Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

From: "Budhisatwati J.KUSNI" <katingan@club-internet.fr> 
Date: Sun Jun 29, 2003 8:59 pm
Subject: APA SEBAB BUNG KARNO DIGULINGKAN?

APA SEBAB BUNG KARNO DIGULINGKAN?
Sumber: Website Wahana Jakarta, 29 Juni 2003.


Pengantar Wahana : Kami berterima kasih kepada BapakA.Karim DP yang melelui
telpon telah mengizinkan redaksi Wahana untuk menyiarkan presentasinya di
Unisma di Tondano 12 April 2003 bagi kepentingan studi dan penelitian para
pembaca Wahana yang berminat. 

A P A S E B A B B U N G K A R N O DI G U L I N G K A N ?

Diterbitkan oleh Jurnal Solidaritas (SKP HAM )

Kata Pengantar :

Apa yang diuraikan dalam brosur ini hasil investigasi penulisnya sebagai 
wartawan, anggota DPA & anggota MPRS, pada saat saat G30S sedang direncanakan,
yang kemudian diuji kebenarannya dengan pertemuannya dengan pihak pihak yang
terlibat dalam gerakan itu, mulai dari Letnan Kolonel Untung Samsuri ,
komandan Batalyon I Tjakrabirawa yang menjadi komandan gerakan , serta perwira
perwira pendukungnya seperti Kolonel A. Latief., Komandan Brigade Infanteri I
Kodam V Jaya , Mayor Bambang Soepeno. Komadan Batalion 450 / Brawijaya dari
Madiun dan Kapten Kuncoro ,Kepala Staf Batalion 454/Diponegoro dari Semarang,
yang didatangkan oleh Panglima Kostradi Mayjen Soeharto ke Jakarta untuk
mendukung gerakan. Demikian pula pembicaraannya dengan Nyono orang pertama PKI
untuk DKI Jakarta dan Sekitarnya yang menjadi komandan kekuatan PKI mendukung
gerakan. Juga pembicaraannya dengan Ketua Umum PKI D.N. Aidit menjelang
meletusnya G-30-S.

Masih dilengkapi lagi pembicaraannya dengan semua Komandan Regu yang ditugasi
menculik para Jendral ketika bertahun tahun kumpul bersama dalam tahanan.

Pembicaraan penulisnya dengan DR. Soebandrio setelah dia bebas dari tahanan,
yang mengakui menjadi bagian dari G-30-S , memberikan gambaran yang lebih jelas
mengenai gerakan yang akhirnya menggulingkan Bung Karno dari posisinya sebagai
Kepala Negara dan dari semua jabatan kenegaraan yang melekat pada dirinya.

Dan semuanya menjadi lebih gamblang setelah terbitnya "The Foreign Relation of
The United States" yang menjelaskan bagaimana CIA (AS.) dan MI 6 (Inggris)
menggulingkan Bung Karno. 

Mudah- mudahan kehadiran brosur ini bisa memberikan manfaat bagi para pembaca.
AMIN..!


Pemimpin Umum 
Jurnal Solidaritas


Freddy Sutedi


Jakarta , 21 Mei 2003.





APA SEBAB BUNG KARNO BISA DIGULINGKAN ?

Oleh : A. Karim DP


Ada sebuah pertanyaan yang pernah ditujukan kepada saya, sebuah pertanyaan yang
amat berat, tapi sekaligus juga pertanyaan yang cerdas : "Apa sebab Bung Karno
bisa di gulingkan", maksudnya setelah meletus G30S.

Belanda yang berpengalaman 350 tahun menjajah Indonesia dan menindas rakyat
Indonesia habis-habisan, tidak mampu menundukkan Bung Karno yang menuntut
Indonesia merdeka sekarang juga. Lima tahun perang kemerdekaan, dimana Belanda
sudah berhasil menangkap Bung Karno, perlawanannya tidak dapat dipatahkan.

Akhirnya dunia menjadi saksi, pada tanggal 27 Desember 1949 di Istana DE DAM
Amsterdam, Ratu Belanda Juliana harus menyerahkan kedaulatannya atas Hindia 
Belanda kepada Indonesia di depan mata dunia, sambil meneteskan air mata.

Tapi mengapa pada tahun 1967 Bung Karno melepaskan kekuasaannya direbut Jendral
Soeharto ? Ini bertentangan dengan ajaran Bung Karno sendiri untuk jangan
sekali-kali menyerahkan kekuasaan yang ada di tangan dengan sukarela kepada
musuh.

Apakah Bung Karno sudah sangat lemah semangat juangnya, sehingga tidak ada
alternatif lain kecuali menyerah ?

Orang awam bisa menjawab, Bung karno bisa digulingkan karena memang dia mau di
gulingkan tapi tentunya tidak sesederhana itu. Roeslan Abdulgani mengatakan
bahwa Bung Karno menyatakan kepadanya begini :

"Cak Roes ! saya sadar bahwa saya mau tenggelam. Biarkanlah saya tenggelam asal
rakyat Indonesia tetap bersatu".

Saya tidak mendengar langsung Bung Karno berkata begitu, karena saya sudah
ditahan. Tapi kalau Bung Karno bersikap seperti apa yang di katakan oleh Pak
Roeslan, perlu diteliti apa sebabnya. Karena hati kecil kita akan mengatakan
bahwa sikap itu tidak sesuai dengan karakter Bung Karno yang kita kenal, yaitu
tidak mudah menyerah. Apa lagi kepada Jendral Soeharto hanya orang bawahannya. 

Namun itulah yang terjadi

Mengapa ?

Pada hari Maritim 1967, Bung Karno diundang oleh Markas Besar Angkatan Laut
untuk memberikan amanat langsung pada peringatan itu di Surabaya. Yang datang
menghadap Bung Karno menyampaikan undangan dua orang Laksamana Madya yaitu
Jatidjan waktu itu menjabat Mentri Maritim dan Mursalim D.M. Menko Wakil Ketua
DPR-GR. Bung Karno menolak. Alasannya, kalau ia ke Surabaya, kemungkinan besar
akan timbul kesulitan dengan kemungkinan tidak bisa kembali ke Jakarta, karena
rakyat Jawa Timur memang menghendaki komando perlawanan. Saya pernah membaca
salah satu tulisan Jenderal A.H. Nasution, katanya di malang sudah disediakan 6
perumahan untuk ditempati Bung Karno dan keluarganya.

Agaknya Bung Karno memperhitungkan, kalau ia berada di Surabaya, kemungkinan
besar perang saudara tidak dapat di hindari. Jawa Timur dengan bantuan Jawa
Tengah akan menyerang kekuatan Soeharto. Ini tidak di inginkan oleh Bung Karno.
"Biarkan saya tenggelam asal rakyat Indonesia tidak pecah, tetap bersatu"
demikian Bung Karno. Siapa yang menang jika pecah perang saudara, tidak ada
kalkulator yang bisa menghitungnya.

