Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

MENCARI POLISI DI EROPA
Oleh: Z Afif

Member Website Ppi India, tinggal di Swedia


Kala Sutan Sati bertolak dari rumahnya di Solok, Sumatra Barat, 
niat itu sama sekali tidak terlintas di hatinya. Yang difikirkannya 
hanyalah buah tangan yang akan dibawanya untuk anak-anak, cucu-
cucu dan menantu-menantunya. Sedangkan perasaannya mengutik, 
apakah olih-olihnya berupa pakaian Minang, barang kerajinan tangan 
tradisional pantas untuk mereka yang hidup di Eropa, yang begitu 
moderen dan berkecukupan? Tetapi itulah lampiasan rindu dan kasih 
sayang dalam bentuk materi yang mampu dihadiahkannya.

Sutan belum punya pengalaman ke luar negeri. Beliau juga tak faham 
bahasa asing. Di dalam bis yang membawanya menuju Jakarta, pertanyaan 
yang berkecamuk dalam kepalanya tentang apa yang akan dihadapi menuju 
dan memasuki negeri tempat anak-anaknya bermukim. Akankah dihadang 
oleh budaya buruk yang dialaminya selama ini di negerinya sendiri? 
Memikirkan soal ini, tampak wajah tuanya melewati tujuh puluhan menjadi 
begitu gugup.

Banyak pengetahuan dan pengalaman diperolehnya dalam perjalanan 
bolak balik sepanjang jalan raya lintas Sumatra dari Solok ke Jakarta 
maupun jurusan Pakan Baru dan Dumai di Riau, tempat anak-anaknya 
bekerja dan menetap. Pada masa kecilnya, Sutan telah sering mendengar 
cerita orang-orang dewasa atau tua tentang penyamun. Manakala orang 
mengadakan perjalanan darat antara Tapanuli-Bengkulu, antara Bengkulu-
Palembang, Palembang-Pakan Baru, Bengkulu-Pakan Baru, harus siap 
bertarung dengan gerombolan penyamun. Hal ini telah banyak ditulis dalam 
surat kabar masa itu. Juga menginspirasi sasterawan yang menulis roman, 
cerita bersambung dan cerita bergambar tentang penyamun. Sutan Takdir 
Alisyahbana, pengarang Pujangga Baru, telah mengarang roman 
Anak Perawan Di Sarang Penyamun.

Tetapi di negeri yang katanya merdeka sekarang ini, penyamun tidak lagi 
hanya di kawasan sepi, jauh dari kota, melainkan terpusat di kota-kota, di 
jawatan-jawatan bahkan dikendalikan dari markas polisi dan TNI. Setelah 
dibangun jalan raya lintas Sumatra, ternyata yang lebih populer bukan lagi 
bahaya penyamun, melainkan bencana pungli (pungutan liar) atau ancaman 
lainnya dari makhluk berseragam resmi. Sutan melihat dan mengalami 
sendiri, tingkah yang tidak senonoh, memalukan, hina, bahkan sangat 
menjijikkan yang dilakukan aparat keamanan negara terhadap supir, 
penumpang dan pemilik kendaraan yang melintasi jalan itu. Bagi Sutan 
dan orang-orang awam, kata "keamanan" atau "diamankan" dari aparat 
negara sudah berubah arti menjadi malapetaka. Bila mereka ucapkan "demi 
penegakan hukum" berarti ada yang bebak belur dihajar tanpa proses 
pengadilan dan tidak tahu apa kesalahannya. Sedangkan kata "damai" 
dalam kamus polisi bermakna terancam ketenteraman jiwa, hilang hak 
milik, terkuras isi kantung korbannya.

Dahulu, ayahnya bilang: "Waang tahu, polisi tu anjieng negara!" Karena, 
kisah ayahnya: "Penjajah menggunakan polisi bagaikan anjieng penjaga 
rumah tuannya."

