|
| |
From: Mario Gagho <gagho@y...>
Date: Mon Oct 7, 2002 11:42 am
Subject: Cak Nur : penguasa lapang dada thd kritik, biarkan rakyat berbicara
ada dua poin dari ungkapan cak nur di Gatra yg perlu digaris bawahi dan saling
berkaitan. pertama, "dalam 10 tahun lagi akan berbeda dengan kondisi saat ini
kalau semua komponen bangsa mau bersabar untuk mempertahankan kebebasan." dan
kedua "Karena itu kita harus ngomong terus. Karena memang semua itu dimulai
dari `sabda` (kata) atau dimulai dari ide. Ide atau pemikiran yang logis itu
akan mempunyai kaki dan tangan yang bisa menyebar".
PERTAHANKAN KEBEBASAN, kata cak nur ini lebih tertuju pada siapa saja yg lagi
berkuasa di indonesia, agar tidak menekan rakyatnya yg lagi mengungkapkan
segala kritikannya pada mereka. ungkapan ini saya kira juga ada hubungannya dg
kata2 presiden megawati baru2 ini di afrika selatan (?) yg intinya dia merasa
"sakit hati" dg berbagai kritikan media dan masyarakat (yg diwakili para
penulis di media dan demo2) soal tki/tkw yg menyudutkan megawati. seorang
rakyat yg sakit hati tentu tdk masalah, akan tetapi seorang pejabat yg 'sakit
hati' tentunya, dan dikhawatirkan' akan memiliki dampak sampingan yg tidak
kecil apalagi kalau yg sakit hati itu pejabat tertinggi negara . kalo sakit
hati bu mega ini bisa disalah tafsirkan oleh aparat keamanan di bawahnya, maka
ia bisa bermakna akan terbelenggunya kemerdekaan berpendapat masyarakat, dan
itu akan berakibat 'pengulangan sejarah orde baru' yg menyakitkan, di mana
tidak seorangpun yg bernyali tanggung (apalagi yg pengecut) akan mengungkapkan
ide2nya untuk pembangunan bangsa ini. unfortunately, yg namanya masyarakat,
umumnya memang bernyali tanggung atau di bawah dari itu. (silahkan rewind balik
kaset rekaman anda era suharto).
nah kalau pemerintah masih bisa MEMPERTAHANKAN KEBEBASAN warganya untuk
berpendapat apa saja, maka poin terpenting berikutnya dari ungkapan cak nur
adalah: RAKYAT INDONESIA, TRUSKAN BERBICARA, UNGKAPKAN IDE2, TANPA RASA TAKUT
DI GEBUKIN, DI INTEROGASI MACEM2, DICEKAL EKONOMI DAN FISIKNYA, DIPERSULIT
SEGALA URUSAN2 YG BERKAITAN DG BIROKRASI, DLL.
seorang pejabat yg sedang berkuasa, atau bahkan seorang ketua sebuah organisasi
sekalipun akan cenderung defensif dan apologetik (berkilah) apabila dikritik
atau malah menyerang balik dg kata2 yg bahkan kurang menggunakan discretion-nya
dan cenderung klise. kita sering mendengar ungkapan orang2 yg lagi berkuasa:
"enak aja kalian ngomong, ngomong emang gampang, coba kalian sendiri yg duduk
di sini, belum tentu kalian sanggup" atau "kalian bisanya ngomong saja", atau
"kalian ini bisanya cuma NATO (no action, talk only)", dll.
persepsi salah semacam inilah yg ingin didudukkan oleh cak nur pada posisi yg
benar. pejabat, atau siapapun yg lagi memegang kekuasaan baik manajer, ketua
organisasi, dll, dipercaya dan dipilih (langsung atau tidak langsung) oleh
rakyat UNTUK BEKERJA dg baik, efektif dan efisien. dan dia dibayar untuk itu dg
uang rakyat. krn. rakyat di sini posisinya sebagai pihak yg mengangkat dan
memilih maka rakyat tentu saja berhak untuk menegur, mengkritik pejabat tsb.
dan pejabat tentu saja kurang pantas kalau menyerang balik rakyatnya dg kata2
seperti yg sudah disinggung di atas.
alasan cak nur jelas, rakyat menegur dan mengkritik adalah tanpa pretensi
tujuan2 tertentu selain murni untuk kebaikan bersama, kebaikan organisasi besar
yg bernama Indonesia.
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, Indi
BACK
|