|
| |
From: "Umar Said" <kontak@...>
Date: Thu Jun 19, 2003 4:57 pm
Subject: Pembusukan moral di kalangan elite kita amat parah
Catatan A. Umar Said
(tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak/ )
PEMBUSUKAN MORAL DI KALANGAN ELITE KITA AMAT PARAH
======================
Sebagai seorang yang sudah tinggal di Paris selama 29 tahun ( sejak 1974),
penulis merasa muak dan sekaligus naik darah membaca cerita tentang tingkah
laku delegasi MPR yang baru-baru ini berkunjung ke Paris. Menurut berita
itu, delegasi itu sebelum ke Paris sudah berkunjung ke London, Roma dan
Madrid, dan kemudian menuju negeri Belanda. Secara resminya, kunjungan itu
dilakukan dalam rangka « studi banding ».
Kunjungan delegasi MPR ke Paris ini, seperti yang dipaparkan Bisnis
Indonesia tanggal 17 Juni 2003 patut dijadikan masalah besar oleh berbagai
kalangan. Sebab, banyak aspek dari kunjungan ini yang menimbulkan citra yang
amat buruk tentang negara dan pemerintah Republik Indonesia, tentang
integritas moral dan politik kalangan elite bangsa kita. Pembusukan moral
yang terjadi selama rezim militer Orde Baru rupanya masih berlangsung terus
sampai sekarang, terutama di kalangan “atas”.
Negara kita sedang menghadapi kesulitan ekonomi yang besar, hutang
luarnegeri kita masih bertumpuk-tumpuk (di atas 100 milyar US$),
pengangguran mencapai sekitar 40 juta orang. Angka kemiskinan mencapai 35
juta orang, dan dari 35 juta jiwa 22 juta berada di pedesaan. Data pada 2001
mengungkapkan 55% dari penduduk miskin di Indonesia adalah petani (Sinar
Harapan 17/5/2003).
Ketika negara dan bangsa kita sedang menghadapi kesulitan-kesulitan yang
begitu besar itu kita membaca bahwa delegasi MPR yang berkunjung di Paris
menginap di Hotel Crillon yang tarifnya satu kamar antara Rp Rp 6,5 juta
sampai Rp18,5 juta per malam. Rombongan itu terdiri dari 21 orang. Bukan itu
saja ! Ada pula kisah tentang pemakaian mobil limousin super-mewah, yang
membikin banyak orang Perancis ternganga-nganga keheranan. Kita tidak tahu
apa sajakah yang sudah di”studi-bandingkan” selama tiga hari di Paris, dan
berapa pula pengeluaran untuk foya-foya ini. Juga tidak ada informasi
tentang “studi banding” yang dilakukan oleh rombongan tersebut di London,
Roma, Madrid dan negeri Belanda.
Untuk jelasnya, berikut di bawah ini disajikan kembali berita yang ditulis
oleh wartawan Bisnis Indonesia Rofikoh Rokhim, yang bertugas di Paris:
Anggota MPR berlimusin-ria di Champs Elysee
"Gilingan abis," ungkap Amy, pemuda berperawakan gemuk berumur 30-an tahun
ketika melihat serombongan warga Indonesia keluar masuk Hotel Crillon yang
terletak pas di jantung kota Paris, di pertemuan jalan protokol Avenue
Champs Elysee, Rivoli dan Place de la Concorde, Jumat malam lalu. "Itu hotel
kan untuk menginap tamu negara Prancis. Mahal sekali lho... Siapa orang
Indonesia yang nginap di situ. Nggak ada kata krisis ekonomi nih," timpal
Valerie, 25, warga Prancis yang sering berkunjung ke Indonesia untuk
kegiatan kemanusiaan di Kalimantan, Maluku dan Papua.
"Jangan berprasangka dulu, mungkin mereka pejabat dari Filipina, Thailand,
Kamboja, Malaysia atau Laos," sambung Rudi, 45, pekerja gelap asal Jawa
Tengah yang berprofesi sebagai petugas pembersih rumah dan restoran yang
tinggal di Paris lima tahun terakhir. Usut punya usut, ternyata rombongan
yang terdiri dari 21 orang itu adalah anggota Majelis Permusyawaratan Rakyat
(MPR) bersama istri, anak dan para staf.
Di hotel supermewah itu mereka menyewa beberapa jenis kamar, mulai dari yang
standar hingga suite room. Berapa tarif hotel itu per malam? Antara 655 euro
hingga 1850 euro atau Rp6,5 juta-Rp18,5 juta per malam. Bagi orang Prancis,
tarif kamar setinggi itu dianggap wajar karena memang hotel itu lebih untuk
tamu negara setingkat presiden atau perdana menteri. Tercatat pejabat
Indonesia yang pernah menginap di situ adalah Presiden Soekarno dan Presiden
Soeharto saat menjadi tamu negara pemerintah Prancis.
