|
| |
From: "Budhisatwati J.KUSNI" <katingan@...>
Date: Sat Jun 28, 2003 4:32 am
Subject: IN MEMORIAM FRIDOLIN UKUR
(AKAN PAHARINGKUH (1) FRIDOLIN )
1.
di pontianak tahun itu kau kutanya "kita kan ke mana?"
memelukku kau katakan mencari cahaya memetik matahari
api mata kita membakar ribuan hati durang pahari (2)
berjumpa di sini di tebing kapuas bohang sungai raya pulau raksasa
2.
kemudian di banjar hari itu di antara gemuruh klotok sungai barito
di palangka di tengah kobaran nyala pertikaian mengelabukan angkasa,dari bawah
hidup terpuruk anak sungai tersisih kau berkata
dengan jiwa manyaan tentang jauh beratnya perjalanan dayak masih dituju:
kalimantan jadi pulau kehidupan bertabur intan harapan berkilauan disanjung
nyanyi tetektatum
3.
lalu kita pun kembali seperti anak enggang mengarung angkasa mimpi ke utara ke
selatan ke barat ke timur berpisah dan berjumpa
selalu saling menyapa dan menyalam dengan harapan
-- sayap-sayap mengkilap warna nyala takk pernah suram
menampik segala perbedaan yang ada memang di sungai-sungai
4.
di mimpi warna menyala inilah kita bertemu dan tak lagi terpisah
senantiasa kita teguhkan di jabatan gagah saban bertemu
atau saling melepas kata selamat jalan di tepian
mimpi ini jugalah bulu dan paruh enggang warisan
ketika senja ditakluk malam tak siapapun bisa mengelak jaring jalanya
5.
kemarin kudengar kau pulang abadi ketika aku di pengembaraan
kembara mimpi putra enggang anak naga yang juga kau paham hanya punya awal tak
punya akhir tapi kau masih saja di antara kami
di sungai-sungai pulau mengapung naga putih naga mimpimu
bertahan mengebaskan ekornya perkasa
6.
fridolin
bukankah kau suara kekal
menyeru kebangkitan dayak
di bumi kasih pulau manusiawi?
tabé (3) kasihku pahari! (4)
JJ. Kusni
------------
Paris 2003
Catatan:
(1). Paharingkuh (bahasa Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah), saudaraku. "Akan"
(bahasa Dayak Ngaju), kepada.
(2). Durang pahari (bahasa Dayak Ngaju, Kalimantan Tengah), sanak-saudara.
(3). Tabé (bahasa Dayak Ngaju), salam.
(4). Pahari: saudara.
|