya kalau ada sebutir peluru bersarang di perutnya. 
Dia juga melihat ada lagi peluru di paha dan dada mayat itu. 

Dalam hatinya tertanya, apa salah Ruslan sampai ditembak? Seorang prajurit 
mengaku padanya bahwa Ruslan "target operasi". Korban "dianggap bagian 
logistik GAM". Hanya dengan anggapan. Tanpa pembuktian dengan fakta, 
vonis mati pun berlaku. Betapa tak berharganya nyawa Aceh. Apa namanya
ini dalam etika HAM?

Dengan lugu reporter membatin: "Yang saya heran tak ada bekas ikatan di 
pergelangan tangan Ruslan. Kenapa tidak ada yang berinisiatif mengikatnya 
setelah percobaan melarikan diri pertama kali? Saya juga heran kenapa 
mereka itu tak berpikir taktis sehingga memilih menembak seseorang yang 
informasinya mungkin sangat berharga? Berapa jauh sih larinya kakek 
berumur 51 tahun di area persawahan sehingga serdadu-serdadu muda
itu tak dapat mengejarnya? Saya menaksir dari tempat Ruslan melarikan 
diri hingga tertembak, dia hanya sanggup berlari sekitar 30 meter."

"Okelah kalau memang harus ditembak," pikir reporter , " tapi kenapa 
bukan dilumpuhkan saja? Tembak di paha saja? Tidak adakah satu di 
antara belasan serdadu itu yang bisa menembak tepat sasaran dalam 
jarak 30 meter?"

Jenazah itu ditinggalkan begitu saja tanpa dikubur, hanya ditutupi dengan 
atap rumbia. 

Kejadian itu menggelegakkan hatinya. Sulit diredakan. Keesokannya, dia ingin 
mengecek kembali peristiwa itu, tetapi serdadu yang jelas-jelas ada di 
tepat kejadian itu mengelak, katanya dia tidak di sana saat itu. Kepada 
Rokhim yang selalu mendampinginya dan menyandang SS-1 - senapan 
serbu buatan Indonesia, reporter itu memprotes , yang dijawab: "Semoga 
saja benar-benar GAM". 

Ucapan itu mengingatkannya pada salah satu butir "Prinsip-prinsip Dasar 
Menghancurkan Insurjensi" yang diterbitkan Komando Resort Militer Teuku 
Umar, yang salinannya ditempel di setiap pos TNI. Bunyinya kira-kira begini: 
"Menghilangkan satu nyawa tak berdosa sama dengan menciptakan 1.000 
musuh". 

M e m b a c a laporan itu, aku jadi teringat politik Amerika (mungkin
politik 
McCarthy) menghadapi komunis: "Lebih baik mati seribu massa rakyat 
daripada selamat seorang komunis". Politik ini sangat menonjol dijalankan 
AS dalam perang agresinya di Indochina (Vietnam, Laos dan Kamboja), 
juga diwarisi TNI-AD dalam membasmi massa yang bangkit 
memperjuangkan keadilan, demokrasi dan kedaulatannya di berbagai 
wilayah Indonesia, terutama dalam agresi TNI di Timor Timur dan DOM di
Aceh. Dalam rangka politik itu, agresor AS membuat yang disebut "Desa 
Strategis" di Vietnam. Perkampungan itu dipagar dengan kawat berdiri, di
sekitarnya dibabat menjadi lapang, agar mudah dikontrol kalau dijangkau
pasukan pembebasan dan untuk mencegah penghuninya melarikan diri. 
Penduduk dihalau masuk ke sana dan dijaga dengan ketat . Pada tahun 
1977, aku sempat meninjau ke bekas saringan komunis itu, kreasi 
Pentagon di Vietnam Selatan. Namun, dengan sistem korek landak 
secara rahasia dari dua arah (arah dalam dan arah luar) kader-kader 
Front Pembebasan Nasional dapat meloloskan diri keluar. Dan akhirnya 
tentara agresor yang dipersenjatai dari ujung kaki hingga ke ujung rambutnya 
itu keok juga dengan perang rakyat sejati. 


Apalah nilai manusia Aceh bagi TNI. Bukankah Suharto dan menantunya 
cukup kaya untuk berdagang nyawa? Rokhim ," bercerita kepada reporter 
tentang Letnan Jenderal Prabowo yang kala masih letnan beroperasi 
dalam agresi RI ke Timor Timur yang baru saja memproklamasikan 
kemerdekaannya dari penjajahan Portugis. Menantu Jenderal Diktatur 
Suharto itu juga pernah memimpin operasi TNI-AD membantai rakyat 
Papua Barat dan Aceh. 


Rokhim dua kali - 1997 dan 1999 - ikut pendidikan pasukan penyergap 
Rajawali di bawah komando Prabowo. Dalam kurun itu dia ikut sebagai 
pasukan pemburu di Timor-Timur dan Aceh. Pada tahun 1999, Jakarta 
mengirim sekitar 1.500 orang Pasukan Rajawali ke Aceh Utara dan Pidie. 
Rokhim dapat Pidie. Dia masih ingat pengarahan kepada pasukan itu 
sebelum diterbangkan ke Aceh dari Komandan Kopassus Mayor Jenderal 
Prabowo (putra Prof. Dr. Sumitro, salah seorang "begawan" ekonomi 
Suharto): 

"Prajurit saya harus seperti Hanoman. Tidak boleh sombong. Berani ---
kalau dapat satu pucuk M16, saya bayar Rp 5 juta. ... Kalau SP (senjata 
kayu) Rp 1 juta. Kalau dapat gembongnya GPK (GAM) ... Rp.100 juta. 
Saya akan datang ke tempat TKP. Saya tidak bisa datang, kirim kepalanya!"

"Bilang gitu. Aaaaapa nggak gila! Saya seneng bener itu ... . saya masih
ingat. 
Wah, mantap bener," kata Rokhim yang "Sembahyang dan mengajinya tak 
putus. Saat salat berjamaah, dia yang selalu melantunkan azan. Saban 
Jumat, dia rutin merapal Yasin dan Tahlil". 

Tapi tak ditulis apakah dia mengucapkan bismilllah kala menembakkan 
pelurunya ke tubuh orang Aceh, seperti ketika memburu celeng atau babi 
hutan agar "halal" untuk dibuat dendeng atau abon yang banyak dijual di 
Pasar Bering Harjo, Yogya?!

"Ada yang bilang", kata reporter, "90 persen penyakit tentara kita adalah 
suka mabuk". Di Aceh menghirup ganja.

S e b a g a i p u t e r a A c e h , k u t u t u r kembali k i s a hi n i 
dengan pengembangan di sana sini dari reportase Alfian Hamzah yang 
disiarkan dalam majalah PANTAU, Februari 2003.

Stockholm, Sweden, 21 Mei 2003.

BACK

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1