Presiden Abdurrahman Wahid, ketika menjadi tamu Presiden Jacques Chirac tiga
tahun lalu, tidak menginap di situ, tetapi di Hotel Intercontinental. Dan
ketika menerima penghargaan doctor honoris causa dari Universite Paris I
Pantheon Sorbonne, dia menginap di Hotel Nikko.
Selidik punya selidik lagi, ternyata menurut rencana para anggota MPR itu
berada di Paris selama tiga hari untuk urusan dinas, alias bertemu anggota
parlemen Prancis. Tapi apa lacur? Salah jadwal! Tidak satu pun anggota
parlemen yang dapat menemui rombongan MPR itu karena mereka berkunjung saat
weekend. Rupanya rombongan MPR itu sebelumnya telah berkunjung ke London,
Roma dan Madrid dan setelah Prancis, mereka akan melanjutkan perjalanan ke
Belanda.
"Ini road show yang memakan waktu, tenaga, pikiran dan dana yang tidak
sedikit karena bertujuan melakukan studi banding. Tapi mana ada pejabat
Prancis yang mau berdinas pada hari libur. Juarang buanget. Kalau niat
ya...hari kerja dong," komentar Valerie yang fasih berbahasa Indonesia itu.
Alhasil dikabarkan rombongan itu pun lebih memanfaatkan waktu untuk
leisure-misalnya nonton kabaret di Lido pada kelas VIP seharga 160 euro,
makan di restoran mahal kelas Fuquet dan belanja di toko bebas pajak Paris
Look. Tidak ketinggalan berfoto ria di Menara Eiffel dan Arc de Triomph.
Kritikan pedas dari orang Prancis tidak hanya berhenti sampai di situ.
Ketika Bisnis berada di Champs Elysee, jalan raya teramai dan terbesar di
Paris, pada Minggu siang, perilaku anggota MPR itu bikin heboh turis maupun
warga Prancis yang berdesakan di trotoar terbesar di dunia itu. Rupanya para
wakil rakyat itu menyewa dua limusin berwarna putih. Limusin masih dianggap
sebagai barang supermewah kendati di Prancis banyak orang kaya. Hanya
selebritis dan pebisnis saja yang mampu menyewanya.
Alhasil banyak orang terhenyak dan pingin tahu orang top atau selebritis
mana yang keluar dari restoran Cina itu. Tabrakan kecil dua mobil sempat
terjadi di Avenue Champs Elysee gara-gara pengemudi meleng karena ingin
melihat siapa yang akan keluar atau naik limusin putih itu. Siapa tahu Bruce
Wills, Nicole Kidman atau Tom Cruise atau Bill Gates. Lumayan kan kalau bisa
dapat tanda tangan atau potret bersama. Ternyata yang keluar adalah 16 orang
anggota MPR Repulik Indonesia, yang langsung berebut naik limusin. Sisanya,
para staf, naik mobil lainnya.
Menurut informasi, limusin tersebut disewa seharga 300 euro (Rp3 juta) hanya
untuk berkendara selama 15 menit dari Champs Elysee ke Gare du Nord, stasiun
kereta api yang menuju Belanda. Gile! Gill, 25, arsitek Prancis yang sering
datang ke Indonesia untuk mencari kayu mahoni dan jati dan kebetulan sedang
jalan dengan Bisnis pun takjub.
"C'est fou [Ini gila]. Katanya negara kamu sedang krisis dan minta
keringanan utang kepada negara lain dan pemerintah kami. Tapi lihat saja
pejabat kamu berlebihan di sini. Kami akan protes kalau negara kami memberi
keringanan utang pada negara kamu. Hemat dulu dong kalau mau minta
keringanan utang. Saya yakin mereka bukan tamu negara sebab pemerintah kami
sangat sederhana kalau memberikan jamuan,'' paparnya emosi.
Siapa yang membiayai pengeluaran itu semua. Kantong sendiri? Kaya sekali
para anggota majelis ini! Anggaran negara? Boros amat KBRI! Mana ada duit
sebesar itu. Swasta? Siapa? Apa kepentingannya? Kabarnya, sebuah bank negara
papan atas dan terbesar menyumbang pembiayaan itu- entah sebagai uang
entertainment, atau terkait tujuan politis tertentu, ataukah dengan tekanan.
Huwallahhuallambisawab!