Sungguh malang nasib Bung Karno, karena Jenderal Soeharto kemudian
memerintahkan kepadanya supaya meninggalkan Istana Merdeka sebelum tanggal 17
Agustus 1967. Bung Karno beserta semua anak-anaknya pergi dari Istana dengan
pakaian kaos oblong dan celana piyama beralaskan kaki dengan sendal, menumpang
mobil volkswagen kodok satu-satunya mobil milik pribadinya yang dihadiahkan
oleh piola kepadanya, pergi kewisma yaso, dimana kemudian menjadi tempat
tahanannya sampai wafat. Semua kekayaannya, di tinggalkan di Istana, tidak
sepotongpun yang di bawa pergi kecuali bendera pusaka Merah Putih yang di
bungkusnya dengan kertas koran. Anak-anaknya pun tidak boleh membawa apa-apa,
kecuali pakaian sendiri, buku buku pelajaran sekolah dan perhiasannya sendiri.
Selebihnya ditinggalkan semua di Istana dan sampai sekarang tidak kedengaran
bagaimana nasib barang-barang itu.

Megawati yang sekarang Presiden kita, sepertinya melupakan begitu saja TAP MPRS
No. XXXIII/1967yang menggulingkan Bung Karno, yang juga menugaskan kepada
Jenderal Soeharto waktu itu Pejabat Presiden, untuk menyelesaikan persoalan
hukum menyangkut Dr.Ir.Soekarno, yang tidak pernah di laksanakan sampai Bung
Karno wafat sebagai Tahanan G30S.

Selama Bung Karno di tahan di Wisma Yaso, diperlakukan sangat tidak manusiawi.
Bung Hatta menceritakan bagaimana permintaan Bung Karno kepada Soeharto untuk
sekedar mengizinkan mendatangkan seorang dukun pijet ahli langganan Bung Karno
dan juga langganan Bung Hatta, di tolaknya. Bung Karno mengharapkan dengan
bantuan pijatan dukun ahli itu, penderitaannya akan berkurang.

Itulah kemudian yang mendorong Bung Hatta menulis surat kepada Bung Soeharto
yang mengecam tidak manusiawinya sikap itu, pada tanggal 15 Juli 1970.

Bahkan sebelumnya, Bung Hatta sudah minta kepada Soeharto lewat Durmawel, SH,
penuntut umum perkara Dr. Soebandrio, supaya Soeharto sesudah 3 tahun lebih
mengusut perkara Bung Karno, segera mengajukannya kepengadilan untuk memastikan
apakah Bung Karno bersalah atau tidak. Sebab jika Bung Karno meninggal dalam
statusnya sebagai tahanan politik karena tidak di adili, maka rakyat di Jawa
Tengah dan Jawa Timur yang percaya bahwa Bung Karno tidak bersalah, akan
menuduh pemerintahan Soeharto sengaja membunuhnya, kata Bung Hatta. (Baca :
Deliar Noer, Mohammad Hatta Biografi Politik).

Dan memang itulah yang terjadi, Soeharto tentu di tuduh sengaja membunuh Bung
Karno. Bung Karno menderita penyakit gagal ginjal, dimana kedua ginjalnya tidak
berfungsi lagi dengan baik, tapi saya kira tidak di berikan pengobatan cuci
darah, sehingga nampak wajahnya bengkak-bengkak, menyebabkan jiwanya tidak
tertolong lagi.

Seumpama penyiksaan Soeharto terhadap Bung Karno yang begitu tidak manusiawinya
di lupakan oleh Mega dan memaafkannya seperti yang di tuntut oleh pendukung
Soeharto, dengan alasan bahwa Soeharto sekarang menurut pengakuan para
dokternya sudah menderita sakit di otak yang tidak bisa di sembuhkan lagi,
betul-betul sangat mulia budi Mega yang tidak bisa dicarikan bandingannya.
Karena Tuhan sendiripun tidak bisa mengampuni dosa seorang hambanya, sebelum
yang bersangkutan bertobat dan meminta maaf kepada pihak yang di cederai, dan
memaafkannya.

MAHA KARYA PARA PENDONGKEL

Apa yang saya uraikan di atas merupakan maha karya dan prestasi agung dari para
pendongkel Bung Karno, yang di pelopori oleh Kesatuan Aksi Mahasiswa (KAMI),
Kesatuan Aksi Pemuda/Pelajar (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI)
dan berbagai kesatuan aksi lainnya lengkap dengan laskar-laskarnya dan backing
ABRI, yang terus-menerus lakukan demonstrasi sambil menghujat Bung Karno,
dengan mendapat ransum tiap hari 5000 (lima ribu) nasi bungkus lengkap dengan
lauk-pauknya, dari Kedutaan Besar Amerika yang mengalokasikan dana satu juta US
$, di tukar dengan rupiah di pasar gelap. Demikian di sinyalir oleh Bung Karno.

Disamping itu juga DPR-GR dan MPRS yang susunan keanggotaanya sudah direvisi
oleh Soeharto, serta berbagai partai politik yang cepat berbalik menjadi anti
Soekarno, semuanya serentak bergerak mensukseskan maha karya dan program agung
untuk menggulingkan Soekarno, serta menghujatnya habis-habisan, untuk menaikkan
Soeharto yang mereka nilai sebagai "Pahlawan dan Pemimpin Besar" yang baru
muncul.

Partai Nasional Indonesia (PNI)partai yang didirikan oleh Bung Karno pada tahun
1927 dan terus menerus mendukungnya, tiba-tiba dalam kongresnya di Bandung 28
April 1966, seperti Yudas mengkhianati Yesus, menyatakan mengingkari
kepemimpinan Bung Karno .Bahkan dalam pernyataan Kebulatan Tekad , partai itu
menyatakan tidak menghendaki lagi kembalinya Bung Karno dalam kepemimpinan
Nasional dan Negara.

Partai Komunis Indonesia (PKI) yang tadinya berdiri paling depan mendukung Bung
Karno , kini jangankan membela, menyelamatkan dirinya saja tidak mampu karena
garisnya yang mempertahankan legalitas dan kader kadernya disuruh mendaftarkan
diri di Front Nasional , langsung ditangkap atau dibunuh.

PKI sendiri yang karena sejak awal sudah terlibat dalam gerakan, untuk menutupi
keterlibatannya , partai ini menempuh jalan mempertahankan legalitas yang
berakibat fatal. Banyak kader PKI yang tidak tahan uji, menerima "jabatan"
menjadi interrogator dari penguasa dan membuka isi perut partainya kepada
musuhnya,

Sesudah Soeharto berhasil didudukkan di singgasana kekuasaan, ia segera
ditopang bukan saja oleh ABRI , tetapi secara politik oleh GOLKAR yang tidak
lain dari partai politiknya Soeharto, yang selama 30 tahun di desain terus
menerus menang mutlak dalam Pemilihan Umum dan terus menerus juga memilih
kembali Soeharto sebagai presiden. Soeharto duduk disinggasana kepresidenan
selama 30 tahun , sedang Bung Karno yang memproklamasikan kemerdekaan hanya
sempat berkuasa 20 tahun.

