Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

From: Mario Gagho <gagho@y...> 
Date: Tue Apr 8, 2003 5:20 am
Subject: NU dan GAWAGIS: INOVASI dan HUMILITY

NU dan Gawagis: inovasi dan humility (2)
Oleh: Mario Gagho

Ringkasan tulisan lalu:
NU dg anggotanya yg sekitar 40 juta dan umumnya
terkonsentrasi di daerah pedesaan sangat kental
hubungan paternalistiknya dg kyai dan pesantren. Dg
demikian, maju atau mundurnya komunitas NU sangat
tergantung pada seberapa progresifnya para kyai itu
melihat perkembangan dan tuntutan zaman. Tak kalah
pentingnya dalam hal ini adalah generasi muda penerus
pesantren yg biasanya diwariskan pada putra-putra kyai
yg biasa dijuluki agus (jmk: gawagis) sebagai jembatan
antara generasi tua konservatif dan tantangan yg harus
dihadapi oleh zaman modern yg progresif. Krn. itu
gawagis memiliki peran yg sangat krusial yg akan
menentukan titik tolak masyarakat NU ke depan.
Bagaimanpun geniusnya seorang pemuda NU kalau dia
tidak memiliki darah Agus, maka akan sangat sulit
baginya untuk dapat mewarnai dan mentransformasi
kalangan NU pedesaan yg umumnya konservatif, seperti
yg pernah dituturkan Martin van Bruinessen dalam
wawancara dg Jurnal Pesantren beberapa tahun lalu. 

INOVASI

Apabila semua atau sebagian besar kalangan gawagis
memiliki kapasitas dan progresifitas seperti (gus)
Ulil Abshar Abdalla dalam melihat visi ke depan umat,
bangsa dan agama, saya yakin komunitas NU pada 10
tahun ke depan akan menjadi penggerak utama (main
forces) dalam pembangunan bangsa di semua lini
kehidupan.

Sayangnya (gus) Ulil hanyalah bagian kecil dari
kalangan gawagis yg begitu besar. Gawagis yg berpikir
searah dg Ulil atau yg terilhami pola pikirnya dapat
dihitung dg jari, dan itupun kebanyakan mereka yg
sudah atau sedang kuliah di luar negeri (umumnya di
timur tengah). Dan dapat dipastikan dari kalangan
gawagis luar negeri inipun tidak semuanya sepakat dg
cara berpikir Ulil.

Ulil sudah menjadi tokoh intelektual nasional saat
ini. Dan anugerah 'icon' dan 'stature' yg dia dapat
akan jauh lebih bermanfaat kalau dipakai untuk
bersilaturrahmi ke kalangan pesantren-pesantren -
khususnya pesantren besar yg kyainya punya massa NU
banyak - untuk mengkampanyekan ide-ide besarnya,
seperti yg biasa dilakukan Gus Dur. Karena bukan hal
aneh kalau sampai saat ini tidak banyak dari kalangan
gawagis yg belum pernah membaca ide-ide Ulil dan
bahkan tidak tahu Ulil itu siapa. Sampai saat ini saya
melihat 'diplomasi silaturrahmi' ke berbagai pesantren
ala Gus Dur merupakan satu-satunya cara paling efektif
untuk 'menaklukkan' hearts and minds para kyai dan
khususnya gawagis. 

Masalahnya mampukah Ulil berbuat itu, mengingat dia
tidak memiliki darah biru ke-agus-an sekental Gus Dur
yg notabene merupakan cucu the very founder of NU
which is highly respected in NU community?

HUMILITY

Satu hal yg paling dikeluhkan oleh kalangan progresif
NU non gawagis adalah mereka tidak dapat berbuat
banyak untuk membangun dan mempengaruhi masyarakat NU,
karena masyarakat tidak atau kurang memberikan
apresiasi pada pandangan, visi dan ide-ide kalangan
muda yg bukan dari kalangan gawagis. Pendapat ini
memang tidak salah. Seperti pernah dikatakan Martin
van Bruinsenn, bagaimanapun brilian-nya ide yg kita
miliki, hanya akan masuk telinga kanan dan keluar
telinga kiri apabila kita tidak memiliki privelege
darah gawagis.

Untuk itu, diperlukan sikap humility (tawadlu dan
lapang dada) dari kalangan gawagis, untuk menjadi
patron santri-santrinya yg memiliki potensi tinggi dan
berpikiran maju. Dan memberikan 'legitimasi' kepada
mereka. Bukan malah mengalienasikan kalangan yg
berpikiran maju ini. 

