Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

Peta Kandidat Presiden 2004
Oleh FS Swantoro
 
Penulis adalah Ketua Departemen Politik
Soegeng Sarjadi Syndicated, Jakarta.

Sebuah langkah maju di bidang politik, baru saja ditorehkan. Di antaranya pengesahan UU Pemilihan Presiden tahun 2004. UU ini meski menimbulkan kontroversi, terutama berkaitan dengan status terdakwa, syarat sarjana, termasuk perolehan suara tiga persen. Bagaimana pun UU ini merupakan lompatan jauh ke depan. Meski beberapa kalangan menyimpulkan pasal tersebut merupakan politik dagang sapi dari partai-partai yang ada. 

Terlepas dari pro-kontra itu, kini sudah 17 nama tokoh partai dan non-partai yang menyatakan diri siap menjadi presiden lewat Pemilu 2004. Di antaranya, tujuh ketua umum partai politik, seperti Megawati (PDI-P), Amien Rais (PAN), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Hamzah Haz (PPP), Sjahrir (PIB), Ketua Dewan Syuro PKB, KH Abdurrahman Wahid dan Akbar Tandjung (Golkar). Pencalonan itu terkesan semakin gegap-gempita, dan orang tidak malu lagi mencalonkan diri menjadi presiden. 

Selain nama-nama di atas, Golkar telah menjaring 10 calon presiden, mulai dari Jusuf Kalla, Aburizal Bakrie, Agum Gumelar, Surya Paloh, Sultan HB X, Wiranto, Nurcholish Madjid, Prabowo Subianto, Susilo Bambang Yudhoyono hingga Haryono Suyono. Mereka menyatakan siap bersaing dalam konvensi bulan Oktober mendatang. Golkar mencanangkan mekanisme seleksi kandidat presiden lewat Konvensi Nasional Pemilihan Presiden. Melalui konvensi itu, Golkar akan menjaring calon dari bawah dan bisa berasal dari internal atau eksternal partai. Pencalonan model Golkar ini dinilai lebih demokratis dibanding pencalonan model partai-partai lain.

Kelemahan Cak Nur


Sebelum menyoroti kandidat presiden, kiranya perlu dicermati kekuatan politik hasil Pemilu 1999 hingga sekarang. Masalahnya, selain peta politik belum berubah, fenomena perpolitikan di Indonesia sekarang ini ditandai dengan politik partai-partai. Dengan demikian, hanya ada satu cara jika ingin berperan dalam kehidupan berbangsa, yakni hadir sebagai partai politik dan selanjutnya mengembangkan kekuatan politik yang dimahkotai dengan kemenangan pemilu. Hasilnya adalah jabatan publik, seperti Presiden, Wakil Presiden, anggota DPR, DPRD, DPD dan sebagainya. 

Dengan demikian, berbagai persoalan yang kita hadapi bermuara pada partai politik. Maknanya, di mana demokrasi akan dibangun harus diakui bahwa partai merupakan institusi kunci bagi pengembangan demokrasi. Meski dalam beberapa tahun terakhir, akibat pesatnya perkembangan media massa telah mengurangi peran partai dalam menyuarakan aspirasi rakyat. Tetapi, sampai kapan pun partai akan memegang peran penting dan menjadi kerangka institusi bagi proses representasi dan pemerintahan.

Sehingga, perlu dilihat peta kekuatan politik ke depan. Ada tiga kekuatan politik yang sekarang dominan. Pertama, PDI-P dengan perolehan suara 33,8%. Kedua, Golkar memperoleh 22,5% suara. Ketiga, gabungan partai Islam jumlahnya mencapai 33,7%. Itulah tiga pilar utama kekuatan politik yang sekarang dominan. Mereka merupakan kekuatan terbesar, sehingga siapa pun yang didukung kekuatan itu, berpotensi menang. Kekuatan ini tidak termasuk TNI yang akan meninggalkan gelanggang politik, tahun 2004. 

Selanjutnya, mari kita lihat kandidat mendatang. Kita mulai dari cendekiawan Muslim, Nurcholish Madjid. Semenjak Cak Nur bersedia dicalonkan menjadi presiden, telah menarik perhatian banyak orang. Lewat 10 program pemulihan krisis bangsa - mewujudkan good governance, supremasi hukum, rekonsiliasi nasional, reformasi ekonomi, pengembangan pranata demokrasi, peningkatan ketahanan dan keamanan nasional, pemeliharaan keutuhan wilayah nasional, peningkatan mutu pendidikan, keadilan sosial dan penciptaan perdamaian dunia - telah membuat terkesima (surprise) capres lain. Sepuluh program itu diajukan Cak Nur untuk posisi tawar dengan partai yang ingin mencalonkan dirinya, termasuk Golkar. 

