|
| |
MENCARI POLISI DI EROPA
Oleh: Z Afif
Member Website Ppi India, tinggal di Swedia
Kala Sutan Sati bertolak dari rumahnya di Solok, Sumatra Barat,
niat itu sama sekali tidak terlintas di hatinya. Yang difikirkannya
hanyalah buah tangan yang akan dibawanya untuk anak-anak, cucu-
cucu dan menantu-menantunya. Sedangkan perasaannya mengutik,
apakah olih-olihnya berupa pakaian Minang, barang kerajinan tangan
tradisional pantas untuk mereka yang hidup di Eropa, yang begitu
moderen dan berkecukupan? Tetapi itulah lampiasan rindu dan kasih
sayang dalam bentuk materi yang mampu dihadiahkannya.
Sutan belum punya pengalaman ke luar negeri. Beliau juga tak faham
bahasa asing. Di dalam bis yang membawanya menuju Jakarta, pertanyaan
yang berkecamuk dalam kepalanya tentang apa yang akan dihadapi menuju
dan memasuki negeri tempat anak-anaknya bermukim. Akankah dihadang
oleh budaya buruk yang dialaminya selama ini di negerinya sendiri?
Memikirkan soal ini, tampak wajah tuanya melewati tujuh puluhan menjadi
begitu gugup.
Banyak pengetahuan dan pengalaman diperolehnya dalam perjalanan
bolak balik sepanjang jalan raya lintas Sumatra dari Solok ke Jakarta
maupun jurusan Pakan Baru dan Dumai di Riau, tempat anak-anaknya
bekerja dan menetap. Pada masa kecilnya, Sutan telah sering mendengar
cerita orang-orang dewasa atau tua tentang penyamun. Manakala orang
mengadakan perjalanan darat antara Tapanuli-Bengkulu, antara Bengkulu-
Palembang, Palembang-Pakan Baru, Bengkulu-Pakan Baru, harus siap
bertarung dengan gerombolan penyamun. Hal ini telah banyak ditulis dalam
surat kabar masa itu. Juga menginspirasi sasterawan yang menulis roman,
cerita bersambung dan cerita bergambar tentang penyamun. Sutan Takdir
Alisyahbana, pengarang Pujangga Baru, telah mengarang roman
Anak Perawan Di Sarang Penyamun.
Tetapi di negeri yang katanya merdeka sekarang ini, penyamun tidak lagi
hanya di kawasan sepi, jauh dari kota, melainkan terpusat di kota-kota, di
jawatan-jawatan bahkan dikendalikan dari markas polisi dan TNI. Setelah
dibangun jalan raya lintas Sumatra, ternyata yang lebih populer bukan lagi
bahaya penyamun, melainkan bencana pungli (pungutan liar) atau ancaman
lainnya dari makhluk berseragam resmi. Sutan melihat dan mengalami
sendiri, tingkah yang tidak senonoh, memalukan, hina, bahkan sangat
menjijikkan yang dilakukan aparat keamanan negara terhadap supir,
penumpang dan pemilik kendaraan yang melintasi jalan itu. Bagi Sutan
dan orang-orang awam, kata "keamanan" atau "diamankan" dari aparat
negara sudah berubah arti menjadi malapetaka. Bila mereka ucapkan "demi
penegakan hukum" berarti ada yang bebak belur dihajar tanpa proses
pengadilan dan tidak tahu apa kesalahannya. Sedangkan kata "damai"
dalam kamus polisi bermakna terancam ketenteraman jiwa, hilang hak
milik, terkuras isi kantung korbannya.
Dahulu, ayahnya bilang: "Waang tahu, polisi tu anjieng negara!" Karena,
kisah ayahnya: "Penjajah menggunakan polisi bagaikan anjieng penjaga
rumah tuannya."
