|
| |
Date: Sun Jul 6, 2003 2:28 am
Subject: SURAT JEMBATAN PELANGI (5) -- KEDEKATAN DENGAN MASALAH SOSIAL
SURAT JEMBATAN PELANGI (5): KEDEKATAN DENGAN MASALAH SOSIAL
Oleh: B.J. Kusni
Member Website Nasional Ppi-India Tinggal di Paris
Para Sastrawan Brunei saudaraku,
5.
Saya mengambil keempat puisi yang dipilih oleh "Majalah Bahana" untuk diberikan
hadiah dan memandangnya sebagai sample guna meneruskan perbincangan kita. Saya
tidak tahu persis empat rangkum puisi itu telah dipilih dari berapa ratus atau
berapa puisi yang telah disiarkan dan diterbitkan. Dan hal ini tidak menjadi
penting bagi saya, walaupun sebenarnya sangat menarik jika bisa mengetahuinya.
Kalau kita melihat bahwa "Majalah Bahana" merupakan majalah sastra sangat
berpengaruh yang punya peranan besar dalam menentukan arah perkembangan sastra
di Brunei maka melalui pilihan di atas kita bisa menduga-duga jurusan yang
akan dituju atau dibidik oleh sastra Brunei di masa depan setelah tahun 2002.
Keempat puisi di atas semuanya membicarakan masalah sosial-politik dan
identitas Brunei. Artinya sastra Brunei nampaknya berkecenderungan kuat untuk
tidak memisahkan diri dari kehidupan serta segala permasalahannya.
Camar Putih melalui puisinya "Pecah Dan Perintah" mengangkat masalah etika dan
kesetaraan manusia di hadapan ajal. Melalui puisinya ini, Camar Putih, menuding
keangkuhan orang-orang yang membangga-banggakan harta-kekayaan mereka dan
menakar segala-galanya dari segi material sehingga merendahkan martabat
kemanusiaan dan sedikitpun tidak mengacuhkan kehidupan mayoritas yang hidup
dalam kepapaan. Berhadapan dengan keadaan ini maka Camar Putih berseru:
"kembalilah ke pangkal jalan"
kerna, ujar Camar Putih:
"hidup ini terminal
tempat singgah menanti tujuan asal
hakiki dan kekal abadi"
lalu:
"perlukah mercy yang hitam berkilat warnanya?"
"perlukah jadi dedalu?
sukses kebetulan cuma, jangan diburu
sedang rezeki hak Tuhan, Allah Azza Wajalla...
yang bulat datang bergolek
yang pipih datang melayang
berkiblatlah pada qada dan qadarNya"
Camar Putih juga melihat korupsi, penyalahgunaan jabatan, sikap yang
membenarkan segala cara untuk mencapai tujuan dan khianat sebagai ujud nyata
dari kemerosotan moral yang tidak bisa ia toleransi. Tuding Camar Putih:
"Kalaupun memang jawatan atau memang jawatan atau sesuatunya jadi igauan
jangan digapainya cara Brutus
meniti ke puncak jaya
berbaloikah di atas derita mereka...?
Melanjutkan kritiknya terhadap keadaan demikian, Camar Putih menyatakan
keyakinannya bahwa:
jika kau berpaut pada awan..
pasti jatuh, sebelum awan itu bercerai-berai"
Sebagai bukti dari keyakinannya ini Camar Putih menunjukkan:
"lupakah janji Tuhan?
Kun fa ya kun... singkat perintahnya
gunung kekar runtuh, maka runtuhlah...
ribut Greg, kejatuhan ringgit dan Suharto
sekelumit peringatan-Nya
kembalilah ke pangkalan"
Perhatian terhadap masalah sosial-politik ini juga diperlihatkan oleh penyair
K. Manis dan Mas Osman melalui sanjak-sanjak "Bakun Dan titik-titik Airmata"
dan "Tonggak Negara".
K. Manis yang seorang pesara, mantan guru dan kepala asrama Universitas Brunei
Darussalam (UBD) "menangis" melihat hancurnya rumah panjang Dayak yang kaya
kearifan bersamaan dengan dibangunnya waduk Bakun proyek hidoelektrik raksasa.