Sebagai cendekiawan Muslim terkemuka, Cak Nur dikenal bersih, tidak diragukan keislamannya, dan siapa pun yang berada di dekatnya, merasa aman. Pemikiran Cak Nur mengenai keislaman selama ini, dinilai sangat maju, bahkan lebih maju dari zamannya. Sehingga, pemikirannya sering menimbulkan salah tafsir (kontroversial). Andaikata Cak Nur dalam pencalonan nanti didukung Golkar dan beberapa partai Islam, cendekiawan Muslim ini berpotensi menang. Lebih dari itu, diharapkan Cak Nur mampu menjadi perekat dan pemersatu kelompok politik Islam yang sekarang terpecah-pecah. 

Tetapi, untuk mewujudkan itu, sangat tidak mudah, karena banyak kendala. Contohnya, Amien secara resmi telah dicalonkan oleh PAN. Dalam hal ini, Amien pasti tidak mau jika hanya menjadi orang nomor dua. Bagaimana pun, ia ingin menjadi nomor satu. Karena, "berbagai persoalan yang menimpa negeri ini, menurutnya hanya bisa diselesaikan oleh RI satu." Itulah sebabnya, ia tidak bersedia menjadi orang nomor dua. 

Selain Amien, Gus Dur telah dicalonkan PKB. Mantan Ketua PB NU dan mantan Presiden RI ini, mendapat dukungan Kyai Langitan. Meski potensinya tidak sebesar Amien, Gus Dur pun tidak mau jika dijadikan calon nomor dua. Termasuk, Gus Dur kurang sreg mendukung Cak Nur, karena ketika ia dijatuhkan DPR/MPR, Cak Nur tidak membelanya. Sehingga, tantangan ini harus diselesaikan terlebih dahulu oleh Cak Nur. 

Begitu pula dengan Hamzah Haz dan Yusril, masing-masing sebagai Ketua Umum PPP dan PBB. Mereka sudah siap bertarung dalam Pemilu 2004. Meski tidak sekuat Mega atau Amien, kedua tokoh ini pun punya dukungan massa yang besar. Sehingga, sulit bagi Cak Nur menyatukan tokoh Islam, seperti Amien, Gus Dur, Hamzah, Yusril dan tokoh Islam lain macam Syafi'i Ma'arif dan Hasyim Muzadi ke dalam model Poros Tengah Jilid II. 

Selain itu, sebagai tokoh non-partai, Cak Nur tidak punya basis massa yang kuat, seperti Megawati, Hamzah, Amien, Gus Dur dan Akbar. Dengan demikian, terlalu berat bagi Cak Nur untuk menjadi pemersatu bagi kelompok Islam. Ada kekhawatiran akan bernasib sama seperti Gus Dur jika Cak Nur menjadi Presiden. Atau, dia terancam akan dikalahkan oleh Akbar dalam Konvensi Golkar, Oktober nanti, setelah pasal tentang status terdakwa lolos dalam UU Pemilihan Presiden 2004. Itulah tantangan terberat bagi Cak Nur. 

Manuver Amien


Harus diakui, Amien pernah melakukan manuver membendung Megawati untuk menjadi presiden dalam SI (Sidang Istimewa) MPR 1999. Waktu itu muncul isu kuat, menyangkut masalah gender, yakni kedudukan pemimpin perempuan di mata umat Islam. Sebagai seorang reformis, Amien meniti karier politiknya bak meteor. Dari seorang dosen politik di UGM, Amien berhasil menggalang kekuatan reformasi dan menjadi deklarator PAN sekaligus menjadi Ketua Umumnya. Dalam Pemilu 1999, PAN menjadi partai kelima terbesar pemenang pemilu setelah PDI-P, Golkar, PPP, dan PKB. Dalam SI MPR 1999, Amien terpilih sebagai Ketua MPR. Sementara Akbar Tandjung, menjadi Ketua DPR dan Gus Dur terpilih sebagai Presiden, setelah bertarung melawan Megawati. 

