|
| |
From: "Rahadian P. Paramita" <prajnamu@yo.com>
Date: Sun Aug 3, 2003 12:41 am
Subject: JAKARTA, SIAPA SANGKA...
Ternyata Jakarta tidak seperti yang dibicarakan orang-orang. Jakarta masih
baik-baik saja, tidak kronis asmanya, tidak TBC paru-parunya, tidak pula
terganggu saluran kencingnya. Memang benar bahwa sekali-kali ia masih suka
kencing di celana, membasahi organnya sendiri, bahkan sampai ke
menenggelamkan beberapa organ lainnya. Tapi Jakarta masih hidup, begitulah
setidaknya menurutku.
Dimataku, Jakarta cuma sedang risau saja. Mungkin sedikit kalut, tapi
baik-baik saja. Diapun tidak menunjukkan gejala-gejala kecanduan narkotika,
atau 'sakaw' kalau kata mereka. Coba saja perhatikan dengan jeli, Jakarta
masih bisa kok menyantap makanan pinggir jalan berdebu ala Warung Tegal.
Meskipun memang berbintang tiga merk mobilnya, dan tak perlu berseterika
setelannya. Berarti Jakarta masih baik-baik saja.
Dua bulan kemudian pun, aku masih berteman baik dengan Jakarta. Bahkan aku
masih sempat meyakinkan kolega-kolageku, bahwa Jakarta tidak apa-apa. Kita
bisa menanamkan saham padanya, atau berinvestasi disana. Tak ada yang perlu
dikhawatirkan lagi.
Lalu suatu ketika Bosku mulai sering mengomel. Entah benci pada siapa, atau
karena istrinya yang tak suka lagi melayaninya. Tak pernah jelas apa
alasannya, pokoknya dia senantiasa mengomel setiap hari. Ada saja yang jadi
bahan omelannya, dan ada saja yang jadi korban. Aku belum masuk daftar
korbannya, mungkin karena aku terlalu sering senyum. Jadi dia masih cukup
segan padaku, begitu kupikir mula-mula.
Tapi omelan demi omelan Bosku akhirnya mulai menyita perhatianku. Aku jadi
jarang memperhatikan Jakarta. Tapi aku sudah mulai terbiasa pula dengan
tabiatnya, sehingga ia sudah tak asing lagi bagiku. Meskipun aku mulai sibuk
melayani omelan-omelan Bosku, sekali-kali aku masih bisa menyempatkan
bertemu Jakarta, dengan frekuensi yang sudah tak setingi dulu tentu saja.
Enam bulan sudah kukenal Jakarta, aku mulai bangga padanya. Bangga pada
kedewasaannya, pada serba cepatnya, pada serba macetnya, dan serba-serbi
lainnya. Banyak hal baik yang kulihat darinya. Terutama pada basa basinya,
yang sungguh asin tapi tetap dimakan juga. Aku heran kadang-kadang, tapi
suatu ketika, aku pula yang harus merasakannya.
Itu satu setengah tahun kemudian, ketika asap kendaraan mulai membuat batuk
Jakarta. Kenalpot-kenalpot kendaraan tak bebas uji kandungan emisi mulai
berseliweran di jalan raya. Tak peduli asap hitamnya mengepul, membuat hitam
wajah orang-orang di belakangnya. Padahal aku sudah pernah usulkan pada
Jakarta, agar lebih ketat menggunakan cadar penutup muka, tapi Ia tak mau
percaya. Kami bahkan bersitegang di pinggir jalan, di dekat bundaran Plaza
Indonesia. Tapi Jakarta tetap saja keras kepala, baginya tak ada yang lebih
penting dari pada urusan dapurnya. Rumah tangga bagi Jakarta adalah
segala-galanya, bahkan saking cintanya, dia rela korupsi apa saja, demi
mengepul asap dapur istrinya.
Hmmm... akupun jadi ikut kena getahnya.
Bosku semakin parah darah tingginya. Kantor semakin tak jelas mood-nya.
Lantaran tensi yang meninggi, Bos punya dalih untuk mencari istri kedua.
Persoalan sah atau tidak, itu tak perlu ditanya. Kedewasaan Jakarta seperti
sudah memahami semuanya, jadi tinggal mengedipkan mata, maka bereslah semua.
Aku melongo tak percaya.
PAK BOS
"Hei! Kamu jangan bengong saja!"
AKU Terkejut setengah mati. Bosku ternyata sudah berdiri di belakangku,
dengan dagu terangkat dan alis bertaut. Ternyata ia sudah berdiri lama
disitu, aku saja yang tak menyadarinya. Entah sudah berapa lama tadi aku
melamunkan Jakarta, sampai-sampai aku lupa pada dokumen yang sudah
dibutuhkannya.
AKU
"Ya Pak, saya Pak... Saya tidak bengong kok Pak. Saya cuma sedang
berpikir...," ujarku mencoba berbasa basi. Dalam posisi seperti ini biasanya
aku selalu tak ingin kelihatan ketakutan, dengan cara menjawab pertanyaannya
sesigap mungkin.
PAK BOS
"Berpikir apa? Saya tidak bayar kamu untuk berpikir! Tapi untuk bekerja."
