Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

From: Mario Gagho <gagho@y...> 
Date: Sat Sep 21, 2002 2:35 pm
Subject: topik minggu ini: menyikapi suatu berita di media

Akhir2 ini kita dijejali oleh berita adanya teroris yg bercokol di indonesia yg
sampai masuk headline majalah berpengaruh amerika TIME, menyusul ditangkapnya
alfaruq, warga kuwait yg berdomisili dan menikah dg wanita indonesia (liat
postingan faruq sayinasnain). tak kurang adanya tuduhan sebuah pesantren yg,
konon, punya link khusus dg al-qaeda pimpinan osama bin laden.

bagaimana sebaiknya kita, sebagai kaum terpelajar, dalam menyikapi kebenaran
atau kebohongan berita semacam ini? sebab, yg namanya berita selalu ambigu,
ambivalen atau mengandung dua kemungkinan: benar/bohong atau tidak semuanya
bohong/tidak semuanya benar. atau haruskah kita yg sudah atau sedang mengenyam
bangku kuliah ini bersikap seperti apa yg disebut dalam istilah jurnalistik dg
"floating mass" atau massa mengambang? massa mengambang adalah kalangan
mainstream rakyat yg sangat kurang aksesnya terhadap informasi, sehingga
kalangan ini dapat bersikap percaya pada semua berita atau tidak percama sama
sekali, tergantung pada siapa provokatornya. :) tentunya mahasiswa atau yg
pernah jadi mahasiswa sangat tidak layak menjadi 'floating mass'.

dalam konteks ini saya jadi teringat pada masa pelatihan jurnalisme pada acara
MTA ppi india, yg dibawakan oleh chief editor majalan milli gazette terbitan
new delhi, Dr. Zafarul Islam Khan, medio agustus lalu. waktu itu seorang
peserta pelatihan, kalau tidak salah mas ngandrianisasi juga menanyakan hal yg
sama: bagaimana cara kita bersikap terhadap suatu berita (jawaban dari
Dr.Zafarul Islam, silakan tanya ke sdr Rizqon Khamami, yg waktu itu menjadi
moderator dg medium tiga bahasa: arab, inggris, bahasa indonesia).

dalam pandangan saya pribadi, berita yg khususnya berasal dari media, secara
simple dapat dibagi dalam dua kategori. 1. berita politik atau yg bernuansa
politis, artinya berita yg menyangkut negara, hubungan antar negara, dll; 2.
berita non politik, yaitu berita keseharian, seperti kriminal, perkawinan, dll.

Dalam menyikapi berita non-politis, saya kira tidak terlalu sulit: begitu
berita itu kita baca (apalagi kalau tidak didukung dg bukti2), maka yg
sebaiknya kita lakukan adalah cukup menerimanya secara netral. artinya tidak
keburu membenarkan atau menyangkalnya. sampai datang berita2 berikutnya yg
memperkuat kebenaran/kebohongan berita tersebut.

Akan tetapi dalam hal berita yg bernuansa politik, masalahnya jelas tidak
sesederhana itu. karena dalam dunia politik tidak jarang yg ada adalah
"kepentingan" (interest) strategis orang2 tertentu atau negara2 tertentu
terhadap orang atau negara lain, seperti dalam kasus menjadi 'headline'-nya
berita terorisme di indonesia di majalah TIME tsb. krn bukan rahasia lagi,
bahkan di negara2 demokratis seperti amerika-pun (konon lagi di negara2
otoriter, seperti indonesia era suharto) tidak jarang terjadi kolusi antara
wartawan dan pejabat (baca otobiografi mantan pemimpin redaksi harian Amerika,
The New York Times, yg saya lupa namanya, berjudul Good Life. yg mengisahkan
kedekatan sang pemred dg kalangan intelijen amerika semacam CIA dan FBI, dan
pejabat2 penting yg lain).

Dalam berita2 politis, khususnya yg bersumber dari media Barat, kita memang
mesti selalu berhati-hati dalam menyikapi. sebab dalam berita politis, selalu
ada something under the line, selalu ada tujuan2 tertentu di balik pemberitaan2
yg memojokkan dunia ketiga atau negara2 non-Barat. untuk itu, diperlukan
berita2, atau analisa2 'tandingan' dari pakar2 politik negara2 berkembang.
karenanya, posting dari sdr. sahan shah mengomentari tuduhan terorisme yg
ditulis oleh pakar politik indonesia, Reza Sihbudi sungguh penting untuk
sedikit membuka tabir ttg. something under the line dari berita terorisme tsb.

yg terakhir, sekedar tambahan info buat yg belum mengetahui, bahwa media dunia
saat ini termasuk media2 indonesia mayoritas dari berita internasionalnya dan
(sebagian) berita2 nasional-nya itu bersumber dari tiga kantor berita besar
dunia yaitu: (1) kantor berita AP (Associated Press) milik Amerika; (2) kantor
berita Reuter, milik Inggris; (3) kantor berita AFP (Association Francais
Press), milik negara Prancis. ketiga kantor berita besar dunia ini memiliki
wartawan2 dalam jumlah yg memadai hampir di seluruh dunia. dan mereka menjual
berita2 yg berhasil mereka himpun pada seluruh media cetak maupun elektronik di
seluruh dunia yg mau berlangganan, termasuk media2 indonesia. bila anda membaca
berita di harian Kompas, Republika, Waspada, Jawa Pos, dll, maka di akhir
berita biasanya dalam kurung disebut sumber beritanya (reuters/AP/AFP). itu
artinya berita tersebut didapat alias dibeli dari salah satu kantor berita tsb.

poin yg ingin saya ungkapkan adalah bahwa dalam dunia media, baik cetak maupun
elektronik, sumber2 beritanya betul2 dikuasai oleh barat: amerika dan
konco2nya. krn. seluruh dunia mendapat suplai berita dari mereka, maka tidak
heran kalau opini manusia di seluruh duniapun bisa disetir, diatur dan
dikendalikan oleh ketiga kantor berita di atas. 

demikian semoga ada yg nambahin.


Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India

BACK

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1