Kini, kalau kita bicara tentang The Real Fight, The Incumbent VS The Hopeful, hanya Mega melawan Amien dan atau Akbar/Cak Nur. Mengapa? Karena, keempat tokoh itu, riil sebagai politisi terbesar saat ini, sekaligus sebagai ketua umum partai. Tokoh lain, seperti Hamzah, Yusril, Sultan HB X dan Jusuf Kalla meski punya pendukung besar, kurang potensial dibandingkan Mega, Amien dan Akbar. Meski Akbar masih menghadapi persoalan hukum yang implikasinya cukup berat bagi Golkar. Hal itu ibarat buah simalakama. Kalau dimakan ibunya mati, kalau tidak dimakan, bapaknya yang mati. Hal itu mirip kondisi yang dihadapi Golkar saat ini. Kalau ia diputus bebas, masyarakat pasti mengecamnya, terutama mahasiswa. Sebaliknya, kalau ia dijatuhi hukuman kurungan, koalisi partai antara PDI-P dan Golkar bisa-bisa akan terganggu. 

Selain persoalan di atas, perlu dilihat PKB-nya Alwi Shihab. Dalam kaitan itu, calon dari PKB yakni Gus Dur, ia punya kelemahan fisik yang agak sulit diatasi. Begitu juga dengan Hamzah Haz, ia sedang menghadapi masalah internal partai, sehubungan dengan dana partai yang tersangkut di PT QSAR. Beberara cabang berencana melaporkan persoalan ini ke polisi. Sedangkan Yusril dinilai sulit meraih kemenangan dalam Pemilu 2004, semenjak ditinggal Abdul Qadir Jaelani dan Hartono Mardjono. Dengan demikian, pertarungan riil mendatang hanya antara The Incumbent Megawati vs The Contenders Amien Rais, Akbar Tandjung atau Cak Nur. Siapa yang menang, kemungkinan Golkar, kalau Mega salah memilih pasangan yang tepat. 

Untuk Incumbent, citra Mega sekarang sudah merosot. Ada penilaian yang menghendaki Mega sekali saja menjadi presiden. Meski harus diakui bahwa indikator ekonomi sekarang ini justru membaik. Seperti, inflasi menurun, suku bunga BI turun, nilai tukar rupiah menguat, ekspor non-migas meningkat, dan dunia usaha menggeliat. Tapi, semua itu belum dilihat sebagai keberhasilan Mega, karena ukurannya sederhana, bagaimana harga-harga murah dan aman. Sekarang, harga-harga mahal dan tidak aman. 

Kekuatan Megawati


Sulit ditolak argumen apa pun, bahwa Mega punya massa pendukung yang besar dan fanatik. Sebagai anak kandung Bung Karno, rakyat Indonesia menganggap Soekarno sebagai pemimpin terbesar. Sehingga tidak berlebihan, jika Megawati punya pendukung fanatik di Jawa dan Bali. Kelompok nasionalis ini merupakan kelompok pemenang dua pemilu yang dinilai demokratis, yakni; Pemilu 1955 dan Pemilu 1999. Keduanya dimenangkan kelompok nasionalis, yakni PNI (tahun 1955) dan PDI-P (1999). Ini fakta yang tak terbantahkan dan menunjukkan peta kekuatan politik belum berubah. Sehingga, Megawati mendapat keuntungan sejarah yang tidak dimiliki tokoh lain. Massa Soekarnois yang cukup besar di Jawa dan Bali merupakan "harta karun" dalam sejarah perpolitikan di Indonesia. Itulah sebabnya, Mega menjadi besar, setelah tertindas di masa Orde Baru.

Sebagai pemimpin kharismatik, Mega sulit dibendung. Mengingat kemenangan pemilu sering ditentukan oleh tiga hal. Pertama, pimpinan partai. Kedua, program partai. Dan ketiga, dana yang dimiliki. Untuk pertama dan ketiga, PDI-P tidak terlalu sulit. Tinggal isu politik yang akan dilempar pada kampanye 2004 nanti. Barangkali tidak sulit bagi PDI-P kembali meraih kemenangan, meski kemungkinan suaranya menurun sekitar 5-6 persen. Ini akibat pemecatan kader PDI-P di beberapa daerah. Contoh pemecatan kader PDI-P di Lampung dan daerah lain, membuat PDI-P kian tergerus. 

Kuncinya sekarang adalah bagaimana Mega mampu menggaet tokoh Golkar menjadi wakilnya. Jika itu yang dicapai, Mega akan menang kembali. Atau, jika Mega mendapat pasangan yang tepat, ia akan melenggang duduk sebagai presiden lagi. Sehingga, secara teoritis hanya Mega, Akbar, Cak Nur, Amien, SBY dan Sultan yang punya kans besar menjadi Presiden 2004. Tapi, semua ini berpulang pada partai yang akan mencalonkan mereka. ***

BACK

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1