|
| |
From: "Budhisatwati J.KUSNI" <katingan@club-internet.fr>
Date: Mon Jul 7, 2003 11:08 pm
Subject: RESIKO MENJADI SIPIL DI ACEH
PENGANTAR JJ.KUSNI
Pengirim posting ini adalah seorang putra Aceh yang tadinya tinggal di Jawa.
Kemudian ia dipanggil pulang oleh keluarganya yang sebagian telah hilang tanpa
tentu rimba dan laut hilangnya. Sebelum pulang ke Aceh, pengirim posting di
bawah ini melalui Website kmnu2000@yahoogroups.com mengatakan bahwa jika dalam
tiga minggu di bulan Juli ini, ia tidak berberita berarti ia telah menyusul
sanakkeluarganya yang hilang.
Di bawah ini adalah kesannya ketika ia sudah berada di Aceh.
Paris 2003.
Sumber: "Bustamam-Ahmad Kamaruzzaman" <bakbudiklon@...>
Resiko Menjadi menjadi sipil di Aceh
Date : mardi 8 juillet 2003 04:18
Salam,
Saya sekarang di Atjeh tepatnya di Lhokseumawe.
Pemandangan sehari-hari adalah aparat memukul rakyat
sipil. Di beberapa titik ditemukan pemukulan yang
dilakukan aaparat keamanan. Ada pengalaman yang unik,
dimana setiap terjadi pengejaran yang dilakukan oleh
aparat, sering rakyat yang tidak tahu apa2 menjadi
sasaran.
Sedih juga melihat orang Kampung yang dibombardir
melalui pesawat tempur TNI. Di titik-titikyang diduga
GAM, pesawat meraung-raung. Rakyat sipil yang merana.
entahlah, sampai kapan derita rakyat Aceh ini
berakhirrrr.
Saya sangat sedih sekali melihat penderitaan mereka
dari dekat. ada yang rumahnya dijaraha. Belum lagi,
pungutan liar yang diminta oleh Brimob di pinggiran
Jalan yang kalau ada salah sedikit,para supir bisa
ditendank atau ditonjok.
Ternyata saya sendiri gak bisahabis pikir, bagaimana
menyelesaikan konflik Atjeh ini melalui darah.
Belum lagi, kekerasan yang dilakukan oleh GSA terhadap
warga yang dimintai KTP atau diduga cuak. Mereka
sekarang juga terjepit.
Kalau boleh dibilang, OPMIL kali ini lebih terbuka
daripada DOM.
Sekarang rekayasa atau skenario cukup menjadi teman
dekat konflik di aceh.
saya selalu berdoa, agar penderitaan rakyat Aceh
segera berakhir.
wassalam,
Mas Kamal di Lhoksemuwe.
|