Kemarahan ayah Sutan kepada polisi beralasan. Ayahnya tinggal di luar
kota. Memelihara beberapa ekor lembu. Lembu-lembu itu sering dilepaskan
begitu saja, bila tidak dipakai untuk menarik bajak atau gerobak. Polisi
menggunakan kesempatan itu. Lembu itu dihalaunya masuk ke wilayah
kota. Jadi mereka punya dalih menangkap lembu itu dan membawanya ke
kantor polisi. Kemudian diminta pemiliknya untuk menebus kembali lembu
itu. Pemiliknya didakwa telah melanggar peraturan kotapraja, melepaskan
lembunya ke dalam kota. Maka dikenakan delik hukum. Sutan juga
mendengar kejadian-kejadian tentang polisi mematai-matai orang-orang
pergerakan kemerdekaan. Aparat penjajah itu membuat rekayasa untuk
menangkap mereka dengan tuduhan sebagai pengacau.
Oleh sebab itu Sutan dan saudara-saudara lelakinya diperingatkan oleh
ayahnya: "Kalau kalian besar nanti, jangan sekali-kali menjadi polisi!
Jangan anak-anak ambo menjadi anjieng negara!"
Penjajah sudah diusir oleh rakyat. Tetapi rakyat masih mengalami gigitan
alat negara, yang berlindung dalam pori-pori kosa kata "aparat keamanan".
Mereka mencari-cari kesilapan pengemudi bis, truk, mobil dan sepeda
motor sebagai landasan hukum mereka untuk memerasnya. Walaupun
sudah ada pos polisi lalu lintas, di mana para pengemudi harus menyetor
upeti, tetapi pada jarak antara satu pos dengan pos lainnya muncul lagi
siluman sejenis, yang liar dan menodong pengguna jalan raya.
Menurut Sutan, agar aman dari penyamunan itu, maka para pengemudi
truk memasang penangkal. Di depan truknya dengan huruf besar-besar
ditempelkan nama perusahaan milik anak Presiden Jenderal TNI AD Haji
Muhammad Suharto atau nama anak-anaknya seperti Tommy, Bambang,
Tutut, Sigit, Titiek. Kalau melihat nama-nama angker itu, aparat keamanan
hanya senyum kecut saja. Dalam hatinya mengumpat: "Sial punya
pengusaha penguasa!"
*****
Sutan Sati selamat dan sehat mendarat di bandar udara Paris. Saat hendak
melangkah ke luar pesawat merayap rasa waswas, apa akan dilakukan
petugas Perancis di pintu keluar? Apa yang akan ditanyakan dan diperiksa?
Bagaimana menjawabnya dan dengan bahasa Indonesia apakah mereka
faham? Kalau ada yang salah apa sanksinya? Benarkah apa yang telah
diceritakan anak-anaknya?
"Ayah tidak perlu kuatir! Paris bukan Jakarta. Tidak ada pungli di pabean.
Keamanan Ayah terjamin. Yang penting surat-surat Ayah yang diperlukan
ada di tangan."
Tetapi Sutan bukan tidak pernah menyaksikan di layar tivi atau membaca
di surat kabar, juga mendengar cerita orang tentang kekacauan dan
kejahatan di bandar udara di negeri-negeri Eropa dan Amerika, yang dilakukan
oleh kaum teroris atau penjahat lainnya. Sutan berdoa dalam hati, moga-
moga yang dikatakan anak-anaknya itu benar semuanya!
Ada sedikit perasaan letih karena kejauhan dan kelamaan dalam pesawat.
Tetapi keletihan itu tersapu dengan perasaan riang, sebab segalanya lancar
dan lebih-lebih lagi segera bersua dengan anak, cucu-cucu dan menantu
yang selalu dirindukan yang datang menjemputnya. Dengan mobil yang
dikemudikan cucunya, Sang Atok dibawa langsung ke rumah anaknya.