G30S yang disebut oleh Bung Karno sebagai GESTOK (Gerakan 1 Oktober)yang
langsung dipimpin oleh Soeharto , memang dialah arsiteknya, Dr Soebandrio yang
waktu itu Wakil Perdana Menteri 1 , Menteri Luar Negeri dan Kepala Badan
Intelijen (BPI) menambahkan bahwa prestasi gemilang Soeharto tidak terlepas
dari dukungan Amerika Serikat , yang memang sudah lama berusaha menggulingkan
Bung Karno dan sekaligus menghancurkan PKI , seperti yang terungkap dalam buku
"Foreign Relations of the United States" yang diterbitkan dan dicetak oleh
percetakan Negara AS, tapi yang ditarik kembali oleh Departemen Luar Negeri
dari peredaran , karena isinya masih harus dirahasiakan . Tetapi sudah banyak
yang lolos ke luar negeri , dan saya menerima copynya dari sahabat saya di
Australia, Prof. Dr. Angus Mc Intyre.

Pembuktian lain bahwa Soeharto adalah sang arsitek , menurut pengakuan Untung ,
3 minggu sebelum M meletusnya G30S , ia dan Kol. Latief , masing masing sebagai
Komandan Batalion 1 Tjakrabirawa dan Komandan Brigade Infanteri 1 Kodam V Jaya
, sudah merundingkan dengan Soeharto langkah-langkah yang perlu diambil.

Untung dan Latief kedua-duanya bekas anak buah Soeharto , dan persahabatan
mereka terus berkelanjutan . Kunjungan Latief ke RSPAD "Gatot Subroto" pada
malam gerakan akan dilancarkan 4 jam kemudian, menemui Soeharto sedang menemani
isterinya menunggui anak bungsu mereka Tommy yang sedang dirawat di sana karena
kena guyur sup mendidih , anak kesayangannya yang diyakini membawa rezeki ,
adalah kontak terakhir pelaksana gerakan, untuk melaporkan bahwa gerakan segera
dilaksanakan (4 jam kemudian) , yang diterimanya dengan penuh keseriusan.
Belakangan Kolonel Latief mengakui dalam bukunya edisi ke II bahwa laporan yang
sama disampaikan juga kepada Panglima Kodam V Jaya, Umar Wirahadikusuma.

Jadi, kedatangan Latief ke RSPAD "Gatot Subroto" pada tanggal 30 September 
1965 pukul 11.00 malam , samasekali bukan untuk membunuh Soeharto seperti yang
pernah dikatakannya kepada seorang wartawan Jerman , tapi untuk menerima
laporan akhir mengenai gerakan. Menurut seorang saksi, segera sesudah itu,
Soeharto berangkat ke KOSTRAD untuk konsolidasi pasukan dan keliling kota
melihat-lihat keadaan , lewat di depan RRI, kantor Telkom dan TVRI. 

Rencana ini diperhitungkan dengan cermat untuk menjamin kesuksesannya, dengan
seminggu sebelum pelaksanaan, Soeharto sebagai Panglima KOSTRAD mendatangkan 3
(tiga) Batalion pasukan tempur berpengalaman , masing masing dari Semarang ,
Madiun dan Bandung yang berada dibawah komando KOSTRAD . Kapten Kuncoro, kepala
staf Batalion 454/Diponegoro yang ditahan satu sel dengan saya di blok isolasi
Blok N penjara Salemba (Jakarta), menceritakan bahwa ketika batalyonnya tiba di
Jakarta menumpang serentetan kereta api panjang memuat prajurit, kendaraan,
senjata ringan dan berat serta peluru yang cukup untuk pertempuran 10 hari
sebagaimana diinstruksikan, Soeharto datang mengucapkan "selamat datang" dan
meng-inspeksi pasukan serta perlengkapan-perlengkapannya. Kendaraan yang sudah
tua diganti dengan yang baru, begitu juga senjata-senjatanya.

Semua tidak ada yang dilaporkan oleh Soeharto kepada atasannya, padahal
persiapan gerakan ini beresiko tinggi, sehingga tidak ada secuilpun tindakan
untuk mencegah di bunuhnya 6 Jenderal teras Angkatan Darat yang diculik oleh
gerakan militer yang sudah dipersiapkan dengan baik. Ternyata Jenderalyang
diculik lalu dibunuh itu, adalah musuh-musuhnya Soeharto, demikian diterangkan
oleh Dr. Soebandrio.

Banyak keterangan yang bisa saya gali dari kapten Koencoro, Kepal Staf Batalyon
454/Diponegoro, Mayor Bambang Soepeno, Komandan Batalyon 530/Brawijaya dan
Kapten Soeradi, Kepala Seksi I-nya Kol. Latief,ketika saya berkumpul dengan
mereka satu sel dalam tahanan isolasi di Blok N penjara Salemba, yang tidak
mungkin saya ceritakan semua disini karena memerlukan waktu panjang, namun
semuanya memperjelas keterlibatan Soeharto dalam G30S.

Di penjara Salemba saya pernah bertanya kepada M. Naibaho, staf Agitprop PKI
dan pemimpin redaksi "Harian Rakyat" organ resmi PKI : "Mengapa PKI mendukung
G30S ?", padahal gerakan itu kalah ? jawabnya : Karena waktu itu PKI
berpendapat, minimal dengan kehadiran 2 Batalyon tentara dari Semarang dan
Madiun yang katanya progressif atas perintah Soeharto, adalah kesempatan yang
tidak akan berulang lagi. Oleh karenanya, gerakan di dukung untuk menghacurkan
kekuatan di AD yang anti PKI dan anti Kabinet NASAKOM.

Tapi ada alasan lain yang layak dipertimbangkan, karena bersumber dari orang
pertama PKI, yaitu DN. Aidit.

Kebetulan Aidit yang ikut dalam delegasi Indonesia ke Konperensi Asia-Afrika II
di Aljazair dibawah pimpinan Presiden Soekarno (yang gagal), berangkat dari
Jakarta 23 Juni 1965 dan berhenti sampai Kairo, tidak melanjutkan ke Aljir.
Hari itu gedung Konperensi di ledakan dengan bom, yang tidak di ketahui siapa
pelakunya. Aljazair sendiri sendiri sedang dalam kondisi politik yang tidak
stabil, karena tiba-tiba saja menjelang penyelenggaraann KAA-II, Presiden Ben
Bella di-coup oleh Kolonel Houari Boumedienne, Panglima Tentara Pembebasan
Aljazair pada tgl. 19 April 1965. Ben Bella dituduh bertindak sewenang-wenang
selama masa kekuasaannya yang 641 hari, mau kuasa sendiri, seorang diktator
yang meninggalkan dasar musyawarah.
Saya sendiri ikut dalam rombongan ini sebagai wartawan.

Dari Kairo, Bung Karno pergi ke Paris dan mengumpulkan para Duta Besar kita
yang ada di AS dan Eropa, untuk mendapatkan briefing mengenai kegagalan KAA-II
dan sekaligus menguraikan persiapan Conference of the New Emerging Forces
(CENEFO) yang akan diselenggarakan di Jakarta.