Bersikap humility bagi kalangan gawagis yg tidak
pernah hidup di luar di luar lingkungan pesantrennya
akan sangat sulit. Gawagis, as far as environment
goes, adalah tidak berbeda dg putra keraton yg hidup
dg berbagai privelege feodalisme: kemalasan,
kemanjaan, taburan pujian dari santri dan masyarakat
sekitar. Seorang yg tahu sedikit dasar ilmu psikologi
akan cepat menebak karakter seperti apa yg akan
dihasilkan dari seorang anak yg tumbuh dalam
lingkungan semacam itu: kebiasaan untuk menerima tanpa
harus memberi; kebiasaan selalu menuntut hak tanpa
peduli kewajiban; selalu menganggap semuanya itu sudah
menjadi status quo yg baik dan tidak perlu dirubah.

Karena itulah, merubah pola pikir para gawagis yg
konservatif-feodalist ke arah pemikiran yg
reformis-progresif adalah sama sekali tidak mudah. Dan
ini saya kira menjadi tugas para gawagis progresif
semacam Ulil dkk untuk mengimplemantasikannya. Dan
mengingat tantangannya yg sangat berat, tentunya Gus
Dur dapat dijadikan konsultan yg sangat baik dalam hal
ini. 

Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India


From: "noval_72" <noval_72@y...> 
Date: Wed Apr 9, 2003 3:07 am
Subject: Re: NU dan GAWAGIS: INOVASI dan HUMILITY

Mario,
Kritik anda sungguh sangat tajam sekaligus sangat arif dalam 
memandang fenomena 'Gus' pada NU. Memang begitulah faktanya. Kyai 
beserta anaknya (Gus atau 'lora' dalam bahasa Madura) sudah lama 
menjadi kaum elitis di dalam masyarakat NU. Sementara rakyat awam 
seperti hidup di bawah 'ceiling glass', yang hanya mampu menatap 
posisi elit tsb tanpa pernah bisa mencapainya. Hal ini lain sekali 
dengan Muhammadiyah misalnya yang sangat egaliter dan tidak pernah 
mengenal gus-gusan. Tidak ada anak seorang ketua Muhammadiyah baik 
itu ketua PP, PWM, PDM, PCM, maupun PRM yang serta merta dihormati 
atau minta dihormati oleh warga Muhammadiyah.
Namun setelah saya baca sampai habis tulisan anda, tidak satupun 
solusi yang anda tawarkan yang mengarah pada penghapusan fenomena gus 
tadi. Padahal sudah jelas kalau fenomena tsb adalah tidak sehat. 
mestinya fenomena gus di tubuh NU sudah mulai dikikis dengan mengubah 
pola fikir bahwa setiap manusia itu dilahirkan sama derajatnya. Dan 
orang-orang seperti andalah yang mestinya mempeloporinya, jangan 
menaruh harapan pada Gus Dur. Alih-alih berusaha menghilangkan 
fenomena gus, Gus Dur malah menikmatinya kok...


From: "Mario Gagho" <gagho@y...> 
Date: Wed Apr 9, 2003 2:17 pm
Subject: Re: NU dan GAWAGIS: INOVASI dan HUMILITY

--- In kmnu2000@yahoogroups.com, "noval__72" <noval_72@y...> wrote:
> Gus Mario,
*** bung noval, terima kasih atas sebutan "gus" di depan nama saya 
saya memang ingin sekali mendapat julukan itu seandainya saya 
punya "hak". sayangnya setelah saya tes darah, darah saya masih 
merah. tidak biru. jadi gimana kalau anda saja yg saya panggil gus 
noval? :p
> solusi yang anda tawarkan yang mengarah pada penghapusan fenomena 
gus tadi. 
*** tunggu tulisan saya berikutnya. stay tuned. :)
> jangan menaruh harapan pada Gus Dur. Alih-alih berusaha 
menghilangkan fenomena gus, Gus Dur malah menikmatinya kok...

*** yg saya maksud minta konsultasi ke gus dur bukan dalam soal 
gawagis an sich, tapi trik2 silaturrahmi gus dur dalam melobby para 
kyai itu yg perlu. untuk selanjutnya kan terserah gus Ulil, dan gus2 
lain yg sepaham untuk memasukkan "umpan"-nya. 

last but not least, thanks atas komentar anda. 

salam,
Mario Gagho
Political Science, Agra University,
India

BACK

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1