|
| |
From: "Umar Said" <kontak@club-internet.fr>
Date: Tue Jul 1, 2003 5:05 pm
Subject: Peristiwa 65 pelanggaran berat HAM
Catatan A. Umar Said
(tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak/ )
PERISTIWA 65 PELANGGARAN BERAT HAM
==================================
Berbagai pendapat Prof. DR. Said Aqiel Siradj MA yang diungkapkan dalam
tulisan di majalah RUAS edisi VIII th II, 2003 sangat penting untuk mendapat
perhatian dari sebanyak mungkin orang, baik di kalangan Islam di Indonesia,
maupun yang di luar kalangan Islam. Sebab, berbagai pendapatnya itu
diutarakannya sebagai tokoh penting dalam NU (Ketua Pengurus Besar) dan
mantan anggota Komnas Ham dan sarjana Islam terkemuka.
Seperti yang bisa disimak dalam tulisan yang berjudul “NU akan terbuka atas
penyidikan kembali tragedi ’65-‘66 “ (harap baca kembali tulisannya
selengkapnya di website http://perso.club-internet.fr/kontak/ ) ia
mengutarakan pendapatnya bahwa (saya kutip) :” peristiwa ’65 itu ada faktor
eskternal dan internalnya. Faktor eksternal tak bisa lepas dari ketegangan
politik perang dingin dua negara adikuasa. Jelas dalam peristiwa itu ada
rekayasa Amerika. Prolog peristiwa itu sendiri sudah mulai matang sebelum
Amerika” masuk”. Sementara faktor internalnya ada perebutan kekuasaan .
Presiden Soekarno jatuh dan presiden Soeharto menjadi presiden dengan rezim
Orde Baru nya »
Dalam tulisan kali ini tidak (atau belum) dibahas tentang faktor eksternal
dan internal yang berkaitan dengan G30S, termasuk masalah peran Bung Karno
dan PKI, atau faktor CIA, TNI-AD dan lain-lain Tetapi, lebih banyak
disoroti arti penting pesan yang terkandung di dalam tulisan itu untuk
kalangan Islam, terutama tentang sikap terhadap kaum komunis di Indonesia.
Pesannya ini, seperti halnya pesan politik dan pesan moral Gus Dur dan
tokoh-tokoh NU lainnya (termasuk kalangan muda NU) merupakan angin segar
yang menyejukkan bagi kehidupan bermasyarakat dan bagi suasana politik di
Indonesia, terutama sesudah jatuhnya rezim militer Suharto lima tahun yang
lalu.
ORDE BARU MEMUPUK SENTIMEN ANTI-KOMUNIS
Seperti sudah sama-sama kita saksikan, selama lebih dari 30 tahun, rezim
militer Suharto telah menyiksa – dalam berbagai bentuk dan cara - puluhan
juta orang warganegara. Mereka ini terdiri dari pendukung atau simpatisan
politik Presiden Sukarno dan simpatisan PKI yang berasal dari bermacam-macam
suku, ras, agama atau aliran politik. Kampanye anti-komunis telah
dilancarkan berpuluh-puluh tahun oleh Orde Baru secara besar-besaran dan
secara bengis, yang jarang tandingannya di dunia.
Begitu intensifnya kampanye ini, sehingga dampaknya sangat luas dan mendalam
dalam masyarakat, termasuk di kalangan Islam. Rezim militer Suharto dkk
telah menyemaikan dan menyuburkan sentimen anti-komunis di kalangan Islam,
sesuai dengan kepentingan Orde Baru sendiri, yaitu mempertahankan
kekuasaan, yang berhasil direbutnya dari tangan Presiden Sukarno. Penyebaran
sentimen anti-komunis (dan anti-Sukarno) di kalangan Islam ini merupakan
siasat besar Orde Baru mengingat kedudukan yang penting faktor Islam di
Indonesia.
Dari segi inilah kita bisa lihat pentingnya pendapat Prof. Dr Aqiel Siradj,
yang menyatakan :” Setahu saya, versi NU mengenai peristiwa ’65 itu dulu
sampai sekarang tidak tunggal. Banyak versinya sesuai kesaksian masing
masing tokoh NU. Kalau kita melihat Gus Dur misalnya, sewaktu jadi presiden
ia sudah mohon maaf atas keterlibatan NU waktu itu. Ini karena dia humanis.
Dalam hal ini, saya setuju dengan pandangan Gus Dur.
KOMISI PENYIDIKAN KETERLIBATAN SUHARTO
“Saya mendukung apa yang dilakukan oleh Komnas HAM yang membentuk komisi
penyidikan keterlibatan Soeharto pada tragedi peristiwa “65. Namun harus
mempertimbangkan kondisi waktu itu. Tidak boleh semuanya digebyah uyah.
Kita sebagai warga NU harus arief melihat persoalan ini, Peristiwa ’65
memang tragedi berdarah yang korbannya paling banyak PKI. Tetapi peristiwa
sebelumnya juga dilihat », tegasnya.
Tentang pembunuhan orang-orang komunis ia mengatakan : « Dalam kacamata
apapun , hukumnya dosa, membunuh orang tanpa melalui pengadilan. Apalagi
hanya karena PKI maka mesti dibunuh itu dosa. Saya dukung sepenuhnya Komnas
HAM yang akan mengangkat kembali pelanggaran berat HAM tahun ’65 itu. Tapi
hendaknya kembali dengan semangat yang arief dan objektif. Semua
bertanggungjawab, Penguasa atau pelaku, pertanggungjawabannya kan mesti
beda ».
Tentang rekonsiliasi antara antara eks-tapol dengan kalangan Islam,
dikatakannya : « Rekonsiliasi eks tapol PKI dengan kelompok Islam selain NU
bisa di lakukan. Saya kira Muhammadiyyah masih bisa diajak bicara. Yang
memahami Islam secara benar, masih bisa diajak berdialog. Kalau yang tidak
punya nalar, memang sulit. »
REKONSILIASI DENGAN EKS-TAPOL
Pernyataan yang demikian penting ini perlu diketahui oleh banyak orang,
yang menunjukkan bahwa berlainan dengan sebagian kalangan Islam yang selama
ini menyokong politik dan kebudayaan berfikir rezim militer Orde Baru, ada
kalangan Islam lainnya yang menganggap perlu adanya rekonsiliasi dengan para
eks-tapol. Rekonsiliasi dengan para eks-tapol adalah bagian atau langkah
penting bagi terselenggaranya rekonsiliasi nasional. Dan rekonsiliasi
nasional adalah amat diperlukan untuk menyehatkan demokrasi di Indonesia dan
memperkuat persatuan bangsa.
Suara dari kalangan NU yang mengumandangkan pandangan yang humanis dan
berwawasan luas ini akan memberikan sumbangan penting bagi pencerahan bangsa
pada umumnya dan kalangan Islam pada khususnya. Dengan memancarkan
pandangan-pandangan yang menyejukkan hati banyak orang inilah kalangan
Islam di Indonesia akan memainkan peran yang lebih positif lagi bagi
kehidupan bangsa dan negara.
Sudah waktunya bagi berbagai kalangan Islam di Indonesia untuk meninggalkan
sama sekali keterkaitannya dengan kebiasaan atau kebudayaan berfikir Orde
Baru.
APA G30S KARENA KETOLOLAN PKI DAN SUKARNO ?
Mengenai peristiwa ’65, rupanya bukan hanya di kalangan NU saja yang tidak
mempunyai versi yang tunggal, tetapi juga kalangan-kalangan lainnya. Selama
ini sudah banyak tulisan mengenai peristiwa itu, baik yang dibuat oleh
berbagai kalangan di Indonesia maupun oleh para ahli dan pengamat asing.
Namun, pendapat atau pandangan berbagai kalangan itu (baik yang di
Indonesia maupun di luarnegeri) tentang masalah G30S masih berbeda-beda
bahkan ada yang saling bertentangan.