Di Paris Aidit berjumpa dengan6 tokoh Partai Komunis Aljazair yang melarikan
diri dari negrinya, karena takut di tangkap oleh Boumedienne. Kata Aidit kepada
saya, justru dia minta kepada mereka supaya segera kembalike Aljazair dan
memobilisasi massa rakyat untuk mendukung Boumedienne ,karena di nilainya,
berbeda dengan coup d'etat yang bisa dikenal, coup Boumedienne ini berwatak
progressif. Aidit yang saya interview sesudah pertemuannya dengan kamerad 
kameradnya dari Aljazair dan tokoh-tokoh Partai Komunis Perancis, mengatakan
pendapatnya bahwa coup seperti yang di lancarkan oleh Boumedienne, apabila di
dukung 30 Pct rakyat, bisa bermutasi menjadi revolusi. Ia berjanji akan
menjelaskan kepada saya teorinya itu di tanah air. Waktu itu ia tergesa-gesa
mengejar pesawat terbang yang hendak berangkat ke Moskowdan memisahkan diri
dari rombongan Bung Karno, dengan membawa teorinya itu, mungkin hendak di
terapkan di Indonesia. Sayangnya sejak itu, saya tidak pernah lagi bertemu dia
sampai ia dieksekusi atas perintah Soeharto. 

Mungkin teori inilah yang diterapkannya di Indonesia, karena dalam sidang Dewan
Harian Politbiro PKI tanggal 28 September 1965, di putuskan mendukung gerakan
perwira muda yang tergabung dalam G30S yang bertujuan hendak mematahkan gerakan
para Jenderal yang beroposisi terhadap Bung Karno dan hendak merevisi
ajaran-ajarannya, dan sekaligus menghendaki terbentuknya Kabinet baru dengan
intinya para Jenderal.

Tpi ketika saya berjumpa dengan Ismail Bakri, Sekretaris CDB PKI Jawa Barat di
Bandung, ketika kami sudah sama-sama bebas, ia mengaku ikut hadir dalam sidang
Dewan Harian Politbiro yang dimaksud, dan menyatakan tidak mendukung putusan
itu. Ia mengeluarkan statement yang menolak ke-ikut sertaan PKI mendukung G30S.

NASIB SIAL UNTUNG.

Nasib sial menimpa Let. Kol.Untung, meski pun ia sudah membantu Soeharto. Dr.
Soebandrio mengatakan kepada saya, Soeharto memutuskan Untung harus di bunuh
sesuai petunjuk dukunnya, karena inilah syarat untuk kejayaan Soeharto.
Sebetulnya, kata Soebandrio, ia sendiri juga akan di eksekusi 4 hari sesudah
untung, tapi oleh suatu keajaiban mendadak DIBATALKAN. Untung sempat
mengucapkan "selamat tinggal sampai bertemu di sana", sambil menunjuk kelangit,
kepada Dr. Soebandrio.

Soebandrio menceritakan dalam bukunya "Kesaksianku tentang G30S", ini saya
mengulangi saja karena mungkin saudara-saudara sudah membaca bukunya -, suatu
hari diakhir 1966, Untung di jemput dari selnya di penjara Cimahi oleh beberapa
sipir penjara. Diberitahukan bahwa ia akan di eksekusi. Itulah saat-saat
terakhir Untung menjalani hidupnya.

Kata Dr. Soebandrio lagi :
Saya dan Untung yang sudah akrab selama berada dalam satu penjara di Cimahi,
benar-benar hanyut dalam suasana haru. Saya bukan saja terharu, tapi juga
panik, sebab Ahmad Durmawel, SH, oditur militer yang mengadili saya, saat itu
memberitahukan bahwa saya akan mendapatkan giliran 4 hari kemudian. Saya ingat
saat itu hari selasa, berarti saya akan di eksekusi pada hari sabtu.

Sebelum Untung di jemput untuk dibawa ke luar penjara, saya sempat menemuinya.
Saat itu ia sudah ditanya tentang permintaan terakhir seperti lazimnya bagi
orang yang akan di eksekusi. Mungkin karena Untung panik, ia tidak minta
apa-apa. Untung juga sudah tahu bahwa saya akan dieksekusi hari sabtu. Maka
pertemuan saya dengan Untung benar-benar luar biasa. Kami memang hanya
berhadap-hadapan dengan pakaian seragam narapidana, namun hati kami tidak
keruan. Untung segera akan ditembak, sedangkan saya saya 4 hari lagi.

Saat itu ada kalimat perpisahan dari Untung yang saya ingat sampai sekarang.
Bahkan saya ingat suasana hening saat itu, ketika Untung menyampaikan kata-kata
perpisahannya kepada saya. Para sipir dan tentara berwajah angker lengkap
dengan senjata mautnya, dalam sikap siaga mengawal Untung dan mengawasi saya
dari jarak yang agak jauh. Mereka seperti maklum dan memberikan kesempatan
terakhir kepada Untung untuk berpesan kepada saya, kata Soebandrio.

Untung mangatakan demikian : "Pak Ban , selamat tinggal, jangan sedih, empat
hari lagi kita bertemu di sana", sambil menunjuk kelangit. Untung mengucapkan
kata perpisahannya dengan suara bergetar. Matanya kelihatan berkaca-kaca.
Perwira yang gagah berani itu, pahlawan pembebasan Irian Barat yang di
terjunkan dari udara, tidak menangis, tapi saya lihat dia dalam kondisi sangat
panik. Ia benar-benar tidak menyangka akan di khianati oleh Soeharto.

Jika menengok hari-hari sebelumnya, Untung begitu sering mengatakan kepada
saya, bahwa tidak mungkin Soeharto akan mengkhianatinya. Sebab ia adalah
sahabat Soeharto dan ia mengulangi lagi bahwa Soeharto sangat mengetahui
rencana G30S, bahkan memberikan bantuan pasukan. Karena itu ia sangat yakin
tidak akan di khianati oleh Soeharto. Tapi toch kenyataannya berakhir demikian.
Menanggapi keyakinan Untung, saya tidak bisa bicara apa-apa. Saya hanya
mengangguk-angguk. Para sipir dan tentara yang mengawal kami, menyaksikan semua
adegan singkat tapi mengharukan ini.

Menjelang senja, dengan pengawasan ekstra ketat, Untung berjalan menuju pintu
gerbang untuk meninggalkan penjara Cimahi. Saya mengamatinya dari penjara dan
ia tampak berjalan tegap. Mungkin ia sudah bisa menguasai perasaannya. Saya
kemudian mendengar bahwa Untung di eksekusi di sebuah desa di luar kota Bandung.

Saya tidak sempat lagi sedih memikirkan nasib Untung. Hidup saya sendiri akan
berakhir sebentar lagi. Terus terang, setelah Untung di eksekusi, saya
benar-benar gelisah. Manusia mana yang tidak takut jika hari kematiannya sudah
di tentukan.

Tapi - inilah keajaiban -, Presiden AS, Lyndon B. Johnson dan Ratu Kerajaan
Inggris Elizabeth, diluar pengetahuan saya mengirimkan surat kawat kepada
Soeharto. Saya mengetahui ini dari seorang sumber beberapa hari kemudian. Isi
surat kawat dari kedua Kepala Negara itu ini juga ajaib -, hampir sama
intinya berbunyi demikian : "Soebandrio jangan di tembak. Saya tahu, dalam G30S
dia tidak terlibat".

