Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

BELAJAR HIPNOTIS CEPAT

BELAJAR SULAP MAGIC

MENGASAH KECERDASAN BAYI, BALITA DAN ANAK ANDA

Cara Meningkatkan Kecerdasan, Konsentrasi dan Daya Ingat
Cara Menambah Tinggi Badan
Miningkatkan Percaya Diri
Cara Menurunkan Berat Badan
Bebas Stress - Mengatasi Stress dan Marah
Terapi Gelombang Otak Untuk Anak Autis

Brain Game - Permainan Gelombang Otak - Narkoba Digital

Out Of Body - Belajar Lucid Dreaming dan Out Of Body Travell
Alpha Theta Meditation - Untuk Yang Suka Meditasi
Aura Booster - Membuka dan Memperkuat Aura Anda
Mempercepat Penyembuhan Penyakit dan Menjaga Kesehatan
Deep Sleep - Tidur Lebih Nyenyak dan Mengatasi Gangguan Tidur
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat
Cepat Langsing - Menurunkan Berat Badan
Male Sex Power -  Pria Perkasa & Cara Memperbesar Penis
Female Sex Power - Peningkatan Daya Seks Untuk Wanita
Menambah Nafsu Makan Anak dan Orang Dewasa
Anti Aging - Perawatan Kulit Awet Muda dan Bebas Jerawat

 

From: "Budhisatwati J.KUSNI" <katingan@club-internet.fr> 
Date: Wed Jul 2, 2003 5:27 pm
Subject: DALE SCOTT TENTANG G30S-1965

Dale Scott tentang G30S

Rekan-rekan y.b,

berikut ini saya f-w kan keWebsite ini kiriman per e-mail,
yang baru saja saya terima, karena isinya yang
saya anggap relevan dengan tema yang sedang kita
bahas dalam Website kita ini.

Semoga berguna untuk memperluas wawasan
dalam wacana studi sejarah modern Indonesia.

Tulisan Peter Dale Scott ini membahas peranan sentral
dari Suharto dengan pasukan AD nya sebagai Dalang
yang sebenarnya dari Tragedi 65. Menurut dia, G30S
hanyalah salah satu dari serangkaian taktik Suharto
dalam merebut kekuasaan negara dengan menggunakan
strategi kudeta merangkak yang sangat licik dan keji,
yang didahului dengan pembunuhan massal berencana atas
sejuta manusia tak bersalah. Pembunuhan massal 65
di Indonesia tercatat dalam sejarah dunia modern sebagai
pelanggaran berat HAM yang paling biadab dan
paling kejam semenjak PD II.
Penderitaan para Korban atas kekejaman Orde fasis Suharto,
sampai saat ini terus berlanjut, karena Undang Undang diskriminatif
yang diberlakukan terhadap mereka, sampai saat ini belum dicabut.

Wassalam,

Arif Harsana

-----------------------

KEBENARAN - No. 9

Tim Redaksi Kebenaran e-mail: hamirsyah@yahoo.com September 2002

PENGANTAR REDAKSI

September 2002. 37 tahun sudah setelah terjadinya Tragedy G30S yang paling
mengerikan dalam sejarah kehidupan manusia. Ratusan ribu orang telah
dibantai. Puluhan ribu dibuang. Dipenjarakan dan jutaan dan bahkan puluhan
juta rakyat Indonesia tak berdosa dibungkam, dikucilkan, dihina, dirampas
hak-hak civilnya. Tetapi para pelakunya, terutama kekuasaan di bawah rezim
Soehartosampai sekarang masih belum disentuh hukum. Sampai sekarang semuanya
masih bisa hidup leha-leha bahkan masih mampu hidup berpesta pora di
tengah-tengah penderitaan rakyat korban keganasan rezim orba Soeharto.
Untuk mengenang tragedy yang mengerikan itu, di bawah ini kami ungkapkan
lagi keterlibatan Soeharto yang mendapat dukungan sepenuhnya dari kekuasaan
Amerika Serikat. Ternyata konspirasi penghancuran PKI dan pemerintah
Soekarno itu bukan hanya terjadi pada tanggal 30 September 1965, tapi sudah
dirancang jauh-jauh sebelumnya. Inilah ungkapan Peter Dale Scott seorang
anggota CIA yang tahu persis apa yang terjadi sebelum, pada saat dan sesudah
terjadinya pristiwa berdarah tersebut. TRK

Associated Press.
Amerika Serikat Dalang G30S
oleh Peter Dale Scott

Dalam tulisan pendek tentang masalah kesulitan yang sangat besar ini saya
mencoba membahas keterlibatan Amrika Serikat dalam penggulingan berdarah
Presiden RI Soekarno pada tahun 1965-1967. Seluruh ceritera tentang periode
yang kurang difahami ini akan menjadi peristiwa kemanusiaan yang sepenuhnya
bisa ditulisa sebagai bahan analisis. Banyak di antaranya yang tidak pernah
didokumentasikan: dan dari dokumentasi yang bertahan hidup, banyak di
antaranya yang kontrapersi dan yang belum dapat pembenaran. Pembunuhan
terhadap sekutu sayap kiri Soekarno merupakan produk dari paranoia yang
tersebar sebagai suatu kebijakan konspiratorial, dan mencerminkan suatu
tragedy di antara intensi dari setiap kelompok dan koalisi. Atau bahkan
sebagai suatu bukti dari provokasi dan kekerasan yang dilakukan oleh sayap
kanan militer Indonesia, kontak-kontak mereka di Amerika Serikat, atau (juga
pentingdan jelas terbuka di sini) hubungan timbal balik intelejen Inggris,
Jerman dan Jepang. Dan dengan demikian, setelah semua ini dikemukakan,
ceritera yang rumit dan ambigius (mempunyai arti ganda) tentang madi darah
bangsa Indonesia juga merupakan esensi yang sangat sederhana dan sangat
mudah untuk dapat dipercayai daripada versi publik yang mengilhami sumber
Presiden Soeharto dan pemerintah Amerika Serikat.