Sudah makin banyak dan beraneka-ragam pula bahan; informasi, atau data yang
disajikan kepada umum selama ini dari sumber orang-orang Indonesia (antara
lain : Omar Dani, Tumakaka, Subandrio; Manai Sophiaan, Kolonel A. Latief,
Roeslan Abdulgani, mantan menteri Sutomo, Setiadi, Siauw Giok Tjhan, Oei
Tjoe Tat, Heru Atmodjo, Sumarsono, Pramoedya Ananta Toer, A. Karim DP, Jusuf
Isak, dan masih banyak lagi nama-nama lainnya yang terlalu panjang untuk
disebut). Di samping itu, tidak sedikit buku yang sudah diterbitkan oleh
wartawan, sejarawan atau ahli-ahli asing mengenai Bung Karno, PKI, G30S,
Suharto dan rezim militer Orde Baru. Untuk sekadar menyebutkan sejumlah
kecil di antaranya adalah : Bob Hering, Peter Dale Scott, Noam Chomsky, Ben
Anderson, Joop Morien, Daniel Lev, John D. Legge, Prof. Wertheim, Audrey dan
George Kahin, Harold Crouch, Lambert Giebels, Cindy Adams.
Walaupun sudah banyak buku yang beredar tentang Sukarno, G30S, PKI, CIA,
Suharto dan Orde Baru, bangsa kita masih terus perlu terus-menerus
mempelajari sejarah bangsa di masa-masa yang lalu guna membangun hari depan
yang lebih baik bagi rakyat. Untuk itu berbagai macam tulisan, buku,
diskusi, atau perdebatan tentang soal-soal besar bangsa ini, senantiasa amat
diperlukan sebagai pendidikan politik dan peradaban bangsa, terutama bagi
generasi muda kita. Umpamanya: siapakah dan apakah Sukarno itu bagi bangsa
Indonesia ? Bagaimana kita patut menilai Sukarno ? Apa-apa sajakah segi-segi
positif dan negatif sosok Sukarno bagi bangsa ?
Mengenai G30S banyak pula aspek-aspek yang bisa dan perlu terus-menerus
dibahas. Apa itu sebenarnya G30S? Adakah peran Bung Karno dan PKI dalam
G30S? Sampai di manakah keterlibatan CIA dalam usaha menggulingkan kekuasaan
politik Sukarno? Bagaimana Suharto menghadapi presiden Sukarno dan G30S?
Mengapa Orde Baru begitu anti Sukarno dan anti-PKI? Apa G30S itu terjadi
karena ketololan PKI dan Sukarno?
YANG MEMBELA POLITIK SUHARTO .....
Mungkin saja, bahwa sebagian dari persoalan atau pertanyaan itu tidak akan
segera mendapatkan penjelasan atau jawaban, atau bahwa sebagian lagi akan
tetap menjadi misteri sejarah. Barangkali banyak hal akan menjadi lebih
jelas kalau di masa datang arsip militer (misalnya arsip Teperpu atau arsip
negara lainnya yang bersifat rahasia) tentang periode sebelum, selama dan
sesudah G30S dinyatakan terbuka untuk umum.
Meskipun banyak hal tentang G30S yang diajukan berbagai fihak masih bisa
dipertanyakan atau diperdebatkan kebenarannya, satu hal sudah jelas bagi
makin banyak orang, yaitu bahwa Suharto dkk sudah melakukan kejahatan
peri-kemanusiaan terhadap puluhan juta orang. Suharto dkk bukan saja sudah
membunuhi jutaan anggota dan simpatisan PKI – dan banyak simpatisan Bung
Karno - yang tidak bersalah apa-apa, tetapi sudah pula mengkhianati Bung
Karno dan membunuhnya secara politik dan secara fisik. Suharto dkk dengan
rezim militernya yang bernama Orde Baru (harap dicatat bahwa fasisme Hitler
yang anti-komunis juga suka memakai istilah Orde Baru) telah mencekik
kehidupan demokratis sesudah membasmi PKI secara biadab.
Berbagai pelanggaran, penindasan dan kejahatan yang sudah dilakukan oleh
rezim militer Suharto dkk selama lebih dari 30 tahun ini sudah terlalu
banyak dan juga terlalu jelas bagi banyak orang. Begitu jelasnya sehingga
kalau sekarang ada orang yang masih berani terang-terangan membela atau
membenarkan politik Suharto dkk maka dianggap sebagai orang aneh atau tidak
sehat nalarnya. Atau jadi bahan tertawaan.
Seperti sudah dibuktikan oleh sejarah, Suharto buknlah penyelamat Republik
Indonesia dan bangsa Indonesia, tetapi perusak Republik Indonesia. Titik.
Paris, 1 Juli 2003
* * *
|