|
| |
Date: Tue Jul 1, 2003 12:05 am
Subject: KETIKA HUJAN DI DAUN-DAUN
KETIKA HUJAN DI DAUN-DAUN
Budhisatwati J.KUSNI
hujan di daun-daun
hujan duka dan kepapaan
hujan anak damak beripuh
beruntun menancapi tubuh kita
tapi kali ini tak lagi kudengar isakan
dari utara selatan
segala penjuru
dayak anak pulau
anak sedarah
jabat-menjabat
pandang-memandang
melangkah kita dengan sisa tenaga
melangkah dengan tubuh jiwa luka
mencari matari menggapai ujung
pertikaian kita masukkan ke dalam saku
terbayang, fridolin
diam-diam dengan pandang sayang kau menatap kami yang tersisa
melangkah di alur ruas jalan beronak juga kau hapal pahit manisnya
bisakah o sanak saudara, bisakah dan mengapa tidak bisa
di bawah panji bertanda enggang dan naga
kita sederap mengolah kalimantan jadi pulau kehidupan
dan ragam sungai ragam suku jadi pelangi merentang angkasa
JJ. Kusni
------------
Paris
BUKAN MEREKA!
(Kepada yang menyebut diri para sahabat)
telah tereguk dan kuteguk sudah air payau caci-maki
tudingan demi tudingan seperti tombak-tombak tajam
ditancapkan tiba-tiba ke punggungku kubawa masih hari ini
darahnya masih tercecer di tiap tapak kuayun
untukmu kampung apakah gerangan mereka sudah berikan
ketika kau terpuruk dan masih di genangan tanah gambut?
kasih memang sering seperti kabut pagi sungai
melenyap dihalau matahari kelak sebentar setinggi kelapa
tikaman dan cerca juga demikian sering dan selalu mencoba
sedang yang patut bertarung mati-matian tetap kita juga
tetap dayak yang hanya boleh mencintai kampungnya
kita yang ditikam dan dicerca para peminum darah antah berantah
jangan hiraukan diriku, dik
jangan hiraukan diriku, kak
yang masih punya jiwa
jangan hiraukan diriku yang luka
rebut sumber cahaya
jangan lepaskan dari pulau!
harapan dan hidup
kita jugalah yang patut menatahnya
bukan mereka!
JJ. Kusni
-------------
Paris 2003
|