Problematik claim mereka adalah apa yang mereka namakan sebagai kudeta
Gestapu (Gerakan September Tigapuluh) yang terjadi pada tanggal 30 September
1965 ketika 6 jenderal senior dibunuh, karena "serangan" sayap kiri terhadap
sayap kanan, yang mengarah kepada restorasi kekuasaan, dan hukuman terhadap
orang-orang yang tidak disukai, oleh sayap tengah yang selengkapnya dapat
dijelaskan sebagai berikut:

1. Tulisan ini merupakan kebalikan dari apa yang selama ini
dipropagandakan oleh orde baru/Golkar/Soeharto dengan keyakinan,
setidak-tidaknya membantu meyakinkan bahwa kudeta "Gestapu" sebenarnya
dilakukan oleh sayap kanan angkatan darat Indonesia yang bermaksud
mengiliminasi lawan-lawan politiknya yang ada di sayap kiri angkatan darat,
dan bersamaan dengan itu untuk menegakkan kediktatoran militer.
2. Gestapu dengan kata lain, adalah hanya fase pertama dari tiga fase
kudeta sayap kanan yang salah satunya sangat jelas mendapat bantuan secara
rahasia dari jurubicara Amerika Serikat.
3. Sebelum membalikkan keterlibatan Amerika Serikat, CIA sendiri
sudah pernah mengatakan bahwa peristiwa Gestapu merupakan "salah satu
pembunuhan yang terburuk di abad ke-20".
4. Marilah kita mengingat apa yang sebenarnya terjadi. Menurut ahli
Indonesia, Harold Crouch, dari Australia, bahwa menjelang tahun 1965
jenderal-jenderal angkatan darat sudah terbagi dalam dua kubu.Yang di tengah
adalah perwira-perwira yang diangkat dan setia kepada panglima angkatan
darat, Jenderal Yani, yang pada gilirannya menentang kebjakan Presiden
Soekarno yang membentuk persekutuan dengan PKI. Kelompok kedua termasuk
jenderal-jenderal sayap kanan Nasution dan Soeharto beroposisi terhadap Yani
dan kebijakan-kebijakan Soekarnois.
5. Semua Jenderal ini adalah anti PKI. Tapi menjelang 1965 yang
menjadi sasaran adalah Soekarno. Ceritera sederhana tentang penggulingan
Soekarno adalah pada terbunuhnya jenderal Yani dan lingkaran
jenderal-jenderal terdekatnya pada tahun 1965 yang merupakan perataan jalan
pada perebutan kekuasaan oleh jenderal sayap kanan kekuatan anti Yani yang
bersekutu dengan Soeharto. Kunci daripada hal ini adalah apa yang mereka
sebut usaha kudeta Gestapu yang mengatasnamakan dukungannya kepada Soekarno,
yang dalam kenyataannya yang menjadi target pembunuhan itu adalah tepat
terhadap anggota-anggota terkemuka faksi angkatan darat yang sangat loyal
kepada kelompok Yani.
6. Suatu pertemuan angkatan darat dalam bulan Januari 1965, antara
"Yani dengan lingkaran terdekatnya" dan mereka (termasuk Soeharto) yang
sering mengeluh tentang sesuatu atau lainnya yang menentang Yani", mendaftar
korban 30 September yang melawan siapa saja yang akan merebut kekuasaan
sesudah pembunuhan mereka.
7. Tidak ada jenderal satupun yang menentang Soekarno yang menjadi
sasaran Gestapu, dengan kekecualian yang jelas, jenderal Nasution.
8. Tapi menjelang tahun 1961, operasi CIA sudah kehilangan
kepercayaan kepada Nasution sebagai asset yang menguntungkan, karena
"catatan kinerjanya banyak menguntungkan Soekarno".
9. Hubungan Soeharto dengan Nasution pun sangat dingin, sejak
Nasution menginvestigasi keterlibatan Soeharto dalam korupsi ketika ia
menjabat Panglima Diponegoro pada tahun 1959 yang kemudian memindahkan dari
jabatannya sebagai panglima.
10. Distorsi realitas yang bersifat duplikasi, pertama statement oleh
Let.Kolonel Untung tentang Gestapu, kemudian oleh Soeharto dalam
"melumpuhkan" Gestapu merupakan kebohongan-kebohongan dukungan.
11. Untung, pada tanggal 1 Oktober, mengumumkan dengan sangat ambigu
bahwa Soekarno berada di bawah perlindungan Gestapu (sebenarnya tidak);
bahwa CIA mendukung Dewan Jenderal yang telah merencanakan Kudeta selama dan
sebelum tanggal 5 Oktober dan untuk maksud ini telah mendatangkan pasukan
dari Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa barat ke Jakarta.
12. Pasukan-pasukan dari wilayah itu memang dibawa ke Jakarta untuk
keperluan parade pada tanggal 5 Oktober 1965. Untuk tidak mengumumkan hal
ini, dan bahwa "ia sendiri terlibat dalam perencanaan parade pada perayaan
hari Angkatan Perang dan dalam pemilihan Unit-unit yang akan berpartisipasi
dalam acara tersebut."
13. Paling tidak unit-unit ini (yang termasuk battalion terdahulunya
sendiri) mensuplai hampir semua sekutunya untuk kegiatan batalion Gestapu
yang baru di Jakarta Soeharto pertama dari kedua siarannya menekankan
kembali angkatan darat yang selalu setia kepada "Bung Karno pemimpin besar"
; dan juga menyalahkan enam jenderal yang telah mati oleh pemuda rakyat dan
Gerwani, plus "elemen-elemen Angkatan Udara" - karena tidak ada bukti lain
selain situs sumur di mana tubuh-tubuh ke-enam jenderal ditemukan.
14. Pada saat itu dia tahu persis bahwa pembunuhan itu dilakukan oleh
pasukan Untung yang berada di bawah komando Soeharto sendiri.
15. Dengan demikian, apapun motivasinya individu seperti Untung di dalam
"Putsch" (perebutan kekuasaan), Gestapu benar-benar merupakan hal yang
sangat samar. Keduanya, apakah itu retorikanya dan di atas segala-galanya
tindakannya bukan sembarangan. Tapi semuanya sudah dirancang agar Soeharto
bisa memberikan alasan yang sama bersifat samar. Misalnya, keputusan Gestapu
untuk menjaga semua sudut di pusat kota di Taman Merdeka Jakarta, kecuali
markas Besar Kostrad, sangat konsisten dengan keputusan Gestapu yang
menargetkan satu-satunya jenderal yang mungkin menjadi tantangan kekuasaan
Soeharto. Lagi-lagi mengumumkan pengalihan kekuasaan pada "Dewan Revolusi"
yang sangat fiktif, dari mana Soekarno sudah disingkirkan, memungkinkan
Soeharto pada gilirannya pura-pura membela Soekarno sementara pada
kenyataannya melindungi dirinya dari pengawasan yang ada. Lebih penting lagi
pembunuhan Gestapu yang tidak perlu terhadap jenderal-jenderal dekat bandara
di mana Pemuda Rakyat sedang dilatih memungkinkan Soeharto, seperti gerakan
Goebbels, mengalihkan kesalahan pembunuhan dari pasukan di bawah komandonya
yang ia tahu persis telah melakukan penculikan ke bandara Husen dan
anggota-anggota PKI yang tidak tahu menahu.
16. Dari sumber-sumber pro-Soeharto - terutama dari hasil penyelidikan
CIA tentang Gestapu yang diterbitkan tahun 1968, kita mengetahui bahwa
beberapa pasukan yang dilibatkan di dalam apa yang dinamakan pemberontakan
Gestapu, dan, yang lebih penting lagi bahwa Jakarta sebagai pusat Jawa,
batalion-batalion yang sama menyuplai kompi-kompi, juga digunakan untuk
