Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

TERORISME SEBAGAI ANAK KANDUNG KEKERASAN
Oleh: Yudi Latif

Kandidat Doktor Sosiologi-Politik di ANU Australia, Member Website PPI India

Posted 12 Agustus 2003

Bom lagi-lagi meledak di sekitar kita. Mengintai hidup sembarang waktu. Menelan nyawa tak kenal strata. Dampak buruknya begitu nyata, meski pelakunya tak mudah dikenal. “Teroris adalah iblis,” ujar Ketua MPR Amien Rais.

Terorisme hadir sekarang dan di sini. Namun akar tunjangnya tertanam jauh di kesilaman. Ia adalah anak kandung kekerasan politik yang giat disemai di masa lalu. Ia adalah monster frankeinstein yang berbalik arah menyerang sembarang orang, sebagai aksi balas dendam terhadap penciptanya yang juga tak mudah dikenali lagi.

Kekerasan adalah anak kekerasan. Diciptakan untuk kepentingan politik saat tertentu, tapi turunannya bisa terus berantai, melampaui batas-batas ruang dan waktu. Kenalilah kelompok-kelompok paramiliter yang bersimaharajalela saat ini. Banteng Muda, Hisbullah, Anshor dan sejenisnya. Mereka hadir saat ini. Namun, dari nama-namanya saja segera terbayang rantai geneologinya dengan peristiwa mobilisasi kekerasan politik di masa lampau. Adalah kepentingan Jepang untuk peperangan Asia-Pasifik yang mendorongnya memobilisasi pembentukan pasukan-pasukan militer dan paramiliter di Indonesia. Di antara satuan-satuan paramiliter yang dibentuknya adalah ‘Barisan Pelopor’ sebagai onderbouw Jawa Hokokai, yang pada Desember 1945 berganti nama menjadi ‘Barisan Banteng’, dan juga Barisan ‘Hisbullah’ sebagai onderbouw Masjumi. Belajar dari pembentukan barisan-barisan paramiliter ini, maka lahir jugalah satuan-satuan sejenis seperti Pesindo untuk PSI, Anshor untuk NU, Laskar Merah untuk PKI dan seterusnya.

Aksi-aksi terorisme saat ini juga merupakan hasil akumulasi belajar dari kekerasan dan rekayasa terorisme di masa lalu. Mulanya adalah operasi tertutup Ali Murtopo untuk mendeskriditkan Islam. Terhadap beberapa bekas aktivis DI/TII yang masih dalam pengawasan pihak keamanan, aparatur inteligen menghembuskan isu tentang arus balik komunisme. Lantas mereka dijanjikan bantuan persenjataan demi membasmi hal itu. Mereka termakan, lalu terjebak dalam skenario aksi kekerasan yang diciptakan oleh aparatur intelijen. Maka menjelang Pemilu 1977 muncullah apa yang disebut ‘Kelompok Jihad’. Kemunculan kelompok ‘siluman’ bernama ‘Islam Jamaah’ pada awal 1980-an pun masih dalam kerangka ini. Ia diciptakan lewat infiltrasi personil intelijen. Beberapa orang yang telah dibina dalam kelompok ini menyusup kepada kelompok Imran bib Muhammad Zein sambil melakukan provokasi untuk menyerang kantor Polsek Cicendo dan pembajakan pesawat Woyla (Garuda DC-9 ) pada 31 Maret 1981.

Proses pembelajaran terorisme seperti itu dimatangkan oleh tindakan represif yang dilakukan oleh Kopkamtib dibawah pimpinan Sudomo. Selain intervensinya yang berlebihan terhadap ceramah agama dan organisasi-organisasi keagamaan, ia bertanggungjawasb dalam melakukan penangkapan dan pemenjaraan sejumlah aktivis Islam. Selama 1977-1980 saja sekitar 6000 aktivis Islam telah ditangkap; beberapa ratus orang telah dipenjarakan, banyak diantara mereka tanpa proses persidangan (Tapol, 1987). 

