Download Gratis       Artikel       Terapi Otak       DVD Sulap      Kata Bijak      Hipnotis
REMAJA SULIT MENDAPATKAN PELAYANAN KESEHATAN REPRODUKSI
Kembali ke daftar artikel
GloriaNet - Remaja di Indonesia sulit mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi di klinik karena selama ini pelayanan kesehatan reproduksi cenderung ditujukan bagi pasangan suami-istri.

Padahal, hak remaja atas kesehatan reproduksi sudah diakui secara internasional pada Konvensi Hak Anak tahun 1989.

Guntoro Utamadi dari Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) mengutarakan hal itu dalam seminar "Kesehatan Reproduksi Remaja dan Media" di Jakarta, baru-baru ini.

Menurut dia, ada tiga hambatan yang dihadapi remaja dalam mendapatkan pelayanan kesehatan reproduksi, yaitu dalam hal kebijakan, kegiatan pelayanan, dan perasaan tidak nyaman.

Disebutkan, hukum di Indonesia seolah-olah membatasi akses pemberian pelayanan kesehatan, terutama yang berkaitan dengan komoditas spesifik seperti alat kontrasepsi. Alasan yang kerap diberikan adalah tidak berstatus menikah, belum cukup usia, atau tidak ada izin dari orangtua.

Akibatnya, pelayanan kesehatan reproduksi sering kali menjadi diskriminatif terhadap kelompok remaja. Dari segi pelayanan, yang kerap menjadi hambatan adalah jam pelayanan yang tidak sesuai dengan aktivitas remaja. Apalagi, klinik hanya buka pada pagi hari, sementara kaum remaja saat itu bersekolah.

Selain itu, mahalnya pelayanan dan transportasi juga menjadi hambatan. Perasaan tidak nyaman ketika remaja berkunjung ke klinik juga berpengaruh karena mereka diperlakukan khusus sebagai remaja sehingga timbul rasa takut terhadap orang lain dan malu mengutarakan kebutuhan atau keinginan akan pelayanan kesehatan reproduksi.

"Hak reproduksi itu berlaku bagi setiap manusia tanpa memandang kelompok usia, ras, warna kulit, jenis kelamin, aliran politik, status ekonomi, sosial, dan pendidikan.

Sebagai konsekuensinya, remaja juga berhak mendapat pelayanan reproduksi sebagaimana kelompok umur yang lain," ujar Guntoro.

Butuh Pendampingan
Menurut Guntoro, sebagian besar remaja sekarang berperilaku seksual yang berisiko tinggi. Namun, perempuan lebih rentan terhadap berbagai risiko dan kerugian dari perilaku seksual tersebut.

Risiko kehamilan, aborsi, dan infeksi menular seksual (IMS) lebih banyak diderita perempuan.

Padahal, perempuan tidak berani berkata tidak, terpedaya rayuan, khawatir ditinggal pacar dan seterusnya.

Karena itu, remaja perempuan perlu meningkatkan kesadaran akan tubuh sendiri dan meningkatkan pemahaman bahwa tubuhnya adalah milik dan tanggung jawabnya.

Kemampuan berkata tidak yang sering kali berhubungan erat dengan rasa percaya diri harus selalu dilatih. Untuk itu, remaja laki-laki juga harus menghormati perempuan.

"Sudah waktunya tidak menutup mata dan berpura-pura tidak melihat apa yang terjadi di antara remaja. Perlu diterima kenyataan bahwa remaja butuh informasi pendampingan dan pendidikan yang baik tentang kesehatan reproduksi dan seksualitas serta pelayanan yang ramah terhadap remaja," tegas Guntoro.

Dijelaskan, dari kasus yang masuk ke PKBI, ternyata permasalahan remaja, terutama yang berkaitan dengan seksualitas, sudah mencapai risiko tinggi.

Walaupun kasus-kasus seperti kehamilan yang tidak dikehendaki, HIV, dan IMS bukan kasus terbanyak, jumlah remaja yang mengalami hal-hal itu merupakan fenomena gunung es. (GCM/SP)

http://www.glorianet.org/mau/serabi/serasuli.html

Downloand Gratis di Sini!

           
   
           
1