menumpas pemberontakan. Dua pertiga brigade paratroopyang beberpa hari
sebelumnya sudah diinspeksi oleh Soeharto, ditambah satu kompi dan satu
peleton yang terdiri dari seluruh kekuatan Gestapu, semua tapi satu dari
unit-unit ini dikomandani oleh seorang yang sekarang dan dahulu merupakan
perwira-perwira Divisi Diponegoro yang dekat dan merupakan sekutu politik
Soeharto, yatu Basuki Rachmad.
17. Dua dari kompi-kompi ini, dari batalion 530 dan454, merupakan
pasukan elit, dan dari tahun 1962 unit-unit ini sudah berada di antara
orang-orang penting di Indonesia yang menerima bantua Amerika.
18. Fakta ini, yang pada saat ini belum bisa menjadi bukti, telah
menimbulkan keiinginan tahu kita tentang banyak pimpinan Gestapu yang sudah
dilatih di Amerika. Pimpinan Gestapu du Jawa Tengah, Let Kol. Suherman baru
saja kembali latihan di Leavenworth dan Okinawa, sesaat sebelum pertemuan
dengan Untung dan Mayor Sukirno dari Batalion 454 pada pertengahan Agustus
1965.
19. Seperti yang diteliti oleh Ruth Mc Vey, diterimanya Suherman untuk
ikut dalam latihan di Fort Leavenworth berarti sudah melalui penelitian CIA.
20. Dengan demikian ada kisinambungan antara keberhasilan Gestapu dan
respon Soeharto padanya, yang mengatasnamakan membela Soekarno dan menyerang
Gestapu melanjutkan tugasnya untuk mengiliminir anggota pro Yani, yang
bersamaan dengan itu juga bisa mengurangi sisa-sisa pengaruh Yani dan
Soekarno.
21. Bagian terbesar dari tugas ini tentu saja mengeliminasi kekuatan PKI
dan pendukung-pendukungnya, dalam satu pertumpahan darah, seperti yang
diakui oleh sekutu-sekutu Soeharto yang telah mengorbankan setengah juta
orang terbunuh. Tiga peristiwa ini yaitu, Gestapu, Respon Soeharto dan
banjir darah selalu dikatakan sebagai suatu motive untuk mengkambing
hitamkan kiri, dan pertumpahan darah sebagai tindakan kekerasan massal yang
irrasional. Pejabat-pejabat Amerika Serikat, wartawan, para pakar, beberapa
di antaranya prominen yang dekat dengan CIA, adalah secara prinsip
bertanggungjawab atas mitos pertumpahan darah sebagai sesuatu yang spontan,
ledakan kemarahan rakyat seperti dikatakan kemudian oleh Duta Besar Amerika
Serikat Jone sebagai pembunuhan PKI.
22. Walaupun tentu saja PKI mempunyai andil dalam hysteria politik tahun
1965, Crouch telah menunjukkan bahwa tuduhan yang mengatakan bahwa kampanye
terror PKI itu suatu hal yang sangat berlebihan.
23. Tentu saja pembunuhan massal secara sistematis terjadi karena
bantuan RPKAD yang dipimpin oleh Kolonel Sarwo Eddie yang bergerak mulai
dari Jakarta menuju Jawa Tengah dan Jawa Timur dan berakhir di Bali.
24. Keterlibatan masyarakat luas terhadap pembunuhan masal ini adalah
direkrut dan dilatih oleh RPKAD di tempat-tempat peristiwa, atau ditarik
dari kelompok-kelompok seperti angkatan darat - dan SOKSI serikat buruh yang
disponsori oleh CIA, dan organisasi mahasiswa sekutunya yang berkolaborasi
selama bertahun-tahun dengan angkatan darat tentang masalah politik. Dengan
demikian sangat jelas apa yang dikatakan oleh Sundhaussen yang mengatakan
bahwa dihampir semua wilayah pertama merupakan pembunuhan masal yang
terorganisasi seperti di Sumatera Utara, Aceh, Cirebon, dan di seluruh Jawa
Tengah dan Jawa Timur, dan di sana selalu hadir komandan daerah yang
mempunyai sentimen kuat anti PKI. Banyak di antara mereka sudah sejak
bertahun-tahun bekerja sama dengan masyarakat civil, melalaui program apa
yang disebut "Civic action" yang disponsori oleh Amerika Serikat, yang dalam
orperasinya ditujukan langsung untuk melawan PKI dan kadang-kadang Soekarno.
Dengan demikian orang-orang mempunyai alasan yang syah untuk curiga bahwa
Konfirasi anti PKI yang dilakukan oleh masyarakat civil sejak tanggal 1
Oktober 1965, mempunyai latar belakang jauh sebelumnya dan sejak lama
sebelumnya sudah dipupuk oleh CIA.
25. Bahkan Sundhaussen, yang berperan dalam angkatan darat untuk
mempersenjatai dan mendorong kelompok pembunuhan rakyat tak berdosa,
menyimpulkan, bahwa bagaimanapun kuatnya massa aksi anti PKI, tanpa bantuan
propaganda anti PKI yang dilakukan angkatan darat, pembunuh masal tidak
mungkin terjadi.
26. Artikel ini lebih jauh berpendapat, bahwa Gestapu, Respon Soeharto
dan Banjir darah merupakan bagian dari satu-satunya scenario kudeta militer,
sebuah scenario yang juga terjadi di Chili pada tahun 1970-1973 dan dalam
beberapa hal terjadi juga di Kamboja pada tahun 1970. Soeharto tentu saja
merupakan seorang Konspirator utama dalam skenario ini.Peran ganda membela
statusquo konstitusionil, sementara dengan bebas bergerak melemparkan
Soekarno, merupakan analogi peristiwa Jenderal Pinochet di Chili. Tapi
peranan lebih langsung dalam mengorganisasi banjir darah dilakukan oleh
masyarakat civil dan perwira-perwira yang dekat dengan kader-kader CIA yanag
gagal melakukan pemberontakan pada tahun 1958 dengan membentuk PRRI -
Pemesta, dan sekarang bekerja dengan mengatasnamakan program "tindakan
civil" yang dibiayai dan dilatih oleh Amerika Serikat. Bumbu yang penting
dalam scenario ini adalah jelas dengan suplai bantuan dari negara-negara
lain. Banyak di antara negara-negara ini nampak memainkan peranan penting
dalam mendukung Soeharto, seperti Jepang, Jerman dan Inggris.
27. Mungkin Australia. Tapi saya ingin memfokuskan pada dorongan dan
bantuan putsch militer dan pembunuhan masa yang datang dari Amerika Serikat,
dari CIA, militer, RAND. Ford Foundation dan individu-individu.
28. Amerika Serikat dan misi angkatan darat Indonesia nampak jelas
kegiatannya sejak tahun 1953 sudah menaruh perhatian kepada krisis regional
di Indonesia, dikenal sebagai "sebab mendesak" yang berusaha mempengaruhi
Soekarno pada tanggal 14 Maret 1957 untuk mengumumkan keadaan perang dan
mendorong korp perwira terjun ke dalam politik secara legal.
29. Menjelang tahun 1953 (atau lebih awal) Dewan Keamanan Nasional
Amerika Serikat sudah berhasil mengadopsi serangkaian dokumen kebijaksanaan
yang disebut "tindakan yang tepat, dalam berkolaborasi dengan negara-negara
sahabat lainnya untuk mencegah kontrol komunis Indonesia secara permanen."
30. Sejak tahun itu juga Dewan Keamanan nasional Ameika Serikat sudah
merancang pelatihan militer sebagai cara untuk meningkatkan pengaruh Ameika
Serikat, walaupun usaha-usaha CIA sebelumnya sudah diarahkan kepada
Partai-partai politik sayap kanan, kaum moderat sayap kanan terutama Masyumi
dan PSI. Jutaan dolar dikucurkan CIA kepada Masyumi dan PSI pada pertengahan