Itulah pengakuan Dr.Soebandrio sendiri.
Tentu saja pernyataan Presiden Jhonson dan Ratu Elizabet yang sama itu kembali
menjadi keajaiban besar, karena Soebandrio sendiri mengatakan dalam bukunya
"Kesaksianku tentang G30S" bahwa ia bukan sekedar bagian dari sejarah G30S,
melainkan pelaku sejarah itu sendiri.
Biarlah sejarah mencatat siapa yang jujur dan siapa yang bohong.

Saya hanya ingin menambahkan nasib Bung Karno, yang juga sangat berjasa kepada
Soeharto, karena mengangkatnya menjadi Jenderal setelah menyelamatkannya dari
pengadilan militer karena perbuatan korupsinya sewaktu menjabat Panglima
Diponegoro, dengan mengganjarnya dengan hanya di suruh belajar di Seskoad, yang
justru ijazahnya di jadikan modal untuk menggulingkan Bung Karno dan
menyiksanya .

Saya mendengar sepenggal cerita dari orang yang mengakui ikut memperhatikan dan
mendengar dialog saat-saat Bung Karno COMA. Sebentar-bentar telepon berdering,
kira kira menanyakan bagaimana kondisi Bung Karno. "Belum", di jawab dari
telepon jaga di RSPAD Gatot Subroto. Akhirnya cairan dari tabung infuse tidak
menetes lagi, tanda jantung tidak lagi berfungsi, telepon yang terus berdering
di jawab .." sudah selesai !".

Inna lillahi wa-inna ilaihi rojiun !

Bung Karno pergi dengan meninggalkan warisan besar kepada Soeharto berupa
pangkat Jenderal setelah menyelamatkannya dari pengadilan militer karena
korupsinya, kemudian Soeharto mengkhianatinya.

Soedisman, Sekjen CC PKI, telah mengeluarkan buku KRITIK DAN OTOKRITIK saya
kira saudara saudara sudah membacanya yang secara tidak langsung mengakui
keterlibatan PKI dalam G30S.

Pada awal tadi sudah saya katakan bahwa Panitia Seminar minta kepada saya untuk
menjawab pertanyaan yang amat berat : "Apa sebab Bung Karno bisa di gulingkan
?".

Kalau saudara-saudara sudah membaca buku "Foreign Relations of the United
States" yang mengenai Indonesia saja 800 halaman, menunjukkan betapa pentingnya
Indonesia di mata Amerika akan menemukan jawaban pertanyaan diatas .Dokumen itu
mengungkapkan upaya Smerika hendak menjatuhkan Bung Karno dan menghancurkan
PKI, upaya mana berhasil.

Katakanlah upaya itu adalah faktor external, yang seharusnya tidak menentukan
jika tidak mendapat dukungan dari faktor internal yang kuat.

Oleh karena itu saya berpendapat bahwa tergulingnya Bung Karno yang berawal
dari terjadinya malapetaka G30S, sesuai dengan kesimpulan Bung Karno sendiri,
ialah karena adanya 3 faktor sebagai berikut :


1. Lihaynya Nekolim. 
2. Keblingernya pemimpin pemimpin PKI.
3. Adanya ke-tidak-beresan dalam tubuh aparat kita sendiri.

Sesungguhnya rumusan Bung Karno itu diperluas olehnya. Rumusan yang pas dan
sesuai dengan kenyataannya, ketiga faktor yang menyebabkan terjadinya G30S
ialah :


1. Adanya intervensi Nekolim di Indonesia (AS dan Inggris) yang diikuti
dengan persiapan melakukan invasi (menyerbu) ke Indonesia meskipun dikatakan
secara terbatas.


2. Keblinger-keblingernya pemimpin PKI yang tadinya merupakan kekuatan
besar pendukung Bung Karno, karena mengharapkan kekepentingan politik yang
lebih besar dari kemungkinan menangnya gerakan tersebut. Ini di buktikan dengan
di bentuknya Dewan militer oleh PKI menjelang gerakan di mulai, dan semua rapat
persiapan G30S dari perwira perwira muda, di pimpin oleh Syam (Kamaruzzaman),
Ketua Biro Ketentaraan (Biro khusus menurut istilah Orde Baru).


3. Adanya oposisi yang kuat dalam jajaran kekuasaan Bung Karno sendiri,
terutama dari Angkatan Darat dan partai-partai politik yang tadinya pura-pura
mendukung Bung Karno sebelum G30S. Sebagai ganti Nasakom, mereka memperkenalkan
istilah baru : "Soekarnoisme" yang di tolak oleh Bung Karno, karena tafsirannya
sesuai selera mereka sendiri, yang di populerkan oleh "Badan Pendukung
Soekarnoisme" (BPS) dan mendapat dukungan dari Angkatan Darat dan CIA.
Uraiannya ada dalam buku "Foreign Relatio of the United States". Partai
Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Bung Karno dan teman-temannya pada
tahun 1927, dan terus menerus mendukung politik Bung Karno, dalam kongresnya di
Bandung 28 April 1966, Sudah mengingkari kepemimpinan Bung Karno. Bahkan dalam
"Pernyataan Kebulatan Tekad" 21 Desmber 1967, PNI mengatakan tidak menghendaki
lagi kembalinya Bung Karno dalam kepemimpinan Negara dan Pemerintahan. Juga PKI
yang tadinya mendukung Bung Karno, jangankan membela, untuk menyelamatkan
dirinya sendiri saja sudah kerepotan. 


Walhasil Bung Karno sudah dikepung dari segala penjuru, sehingga tidak mungkin
lagi meloloskan diri, apalagi ia sendiri menolak memberikan komando perlawanan,
meskipun pendukungnya sampai 1966 masih sangat optimis menang, jika Bung Karno
mau saja memberikan komando perlawanan.

Soeharto sejak awal sudah mengatakan bahwa yang mendalangi G30S ialah PKI. Dr.
Soebandrio yang memegang jabatan strategis pada saat itu, yaitu sebagai Wakil
Perdana Menteri I Menteri luar Negeri dan Kepala Badan Pusat Inteligent (BPI),
mengatakan justru G30S di siapkan oleh Soeharto sejak awal sampai pelaksanaan
dan selesainya. Dr. Soebandrio tidak percaya kalau PKI di sebut dalangnya,
sebab kalau PKI yng mempunyai anggota 3 juta dan pendukung aktif 17 juta yang
mendalanginya, akan terjadi banjir darah yang luar biasa hebatnya.

PKI dalam kesibukannya membantah ke-tidak terlibatan, di mentahkan oleh
pengakuan pengakuan yang di berikan oleh Nyono, anggota politbiro dimuka sidang
MAHMILLUB, dengan mengakui keterlibatan PKI setelah di giring oleh ketua
Mahkamah dan Oditur dengan pertanyaan pertanyaan yang diajukan dimuka sidang.
Pengakuan-pengakuan yang lebih jelas, bisa dibaca dalam buku tentang
hasil-hasil persidangan MAHMILLUB dalam penyelesaian perkara G30S, yang
diterbitkan oleh Pusat Pendidikan Kehakiman Angakatan Darat.