Tulis K. Manis:
"Bakun uraian nadi kemajuan bangsa
Bakun dibina atas rintihan duka nestapa
yang membenam segala suasana
duka lara anak-anak peribumi yang melata"
Ujar K. Manis lagi:
" jeram-jeram pelagus menjadi legenda
dalam mimpi-mimpi indah dan ngeri
bersama rumah-rumah panjang
kemegahan anak-anak peribumi
kerana air dipangkalan sudah tidak mengalir
seindah persada lampangan Rajang yang tercinta
bersama perahu termuai kehilangan nada".
Melihat
"Long Liku dan Long Luman sudah tiada
wajah-wajahnya indah tenggelam"
sambil menangis K. Manis mengucapkan:
"selamat tinggal rumah panjangku
selamat tinggal kampung halamanku yang tercinta"
Terhadap janji kemajuan yang digaungkan sebagai dasar pembangunan proyek
hidroelekrik itu, K. Manis bertanya:
"benarkah engkau menguji dan menjanjikan sesuatu
dalam kancah perdana pembinaan bangsa"?
Warna politik ini lebih menonjol lagi pada sanjak Mas Osman "Tonggak Negara"
penerima "Hadiah Bahana Tahun 2002" yang keempat. Melalui sanjak ini Mas Osman
memuji "Daulat Kebawah Duli Tuan Patik" yang tidak lain adalah Sultan Brunei.
Sementara pemenang kedua, penyair perempuan Sariani H.I. melalui puisinya "Anak
Melayu Di Raeburn Place" berbicara tentang identitas atau "jiwa Melayu" yang
tidak luntur di tengah pergaulan dunia internasional di era globalisasi. Di
manapun penyair berada ia tetap merasa "jiwa Melayunya" tetap kokoh.
Ucap Sariani H.I bangga:
"anak Melayu yang hitam rambutnya
walau berderap ia melangkah
walau bergegar bumi yang dipijak
namun impinya dan rindunya
tetap pada kicau kalajiau
yang bergema meniti subuh
mengharapkan dedaun hijau sepanjang tahun
dan bunga menguntum sepanjang musim"
Sikap Sariani H.I. ini mengingkatkan saya pada pernyataan filosof Prancis
terkemuka Paul Ricoeur yang mengatakan bahwa identitas diri memungkinkan kita
melakukan dialog dengan budaya negeri dan bangsa lain. Jika kita kehilangan
identitas apalagi jika kita tenggelam dalam pikiran tunggal (la pensée unique),
maka syarat dialog jadi sirna. Sariani H.I yang memang kaya pengalaman
internasional melalui puisinya ini mengetengahkan sesuatu yang prinsipil yang
berguna bukan hanya menjadi persoalan Brunei tapi bisa dikatakan permasalahan
aktual berbagai bangsa dan budaya.
Melalui pemberian hadiah kepada empat puisi ini, saya melihat bahwa yang ingin
didorong perkembangannya di Brunei adalah sikap bahwa sastra-seni tidak
terpisah dari kehidupan, bahwa para seniman jangan asyik dengan diri sendiri
sehingga terpisah dan mengucilkan diri dari pemasalahan-permasalahan aktual
maasyarakat baik dalam skala nasional maupun internasional. Jika tidak salah
tafsir, pemberian hadiah ini mendorong agar para seniman Brunei tumbuh
berkembang menjadi manusia sadar dan pembidas masyarakatnya. Juga nampak usaha
untuk mempertanyakan identitas Brunei dan perlunya mempertahankan identitas
itu, termasuk tidak mengabaikan budaya "bumiputera". Secara mencolok soal ini
dibicarakan oleh K.Manis dan Sariani.H.I. Soal lain yang dikemukakan oleh K.
Manis dalam kaitannya dengan identitas nasional adalah masalah yang disebut
modernisasi. Apakah modernisasi itu? Bagaimana hubungan modernisasi dan
idtentitas nasional. Melalui pemberian hadiah ini, Majalah Bahana nampak mau
menggarisbawahi masalah-masalah tersebut. Menelusuri alur jalan ini, puisi yang
dipilih sebagai penerima "Hadiah Bahana Tahun 2002" sama sekali jauh dari
kegelapan. Tak satupun puisi pilihan ini yang merupakan "puisi gelap" yang
relatif hanya dipahami oleh penyairnya sendiri. Pesan-pesan disampaikan secara
gamblang seakan-akan mau mengatakan bahwa sastra Brunei adalah sastra mempunyai
misi sosial dan kemanusiaan sebagaimana tradisi hakiki dari sastra-seni itu
sendiri sejak lahirnya.
(Bersambung.....)
|