|
| |
Catatan atas sebuah laporan -
BEKAL SERDADU RI KE ACEH : SATU GEMBONG GAM 100 JUTA
Oleh: Z. Afif
Member Website Ppi India
SEKITAR 700-an serdadu dari Batalyon Infanteri (Yonif) 521/Dadaha Yodha
yang dikomandani Letnan Kolonel (Infanteri) Ucu Subagia, berlayar dengan
kapal Teluk Bayur ke Aceh dari Surabaya pada pertengahan 2002. Mereka
bertolak dari asramanya di Kediri, tempat yang sangat ganas membantai
rakyat, khusus kaum buruh dan tani pada Oktober 1965-1966. Serdadu-
serdadu itu sudah punya pengalaman menggempur rakyat Ambon dan
Timor Timur. Dibalut pengalaman penghadangan oleh pasukan GAM
sepanjang perjalanan beroperasi di Aceh, seorang Letnan Dua bernama
Ruben Rihi menjadi senget saraf: "... saya ndak percaya lagi sama orang
Aceh. ... Orang Aceh itu (memang) tidak bisa dipercaya".
Pernyataan itu sudah cukup memberikan isyarat penarikan garis yang
memisahkan bangsa Aceh dari "keluarga bangsa Indonesia". Yang
kelanjutannya akan menghalalkan nyawa orang Aceh. Kalau seorang
Letnan yang tentunya orang berpendidikan sudah bicara begitu, tangkainya
melekat pada hati komandan dan instrukturnya, kemudian moral itu
menetes ke anak buahnya yang tinggal membabi buta.
P r a j u r i t kepala itu namanya Muhamad Khusnur Rokhim. Asal Kediri,
Jawa Timur. Dia tergabung dalam Batalyon Infantri 521/Dadaha Yodha yang
bermarkas di kota rokok Gudang Garam itu.Tugas utama batalyon itu di Aceh
untuk "mengamankan" wilayah Aceh Barat dari Lambaro hingga Beutong,
yang dari ujung ke ujung jaraknya sekitar 150 kilometer. Beutong ---, nama
yang mencengkam bagi orang Aceh. Segera teringat Beutong Ateuh, juga
di Aceh Barat, tempat pengajian asuhanTeungku Bantaqiah. Timah panas
pasukan Kostrad berhamburan, menyambar Teungku pengasuh dan
orang-orang asuhannya yang telah dibariskan oleh serdadu di depan
Dayahnya. Pembunuhan massal, sudah menjadi karya penting TNI,
khususnya Angkatan Darat.
Dengan seizin Panglima Komando Operasi Pemulihan Keamanan Aceh,
Mayor Jenderal Djali Yusuf, seorang penulis laporan menemui pasukan
batalyon tersebut pada awal September 2002, setelah sekitar tiga bulan
mereka mendarat di pelabuhan Malahayati. Kemudian dia ikut dalam
operasi mereka dan membuat laporan panjang yang melukiskan kehidupan
pasukan itu.
R e p o r t e r yang mengemban perasaan murni kemanusiaan, mengaku
pernah merepet seharian setelah melihat seorang Aceh (Ruslan) tewas
ditenggo (ditembak). Mayatnya sudah tertelungkup di atas kolam ikan nila
di belakang sebuah rumah di desa Tanjung, sekitar seperempat jam dari
Meulaboh. Karena itu dia kena tegur dari serdadu:
"Mas ini seorang sipil. Kalau ada gerak pasukan di lapangan yang Mas
tidak suka jangan diperlihatkan. Simpan dalam hati saja."
Dia lanjutkan ceritanya ---, beberapa serdadu di situ bilang kejadiannya baru
saja. Tapi tampak padanya, mayat lelaki yang seluruh rambutnya memutih
itu sudah kaku. Rahangnya sulit dirapatkan. Dia yakin kejadiannya sudah
lebih dari sejam. Satu regu serdadu yang berada di sana saat kejadian
bergerombol di simpang jalan desa, yang memberi kesan enggan berkotor-
kotor mengurusi jenazah korbannya. Serdadu berdalih, Ruslan sudah dua
kali mencoba melarikan diri. Saat mencoba peruntungannya yang ketiga,
di hari yang sama, dia berubah jadi "laron merah" - istilah TNI-AD untuk
orang Aceh yang mereka tembak.
"Saya sulit mengecek klaim itu," tulisnya "Dua-tiga letusan senapan di siang
bolong sudah cukup membuat warga desa meringkuk ketakutan di rumah
masing-masing."
S e o r a n g serdadu mencoba balik mayat yang telah membengkak itu.
Jelaslah, nampak padanya kalau ada sebutir peluru bersarang di perutnya.
Dia juga melihat ada lagi peluru di paha dan dada mayat itu.
Dalam hatinya tertanya, apa salah Ruslan sampai ditembak? Seorang prajurit
mengaku padanya bahwa Ruslan "target operasi". Korban "dianggap bagian
logistik GAM". Hanya dengan anggapan. Tanpa pembuktian dengan fakta,
vonis mati pun berlaku. Betapa tak berharganya nyawa Aceh. Apa namanya
ini dalam etika HAM?
Dengan lugu reporter membatin: "Yang saya heran tak ada bekas ikatan di
pergelangan tangan Ruslan. Kenapa tidak ada yang berinisiatif mengikatnya
setelah percobaan melarikan diri pertama kali? Saya juga heran kenapa
mereka itu tak berpikir taktis sehingga memilih menembak seseorang yang
informasinya mungkin sangat berharga? Berapa jauh sih larinya kakek
berumur 51 tahun di area persawahan sehingga serdadu-serdadu muda
itu tak dapat mengejarnya? Saya menaksir dari tempat Ruslan melarikan
diri hingga tertembak, dia hanya sanggup berlari sekitar 30 meter."
