|
satya4ueda moderator |
25 Aug 2002
10:14 [61.94.173.228]    |
![[komentar yang ini]](daa_files/comment.gif) ![[tentang satya4ueda]](daa_files/info.gif) ![[meningkatkan nilai]](daa_files/rateup.gif) ![[menurunkan nilai]](daa_files/ratedn.gif)
|
Re: banyak tuhan di dunia ini.
Namaste, rekan
larealit...
Bagi kami umat HINDU, pertanyaan anda sangat mudah
dijawab oleh kitab suci VEDA :
"EKO NARAYANAD NA DWITYO ASTI
KASCIT" - "TUHAN ITU HANYA SATU DAN TIDAK ADA TUHAN YANG KEDUA"
"EKAM SAT VIPRAH BAHUDA VADANTY" - "TUHAN ITU HANYA SATU, NAMUN
PARA BIJAKSANA MENYEBUT DENGAN BANYAK NAMA"
***Semoga pikiran
jernih datang dari segala arah***
s4u
[ di-edit oleh
satya4ueda - 25 Aug 2002 10:30 ] |
|
dukkha anggota terhormat |
26 Aug 2002
13:39 [203.130.247.27]   |
![[komentar yang ini]](daa_files/comment.gif) ![[tentang dukkha]](daa_files/info.gif) ![[meningkatkan nilai]](daa_files/rateup.gif) ![[menurunkan nilai]](daa_files/ratedn.gif)
|
Re: banyak tuhan di dunia ini.
Buat Sdr. Larealit dan
Sdr. Satya
Menurut pemahaman saya, Tuhan itu berkaitan dengan
kemahasucian. Bukan dengan kemahakuasaan. Apakah individu yang maha suci
itu diberi nama tuhan atau apapun, ini sekedar istilah buatan manusia. Dan
tuhan yg dalam pemahaman ini –maha suci—tak akan goyah oleh pujian –baca:
suapan—maupun celaan. Tak terusik sedikitpun, apalagi sakit hati, marah
ataupun murka dan mengutuk. Ia tidak mengadili. Ia membimbing.
Tapi tuhan dalam pemahaman individu yang Maha Kuasa, ini yang saya
belum bisa pahami. Adanya kejahatan menjadi batu sandungan BAGI SAYA,
untuk memahami ini. (Mungkin bisa disimak komen saya di Thread “Re: Setan
diciptakan Tuhan atau bukan ???????” tanggal 23 Agustus 2002.)
Buat Sdr. Lare, ada tuhan sejati dan ada yang ngaku-ngaku tuhan.
Tentu kita semua paham hal ini. Nah, sekarang gimana caranya kita
memilah-milah itu? Punya
kemampuankah manusia untuk memilah-milah mana tuhan yang asli dan mana yg
sekedar ngaku saja?
Agar tidak disalahpahami, saya tidak ada
maksud untuk menyatakan individu yang bukan tuhan tapi ngaku tuhan adalah
setan iblis atau makhluk yang negatif. Contohnya begini, ketika orang tua
memberitahu pada anaknya yang MASIH KECIL, “Kalau duduki bantal bisa
bisulan”. Orang tua itu sedikitpun tidak punya maksud membodohi atau
menipu anaknya yg dicintainya.
Demikian pemahaman saya, bahwa
semua agama mengajarkan agar kita selamat, jadi orang baik.
Khusus Buat Sdr. Satya
Apakah Sdr. Satya
bermaksud mengatakan semua sebutan Tuhan dalam semua kitab suci menunjuk
pada Tuhan yg satu dan sama?
Saya kutipkan satu uraian (Maaf, saya
edit sedikit –yang italic. Tapi tidak merubah maksud dan isinya.):
Kebenaran yang sesungguhnya itu pada dasarnya
bersifat mutlak, bukan bersifat relatif dan mendua. Tidak dikenal adanya
pelbagai kebenaran menurut versinya masing-masing. Kalau memang benar
bahwa keselamatan hanya dapat diperoleh melalui penebusan Yesus Kristus,
misalnya, ajaran Agama Buddha bahwa diri sendiri adalah pelindung bagi
diri sendiri tentu bukanlah suatu kebenaran. Ajaran Sang Buddha
bahwa pembebasan sejati harus ditempuh melalui pelaksanaan Jalan Mulia
Beruas Delapan tentu bukanlah suatu kebenaran. Tidaklah mungkin keduanya
merupakan kebenaran. Hanya ada satu yang merupakan kebenaran, sedangkan
yang lainnya pasti merupakan ketidakbenaran.
Suatu
kebenaran yang sejati juga tidak akan mengandung pertentangan
(contradiction) satu sama lainnya. “
Lalu mana yg
kebenaran mutlak dan mana yg ketidakbenaran? Inilah yang kita semua cari.
Demikian Sdr. Lare dan Sdr. Satya.
Thanks. |