Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

From: Mario Gagho <gagho@...> 
Date: Fri Mar 21, 2003 4:39 am
Subject: NU dan GAWAGIS

NU dan Gawagis

saya cukup berbesar hati melihat perkembangan intelektual rekan-rekan muda NU
yg sangat dinamis akhir-akhir ini. To be honest Muhammadiyah legged far behind
in this regard. Dimulai dg munculnya pemikir muda Ulil Abshar Abdalla yg dalam
setiap tulisannya di media sering mengatas namakan Lakpesdam NU dibanding
sebagai pelopor Islib, memberi motivasi besar bagi kalangan intelektual muda yg
lain untuk mengikuti jejaknya. Pengaruh Ulil tidak hanya meinginspirasi
kalangan intelektual NU dari kalangan IAIN, tapi juga - dan ini yg penting -
dari kalangan Al-Azhar Cairo yg biasanya cenderung konservatif. Momentum ini
tidak hanya perlu dipelihara tapi juga harus terus dikembang biakkan sebagai
cikal bakal dari Islam Indonesia yg pluralis dan menyejukkan bagi segenap
komponen bangsa. Khususnya mengingat realitas bahwa mayoritas muslim di
pedesaan berada di bawah bendera NU, terutama di Jawa. 

***

Sebagaimana dimaklumi bersama masyarakat NU mayoritas berada di pedesaan dan
mereka umumnya berada di bawah "kekuasaan" para kyai pemilik pesantren yg
relatif independen dalam struktur organisasi. Pesantren dg demikian merupakan
"kerajaan-kerajaan" kecil yg pengaruhnya terhadap warga sekitar, tidak jarang,
lebih besar dari CEO PBNU itu sendiri. Di samping Kyai sebagai "Raja" di
pesantren-nya, terdapat heir-to-the-throne (putra mahkota) yaitu putra kyai, yg
di jawa timur dan jawa tengah dipanggil Agus/Gus (jamak: gawagis), di Madura
Lora (jamak: lawari), sedang di jawa barat Akang (jamak: kawangi [?])

Berjalannya wacana intelektual NU dalam bidang "islam plural" yg sedang
berjalan dinamis saat ini saya lihat masih terbatas dalam tataran puncak
(PBNU), tapi belum merambah pada kalangan pesantren2 yg nota-bene justru
sebagai the real power, back bone atas eksistensi kebesaran NU itu sendiri.
Berdasarkan kunjungan saya ke berbagai pesantren saya mengambil kesimpulan
bahwa wacana2 yg berjalan di Website milik NU-pun saya lihat masih lebih banyak
diikuti oleh kalangan santri2 non-gawagis. Para gawagis sebagai calon pemegang
tampuk kepemimpinan pesantren -umumnya- masih belum menampakkan perubahan dari
sikap2 tradisionalnya: puas dg status quo, enggan perubahan dan tampak masih
"menikmati" ke-agus-annya (to say the least). Ini artinya, hasil dari wacana2
bermutu dari kalangan muda NU ini tidak akan pernah sampai dan mempengaruhi
kalangan nahdliyyin di pedesaan, karena pintu gerbang satu-satunya menuju ke
sana, yaitu para gawagis,tidak/belum terbuka. 
***
Karena itu betapa penting dan pivotal-nya peran para gawagis di tubuh NU
sebagai penyampai pesan pada kalangan nahdliyyin pedesaan, maka diperlukan
langkah2 untuk "membawa" mereka seirama dg lokomotip NU. Langkah2nya tentu saja
kalangan puncak nahdliyyin lebih tahu.

salam, 
Mario Gagho
Political Science,
Agra University, India

Komentar artikel di atas:

From: "desa ranjani" <desaranjani@p...> 
Date: Sun Mar 23, 2003 10:22 am
Subject: Re: [kmnu2000] NU dan GAWAGIS

sebenarnya mereka udah nimblung di Website. bahkan Website 
ini. sebagaimana ciri khas NU yang aku ketahui, mereka 
terutama anak sang raja tak kan mau identitas mereka 
diketahui. mereka lebih suka dikenal sbg orang biasa. 
maklumlah perkembangan pemikiran pemuda NU sekarang ini 
cenderung liberal.

From: mohammad yusuf <yusufiyi@y...> 
Date: Sun Mar 30, 2003 4:37 pm
Subject: Re: [kmnu2000] re: NU dan GAWAGIS

assalamualaikum warohmatullohi wbarokatuh.

mas mario, mohon tanya, sampean ini percaya sama
teologinya Asari, apa tidak, jika percaya, hati-hati
nanti KUALAT.
pertanyaan berikutnya, ada nggak mahasiswa asal
Blitar di India ???.
Terima kasih atas jawabanya, jika kenal salam sama
amri medan...
wasalam.
M.yusuf.A.S 

From: Mario Gagho <gagho@y...> 
Date: Thu Mar 27, 2003 1:45 am
Subject: re: NU dan GAWAGIS

desa ranjani (mbak/mas?), 
saya tahu ada sejumlah kecil gus dan lora di Website ini, dan mereka umumnya yg
lagi studi di cairo. sementara kalangan mayoritas gus dan lora ini bahkan tidak
mengenal yg namanya internet, apalagi mailing list. :) dan anda jgn heran kalau
tidak sedikit dari mereka tidak baca koran! sehingga yg namanya ulil -pun
mereka dengar dari kuping ke kuping!

tentu sebagian kecil lora/agus ini akan punya makna dalam konteks masa depan NU
secara makro kalau mereka dapat memberi pengaruh dan pencerahan pada kalangan
lora/agus lain yg masih illiterate dalam dunia wacana. 

secara faktual, seperti yg saya singgung dalam tulisan singkat saya di Website
ini, para lora/gus memiliki otonomi khusus di pesantren masing2 yg bahkan
terkadang tidak ada hubungan vertikal sama sekali dg struktur NU, walaupun
kalau ditanya mereka itu mengaku NU (baca: bukan muhammadiyah). hubungan antar
lora/agus-pun hanya terbatas pada hubungan silaturrahmi, bukan hubungan
interaksi yg saling mempengaruhi.

asal anda tahu saja, di kalangan pesantren di pedesaan, masih banyak yg
menganggap main internet itu tabu bagi para santri (apalagi gus/lora) dg cap
tabu ini itu artinya mereka yg suka main internet akan kurang dihargai alias
"muru'ah" (dignity)-nya dipertanyakan. :)

salam,
mario gagho
political science
Agra University, India

BACK

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1