Disamping itu, masih ada lagi surat DN Aidit selaku Ketua Central Comite PKI
tertanggal 10 November 1965 (sebelum ia di tangkap), di tujukan kepada seluruh
CDB PKI se-Indonesia terdiri 11 point (di sita dari seorang kader PKI di Jawa
Tengah), beberapa yang pokok saya kutipkan di bawah ini :


1. Akibat gerakan 30 September yang seharusnya adalah 100 pct. Soal
Angkatan Darat, telah mendatangkan malapetaka besar pada PKI, walaupun semua
soal ini dalam diskusi dan instruksi-instruksi yang lalu, telah kami
perhitungkan, namun jelas semua tindakan kaum reaksioner khususnya Dewan
Jendral, dapat mengecilkan anggota partai yang masih belum berpengalaman.


2. Dalam menanggulangi hal-hal ini memang dalam praktek tidak semua
persiapan perkiraan yang lalu, sesuai dengan kenyataanyang telah kita pikirkan,
baik dari partai-partai sekawan, mau pun dari Sosro (maksudnya:Bung Karno)dan
Tjeweng (maksudnya: Dr. Soebandrio), jelas tidak membuktikan kesetia-kawanan,
apa lagi memenuhi janji yang telah di ucapkan.


3. Karena itu sekali lagi CC partai perlu menandaskan, semua ini walau
tinggal satu orang partai duduk, akan tetap berjuang; apa yang sekarang terjadi
adalah sebagai jenderal repetisi, tapi bila ucapan politik Sosro dapat di
terima Dewan Jenderal, bahwa gerakan 30 September adalah "een rimpel in't grote
oceaan", atau soal kecil, ini untuk kita sagat menolong, berarti dor-doran dan
jor-joran yang sekrang di hadapkan Dewan Jenderal terhadap partai dan
oknum-oknum kita dapat terhenti,sehingga kita dapat berkonsolidasi kembali.


4. Sebagai Instruksi yang lalu dan salinan surat kami pada Sosro yang
kami sampaikan kepada CDB di Jawa, walaupun sekaligus belum tercapai, CC partai
yakin usaha-usaha Sosro dan Tjeweng sedang mengarahkan kepada soal-soal yang
kami usulkan pada tanggal 6 Oktober yang lalu, tapi kami lebih yakin bahwa bila
Sosro hingga kini belum secara tegas berbuat, tak lain karena dia tidak begitu
saja dapat melangkahi Dewan Jenderal yang ada di depan hidungnya.


5. Sosro telah menyetujui untuk sementara saya menyingkir ke tetangga,
sebenarnya aslkan saya bertemu ombak, berarti tercapailah penyingkiran itu,
juga pihak Gatotkotjo (AURI) telah menyanggupi mengirim belalang (pesawat
terbang) untuk membawa kalau melangkahi daerah Dewan Jenderal. Bila ini
berhasil, berarti jaminan bagi perjuangan jangka panjang telah ada, sebab dari
san semua persetujuan Sosro dengan tetangga akan di gugat terus. Jelasnya dalam
memperjuangkan konsep Partai kita, tidak perduli akan korban, bila perlu Sosro
jadi korban, bila dia tidak memenuhi semua perjanjian. 




Point-point selanjutnya lebih memberikan semangat supaya meneruskan perjuangan
, sambil mengingatkan (point 9) bahwa Sosro dan Tjeweng tidak akan berkhianat,
maka dari negara tetangga perjanjian perjanjian yang telah kami sampaikan
secara / R (rahasia) pada bulan Agustus yang lalu terpaksa di umumkan dan ini
berarti lonceng kematian dan kehancuran bagi Sosro/Tjeweng. Tapi pengumuman
janji ini tidak pernah ada.

Aidit juga minta disiapkan semua fakta dan dokumen penulisan Buku Putih
Pengkhianatan Dewan Jendral. 

Tentang Dewan Jendral yang terus disebut sebut Aidit , cukup menarik
keterangan Prof Dr Wertheim dari Belanda yang terkenal membela PKI , menulis
dalam makalahnya "Missing Link" (mata rantai yang hilang), bahwa tadinya ia
memang percaya adanya Dewan Jendral. Tapi setelah menelusuri keterangan
keterangan yang ada .ia berubah pikiran menjadi tidak ada. Bahkan pengakuan
Mayor Rudhito (dari SUAD I). di muka Sidang MAHMILLUB tentang adanya rekaman
rapat Dewan Jendral , dianggap isi rekaman itu sebagai rekayasa, sedangkan mata
rantai yang putus akhirnya dia temukan , yaitu "Soeharto". Jadi , Soehartolah
dalang G30S, kata Wertheim.

PESANAN 5000 KEPALA ORANG PKI

Sekarang bagaimana pengakuan Amerika?

Mati matian Amerika membantah keterlibatannya , kecuali mantan Duta Besar
Amerika di Jakarta Marshall Green mengakui bahwa AS mendapat keuntungan dari
kejadian itu. Menurut seorang wartawan Amerika Nona Kathy Kadane dari States
News Service , Marshall Green adalah salah satu expert pada biro intelijen dan
penelitian State Department .Dialah yang mengatur segala bantuan AS untuk
Soeharto. Dia pula menurut Bung Karno yang memerintahkan menukar satu juta
dollar AS di pasar gelap dengan rupiah, yang digunakan untuk membeli nasi
bungkus dengan lauk pauknya, untuk makan 5000 demonstran yang tiap hari
berdemonstrasi menghujat Bung Karno dan menuntut supaya diturunkan dari jabatan
Presiden.

Keterlibatan AS memang sudah sangat jelas, apalagi setelah terbitnya buku 
"Foreign Relations of the United States" , yang tebalnya 800 halaman khusus
mengenai Indonesia, memuat dokumen dokumen tentang keterlibatan AS.

Memang mula mula pejabat pejabat resmi AS membantah keterlibatannya tapi dilain
pihak , adajuga orang Amerika seperti Kathy Kadane yang membocorkan rahasia dan
lebih jelas lagi apa yang dimuat dalam buku "Foreign Relations of the United
States". 

Kathy Kadane melaporkan bahwa pada tahun 1965 1966 CIA memesan 5000 kepala
orang orang PKI yang harus dibantai atau dipenjarakan. Nama nama mereka
diserahkan kepada Angkatan Darat dan selalu dikontrol apakah sudah dilaksanakan
atau belum. Ternyata yang dibantai lebih banyak dari yang dipesan. Tentu
menyenangkan sekali bagi AS. 

Ada laporan yang menarik dimut dalam "Foreign Relations of the United States ",
bahwa di Jawa Tengah dan Jawa Timur sepanjang tahun 1966 adalah hal-hal yang
biasa bahwa setiap malam dibantai 50 sampai 100 oang di banyak tempat. Laporan
dari konsulat AS di Surabaya menyebutkan ada 3500 warga PKI yang dibunuh di
Kediri dalam periode 4 sampai 9 November 1965 dan 300 orang didaerah sekitar 30
km dari Kediri. Di Bali, 8000, kata laporan itu. 