tahun 1950 yang merupakan faktor terjadinya peristiwa 65, di mana anggota
PSI - syam merupakan otak Gestapu.
31. Dan PSI merupakan sandaran perwira-perwira, terutama Suwarto dan
Sarwo Eddie --- merupakan orang-orang terkemuka dalam merencanakan dan
melaksanakan respon anti PKI pada Gestapu.
32. Dalam tahun 1957-1958, CIA menginfiltrasikan senjata dan personil
untuk mendukung pemberontakan daerah melawan Soekarno. Operasi-operasi ini
sebetulnya tertutup, tapi walaupun demikian sebuah pesawat Amerika yang
dipiloti oleh Allan Pope ditembak jatuh, dan pilotnya ditangkap dan diadili.
Usaha-usaha CIA liannya adalah percobaan pendaratan Satuan Tugas Armada
ke-tujuh.
33. Dalam tahun 1975 Panitia Pemilihan Senat mempelajari terbongkarnya
CIA dalam perencanaan pembunuhan Presiden Soekarno: tapi sesudah inventigasi
pertama pada bulan Nopember 1957 usaha pembunuhan di Cikini, Jakarta Pusat,
komite tidak melanjutkan persoalan tersebut.
34. Pada tanggal 1 Agustus 1958, setelah kegagalan CIA mensponsori
gerakan separatis PRRI-Permesta melawan Soekarno, Amerika Serikat mulai
melaksanakan program bantuan militer terhadap Indonesia sebanyak 20 juta
dollar AS pertahun.
35. Memo Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat pada tahun 1958
memperjelas bantuan ini diberikan kepada angkatan darat Indonesia
("satu-satunya kekuatan non komunis dengan kemampuan untuk menghancurkan
PKI") sebagai pendorong kepada Nasution untuk melaksanakan rencananya dalam
mengendalikan komunisme.
36. Kepala Staf Gabungan Amerika Serikat tidak perlu mengeja lagi
"rencana" Nasution, ke dalam mana dokumen lainnya pada saat itu mengacu.
37. Hal ini hanya memerlukan penjelasan taktik untuk mana Nasution telah
membedakan dirinya (di mata Amerika) selama penghancuran PKI pada peristiwa
Madiun tahun 1948: pembunuhan masal dan penahanan massal, sekurang-kurangnya
pada tingkat kader partai, dimungkinkan sesudah provokasi angkatan darat.
38. Nasution menguatkan kebenaran ini pada bulan Nopember 1965, setelah
penjagalan Gestapu, ketika ia menyerukan untuk menghancurkan PKI sampai pada
"akar rumput" agar tidak terjadi lagi peristiwa Madiun ke-3.
39. Dalam pada itu menjelang tahun 1958, PKI telah tampil sebagai
gerakan massa terbesar di negeri ini. Itulah dalam periode ini sebuah
kelompok kecil akademi peneliti Amerika Serikat di angkatan Udara Amerika
Serikat dan "think-thank" yang mendapat subsidi CIA melalui mengadakan
tekanan melalui kontak-kontak mereka di kalangan militer Indonesia secara
terbuka, sering melalui jurnal ilmu pengetahuan dan pers untuk merebut
kekuasaan dan melikwidasi kekuatan oposisi PKI.
40. Contoh yang prominen adalah Guy Pauker yang pada thun 1958 mengajar
di Universitas California di Berkeley dan bekerja sebagai konsultan di
perusahaan RAND. Di dalam kapasitas berikutnya ia sering mengadakan kontak
dengan apa yang ia sebut sebagai "kelompok yang sangat kecil" intelektual
PSI dan teman-teman mereka di dalam angkatan darat.
41. Di dalam buku Perusahaan RAND yang diterbitkan oleh Princeton
University Press, Pauker mengatakan kontaknya dengan militer Indonesia
dengan maksud "pertanggunganjawab penuh" untuk kepemimpinan bangsa mereka,
"memenuhi missi" dan "untuk memukul, menyapu agar rumah mereka bersih".
42. Walaupun Pauker barangkali tidak mengharapkan terjadinya banjir
darah di Indonesia, tapi kenyataan tidak dapat dipungkiri bahwa "missi" dan
"pembersihan" merupakan kata-kata yang lantang menuarakan kontra
pemberontakan dan pembunuhan massal, dan hal itu telah digunakan sebelum dan
selama terjadinua kudeta. Perintah pembunuhan pertama oleh perwira militer
kepada HMI pada awal bulan Oktober adalah kata "sikat" berarti dalam bahasa
Inggris "sweep", "clean out" (bersihkan) atau "massacre" (pembunuhan
massal).
43. Sahabat terdekat Pauker di ankatan darat Indonesia adalah seorang
jenderal yang dilatih di Amerika Serikat bernama Suwarto, yang menjelang
terjadinya Gestapu menjabat sebagai komandan SESKOAD, memainkan peranan
penting dan membalikkan angkatan darat yang revolusioner menjadi kontra
revolusioner. Di dalam tahun-tahun setelah 1958 Suwarto membangun SESKOAD di
Bandung menjadi pusat latihan dasar untuk mengambil kekuasaan. Pada periode
ini SESKOAD telah menjadi perhatian fokal dari Pentagon, CIA, RAND DAN
(SECARA TIDAK LANGSUNG) Ford Foundation.
44. Di bawah kepemimpinan Suwarto dan Nasution, SESKOAD mengembangkan
doktrin strategi baru, yaitu Perang Peritorial (dokumen tersebut
diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Pauker), yang memberikan
prioritas kepada "anti-gerilya" sebagai peran angkatan darat. Terutama
setelah tahun 1962, ketika pemerintah Kennedy membantu angkatan darat
Indonesia dalam mengembangkan program "civic mission" or "civic action",
yang merupakan alat organisasi infrastruktur politik politik atau
"organisasi teritorial", menjangkau sampai ke tingkat desa.
45. Sebagai hasil rekomendasi resmi Departemen Luarnegeri Amerika
Serikat dalam tahun 1962, di mana Pauker membantu menulis sebuah MILTAG
(Military Training Advisory Group) telah dibentuk di Jakarta yang bertugas
untuk membantu implementasi program Civic Mission SESKOAD.
46. SESKOAD juga melatih perwira-perwira angkatan darat di bidang
ekonomi dan administrasi dan dengan demikian mereka beroperasi sebagai suatu
"Parastate" yang terpisah dari pemerintahan Soekarno. Dengan demikian
angkatan darat mulai berkolaborasi dan bahkan menanda tangani kontrak dengan
Amerika Serikat dan perusahaan-perusahaan asing lainnya di wilayah di bawah
kontrol mereka. Program pelatihan ini dipercayakan kepada perwira-perwira
dan civil yang dekat dengan PSI.
47. Pejabat Amerika yakin bahwa masyarakat sivil yang mereka sendiri
berada dalam program pelatihan yang dibiayai Ford Foundation menjadi
terlibat di dalam attache militer Amerika Serikat yang disebut "contingency
planning" untuk mencegah PKI mengambil alih kekuasaan.
48. Tapi focus pelatihan Amerika Serikat dan bantuan yang paling
signifikan adalah Territorial Organization yang meningkatkan aliansinya
dengan "pemerintahan sivil, organisasi-organisasi keagamaan dan kebudayaan,
kelompok-kelompok pemuda, veteran, serikat buruh dan kelompok regional di
tingkat lokal.
49. Aliansi dengan kelompok sivil ini menyiapkan struktur untuk
penindasan yang tak henti-hentinya terhadap PKI di tahun 1965, termasuk
