Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

Komentar dari Yudi latif atas komentar Mario Gagho di Website ppi india

dear mario,
terima kasih atas poin anda yang sangat mencerahkan saya soal dekadensi di
partai kongres dan arus baliknya berupa penguatan fundamentalisme hindu.

kebetulan, beberapa hari lalu, televisi di sini (SBS) menyiarkan potret berang
fundamentalisme hindu tersebut.

menurut saya, tidak ada orang yang dilahirkan dengan "dosa asal" berupa
kecenderungan radikalisme. radikalisme selalu merupakan reaksi sebagai upaya
mencari redemptive process yang "eksesif". 

hal itu bisa saja terjadi di Indonesia. meskipun ada beberapa perbedaan dengan
India.

situasi india agak mirip situasi malaysia (60-an) atau nigeria. komposisi
muslim (melayu) dan non-muslim (Cina/India) sangat berimbang. sebagai reaksi
terhadap relatif besarnya kehadiran "the other", identitas keislaman yang
berhimpitan dengan kemelayuan menjadi relatif homogen. dengan perekonomian
dikuasi oleh non-islam, perbedaan identitas ini segera menjadi bentrokan
berdarah dia akhir 60-an.

Muslim di India pun relatif banyak, sehingga signifikan untuk dipandang sebagai
"the other" yang mengancam, yang bisa dikambinghitamkan oleh suatu eskapisme
kekecewaan politik. 

Adapun di Indonesia, karena kehadiran non-muslim relatif kecil, membuat
varietas di dalam Islam begitu heterogen. Konflik Islam lebih sering diarahkan
terhadap sesama Islam ketimbang terhadap agama lain. situasi inilah, yang
membuat kehadiran fundamentalisme islam di indonesia bisa segera dinetralisasi
oleh kehadiran varietas lain (yang lebih banyak). konflik agama meledak di
ambon, karena, persis di sama komposisi islam non islam relatif seimbang.
sehingga konflik agama di sana lebih diarahkan ke luar (the other), meskipun
sumbernya lagi-lagi berasal dari keburukan manajemen ekonomi-politik.

tetapi, hal itu tidak berarti bahwa fundamentalisme di Indonesia tidak bisa
berkembang. orang-orang akan berpaling ke fundamentalisme jika mainstream Islam
moderat dan kalangan sekuler gagal memberikan respon yng positif terhadap
problem-problem kemanusian.

wallahu alam.
cheers
yudi


===========

From: Mario Gagho <gagho@yahoo.com> 
Date: Tue Jul 1, 2003 7:58 pm
Subject: Re: [ppiindia] On 'Liberal-Undemocratic'

mas yudi latif yg baik,

senang sekali kita2 di forum ini selalu dapat kiriman
artikel2 anda yg seperti biasa "enak dibaca dan perlu"
dan yg terpenting penuh poin2 kritisi yg tidak
apriori. poin terakhir ini yg membuat saya pribadi
merasa selalu mengharapkan artikel2 anda.

dalam poin2 artikel 'liberal undemocratic' ini saya
ingin sedikit berkomentar ttg salah satu poin dari
artikel anda yaitu 
"Media-media besar cenderung mengkhawatirkan
> kemungkinan menguatnya apa yang disebut Fareed
> Zakaria sebagai ‘illiberal democracy’. Suatu situasi
> ketika kontestasi demokrasi dimenangkan oleh
> kalangan yang tidak liberal (biasanya diasosiasikan
> dengan kelompok fundamentalisme) yang bisa merusak
> sendi-sendi kebebasan. Kekhawatiran seperti ini
> jelas merefleksikan pikiran ahistoris."

Observasi fareed zakaria ini saya sepakat dg anda
memang ahistoris dalam konteks Indonesia sampai saat
ini. Tetapi itulah yg terjadi sekarang di India -
tempat di mana fareed zakaria lahir dan tinggal sampai
masa remajanya, sebelum jadi warga negara AS. India
saat ini dikuasai oleh partai fasis BJP di pusat dan
di beberapa negara bagian. Dan ini telah menimbulkan
kekawatiran tinggi dikalangan intelektual demokrat
akan masa depan demokrasi India yg suram, mengingat
apabila partai BJP tetap berkuasa sampai waktu lama di
kuatirkan masa depan keharmonisan India di bawah
payung demokrasi akan runtuh dan itu sudah mulai
terbukti dg pembunuhan massal di Gujarat thd. muslim,
dan pembunuhan keji thd. pendeta dan dua anaknya, dll.
yg sempat menjadi catatan paling suram demokrasi
india.

yg tak kalah penting dari itu adalah mengapa partai dg
slogan kebencian (anti minoritas, anti kultur asing,
ultra nasionalis hindu) ini dapat menang? manusia
india yg masih memiliki common sense tentu tidak akan
suka. tapi mengapa mereka seakan 'terpaksa' menjadikan
BJP sebagai penguasa mereka dg cara memilih mrk dalam
pemilu?

ada sejumlah faktor pendukung hal ini terjadi: 1.
partai demokrat di bawah partai Congress (I) yg
sebelumnya berkuasa turun temurun ternyata sudah mulai
dekaden dg penuhnya skandal korupsi dan lemahnya
manajemen; 2. rakyat, terutama kalangan minoritas,
suaranya sudah dianggap 'taken for granted' sehingga
partai Congress merasa 'aman2 saja' untuk berbuat apa
saja; 3. partai Congress semakin menampakkan sikap
undemocraticnya dan ini berpuncak pada rezim indira
gandhi yg memberlakukan darurat militer; 4. melemahnya
figur pimpinan di Congress, sehingga partai ini jadi
pecah belah jadi beberapa sempalan.

Poin pertama, kedua dan ketia ini yg perlu kita
waspadai. Kalau situasi di setiap partai yg mengklain
dirinya sebagai pengawal demokrasi ternyata bersikap
sama dg partai Congress (I) india itu, maka secara
natural rakyat indonesia, sebodoh dan sefanatik apapun
mereka, tentu akan menjatuhkan 'hukuman'. Dan semoga
'hukuman rakyat indonesia' itu tidak dg cara memilih
partai yg 'paling ekstrem' yg dapat memecah belah
bangsa kita pada kondisi yg lebih buruk lagi. Kalau
ini terjadi, maka apa yg mas yudi katakan sebagai
'ahistoris' tsb. akan menjadi realitas yg sangat
pahit.

salam dari taj mahal,

mario

BACK

1

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA