|
sudah kubilang,
aku paling alergi pada kisah-kisahmu
tak jauh dari ranjang, selimut, telanjang
dan satu telah kaujuduli
"Atas Nama Cinta"
atas nama cinta?
bergumul birahi dalam selimut tak resmi
itu kau sebut atas nama cinta?
bahkan kisah masih berisi soal Adam, Hawa
penciptaan dan kiamat
aduh aduh, dewi cantik
cinta, birahi, nafsu, bagaimana bisa bersatu dalam selimut
lengkap dengan ketelanjangan sepasang manusia
tanpa ikatan sakral, kehalalan yang legal
sedangkan Tuhan, malaikat dan setan menyaksikan?
apakah aku sok moralis, duhai dewi?
bukan soal hitam putih moral begitu
tapi tentang kepada siapa saja
kisahkisah kita akan dibaca
mungkin oleh ayah, ibu, kakak, adik
anak, keponakan
tetangga, rekan kerja, atasan
imam, tetua kampung
apakah kau tak ingin kisahkisahmu dibaca mereka?
bukankah kau pun ingin dipuji atas karyamu?
bukankah pujian banyak kalangan itu sangat menyenangkan?
aduh aduh, dewi jelita
kau masih belum sadar,
lelakimu yang meninggalkanmu
adalah prototype sebagian lakilaki
yang pergi setelah mencicipi manis madu bunga kaummu
dan tak pernah lagi sudi menghargai kaummu sebagai perempuan
menjunjung harkatmartabat perempuan sebagai puncak keindahan
karena cinta dan nafsu sesungguhnya berbeda muasal
namun kau masih saja salahkan lakilaki
apakah kau masih belum sadar,
sebagian lakilaki lebih berani melangkahi akad nikah
mengkhianati janji pada Tuhan di hadapan para saksi
daripada harus menahan amukan birahi pada perempuan lain
setelah jenuh dan jengah pada pasangan sahnya
tanpa cinta, ikatan jiwa hanya angin lewat
tiada cinta yang terikat kawat syahwat
lalu kini, melalui kisahkisahmu yang beraroma ranjang itu
seolah kau tawarkan lagi bungamu pada lakilaki lain
-- ndilalahnya pada aku! ---
dan berharap lakilaki itu sudi datang dan menetap tinggal di dalamnya
bermimpi memang boleh
berharap pun memang lumrah
tapi bagaimana jika lakilaki itu pun hanya mau
sejenak menelan ketelanjanganmu
lantas bergegas dengan bejibun alasan
-- sebab api birahi itu membakar sesaat --
hingga akhirnya lagilagi kau kecewa pada laki-laki
aku tidak tahu
apakah aku harus mengulang
membilang padamu soal kisah-kisahmu selanjutnya
entah atas nama cinta, daya cipta,
atau atas nama apa saja pembenaran itu
hanya kuminta,
atas nama cintakasihsayang sesama manusia
jauhkanlah aku dari ranjangmu, selimutmu, telanjangmu
agar aku tak terseret hingga tersesat
garagara api birahi dalam gelap jiwaku
tersiram minyak kisahkisah aduhaimu
lantas memberanguskan aku dalam api neraka
kekekalan yang tak akan tersesali.
* * *
|