|
| |
From: "Budhisatwati J.KUSNI" <katingan@...>
Date: Tue Jul 8, 2003 7:16 pm
Subject: PERAHU GIOP
PERAHU GIOP (*)
Oleh: B.J. Kusni
laut adalah hidup
sedangkan aku adalah giop
perahu amurang
diasuh gelombang
berwarna biru
berbau maut sarat sayang
sedang kasih-sayang, adik
o, kau yang buah hati
kau tahu tanpa kubilang
di tiap gerak menagih janji
dayung direngkuh
menapis kata
melaut giop melaut
didayung kasih
bertepi cakrawala
sindulang sungai ranomea
desa dan sungai
di mana kekasih
cemas kau tunggu
soma giop
soma tuna
ditebar tangan nelayan
gelombang menyambut
memberiku ikan
di jaring kasih laut dan gelombang
mencintaimu juga, sayang
angin menebar wangi cintamu
kulihat warnanya di air biru
disibak gelepar jala
kecipak dayung
dukamu
dukaku
duka laut
duka angin
kalau giop
dibalik topan
maka sepilah sindulang
sunyilah ranomea
kalau giop tak pulang
hatipun remuk
laut dan angin
giop dan gelombang
adalah kita, sayang
pasangana kekal
tak karam digoyang badai
kasih tercatat
di sungai
di laut
di pasir pantai
JJ. Kusni
------------
Perjalanan 2000
(*) Tulisan ini pernah dijadikan pelengkap oleh Sini Cedercreut, antropolog
Finlandia, tentang nelayan Amurang yang diselenggarakan di Restoran Indonesia
tahun 2000 dihadiri oleh antara lain para diplomat Findlandia dan Indonesia.
Pameran berlangsung selama sebulan.
From: "Budhisatwati J.KUSNI" <katingan@club-internet.fr>
Date: Tue Jul 8, 2003 8:32 am
Subject: JALAN MENDAKI
JALAN MENDAKI
Kepada TS PINANG
1.
sejak lama memang akupun merasa kelengangan ini
tanahair padang kuburan -- lengang hingga angkasa
lirikan tak ada apalagi tegur sapa
papasan kita papasan bangkai berseliweran
percaya pada gerak matahari keabadian tunggal
mengapa mesti ragu menyusur alur ini kemestian
malam toh akan tiba di ujungnya puisi tertinggal menyimpan mimpi
yang tak lapuk tak lekang dipanggang terik dingin sunyi
2.
kusimpulkan kalau tak sanggup bermimpi
tak sanggup sunyi tak usah menulis puisi
teriakkan! pasang di tembok-tembok sejuta slogan
keraguan pun terbius tanya hanya busa
jiwa-jiwa membangkai
3.
bagiku yang terhampar adalah pendakian tanpa puncak
jalan pun tanpa ujung tak pernah memandak
di mana aku mengulang-ngulang kekalahan
mengulang-ngulang pendakian hingga malam
dan di sinilah lalu janji pasti itu kudapatkan
maka penyerahan kutolak, keusangan sampah kucampak
JJ. Kusni
------------
Paris 2003
|