pertumpahan darah.
50. Setelah kader-kader militer dan sivil ini mengadakan kegiatan yang
merugikan seperti kegiatan rasialis anti Cina di Bandung pada bulan Mei
1963, yang bukan hanya menyentuh PKI tapi juga Soekarno sendiri. Laporan
Chomsky dan Herman menyatakan bahwa "angkatan darat diinspirasi oleh program
anti-Cina yang ambil bagian di Jawa Barat pada tahun 1959 dibiayai oleh
Amerika Serikat. Melalui Komandan Angkatan Darat local; jelas dana CIA
digunakan oleh Panglima (kolonel Kosasih) untuk membayar "preman-preman"
yang disebut Mozingo "preman angkatan darat" (dan mungkin preman Amerika)
yang mengkampanyekan pemutusan hubungan dengan Cina.
51. Huru-hara tahun 1963 yang terjadi di depan mata SESKOAD dihubungkan
oleh Sundhaussen kepada organisasi "civic action angkatan darat yang semua
jelas merupakan langkah-langkah awal Soeharto dalam apa yang disebut
"respon" terhadap Gestapu.
52. Huru-Hara mahasiswa bulan mei 1963 diulangi Oktober 1965 dan
(terutama di Bandung) januari 1966, pada saat itu hubungan antara mahasiswa
dan angkatan darat semuanya bersandar kepada perwira-perwira PSI seperti
Sarwo Eddie dan Kemal Idris.
53. Direktorat perencanaan CIA bersimpati terhadap meningkatnya gerakan
oprasi anti-PKI yang kemudian dialihkan menjadi gangguan terhadap Soekarno.
Perubahan ini bukan sesuatu yang mengejutkan, karena Suwarto, Kemal Idris
dan PSI telah dikenal pada peristiwa apa yang disebut "Peristiwa Lubis" pada
tahun 1956.
54. Tapi Suwarto semakin meningkatkan aktivitasnya untuk menggarap
mahasiswa baru. Kolonel Soeharto tiba di SESKOAD pada bulan Oktober 1959.
Menurut Sundhaussen, seseorang yang dekat dengan Soeharto:"Pada awal tahun
1960 Soeharto terlibat dalam penyusunan doktrin perang gerilya teritorial
dan kebijakan angkatan darat tentang Civic Mission (hal itu merupakan
prestasi perwira-perwira angkatan darat di semua bidang kegiatan pemerintah
dan pertanggungjawaban.
55. Pusat citra masyarakat tentang Gestapu dan respon Soeharto, tidak
seperti gurunya Suwarto, dan kepala stafnya Ahmad Wirnatakusumah, yang tidak
pernah belajar di Amerika Serikat. Tapi keterlibatan dia di dalam Civic
Mission (atau apa yang dikatakan orang-orang Amerika sebagai program "civic
action" menempatkan dia dijajaran perwira-perwira PSI sudah mendapat
pelatihan Amerika Serikat di Indonesia, dalam program yang jelas-jelas
bersifat politik.
56. Penghalusan doktrin perang teritorial dan doktrin Civic mission ke
dalam doktrin strategi baru untuk politik angkatan darat menjelang 1965
ditingkatkan menjadi proses ideologi telah mengkonsolidasi angkatan darat
untuk pengambilalihan kekuasaan politik. Sesudah Gestapu, ketika Suwarto
menjadi penasehat politik penting terhadap bekas murid SESKOAD Soeharto,
doktrin strateginya merupakan pembenaran atas pengumuman Soeharto pada bulan
Agustus 1966 dalam pemenuhan pembelaan publik dan privat Pauker yang
mengatakan bahwa angkatan darat harus memegang peranan penting dalam segala
bidang.
57. Untuk alasan ini pertemuan persatuan angkatan darat pada bulan
Januari 1965, diselenggarakan sesudah meyakinkan Nasution untuk mengambil
garis lebih akomodatif.
58. Terhadap Soekarno, merupakan suatu fakta; langkah yang perlu dalam
proses di mana Soeharto secara efektif sudah mengambil alih kendali atas
lawan-lawannya seperti Yani dan Nasution. Hal ini menggiring pada seminar
bulan April 1965 di SESKOAD, Bandung untuk mengkompromikan doktrin strategi
angkatan darat dengan apa yang disebut Tri Ubaya Sakti, yang "mengukuhkan
kembali clain angkatan darat tentang pernanan politiknya yang mandiri."
59. Pada tanggal 15 Agustus 1966, Soeharto berbicara kepada seluruh
rakyat Indonesia yang membenarkan peranan pentingnya yang terus meningkat
dalam rangka "missi revolusioner" dari doktrin Tri Ubaya Sakti. Dua minggu
kemudian di SESKOAD doktrin tersebut direvisi oleh Soeharto tapi dalam
seting "yang secara hati-hati diorkestrasi oleh Brigadir Suwarto", untuk
membentuk apa yang disebut oleh Pauker sebagai "missi sipil" angkatan darat
atau peran kontrarevolusioner.
60. "Missi civil" ini begitu penting bagi Soeharto dan juga merupakan
tujuan prinsipiil dan hasil dari bantuan militer Amerika Serikat kepada
Indonesia. Menjelang Agustus 1964, dalam pada itu, Soeharto telah memulai
kontak-kontak politik dengan Malaysia, dan juga dengan Jepang, Inggris dan
Amerika Serikat.
61. Walaupun tujuan awal kontak politik ini mungkin untuk menghentikan
perang dengan Malaysia, Sundhaussen berpendapat bahwa motif utama Suharto
adalah untuk menghentikan kemajuan politik PKI seperti laporan intelejen
KOSTRAD.
62. Mrazek menghubungkan perasaan perdamaian terhadap penarikan
"beberapa unit angkatan darat terbaik" ke Jawa dalam musim panas tahun 1965.
63. Gerakan ini, bersama dengan penyebar luasan ketidak amanan politik,
battalion Diponegoro di arah lain juga akan terlihat sebagai persiapan untuk
perebutan kekuasaan.
64. Dalam perhitungan Jepang yang memperoleh informasi, Mishimara,
orang-orang PRRI/Permesta dengan hubungan intelejen di Jepang merupakan
orang-orang penting dalam negosiasi dengan pejabat-pejabat Jepang.
65. Nishimara juga mendengar dari seorang sekutu dari orang-orang ini,
Jan Walandouw, yang bertindak sebagai seorang anggota CIA mengadakan
hubungan dengan pemberontakan tahun 1958, yang kemudian "mengunjungi
Washington dan membela Soeharto sebagai seorang pemimpin."
66. "Saya mempe informasi yang dapat dipertanggungjawabkan bahwa
keinginan lama Soeharto adalah "menggeser" Soekarno sebelum Gestapu.
67. Amerika Serikat bergerak melawan Soekarno.
68. Banyak orang di Washington, terutama direktorat Perencanaan CIA,
memuji-muji Soeharto sebagai seorang pemimpin.
69. Menjelang tahun 1961 kebijaksanaan kunci garis keras, terutama Guy
Pauker, kembali melawan Nasution.
70. Sebaliknya, menurut memorandum pemerintah sebelumnya, Eisenhower,
menghendaki melakukan oposisi terhadap pemerintah siapa saja di Indonesia
yang terus mengembangkan kerjasamnya dengan blok Uni Soviet - Cina.
Sebaliknya pemerintahan Kennedy terus meningkatkan bantuannya baik kepada
Soekarno, maupun kepada angkatan darat.
71. Dalam pada itu, Lindon Johnson menggantikan presiden Kennedy diikuti
oleh politik anti Soekarno. Ini sangat jelas dalam keputusan Johnson dalam
bulan Desember 1963 yang menolak bantuan ekonomi yang (menurut dutabesar
Jones) Kennedy ingin mensuplai bantuan sebagaimana biasa.