Kemarahan ayah Sutan kepada polisi beralasan. Ayahnya tinggal di luar 
kota. Memelihara beberapa ekor lembu. Lembu-lembu itu sering dilepaskan 
begitu saja, bila tidak dipakai untuk menarik bajak atau gerobak. Polisi 
menggunakan kesempatan itu. Lembu itu dihalaunya masuk ke wilayah 
kota. Jadi mereka punya dalih menangkap lembu itu dan membawanya ke 
kantor polisi. Kemudian diminta pemiliknya untuk menebus kembali lembu 
itu. Pemiliknya didakwa telah melanggar peraturan kotapraja, melepaskan 
lembunya ke dalam kota. Maka dikenakan delik hukum. Sutan juga 
mendengar kejadian-kejadian tentang polisi mematai-matai orang-orang 
pergerakan kemerdekaan. Aparat penjajah itu membuat rekayasa untuk 
menangkap mereka dengan tuduhan sebagai pengacau.

Oleh sebab itu Sutan dan saudara-saudara lelakinya diperingatkan oleh 
ayahnya: "Kalau kalian besar nanti, jangan sekali-kali menjadi polisi! 
Jangan anak-anak ambo menjadi anjieng negara!"

Penjajah sudah diusir oleh rakyat. Tetapi rakyat masih mengalami gigitan 
alat negara, yang berlindung dalam pori-pori kosa kata "aparat keamanan". 
Mereka mencari-cari kesilapan pengemudi bis, truk, mobil dan sepeda 
motor sebagai landasan hukum mereka untuk memerasnya. Walaupun 
sudah ada pos polisi lalu lintas, di mana para pengemudi harus menyetor 
upeti, tetapi pada jarak antara satu pos dengan pos lainnya muncul lagi 
siluman sejenis, yang liar dan menodong pengguna jalan raya.

Menurut Sutan, agar aman dari penyamunan itu, maka para pengemudi 
truk memasang penangkal. Di depan truknya dengan huruf besar-besar 
ditempelkan nama perusahaan milik anak Presiden Jenderal TNI AD Haji 
Muhammad Suharto atau nama anak-anaknya seperti Tommy, Bambang, 
Tutut, Sigit, Titiek. Kalau melihat nama-nama angker itu, aparat keamanan 
hanya senyum kecut saja. Dalam hatinya mengumpat: "Sial punya 
pengusaha penguasa!"

*****

Sutan Sati selamat dan sehat mendarat di bandar udara Paris. Saat hendak 
melangkah ke luar pesawat merayap rasa waswas, apa akan dilakukan 
petugas Perancis di pintu keluar? Apa yang akan ditanyakan dan diperiksa? 
Bagaimana menjawabnya dan dengan bahasa Indonesia apakah mereka 
faham? Kalau ada yang salah apa sanksinya? Benarkah apa yang telah 
diceritakan anak-anaknya?

"Ayah tidak perlu kuatir! Paris bukan Jakarta. Tidak ada pungli di pabean. 
Keamanan Ayah terjamin. Yang penting surat-surat Ayah yang diperlukan 
ada di tangan."

Tetapi Sutan bukan tidak pernah menyaksikan di layar tivi atau membaca 
di surat kabar, juga mendengar cerita orang tentang kekacauan dan 
kejahatan di bandar udara di negeri-negeri Eropa dan Amerika, yang dilakukan 
oleh kaum teroris atau penjahat lainnya. Sutan berdoa dalam hati, moga-
moga yang dikatakan anak-anaknya itu benar semuanya!

Ada sedikit perasaan letih karena kejauhan dan kelamaan dalam pesawat. 
Tetapi keletihan itu tersapu dengan perasaan riang, sebab segalanya lancar 
dan lebih-lebih lagi segera bersua dengan anak, cucu-cucu dan menantu 
yang selalu dirindukan yang datang menjemputnya. Dengan mobil yang 
dikemudikan cucunya, Sang Atok dibawa langsung ke rumah anaknya. 
Berbagai pertanyaan yang diluncurkan anak, menantu dan cucunya-cucunya 
sepanjang jalan tentang pengalaman perjalanannya dan keadaan sanak 
keluarga dan kampung halaman, dijawabnya seperti asal saja untuk 
memuaskan perasaan mereka. Fikirannya hanyut ke luar mobil mengamati 
suasana sekitar, seperti menyimpan suatu rahasia dan sedang menyelidiki 
sesuatu yang hanya hatinya sendiri yang tahu.