Seorang diplomat AS yang bertugas di Jakarta pada tahun 1970 , Richard Howland
, membantah seolah olah jumlah korban PKI yang dibunuh dalam peristiwa G30S 
1,5 juta. Katanya dia pernah mencari keterangan dari seorang Let.Kol.AD, 
mengatakan bahwa bahwa total korban di Jawa 50.000 , di Bali 6000 dan di
Sumatera Utara 3000. Diplomat itu mengatakan bahwa ia tidak setuju dengan
metode yang digunakan sang Letnan Kolonel menghitung jumlah itu, namun jika
dikombinasikan dengan data yang dimilikinya, jumlah yang mendekati kebenaran
150.000 saja, kata Richard Howland.

Kedutaan Besar AS di Jakarta mengakui bahwa di Indonesia memang terjadi
pembasmian orang orang komunis, tapi katanya lagi , banyak ceritera yang
dilebih lebihkan. Jumlah korban 100.000 atau mendekati 1 juta orang, sebenarnya
tidak pernah diketahui dengan pasti.Karenanya sulit untuk mereka reka berapa
jumlah 
yang sesungguhnya .Oleh karenanya lebih bijaksana jika mengakui yang lebih
kecil. Orang Indonesia, kata laporan itu, memang suka melebih lebihkan fakta.

Bahwa jumlah yang dibantai di Indonesia, tidak ada angkanya yang pasti, karena
memang belum pernah diadakan penelitian oleh siapapun. Panitia Amnesti
Internasional yang berpusat di London menaksir 1 juta. Sk Washington Post
memperkirakan 500.000 sedang CIA memperkirakan hanya 250.000, tapi menyebutnya
itupun sebagai salah satu pembunuhan masssal terburuk dalam abad 
XX. Apalagi jika seperti yang dikatakan oleh Jendral Sarwo Edhie, panglima
penumpasan G30S, sebelum beliau meninggal , kepada Bapak Permadi, SH yang
datang menjenguknya mengatakan jumlah yang sebenarnya 3 juta. Bapak Permadi
tekejut mendengar angka itu, tapi Sarwo Edhie mengatakan : jangan kaget memang
itu yang sebetulnya. 

Mudah menunjuk siapa yang memprovokasi sehingga terjadi pembunuhan pembunuhan 
yang kejam itu. Amerika ! Sejak 1957 1958 pada peristiwa pembrontakan
PRRI/PERMESTA, rencana hendak membunuh Bung Karno sudah dipertimbangkan dengan
matang. Pembrontakan PRRI/PERMESTA ini sepenuhnya didukung oleh AS. Untung
mereka kalah. 

Menurut buku "Foreign Relations of the United States", Duta Besar AS di Jakarta
Howard Jones yang pandai ngibulin Bung Karno, melapor ke Washington bahwa coup
d'etat Angkatan Darat hendak menggulingkan Presiden Soekarno, semula di
rencanakan akan di langsungkan pada bulan Mei atau Juni 1965, mengambil
kesempatan ketika Bung Karno berada di luar negeri. Tapi rencana ini gagal
karena orang-orang yang terlibat di dalamnya lambat bertindak.

Akhirnya Let. Kol. Untung yang mendahului rencana AD yang akan diadakan pada 5
Oktober, bertepatan dengan hari Angkatan Bersenjata dengan melancarkan Gerakan
30 September.

Tapi banyak laporan yang mengatakan bahwa Untung hanyalah sekedar boneka yang
di korbankan oleh Soeharto, yang ambisinya sudah sampai di ubun-ubun. Begitu
laporan CIA tanggal 6 Oktober 1965. Laporan itu cocok dengan apa yang diketahui
bahwa Untung adalah kaki tangan Soeharto. Semua rencana persiapan G30S di
laporkan dan dikoordinasikan dengan Soeharto, baik oleh Untung maupun Latief.
Begitu kesaksian Dr. Soebandrio yang mengakui dirinya adalah bagian dari
sejarah G30S.

Ketika Latief melapor kepada Soeharto di RSPAD "Gatot Subroto" 4 jam sebelum
Gerakan di laksanakan, Soeharto membiarkan semua itu berjalan.

Masalahnya menjadi krusial dan kritis, ketika harus menjawab pertanyaan: Siapa
sebenarnya sponsor G30S itu ? CIA selalu dituding sebgai sponsor. CIA mempunyai
agen yang bernama Kamaruzzaman alias Syam, dia juga menjadi Intel AD di PKI. 

Kedudukannya sangat penting yaitu apa yang dikenal dengan Kepala Biro Khusus.
Sebetulnya istilah Biro di ciptakan oleh Orde Baru, karena istilahnya yang
sebenarnya menurut Cugito (anggota Politbiro) yang pernah saya wawancarai
sebelum meninggal, katanya :"Biro Ketentaraan". Peran Syam sebagai double agent
sempat memusingkan kepala Prof. Dr. Wertheim, karena katanya istilah double
agent hanya di publiksikan sekli oleh "Sinar Harapan", sesudah itu tidak pernah
muncul lagi. Menurut Wertheim, tentu di larang oleh Orde Baru. Oknum Syam ini
sangat di percayai oleh Aidit dan seolah-olah dialah yang menjadi orang kedua
di PKI sesudah Aidit.

Kamaruzzaman-lah yang memimpin semua pertemuan perwira-perwira maju yang
mempersiapkan gerakan. Semuanya di laporkan Syam kepada Aidit dan tentu Aidit
senang sekali mendengarkan laporan Syam itu karena yang di gambarkan adalah
kemenangan dan kemenangan.

Keterlibatan tokoh-tokoh PKI sulit dibantah, karena Soedisman sendiri secara
samar-samar mengakuinya dalam "Kritik dan Otokritik". 

Nyono angota politbiro dan Peris Pardede calon anggota politbiro juga mengakui
di sidang MAHMILLUB adanya tiga kali rapat yang penting, yang di hadiri oleh DN
Aidit, MH Lukman, Nyoto, Sudisman, Ir. Sakirman, Anwar Sanusi, Nyono, Peris
Pardede,Rewang dan Suwandi. Dalam rapat-rapat itu Aidit menginformasikan adanya
Dewan Jenderal yang hendak mengadakan kup. Ketika Ketua Mahkamah menanyakn,
apakah ada bukti tertulis yang di perlihatkan oleh Aidit, dijawab oleh Nyono
"tidak ada". Informasi secara lisan yang di sampaikan oleh Ketua Aidit, selalu
di nilai sudah benar. 
Nyono dan Peris Pardede juga mengakui di bicarakannya imbangan kekuatan antara 
Dewan Jenderal dan kelompok perwira perwira maju. Hasil penilaian imbangan
itu positif bagi perwira-perwira maju yang didukung PKI. Tidak disadari sama
sekli bahwa gerakan perwira maju sebetulnya bukan di kendalikan oleh PKI,
melinkan oleh Jenderal Soeharto, karena tokoh-tokohnya adlah orang-orangnya
Soeharto. Sehingga timbul pertanyaan usil : Apakah juga Soeharto seorang PKI,
meskipun dia munafik.