MENGAPA AIDIT DAN SOEKARNO
TIDAK DIBAWA KE PENGADILAN?

Menurut Tabloid SWADESI (No.1542/th XXX/Juli 1998), matinya Sekjen CCPKI DN
Aidit, masih menyisakan kontraversi. Mengapa DN Aidit mesti ditembak mati.
Padahal sebagai tokoh nomor satu partai berlambang palu airt, Aidit harus
diproses hukum di mahkamah pengadilan.
Aidit jelas banyak mengetahui liku-liku tragedi nasional itu. Tapi anehnya
dia segera "diamankan" sebelum rakyat mendengar pengakuan Aidit secara
tuntas. Nyatanya Aidit ditumpas habis dengan muntahan peluru tanpa melalui
vonis meja hijau untuk mengorek pengakuan dan keterangannya. Bagaimanapun,
Aidit merupakan kunci utama membongkar kejahatan politik itu sampai
serinci-rincinya.
Sebuah pertanyaan, kata Swadesi, pun akhirnya mencuat; apakah dibunuhnya DN
Aidit ini atas perintah Soeharto? Spekulasi semacam itu berkembang
belakangan setelah menurut manuver-manuver Soeharto yang sangat tinggi
intensitasnya untuk menumpas PKI dan ormas.
Sayanagnya Swadesi tak sapai mempertanyakan mengapa Aidit dibunuh tanpa
proses hukum dan apa yang dituju dengan pembuhan semacam itu?
Mulyana W Kususmah menjawab pertanyaa Swadesi mengatakan bahwa sebagian
besar dari tokoh-tokoh PKI pada saat itu terbunuh tanpa proses peradilan.
Sepengetahuan saya hanya Nyono yang melalui proses peradilan Mahmilub.
Bahkan Aidit serta Nyoto tidak melalui proses peradilan dan juga sebagian
tokoh-tokoh PKI di daerah. Apakah memang, katakanlah penghilangan atau
kematian tokoh kunci PKI berkaitan dengan 'peran mereka' atau dengan
'pengetahuan' yang mereka punyai. Itu yang harus diungkapkan".
"Kalau diurut ke belakang" kata Mulyana, "saya kira pada saat itu tentu
adalah pak Harto yang bertanggungjawab terhadap kejadian-kejadian ini".