Setelah sepekan di Perancis, Sutan dengan diantar oleh menantunya 
berangkat ke Swedia untuk menjenguk anak bungsunya.

Tatkala menantunya meminta paspornya dan akan membeli karcis pesawat 
terbang ke Swedia, Sutan terlompat dari duduknya dan berseru: "Jangan! 
Jangan! Ambo tidak mau naik kapal terbang!"

"Ayah," sambar anaknya, "Swedia itu jauh nun di ujung langit utara sana. 
Harus menyeberangi laut dan melintasi beberapa negeri. Ayah akan sangat 
capek dengan perjalanan darat yang lebih daripada sehari semalam."

"Memang, dengan kapal terbang akan lekas sampai. Tapi apa nan dapat 
ambo lihat? Awan? Bosan ambo melihat awan selama terbang dari 
Jakarta ke sini. Waang tahu, sekali melihat, jauh lebih berarti daripada 
sepuluh bahkan seratus kali mendengar. Tahu tidak?!" Sutan menyengat.

Anak dan menantunya terpolongo dan kaget. Tidak menduga Sang Ayah 
akan segarang itu. Mereka pun putar otak, menggali cara untuk membujuk 
ayahnya agar mau naik pesawat demi usia tua dan kesehatannya. 
Sebab beliau ada sedikit gangguan pada jantungnya. Mereka tahu bahwa 
ayahnya bukanlah orang yang mudah dibelokkan kata putusnya, kalau 
alasan yang dipakai tidak masuk akalnya. Bahkan kakeknya dahulu tidak 
mudah mengubah fikiran ayahnya itu, kalau sudah mengambil suatu 
keputusan yang dianggapnya betul.

"Beginilah, Yah, separoh-separoh saja," menantunya, lelaki berdarah 
Ambon menawarkan jalan tengah.

"Apa maksudmu ītu?" 

"Kita naik pesawat ke Denmark. Dari Denmark naik bis atau keretapi ke 
Stockholm, ibu kota Swedia," menantunya menjelaskan dengan hati-hati.

"Kamu tahu, ambo īlah biasa naik bis bolak-balik Solok-Jakarta. Ambo 
tidak mau main setengah-setengah," tukas Sutan yang masih dalam 
gelegak mendidih.

"Maksud kami, Ayah, agar Ayah jangan sampai kelelahan di jalan dan 
segar bugar sampai di rumah si Nurmala. Kalau kesehatan Ayah terganggu, 
nanti mereka sekeluarga yang susah. Apalagi Mala sedang hamil lagi. 
Sebab perjalanan dengan bis lebih daripada tiga kali lipat jarak Solok-
Jakarta," anaknya mencoba bujuk.

"Ambo mau tahu, kalau dengan bis berapa negeri akan kita lalui hingga 
ke tempat si Nurmala?", angin sepoi Sutan mulai bertiup.

"Itu tergantung pilihan kita. Lewat Belgia, Jerman, Denmark atau lewat 
Belgia, Belanda, Jerman, Denmark. Tapi keduanya nonstop. Artinya 
tidak berhenti menginap di jalan," jawab menantunya yang mencoba 
sisipkan maksud agar Sutan mengendorkan tuntutan mutlaknya.

"Ambo mau lewat jalan kedua. Dengan bis. Jangan dengan keretapi. 
Ambo mau lihat lebih banyak selagi masih hidup dan untuk ambo 
bawa pulang kepada orang sekampung!"

Anak dan menantunya saling bertatapan. Tampak ragu dan bingung. 
Kemudian sang suami mengedipkan mata pada isterinya, agar jangan 
memperpanjang sengketa.

"Yalah, kita akan naik bis saja." 