Berbagai pertanyaan yang diluncurkan anak, menantu dan cucunya-cucunya
sepanjang jalan tentang pengalaman perjalanannya dan keadaan sanak
keluarga dan kampung halaman, dijawabnya seperti asal saja untuk
memuaskan perasaan mereka. Fikirannya hanyut ke luar mobil mengamati
suasana sekitar, seperti menyimpan suatu rahasia dan sedang menyelidiki
sesuatu yang hanya hatinya sendiri yang tahu.
Setelah sepekan di Perancis, Sutan dengan diantar oleh menantunya
berangkat ke Swedia untuk menjenguk anak bungsunya.
Tatkala menantunya meminta paspornya dan akan membeli karcis pesawat
terbang ke Swedia, Sutan terlompat dari duduknya dan berseru: "Jangan!
Jangan! Ambo tidak mau naik kapal terbang!"
"Ayah," sambar anaknya, "Swedia itu jauh nun di ujung langit utara sana.
Harus menyeberangi laut dan melintasi beberapa negeri. Ayah akan sangat
capek dengan perjalanan darat yang lebih daripada sehari semalam."
"Memang, dengan kapal terbang akan lekas sampai. Tapi apa nan dapat
ambo lihat? Awan? Bosan ambo melihat awan selama terbang dari
Jakarta ke sini. Waang tahu, sekali melihat, jauh lebih berarti daripada
sepuluh bahkan seratus kali mendengar. Tahu tidak?!" Sutan menyengat.
Anak dan menantunya terpolongo dan kaget. Tidak menduga Sang Ayah
akan segarang itu. Mereka pun putar otak, menggali cara untuk membujuk
ayahnya agar mau naik pesawat demi usia tua dan kesehatannya.
Sebab beliau ada sedikit gangguan pada jantungnya. Mereka tahu bahwa
ayahnya bukanlah orang yang mudah dibelokkan kata putusnya, kalau
alasan yang dipakai tidak masuk akalnya. Bahkan kakeknya dahulu tidak
mudah mengubah fikiran ayahnya itu, kalau sudah mengambil suatu
keputusan yang dianggapnya betul.
"Beginilah, Yah, separoh-separoh saja," menantunya, lelaki berdarah
Ambon menawarkan jalan tengah.
"Apa maksudmu ītu?"
"Kita naik pesawat ke Denmark. Dari Denmark naik bis atau keretapi ke
Stockholm, ibu kota Swedia," menantunya menjelaskan dengan hati-hati.
"Kamu tahu, ambo īlah biasa naik bis bolak-balik Solok-Jakarta. Ambo
tidak mau main setengah-setengah," tukas Sutan yang masih dalam
gelegak mendidih.
"Maksud kami, Ayah, agar Ayah jangan sampai kelelahan di jalan dan
segar bugar sampai di rumah si Nurmala. Kalau kesehatan Ayah terganggu,
nanti mereka sekeluarga yang susah. Apalagi Mala sedang hamil lagi.
Sebab perjalanan dengan bis lebih daripada tiga kali lipat jarak Solok-
Jakarta," anaknya mencoba bujuk.
"Ambo mau tahu, kalau dengan bis berapa negeri akan kita lalui hingga
ke tempat si Nurmala?", angin sepoi Sutan mulai bertiup.
"Itu tergantung pilihan kita. Lewat Belgia, Jerman, Denmark atau lewat
Belgia, Belanda, Jerman, Denmark. Tapi keduanya nonstop. Artinya
tidak berhenti menginap di jalan," jawab menantunya yang mencoba
sisipkan maksud agar Sutan mengendorkan tuntutan mutlaknya.
"Ambo mau lewat jalan kedua. Dengan bis. Jangan dengan keretapi.
Ambo mau lihat lebih banyak selagi masih hidup dan untuk ambo
bawa pulang kepada orang sekampung!"
Anak dan menantunya saling bertatapan. Tampak ragu dan bingung.
Kemudian sang suami mengedipkan mata pada isterinya, agar jangan
memperpanjang sengketa.
"Yalah, kita akan naik bis saja."