Namun seorang Komandan Batalyon dari Tanggerang, Mayor Agus Sigit , yang selalu
ikut dalam rapat-rapat persiapan, karena Batalyonnya disiapkan untuk mendukung,
mengatakan kepada saya waktu bertemu di Salemba (ia juga di tahan), pada waktu
rapat membicarakan imbangan kekuatan , ia sudah menyatakan bahwa imbangan
kekuatan yang dilaporkan, belum bisa menjamin kemenangan. Tapi pendapatnya
tidak di terima. Oleh karena itu ia tidak hadir-hadir lagi dalam rapat rapat
berikutnya dan juga tidak hadir serta menggerakkan pasukannya ke Lubang Buaya
pada saat Gerakan ini dimulai.

Tapi PKI sangat percaya diri.

MH Lukman pernah menulis buku yang menilai bahwa PKI telah berdominasi di
bidang politik, satu penilaian yang sama sekali tidak terbukti kebenarannya.

Anggota Politbiro Anwar Sanusi menjelang 30 September 1965 mengatakan di
hadapan sukarelawan di hadapan BNI, bahwa kita sekarang sedang berada dalam
situasi dimana ibu pertiwi sedang hamil tua. Sang bidan siap dengan alat-alat
peraji yang di perlukan untuk menyelamatkan sang bayi yang adalah kekuatan
politik yang sudah di tentukan dalam MANIPOL (itulah G30S).

Sebenarnya apakah yang di-disain dengan mencetuskan G30S ?. Apakah memang di
maksud unutk mencari pemimpin baru unutk memimpin revolusi ? 

Ya, memang hendak mendudukan Jenderal Soeharto di atas singgasana ke-Presidenan
yang bersepuh darah.

Oleh karena itu, sesungguhnya semua kekuatan yang pernah aktif bergerak di
sekitar terjadinya G30S, ikut menyumbang pada krisis politik yang kita alami
sampai sekarang. Dan sekarang pun akibatnya kelihatan masih terus hidup
Nostalgia yang hendak memaksakan stabilitas keamanan melalui pola militer yang
mungkin akn menciptakan kembali hal-hal yang mengerikan.

Saya hanya ingin bertanya, tidaklah pantas kita belajar dari Bung Karno, yang
selma masa kepemimpinannya berhasil menjadikan Indonesia survive sebagai nasion
yang bersatu, sekalipun begitu beragam budaya yang ada di masyarakat kita, yang
tidak ada bandingannya di planit kita ini. Bung Karno berhasil sebagai
pembangun dan pemersatu Indonesia dengan sistem Pancasila sebgai hasil
pemikirannya yang mengilhami dan menjadi sumber terbaik bagi menata kembali
mesyarakat kita.

Wawasan Soekarno berhasil menguasai masa depan politikdean ekonomi Indonesia,
meskipun belum sempurna. 

Kata seorang Diplomat Kanada Prof. Peter Dale Scott yang terkenal di Indonesia
karena kajiannya tentang hasil konspirasi CIA bersama Kliek militer Soeharto
menggulingkan Presiden Soekarno, menyampaikan sepucuk surat kepada editor
"Hasta Mitra" yang menerbitkan buku 100 tahun Bung Karno dalm liber Amicorum
(kumpulan tulisan para sahabat Bung Karno) mengatakan bahwa dengan membaca
pidato-pidato Bung Karno, betul-betul memberikan inspirasi yang sangat kaya
dengan muatan Intelektual. Justru sekarang wawasan Bung Karno mempunyai peluang
lebih besar direalisasi, terutama ajaran Pancasila-nya yang bukan saja cocok
untuk Indonesia tapi juga cocok bagi dunia. Peter Dale Scott juga menulis
sebuah karangan dalam buku itu.

Apa yang saya uraikan mudah mudahan sudah menjawab pertanyaan Panitia Seminar.
Namun saya minta difahami bahwa saya tidak memberikan jawaban dengan harga
mati. Artinya, saya serahkan kepada saudara-saudara untuk mengambil kesimpulan
setelah mempertimbangkan bahan bahan yang saya kemukakan. Bahan-bahan itu
tentu tidak lengkap, mungkin lebih banyak yang belum saya ketahui.

Oleh karena itu, saya harap Seminar ini sendiri dapat mendiskusikannya,
setidak-tidaknya oleh satu team yang dipilih.

Namun menurut pendapat saya, apapun kesimpulan kita, semua yang kita bicarakan
disini, sudah menjadi catatan sejarah. Kita tidak bisa lagi mengingkarinya
artinya yang salah tetaplah salah, sebaliknya yang benar tetap saja benar.

Apakah dengan demikian kita akan terus frustasi dan mencaci maki mereka yang
mau kita caci maki ?

Jika ini yang menjadi sikap kita, maka pastilah kita akan ditinggalkan
dinamikanya perkembangan zaman yang tidak bisa di stop.
Saya setuju jalan keluar yang di tunjukan oleh Bung Karno. Dalam menyikapi
kondisi yang semacam ini, kita jangan membiarkan diri kita terperangkap oleh
gelapnya masa silam, karena dengan demikian kita tidak bisa membuat
kemajuan-kemajuan baru. Ini artinya kepada masa depanlah kita harus
berorientasi dan bukan menengok kebelakang sambil menangisi manisnya masa silam
kita yang hilang dan membiarkan diri kita merana, meskipun kita juga tidak
boleh meninggalkan sejarah. Mari kita berusaha sekuat tanaga melepaskan diri
dari belenggu masa silam yang menyesakkan nafas. Hiruplah udara segar masa
depan, dimana harapan kita bisa di letakkan. Tentunya kita harus mampu menarik
pelajaran dari kegagalan masa silam, dengan menelusuri makna adagium
klasik,bahwa kegagalan hanyalah sukses yang tertunda.

Sikap seperti ini, rasanya lebih dialektis.

Jangan pelihara sikap pessimisme dan seperti yang pernah dikatakan Presiden
Megawati dalam pidato Tahun Baru-nya 2000 : Dunia ini akan belum kiamat.

Mari bulatkan tenaga, samakan visi dan misi dalam mendayung bahtera perjuangan,
untuk melawan bahaya disintegrasi bangsa dan penginjak-injakan hukum, serta
bahaya korupsi yang di wariskan oleh Soeharto kepada kita, menuju reformasi
sejati, karena seperti yang di katakan Presiden Mega, kepadanya hanya
diwariskan pemerintahan keranjang sampah. Mungkin Soeharto memang mewariskan
orang-orangnya kepada Mega.

Mari kita teriakkan tekad yang sekuat-kuatnya di tegakkannya hukum untuk
membasmi korupsi politik dan ekonomi, kolusi dan nepotisme warisan Soeharto dan
Orde Barunya, yang sekeranjang sampah.

Mari kita memasuki milenium baru dengan penuh optimisme, namun di sertai tekad
yang kuat tanpa henti-hentinya melakukan instropeksi dari saat ke saat.

Saya akhiri uraian saya sampai disini, dengan kesadaran bahwa makalah ini masih
jauh dari sempurna. Oleh karena itu marilah kita sempurnakan.

Saya mohon maaf atas segala kekurangan dalam penyajian yang mungkin tidak
memenuhi harapan.

Sekian.

Terima kasih.

Merdeka !
Dipresentasikan dalam Seminar SKP-HAM di Balairung Universitas Negeri Manado
(UNISMA) di Tondano12 April 2003

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1