*****

Sebenarnya, hati kecil Sutan ada sedikit keraguan untuk berkukuh 
menolak usul "separoh-separoh" dari menantunya. Sebab Nurmala anak 
bungsu yang sangat disayangi, walaupun dia kawin dengan bule. Gara-
gara hubungannya dengan pemuda Swedia itu, hampir Sutan dan isterinya 
tidak mengakui Nurmala sebagai anaknya. Karena mereka kuatir Nurmala 
akan dikristenkan oleh bule itu. Itu aib yang akan mencacati mukanya dan 
keluarganya, anggap Sutan.

Tetapi kenyataan yang terjadi sebaliknya. Nurmala yang tamatan IAIN 
jurusan hukum, dapat melihat secara kritis unsur kebersamaan dalam ajaran 
Islam dipraktekkan di dalam masyarakat Swedia. Hal-hal seperti kebersihan, 
ketertiban, rasa kemanusiaan, berbuat kebajikan, perlakuan yang manusiawi 
atas orang cacat, pelaksanaan dan ketaatan hukum, keadilan sosial serta 
kehidupan demokratis yang diajarkan di dalam Kuran, tampak di mata Nurmala 
telah berwujud dalam masyarakat Swedia. Unsur-unsur itu menjadi pegangan 
Nurmala untuk meyakinkan Nikolas. Akhirnya, sebelum menikah dia masuk 
Islam. Dan Nikolas dengan sungguh-sungguh belajar bahasa Indonesia dan 
dapat menggunakannya dengan fasih. Sikap hidupnya juga sudah banyak 
bersesuaian dengan tata adat Minangkabau. Karena itu, kalau menantu dan 
anaknya di Paris dapat bertahan membujuk Sutan dengan argumentasi yang 
kuat untuk berangkat ke Swedia dengan setengah perjalanan naik pesawat 
terbang dan setengah lagi menumpang bis, tentu akan diterimanya. Sebab 
niat yang terkilas di hati yang dipendamnya, diharapkannya dapat disaksikannya 
dalam separoh perjalanan dengan bis dan Nurmala dapat dipeluk ciumnya 
sebagai biji mata kasih sayangnya.

*****

Satu persatu terminal bis disinggahi. Satu persatu kota dan negeri dilewati. 
Sutan terus mengintai lewat jendela. Bila bis berhenti, Sutan berputar-putar 
sekitar kawasan itu dan dengan awas diamatinya suasana di sana. 
Seakan-akan sedang mencari mangsa dengan memata-matai sesuatu. 
Tampak wajahnya kecewa ketika naik lagi ke bis, karena tak kecapaian 
maksud yang disembunyikannya.

Namun, Sutan merasa kagum atas ketepatan waktu berangkat dan berhenti 
bis. Kagum pada pengemudi bis yang begitu trampil dan hati-hati. Lagipun 
tanpa kernek. Sabar dan ramah kepada penumpang. Lebih-lebih sikap itu 
kepada orang tua seperti dia, anak-anak dan perempuan. Barang-barang 
penumpang diatur secara rapi dan dikeluarkan juga tidak sembarangan. 
Memberi kesan rasa tanggung jawab kepada penumpang begitu besar. 
Para penumpang naik dan turun bis secara teratur. Tidak berebutan dan 
tidak senggol-menyenggol. Di dalam bis dilarang merokok, demi kebersihan 
udara. WC bis juga bersih. Pernah dilihatnya di suatu terminal, seorang 
penumpang membawa kereta anak. Dia dibantu oleh penumpang lainnya 
menaikkan kereta itu ke dalam bis. Itu tanpa diminta, tetapi si penolong 
menawarkan diri. Ini betul-betul Islami, bisik hatinya. Sutan menyesali diri, 
karena tidak tahu bahasa asing. Padahal itu kesempatan untuk berbincang-
bincang dengan pengemudi bis tentang sesuatu yang ingin diketahuinya. 
Hati kecilnya bertanya, kapan peradaban begini bisa menjelma di negerinya 
yang mayoritas muslim dan berfilsafat Pancasila? Yang membuat Sutan 
gelisah dan tidak berkenan di hatinya, bila terpergok matanya pada pasangan 
yang asyik saling mengunyah bibir begitu lahapnya di depan umum.
"Astaghfirullah .....," ucapnya dalam hati. 