Yang jelas, Ketua MPR Amien Rais, ketika berpidato di hadapan tukang becak
di Makasssar pekan lalu, menyerukan agar dalam pemilu nanti jangan memilih
partai yang anggotanya suka jalan-jalan ke luar negeri. Bahkan, Presiden
Megawati juga berpesan agar kita semua hidup sederhana. Rakyat berharap
kepergian para pejabat ke luar negeri untuk tujuan yang mulia, misalnya
melakukan lobi guna memecahkan kesulitan negara. Yang terjadi kok malah
sebaliknya?” (kutipan selesai).
· * *
KEJAHATAN MORAL DAN PEMBUSUKAN HATI-NURANI
Setelah membaca berita di atas, bisa orang bertanya-tanya, umpamanya :
Gejala apa ini semua? Mengapa bisa terjadi? Siapa yang harus
bertanggungjawab? Apa praktek buruk ini bisa dibiarkan terus? Apa yang harus
kita lakukan bersama menghadapi persoalan semacam ini?
Kasus rombongan MPR ke Paris (dan kota-kota besar Eropa lainnya)
mencerminkan kemerosotan moral yang tidak kepalang tanggung di kalangan
elite bangsa kita dewasa ini. Pembusukan hati-nurani ini sudah sedemikian
parahnya sehingga mereka tidak segan-segan untuk berfoya-foya dengan serba
mewah ketika bangsa kita di Sumatera, di Jawa, di Kalimantan, di Sulawesi,
di Maluku, di Nusa Tenggara, di Papua sedang mengalami kesulitan untuk hidup
sehari-hari.
Bagi para anggota MPR (atau DPR) menginap di Hotel Crillon di Paris yang
tarifnya paling rendah adalah selalu di atas 600 euro (atau kurang lebih Rp
6 juta) per kamar dan per malam adalah perbuatan yang tidak menimbulkan rasa
hormat. Sebaliknya, perbuatan ini mengundang cacian, umpatan, grundelan,
gugatan dan kemarahan orang banyak. Gugatan atau kemarahan ini adalah
berdasar dan adil. Sebab, mereka itu menamakan diri dan disebut-sebut
sebagai wakil rakyat. Gaji dan pengeluaran untuk pekerjaan mereka
ditanggung oleh nagara, artinya dari pajak yang dibayar –dalam berbagai
bentuk – oleh rakyat.
KEGIATAN EKSTRA-PARLEMENTER PERLU
Entah dengan cara apa, dan melalui jalur yang mana, dan dalam bentuk yang
bagaimana, perlu sekali rasanya adanya tuntutan dari berbagai kalangan untuk
diadakannya pengusutan atau pemeriksaan terhadap kasus rombongan “studi
banding” MPR ke London, Roma, Madrid, Paris dan Holland ini. Perlu
diselidiki apa betul mereka itu melakukan “studi banding” dan apa pula
hasilnya? Apa mereka itu dimana-mana selalu menginap di hotel yang
super-mewah seperti yang terjadi di Hotel Crillon Paris? Berapa pengeluaran
perjalanan rombongan MPR ini ke bebagai tempat itu?
Ini semua perlu dilakukan untuk dihentikannya penghamburan uang negara (yang
hakekatnya adalah uang rakyat) dengan perjalanan foya-foya di luarnegeri
dengan dalih “studi banding”. Karena perbuatan sejenis ini justru banyak
dilakukan oleh “wakil-wakil rakyat” (termasuk DPR dan DPRD) maka kontrol
dari masyarakat ini bisa dilakukan oleh organisasi-organisasi non pemerintah
(Ornop) atau LSM dan pers (termasuk lewat Internet). Ketika gejala
pembusukan parah sudah juga menyerang badan-badan legislatif, maka peran
kegiatan ekstra-parlementer adalah amat penting. Gerakan moral (dan gerakan
politik) ekstra-parlementer bisa dilakukan dengan berbagai cara dan bentuk.
Kesulitan-kesulitan besar yang dihadapi bangsa dewasa ini, adalah pada
dasarnya bersumber pada kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan Orde Baru
selama lebih dari 30 tahun di bidang politik, ekonomi, sosial, kebudayaan
dan.......moraL Pembusukan parah inilah yang sampai sekarang masih
diteruskan oleh sebagian dari elite kita. Banyak sekali ahli-ahli dan
orang-orang pintar yang bertitel sarjana (atau tidak) yang memegang
kedudukan penting, tetapi moralnya bejat. Dari mereka-mereka ini tidak bisa
diharapkan untuk bisa menanggulangi pengangguran yang 40 juta orang atau
memberantas korupsi yang merajalela di mana-mana. Orang-orang yang
berpandangan politik anti rakyat tidak mungkin melahirkan atau menyumbangkan
gagasan-gagasan besar untuk kebangkitan bangsa dari keterpurukan dewasa ini.
Paris, 19 Juni 2003
|