BUKAN HANYA AIDIT, TAPI JUGA SOEKARNO.

Sesunggunya yang tidak dibawa ke pengadilan bukan hanya Aidit, tapi juga
Seoekarno sendiri, padahal Soekarno telah dianggap terlibat dalam G30S,
malah dijuluki sebagai "Gestapu Agung". Pada hal Tap No.XXXIII/MPRS/1967,
Bab II pasal 6 menegaskan, "Menetapkan penyelesaian persoalan selanjutnya
yang menyangkut Dr.Ir Soekarno, dilakukan menurut ketentuan-ketentuan hukum
dalam rangka menegakkan keadilan dan menyerahkan pelaksanaannya pada pejabat
presiden".
Mengapa tidak segera Soekarno diajukan ke pengadilan? Seorang mantan tapol
G30S, yang ketika bung Karno meninggal dunia, ia sedang menghuni
Nusakambangan sebagai tahanan politik, menceriterakan reaksi seorang
rekannya tatkala mendengar berita Bung Karno meninggal dan tanggapan
pribadinya atas reaksi rekannya itu.
Inilah yang dicerirekannya.

INDONESIA MENGGUGAT II.

Pada tanggal 22 Juni 1970 kulihat bendera merah putih berkibar setengah
tiang. Timbul pertanyaan di hatiku: siapa yang meninggal dunia? Tak lama
kemudian tersiar berita bahwa Bung Karno telah menghembuskan nafasnya yang
terakhir. Bendera setengah tiang berkibar beberapa hari lamanya.
Tak sampai seminggu kemudian, masuklah berita tentang betapa besarnya
perhatian massa rakyat atas pemakaman jenazah Bung Karno. Dari jauh massa
datang berbondong-bondong ke Blitar guna menunjukkan simpatinya. Padahal
oleh pihak yang berkuasa beliau telah ditahan, dianggap terlibat dalam G30S,
sehingga dijuluki "Gestapu Agung".
Menanggapi berita kematian bung Karno ini, Suhaimi Rachman mengatakan
kepadaku: mungkin kematian beliau itu bukan secara wajar. Bisa saja dibunuh
secara langsung atau tidak langsung. Sebab kalau bung Karno masih hidup,
satu waktu pemerintah Soeharto tentu harus menghadapi Bung Karno di depan
pengadilan Orba, dengan tuduhan terlibat G30S. Dan bila itu terjadi, akan
lahirlah Indonesia Menggugat II. Yang pertama di depan Pengadilan Belanda di
tahun 1930-an, Dan lahirnya Indonesia Menggugat II itulah yang tidak
dikehendaki Jenderal Soeharto.
PELENGKAP NAWAKARSA
Menurut tanggapanku pendapat Suahimi Rachmat itu tepat sekali. Bila
Indonesia Menggugat II lahir, maka akan terlihat dengan jelas benang merah
yang menjelujuri G30S itu. Akan terungkaplah bahwa di belakang G30S itu
bukan PKI, bukan Bung Karno, tapi Soeharto. Situasi akan berubah, Pukulan
balik akan diterima Jenderal Soeharto. Dengan mengikuti gaya Bung Karno
dalam "Indonesia Menggugat" kolonialis Belanda, maka dalam "Indonesia
Menggugat" Orde Baru Soeharto, mudah diperkirakan beliau akan memperjelas
apa yang secara tertulis telah beliau sampaikan pada MPRS, yaitu Pelengkap
Nawakarsa 1966. Ada tiga (3) faktor yang menyebabkan terjadinya peristiwa.
Pertama, pimpinan PKI telah masuk perangkap. Kedua, neo kolonialisme secara
licik telah melancarkan subversi. Ketiga, terdapat unsur tertentu yang telah
melakukan hal-hal yang salah.
Tentang hal yang pertama tentu akan beliau kemukakan bahwa pimpinan PKI
(Aidit cs) telah terperangkap dengan isu Dewan Jenderal yang hendak
melakukan kup sekita hari ulang tahun ABRI (5 Oktober 1965). Diperkirakan
pimpinan PKI bila kup itu sampai terjadi dan berhasil, kekuasaan presiden
Soekarno tumbang, sekaligus merupakan pukulan berat bagi PKI.
Untuk menghindari pukulan itu, muncul ide "Mendahului daripada didahului".
Pada hal sebelum itu di kalangan pimpinan PKI yang terdapat yalah "memukul
bila dipukul". Tampaknya ide "mendahului" berasal dari orang yang telah
disusupkan ke dalam PKI oleh kekuatan yang hendak melancarkan kudeta. Dan
pimpinan PKI tidak mengetahui kalau mereka telah "didahului" (dimasuki) agen
lain. PKI masuk perangkap.
Tentang hal kedua tentu oleh Bung Karno akan dibeberkan rencana neo
kolonialisme (Inggris-Amerika) untuk menggulingkan kekuasaan Presiden
Soekarno. Baik melalui membantu kaum pemberontak PRRI/Permesta, maupun
mendirikan proyek Nekolim Malaysia. Juga akan dijelaskan adanya
persekongkolan neo kolonialisme dengan orang-orang tertentu di Indonesia.
Juga akan dibongkar kasak-kusuk Duta Besar AS Howard P Jones serta atase
militer AS Kolonel Benson pada MBAD, yang tujuannya untuk mempengaruhi agar
MBAD menolak rencana Presiden Soekarno untuk membentuk Kabinet Nasakom.
Suatu kegiatan subversi untuk mengantarkan kekuasaan Presiden Soekarno ke
bara api, seperti yang dikemukakan Frank Wisner, Deputi Direktur Perencanaan
(CIA? Red.) Kepala Divisi Timur Jauh pada tahun 1956.
Presiden Soekarno tentu juga akan membuka kembali "dokumen" yang beliau
temui pada tahun 1965, yang telah beliau sampaikan pada rapat para Panglima
Daerah Militer. Dokumen rahasia itu berisi rencana untuk membunuh Presiden
Soekarno, Dr.Soebandrio dan Let. Jenderal Ahmad Yani sebelum Konferensi AA
ke-II dimulai. Jika rencana Limited Attach itu gagal juga, maka akan dipakai
cara lain, yaitu dengan jalan membuka rahasia Presiden Soekarno,
Dr.Soebandrio dan Letjen A Yani, terutama rahasia-rahasia pribadi.
Tentang hal ketiga tentu beliau akan jelaskan adanya sementara perwira
tinggi Indonesia yang berusaha menyabot pengganyangan Malaysia dengan secara
diam-diam (tanpa sepengathuan pemerintah RI) melalui perundingan dengan
Malaysia. Usaha menyabot pengganyangan Malaysia diorganisasi oleh kelompok
Soeharto - Ali Murtopo - Yoga Sugama. Usaha penyabotan itu telah dimulai