*****
Sebenarnya, hati kecil Sutan ada sedikit keraguan untuk berkukuh
menolak usul "separoh-separoh" dari menantunya. Sebab Nurmala anak
bungsu yang sangat disayangi, walaupun dia kawin dengan bule. Gara-
gara hubungannya dengan pemuda Swedia itu, hampir Sutan dan isterinya
tidak mengakui Nurmala sebagai anaknya. Karena mereka kuatir Nurmala
akan dikristenkan oleh bule itu. Itu aib yang akan mencacati mukanya dan
keluarganya, anggap Sutan.
Tetapi kenyataan yang terjadi sebaliknya. Nurmala yang tamatan IAIN
jurusan hukum, dapat melihat secara kritis unsur kebersamaan dalam ajaran
Islam dipraktekkan di dalam masyarakat Swedia. Hal-hal seperti kebersihan,
ketertiban, rasa kemanusiaan, berbuat kebajikan, perlakuan yang manusiawi
atas orang cacat, pelaksanaan dan ketaatan hukum, keadilan sosial serta
kehidupan demokratis yang diajarkan di dalam Kuran, tampak di mata Nurmala
telah berwujud dalam masyarakat Swedia. Unsur-unsur itu menjadi pegangan
Nurmala untuk meyakinkan Nikolas. Akhirnya, sebelum menikah dia masuk
Islam. Dan Nikolas dengan sungguh-sungguh belajar bahasa Indonesia dan
dapat menggunakannya dengan fasih. Sikap hidupnya juga sudah banyak
bersesuaian dengan tata adat Minangkabau. Karena itu, kalau menantu dan
anaknya di Paris dapat bertahan membujuk Sutan dengan argumentasi yang
kuat untuk berangkat ke Swedia dengan setengah perjalanan naik pesawat
terbang dan setengah lagi menumpang bis, tentu akan diterimanya. Sebab
niat yang terkilas di hati yang dipendamnya, diharapkannya dapat disaksikannya
dalam separoh perjalanan dengan bis dan Nurmala dapat dipeluk ciumnya
sebagai biji mata kasih sayangnya.
*****
Satu persatu terminal bis disinggahi. Satu persatu kota dan negeri dilewati.
Sutan terus mengintai lewat jendela. Bila bis berhenti, Sutan berputar-putar
sekitar kawasan itu dan dengan awas diamatinya suasana di sana.
Seakan-akan sedang mencari mangsa dengan memata-matai sesuatu.
Tampak wajahnya kecewa ketika naik lagi ke bis, karena tak kecapaian
maksud yang disembunyikannya.
Namun, Sutan merasa kagum atas ketepatan waktu berangkat dan berhenti
bis. Kagum pada pengemudi bis yang begitu trampil dan hati-hati. Lagipun
tanpa kernek. Sabar dan ramah kepada penumpang. Lebih-lebih sikap itu
kepada orang tua seperti dia, anak-anak dan perempuan. Barang-barang
penumpang diatur secara rapi dan dikeluarkan juga tidak sembarangan.
Memberi kesan rasa tanggung jawab kepada penumpang begitu besar.
Para penumpang naik dan turun bis secara teratur. Tidak berebutan dan
tidak senggol-menyenggol. Di dalam bis dilarang merokok, demi kebersihan
udara. WC bis juga bersih. Pernah dilihatnya di suatu terminal, seorang
penumpang membawa kereta anak. Dia dibantu oleh penumpang lainnya
menaikkan kereta itu ke dalam bis. Itu tanpa diminta, tetapi si penolong
menawarkan diri. Ini betul-betul Islami, bisik hatinya. Sutan menyesali diri,
karena tidak tahu bahasa asing. Padahal itu kesempatan untuk berbincang-
bincang dengan pengemudi bis tentang sesuatu yang ingin diketahuinya.
Hati kecilnya bertanya, kapan peradaban begini bisa menjelma di negerinya
yang mayoritas muslim dan berfilsafat Pancasila? Yang membuat Sutan
gelisah dan tidak berkenan di hatinya, bila terpergok matanya pada pasangan
yang asyik saling mengunyah bibir begitu lahapnya di depan umum.
"Astaghfirullah .....," ucapnya dalam hati.
Sepanjang perjalanan mata Sutan terus berusaha mencermati suasana
serta manusianya. Mau diketahuinya di mana saja sosok yang dicarinya
akan muncul. Sutan sudah mengalami pemeriksaan paspor penumpang
bis di perbatasan Jerman dan Denmark. Sutan merasa tidak tenang
waktu itu. Kuatir akan ditanya macam-macam. Salah-salah jawab bisa
celaka, fikirnya. Ternyata caranya biasa-biasa saja. Petugas itu tidak
berseragam polisi di mata Sutan. Dia hanya meminta lihat paspor.
Di balik-balik halamannya sambil melihat sekilas wajah Sutan untuk
mencocokkan dengan gambar dirinya di paspor. Lalu dikembalikan
sambil mengucapkan terima kasih.
Namun, pengalaman itu belum menjawab pertanyaan yang berkilas di
hatinya, yang mencuat waktu bertolak dari Jakarta. Sutan mau tahu
temperamen sosok yang dicarinya. Sikapnya terhadap anggota
masyarakat. Perilakunya bila ada kendaraan membuat pelanggaran
lalu lintas. Sutan merasa sial betul dirinya. Walaupun begitu, Sutan
berfikir, mungkin Tuhan telah merahmati perjalanannya dengan segala
kelancaran dan keselamatan. Tahu-tahu ketika bis keluar dari feri di
pelabuhan Kopenhagen, tampak dua sosok seragam keluar dari sebuah
restauran. Cepat-cepat Sutan menunjuk ke arah itu sambil bertanya
pada menantunya yang duduk di kanannya.
"Tengok! Tengok! Itu ... yang keluar dari restauran sana. Dua orang
berseragam, tentara atau polisi?"
Menantunya agak terkejut dan dengan liar matanya mencari : "Oooh"
sambil tersenyum, "itu īkan polisi Ayah."
Kedua sosok tubuh yang tinggi besar itu masuk ke dalam sebuah mobil
yang tidak terbaca oleh Sutan huruf "POLIS", kemudian lenyap melaju
entah ke mana ... .
"Apa yang terjadi dan apa yang dilakukan mereka di sana?" desak Sutan
pada menantunya dengan semangat ingin tahu.
"Hanya berpatroli dan mencari ganjalan perut kosongnya," jawabnya ringan.
Sutan terdiam, seperti merenungkan sesuatu ... . Kemudian diangkatnya
mukanya. Lalu tatapan matanya meraba wajah-wajah anaknya, cucunya,
menantu-menantunya dan beberapa orang teman mereka perantau dari
Bali, Jawa dan Sumatra yang asyik mendengar kilas balik perjalanan Sutan.
"Itulah. Sekali itulah baru ambo lihat polisi sepanjang perjalanan sekeluar
dari Perancis ke tempat kalian ini. Apakah puak penghuni Nusantara tidak
punya zat untuk melahirkan polisi beradab dan berkemanusiaan? Generasi
ke berapa kelak negeri kita dapat menikmati kehidupan seperti dalam
masyarakat di negeri pemukiman kalian sekarang ini ...?"
Malam musim panas bulan Juni terus bergulir pada putaran lepas angka
sebelas. Alam masih benderang bagaikan siang bolong. Nurmala
mempersilakan ayahnya untuk menggolekkan diri di ranjang.
Stockholm, 2 Januari 2001.
Keterangan:
- waang - baca wa-ang, kamu
- ambo, saya
- anjieng, anjing dalam lafal Minang >
- ītu, itu; nan, yang
- īlah, telah
- atok dari datok, kakek
|