Ha?! Aku semakin melongo saja. Tapi buru-buru kukatupkan bibirku sebelum Bos
mengulangi kata-katanya yang pertama.
PAK BOS
"Lha, kamu pikir perusahaan ini acara cerdas cermat apa ? Mana dokumen yang
saya minta?"
Buru-buru aku menyodorkan berkas dokumen yang ia minta. Bosku pergi begitu
menerima dokumen yang ia minta. Aku tahu beberapa pasang mata mengintip dari
balik meja kerjanya memperhatikan kami. Begitu si Bos beranjak pergi
meninggalkanku, merekapun bergegas kembali berlagak serius bekerja di depan
mejanya masing-masing.
Aku menghela nafas sejenak. Dongkol tentu saja. Tapi inilah rupanya basa
basi asin yang dulu diceritakan Jakarta. Ini sama sekali bukan basa basi!
Aku jadi merasa ingin segera pulang, dan mendamprat Jakarta habis-habisan
atas interpretasinya yang tak lumrah. Interpretasi yang menyesatkan...
Beberapa saat setelah itu, bosku memanggil kami semua ke ruang meeting. Aku
tak bisa menebak ada apa gerangan. AKu bahkan tak mendengar suara si Bos
memanggil-manggil seperti biasanya. Hanya sekretarisnya saja yang
menyampaikan berita tak sedap ini ke semua orang.
Jantungku berdebar-debar. Semuanya pun begitu menurutku, tampak dari raut
wajah mereka, dan suara-suara rumpi di beberapa sudut. AKu menebak ada yang
tak beres dengan meeting kali ini. TApi hati kecilku dari sebelah yang
satunya lagi menolak anggapan itu.
AKU #1
"Ah, paling-paling ada pekerjaan yang mendadak, yang harus segera
diselesaikan,"
AKU #2
"Tapi mana mungkin meeting di jam seperti ini? TIdak lebih dari satu jam
lagi sudah waktunya pulang, jika seandainyapun meeting itu menghasilkan
sebuah tindak lanjut, lalu kapan dilaksanakannya?"
AKU #1
"Bukan! Ini bukan meeting seperti itu, mungkin saja Bos punya berita
penting,"
AKU #1
Tidak!
AKU #2
Mungkin...?
AKU #1
Ah...
Brakk !!!
Dengan muka merah padam si Bos membanting berkas dokumen di atas meja
meeting. TAk berani aku menoleh ke kanan maupun ke kiri. Mataku cuma tertuju
pada selembar kertas di depanku, sebuah pulpen, dan kedua jari-jari
tanganku. Kucoba melirik ke arah berkas di ujung meja sebelah sana...
Suasana menjadi sangat tegang. Bos belum juga bicara, hanya menghela nafas
panjang, dan mengetuk-ketukkan jarinya di atas meja. Suaranya sedemikian
jelas, lantaran tak seorangpun berani bersuara. Tapi raut mukanya jelas
memperlihatkan tanda-tanda yang tak ramah.
PAK BOS
"Saya sudah bicarakan hal ini berkali-kali. Jangan berbuat kesalahan! Jangan
berpikir, pokoknya Bekerja! Titik!!!"
Semuanya masih terdiam tak bersuara. Aku hanya bisa mencorat-coret tak jelas
di atas kertas kerjaku, tak tahu harus bagaimana. Akupun belum tahu,
kesalahan yang mana yang jadi persoalan kali ini. Dan pertanyaan besarnya
adalah, siapa penyebab utamanya?
PAK BOS
"Kamu! Mulai hari ini juga, saya tidak mau melihat muka kamu lagi disini!"
Semua langsung mendongakkan kepala. Ingin segera tahu siapa yang dimaksud si
Bos. Perlahan dan penuh rasa cemas, akupun melirik ke arah yang lain.
Jantungku serasa berhenti berdetak, lantaran si penyebab kekacauan ini
ternyata persis ada di sampingku. Kupikir mereka semua menatap ke arahku.
Hampir aku terlompat dari kursiku.
Jakarta... Oh, Jakarta...
Sang Sekretaris ternyata biang keladinya. Dia memang duduk persis di
sebelahku, dan di sebelah Bosku. Semua langsung merasa lega dengan
tertangkapnya si biang keladi. Tapi hanya ada satu yang mengherankan. Si
Sekretaris tidak tampak terlalu risau. Wajahnya memang agak pucat, tapi
biasa-biasa saja.
Ah, Jakarta...
Beberapa tahun kemudian aku bertemu kawanku, kawan satu kantorku. Kini aku
tak mau lagi bertemu lama-lama dengan Jakarta. Dalam salah satu bab cerita
panjangnya tentang Jakarta, dia kisahkan bagaimana si Bos akhirnya berhasil
punya istri dua.
Ah, aku kira istri keduanya itu hanya gosip belaka. Ternyata, benar adanya.
Selintas baru saja aku melihat sang sekretaris keluar dari sedan berbintang
tiga, yang sedang parkir di hotel bintang lima di sini, bukan di Jakarta.
Jakarta, June 2003.
|