"Okelah kalau memang harus ditembak," pikir reporter , " tapi kenapa
bukan dilumpuhkan saja? Tembak di paha saja? Tidak adakah satu di
antara belasan serdadu itu yang bisa menembak tepat sasaran dalam
jarak 30 meter?"
Jenazah itu ditinggalkan begitu saja tanpa dikubur, hanya ditutupi dengan
atap rumbia.
Kejadian itu menggelegakkan hatinya. Sulit diredakan. Keesokannya, dia ingin
mengecek kembali peristiwa itu, tetapi serdadu yang jelas-jelas ada di
tepat kejadian itu mengelak, katanya dia tidak di sana saat itu. Kepada
Rokhim yang selalu mendampinginya dan menyandang SS-1 - senapan
serbu buatan Indonesia, reporter itu memprotes , yang dijawab: "Semoga
saja benar-benar GAM".
Ucapan itu mengingatkannya pada salah satu butir "Prinsip-prinsip Dasar
Menghancurkan Insurjensi" yang diterbitkan Komando Resort Militer Teuku
Umar, yang salinannya ditempel di setiap pos TNI. Bunyinya kira-kira begini:
"Menghilangkan satu nyawa tak berdosa sama dengan menciptakan 1.000
musuh".
M e m b a c a laporan itu, aku jadi teringat politik Amerika (mungkin
politik
McCarthy) menghadapi komunis: "Lebih baik mati seribu massa rakyat
daripada selamat seorang komunis". Politik ini sangat menonjol dijalankan
AS dalam perang agresinya di Indochina (Vietnam, Laos dan Kamboja),
juga diwarisi TNI-AD dalam membasmi massa yang bangkit
memperjuangkan keadilan, demokrasi dan kedaulatannya di berbagai
wilayah Indonesia, terutama dalam agresi TNI di Timor Timur dan DOM di
Aceh. Dalam rangka politik itu, agresor AS membuat yang disebut "Desa
Strategis" di Vietnam. Perkampungan itu dipagar dengan kawat berdiri, di
sekitarnya dibabat menjadi lapang, agar mudah dikontrol kalau dijangkau
pasukan pembebasan dan untuk mencegah penghuninya melarikan diri.
Penduduk dihalau masuk ke sana dan dijaga dengan ketat . Pada tahun
1977, aku sempat meninjau ke bekas saringan komunis itu, kreasi
Pentagon di Vietnam Selatan. Namun, dengan sistem korek landak
secara rahasia dari dua arah (arah dalam dan arah luar) kader-kader
Front Pembebasan Nasional dapat meloloskan diri keluar. Dan akhirnya
tentara agresor yang dipersenjatai dari ujung kaki hingga ke ujung rambutnya
itu keok juga dengan perang rakyat sejati.
Apalah nilai manusia Aceh bagi TNI. Bukankah Suharto dan menantunya
cukup kaya untuk berdagang nyawa? Rokhim ," bercerita kepada reporter
tentang Letnan Jenderal Prabowo yang kala masih letnan beroperasi
dalam agresi RI ke Timor Timur yang baru saja memproklamasikan
kemerdekaannya dari penjajahan Portugis. Menantu Jenderal Diktatur
Suharto itu juga pernah memimpin operasi TNI-AD membantai rakyat
Papua Barat dan Aceh.
Rokhim dua kali - 1997 dan 1999 - ikut pendidikan pasukan penyergap
Rajawali di bawah komando Prabowo. Dalam kurun itu dia ikut sebagai
pasukan pemburu di Timor-Timur dan Aceh. Pada tahun 1999, Jakarta
mengirim sekitar 1.500 orang Pasukan Rajawali ke Aceh Utara dan Pidie.
Rokhim dapat Pidie. Dia masih ingat pengarahan kepada pasukan itu
sebelum diterbangkan ke Aceh dari Komandan Kopassus Mayor Jenderal
Prabowo (putra Prof. Dr. Sumitro, salah seorang "begawan" ekonomi
Suharto):
"Prajurit saya harus seperti Hanoman. Tidak boleh sombong. Berani ---
kalau dapat satu pucuk M16, saya bayar Rp 5 juta. ... Kalau SP (senjata
kayu) Rp 1 juta. Kalau dapat gembongnya GPK (GAM) ... Rp.100 juta.
Saya akan datang ke tempat TKP. Saya tidak bisa datang, kirim kepalanya!"
"Bilang gitu. Aaaaapa nggak gila! Saya seneng bener itu ... . saya masih
ingat.
Wah, mantap bener," kata Rokhim yang "Sembahyang dan mengajinya tak
putus. Saat salat berjamaah, dia yang selalu melantunkan azan. Saban
Jumat, dia rutin merapal Yasin dan Tahlil".
Tapi tak ditulis apakah dia mengucapkan bismilllah kala menembakkan
pelurunya ke tubuh orang Aceh, seperti ketika memburu celeng atau babi
hutan agar "halal" untuk dibuat dendeng atau abon yang banyak dijual di
Pasar Bering Harjo, Yogya?!
"Ada yang bilang", kata reporter, "90 persen penyakit tentara kita adalah
suka mabuk". Di Aceh menghirup ganja.
S e b a g a i p u t e r a A c e h , k u t u t u r kembali k i s a hi n i
dengan pengembangan di sana sini dari reportase Alfian Hamzah yang
disiarkan dalam majalah PANTAU, Februari 2003.
Stockholm, Sweden, 21 Mei 2003.
BACK
|