Endapan dari proses belajar kekerasan serta hasrat untuk melakukan resistensi terhadap represi negara mendorong sejumlah Muslim militan berpaling ke aksi-aksi kekerasan dan terorisme. Kecenderungan ini memperoleh momentumnya setelah peristiwa pembantaian Tanjung Priok pada 12 September 1984. Karena mereka mendefinisikan situasi ketertindasannya sebagai korban dari konspirasi non-Muslim, maka target dari operasi kekerasan pun biasanya ikon-ikon non-Muslim. Selang dua pekan setelah peristiwa Tanjung Priok, bom meledak pada beberapa cabang BCA di Jakarta (4 Desember 1984); disusul oleh ledakan pada beberapa gereja di Malang pada 24 Desember 1984; lantas sebuah serial ledakan menghancurkan sejumlah stupa candi Borobudur pada 21 Januari 1985; dan pada 16 Maret 1985, sebanyak 7 orang terbunuh karena ledakan prematur sebuah bom pada bis Pemudi Ekspres tujuan Bali menjelang Banyuwangi.

Setelah rangkaian peristiwa tersebut aktivis-aktivis militan segera menyusup ke bawah tanah. Beberapa orang yang menghindari penangkapan memilih eksodus ke negeri-negeri jiran. Di antara mereka adalah orang seperti Abdullah Sunkar dan Abu Bakar Basyir. Tentu masih banyak lagi yang lainnya. Di pengasingan mereka bertemu dengan orang-orang dengan nasib yang sama dan memiliki audien berupa orang-orang marjinal dari kalangan under-class yang mengalami alienasi dari lingkungan sosialnya. Dari intensitas perjumpaan di antara mereka terbentuklah solidaritas komunal yang kohesif yang diikat oleh kesamaan identititas dan orientasi ideologis.

Internalisasi identitas dan penghayatan ideologi yang ketat membuat anggota-anggota kelompok solidaritas seperti ini sangat peka terhadap nasib orang-orang dengan karakteristik yang sama di belahan dunia lainnya. Secara kebetulan kelompok-kelompok dengan karakteristik yang sama bermunculan di dunia Muslim sebagai dampak ikutan dari aksi-aksi kekerasan dalam hububungan internasional. Jaringan informal antarkelompok seperti ini dipermudah oleh arus globalisasi yang kian luas cakupannya, dalam penetrasinya, dan instan kecepatannya. 

Dari interaksi dan perjumpaan langsung antarpengikut kelompok solidaritas dalam aksi-aksi bersama menentang kekuatan-kekuatan hegomonis di dunia Muslim, seperti di Afghanistan, Bosnia, Palestina dan sebagainya, pengerasan identitas dan ideologi mereka menguat, seiring dengan peningkatan penguasaan teknologi kekerasan.

Maka, ledakan kekerasan tinggal masalah momentum. Ketika transisi politik terjadi, pengawasan keamanan yang mengendur serta konsolidasi demokrasi yang tak kunjung terjadi karena kekacuan-kekacauan politik-ekonomi yang tak terselesaikan, saatnya kekerasan memperoleh momen pembenaran. Rumitnya definisi dan solusi persoalan, mengundang jalan pintas jawaban dalam bentuk pencarian kambing hitam. Lagi-lagi, konspirasi non-muslim dipandang sebagai dalang semua bencana. 

Maka jarak ledakanpun kian dekat dengan rumah dan kantor kita. Terorisme hadir sekarang dan di sini, namun akarnya terhunjam ke masa silam. Ia adalah anak-pinak dari rekayasa dan tindakan kekerasan di masa lalu. Maka, upaya mencegah perkembangan terorisme menuntut pemutusan mata rantai tindak kekerasan. Caranya? Seperti kata Noam Chomsky, “Kita harus berhenti terlibat di dalamnya.” Upaya memerangi terorisme dengan tindakan terorisme yang serupa seperti dilancarkan Amerika di Afghanistan dan Iraq, hanya akan mengembangbiakkan aksi-aksi terorisme.

Kekerasan selalu mengundang kepedihan bagi si korban dan brutalitas bagi si penghancur. Ia bekerja atas ilusi bahwa hidup adalah properti yang harus dipertahankan ketimbang karunia yang harus dibagikan. Saatnya membuka diri penuh cinta untuk yang lain. []

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1