Sepanjang perjalanan mata Sutan terus berusaha mencermati suasana 
serta manusianya. Mau diketahuinya di mana saja sosok yang dicarinya 
akan muncul. Sutan sudah mengalami pemeriksaan paspor penumpang 
bis di perbatasan Jerman dan Denmark. Sutan merasa tidak tenang 
waktu itu. Kuatir akan ditanya macam-macam. Salah-salah jawab bisa 
celaka, fikirnya. Ternyata caranya biasa-biasa saja. Petugas itu tidak 
berseragam polisi di mata Sutan. Dia hanya meminta lihat paspor. 
Di balik-balik halamannya sambil melihat sekilas wajah Sutan untuk 
mencocokkan dengan gambar dirinya di paspor. Lalu dikembalikan 
sambil mengucapkan terima kasih.

Namun, pengalaman itu belum menjawab pertanyaan yang berkilas di 
hatinya, yang mencuat waktu bertolak dari Jakarta. Sutan mau tahu 
temperamen sosok yang dicarinya. Sikapnya terhadap anggota 
masyarakat. Perilakunya bila ada kendaraan membuat pelanggaran 
lalu lintas. Sutan merasa sial betul dirinya. Walaupun begitu, Sutan 
berfikir, mungkin Tuhan telah merahmati perjalanannya dengan segala 
kelancaran dan keselamatan. Tahu-tahu ketika bis keluar dari feri di 
pelabuhan Kopenhagen, tampak dua sosok seragam keluar dari sebuah 
restauran. Cepat-cepat Sutan menunjuk ke arah itu sambil bertanya 
pada menantunya yang duduk di kanannya.

"Tengok! Tengok! Itu ... yang keluar dari restauran sana. Dua orang 
berseragam, tentara atau polisi?"

Menantunya agak terkejut dan dengan liar matanya mencari : "Oooh"
sambil tersenyum, "itu īkan polisi Ayah."

Kedua sosok tubuh yang tinggi besar itu masuk ke dalam sebuah mobil 
yang tidak terbaca oleh Sutan huruf "POLIS", kemudian lenyap melaju 
entah ke mana ... .

"Apa yang terjadi dan apa yang dilakukan mereka di sana?" desak Sutan 
pada menantunya dengan semangat ingin tahu.

"Hanya berpatroli dan mencari ganjalan perut kosongnya," jawabnya ringan.

Sutan terdiam, seperti merenungkan sesuatu ... . Kemudian diangkatnya 
mukanya. Lalu tatapan matanya meraba wajah-wajah anaknya, cucunya, 
menantu-menantunya dan beberapa orang teman mereka perantau dari 
Bali, Jawa dan Sumatra yang asyik mendengar kilas balik perjalanan Sutan.

"Itulah. Sekali itulah baru ambo lihat polisi sepanjang perjalanan sekeluar 
dari Perancis ke tempat kalian ini. Apakah puak penghuni Nusantara tidak 
punya zat untuk melahirkan polisi beradab dan berkemanusiaan? Generasi 
ke berapa kelak negeri kita dapat menikmati kehidupan seperti dalam 
masyarakat di negeri pemukiman kalian sekarang ini ...?"

Malam musim panas bulan Juni terus bergulir pada putaran lepas angka 
sebelas. Alam masih benderang bagaikan siang bolong. Nurmala 
mempersilakan ayahnya untuk menggolekkan diri di ranjang. 

Stockholm, 2 Januari 2001.


Keterangan: 
- waang - baca wa-ang, kamu
- ambo, saya
- anjieng, anjing dalam lafal Minang
> - ītu, itu; nan, yang
- īlah, telah
- atok dari datok, kakek




Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1