sejak tahun 1964. Karena mereka tak setuju dengan politik luar negeri
Presiden Soekarno. Kelompok penyabot ini juga yang berperan dalam Peristiwa
G30S ini.
Besar kemungkinan, bila sampai lahir Indonesia menggugat II, yang berisi
gugatan terhadap Orde baru bahwa Jenderal Soeharto-lah yang bertanggungjawab
atas terbunuhnya Jenderal Ahad Yani cs. Sebab beberapa jam sebelum operasi
G30S, jendesoeharto telah diberitahu oleh Kolonel Latief dari G30S bahwa
akan dilakukan operasi terhadap Dewan Jenderal yang akan melakukan kup
tersebut. Ternyata Jenderal Soeharto tidak melarang atau mencegah kelompok
perwira Kolonel Latief meneruskan rencana operasinya. Malahan dengan tenang
Soeharto pergi tidur.
Presiden Soekarno tentu juga akan mengemukakan bahwa Jenderal Soeharto-lah
yang bertanggungjawab atas terbununya ratusan ribu (malah pers luarnegeri
menyatakan satu juta lebih) anggota PKI dan massa yang dianggap bersimpati
pada PKI. Pembantaian massal dilakukan, dimulai dengan hasutan dan fitnah
bahwa PKI telah melakukan penganiayaan yang keji terhadap para jenderal
dengan mencukil mata dan memotong kemaluannya. Fitnahan busuk itu selama
bulan Oktober, Nopember, Desember 1965 dilangsir oleh harian ""ngkatan
Bersenjata", "Berita Yudha" dan harian satelitnya. Pembantaian massal ini
adalah pembantaian terbesar sesudah pembantaian yang dilakukan fasis Jerman
dalam mas perang Dunia II.
Pada hal tim ahli forensik yang terdiri atas dua dokter tentara (di
antaranya Dr. Rubiono Kertopati, pendiri Lembaga Sandi negara Indonesia,
red.) dan 3 orang dokter sipil ahli forensik (yang tertua dokter Sutomo
Tjokronegoro) telah melaporkan pada tanggal 5 Oktober pagi pada Jenderal
Soeharto (menjelang dimakamkan mayat para korban di Kalibata) bahwa tidak
ada tanda-tanda kekejian semacam itu. Bila ada tanda-tanda, tak mungkin
dalam laporannya akan dikatakan bahwa 4 orang di antara mereka pernah sunat
dan yang tiga orang tidak.
Presiden Soekarno tentu akan mengingatkan kembali (bahwa karena beliau muak
melihat hasutan dan fitnahan) maka pada 12 Desember 1965 melalui pidatonya,
telah menegor para wartawan yang menyiarkan berita fitnahan tersebut.
Dengan tegas Presiden Soekarno mengatakan bahwa para dokter yang memeriksa
tubuh para korban telah melaporkan tidak ada kerusakan pada mata dan bagian
kelamin, seperti yang telah disiarkan pers kuning saat itu.
Bung Karno tentu juga akan mengemukakan bukan gerakan Untung yang merebut
kekuasaan dari beliau, tapi justru jenderal Soeharto yang secara merayap
menggulingkannya. Kolonel Untung segera akan menghentikan operasi
militernya, setelah Presiden Soekarno memerintahkan dengan lisan melalui
Brigjen Supardjo untuk menghentikan gerakannya.
Merupakan salah satu puncak tersendiri peryapan perebutan kekuasaan yang
dilakukan jenderal Soeharto melalui "penyerangan" terhadap sidang Kabinet
yang berlangsung tanggal 11 Maret 1966 di Istana Merdeka. Serangan itu
melalui penyusupan pasukan RPKAD dan Kostrad tanpa identitas (dibawah
pimpian jenderal Kemal Idris yang hebatnya, belakangan menjadi tokoh Barisan
Nasional !) ke dalam demonstrasi mahasiswa dan pemuda di Istana Merdeka.
Serangan ke Istana itulah yang kemudian melahirkan Supersemar. Tekanan
Supersemar supaya "secara pasti melaksanakan ajaran Bung Karno", dikentuti.
Yang dilaksanakan justru sebaliknya.
KESIMPULAN
Menurut BBS dalam Swadesi tersebut, Aidit berhasil ditangkap tanggal 22
Nopember 1965 pukul 21.00. Setelah keluar dari tempat persembunyiannya, ia
bilang "Saya menko Aidit". Tapi kata-kata Aidit itu tidak dipedulikan,
samapai akhirnya Aidit dibunuh dan habislah riwayat Aidit. Matinya Aidit
diberitakan koran-koran pada waktu itu dengan riuh rendah. Kolonel Yasir
Hadibroto mengumumkan tewasnya Aidit dengan suasana kemenangan.
Sebab kalau Aidit tidak segera dibunuhnya, tentu juga akan muncul "Aidit
Menggugat II" yang akan menelanjangi bahwa Soeharto lah yang menggunakan
G30S untuk bisa menjadi orang pertama di Indonesia.
"Aidit Menggugat I" juga lahir dari sidang pengadilan, yang isinya menggugat
provokasi Madiun yang dilancarkan Hatta untuk melaksanakan Red Drive
Proposals dari Amerika.
Begitu pula meninggalnya Bung Karno sangat menggembirakan Jenderal Soeharto.
Tak akan ada lagi yang akan membukakan belang Jenderal Soeharto di depan
pengadilan.Bila di kemudian hari ada yang membukakannya, tentu nilai atau
efeknya tidak setajam bila Bung Karno sendiri yang membongkarnya. Bagi massa
rakyat, meninggalnya bung Karno merupakan kehilangan yang besar, yang sukar
didapat penggantinya, sebagai tokoh pemersatu bangsa.
Jelasnya Aidit dan Soekarno tidak diajukan ke pengadilan, bukan karena
"peran mereka" dalam peristiwa, tapi karena "pengetahuan mereka" tentang
peristiwa G30S yang sesungguhnya yaitu G30S/Soeharto.
Mengajuakan Aidit dan Soekarno ke pengadilan bagi Soeharto berarti bunuh
diri! Karena itu Aidit segera dibunuh begitu tertangkap, sedang Bung Karno
dibunuh secara perlahan-lahan melalui berbagai tekanan, baik secara
terang-terangan maupun secara terselubung.

****

Index | Agama | Renungan | Pendidikan | Sosial-Budaya | Politik | Hukum

Sastra | Wanita | Cerita Humor | Dapatkan Beasiswa | Alamat Email Media Masa

KUMPULAN ARTIKEL TENTANG INDONESIA

             
     
             
1