HOMESICK
“Kalau
nanti kalau jadi berlibur ke Bali, kamu harus hati-hati, jaga diri,
dan jangan sering-sering bepergian malam.” nasihat mom pada
Shannon. Nasehat itu terus mom ulangi sampai Shannon sendiri bosan
mendengarnya, padahal liburan ke Bali masih dua minggu lagi. Sepertinya
Mom tak suka dengan rencana Shannon untuk berlibur ke Bali bersama
teman-teman barunya.
“Mom, aku kan sudah besar sekarang. James saja usianya tiga
tahun di bawah usiaku, tapi mom tak pernah memperlakukannya seperti
mom memperlakukanku. Mom tidak perlu khawatir, aku sudah 16 tahun
dan sudah pandai menjaga diriku sendiri.” Protes Shannon bersungut-sungut.
Mom tersenyum melihat kemarahan Shannon.
“James itu laki-laki dan kamu perempuan.”
“Lalu apa bedanya dengan itu, Mom. Apakah karena itu Mom tidak
pernah membiarkan aku bermain-main di masa remaja seperti James
dan Ralph.”
“Perempuan memang berbeda dengan laki-laki. Tapi bukan berarti
diskriminasi gender lho. Hanya saja Perempuan harus lebih hati-hati
terhadap semuanya.” Mom malah semakin lancar memberi petuah.
“Jadi, Mom mengijinkan Shannon berlibur ke Bali tidak?”Tanya
Shannon marah. Gadis remaja berusia 16 tahun itu mulai merasa diperlakukan
tidak adil oleh Mom.
“Tentu saja boleh asal….”
“Mom, selalu saja mengijinkan dengan berbagai syarat.”
Potong Shannon sedikit membentak. Mom membenamkan kepala Shannon
ke dadanya. Mom tahu Shannon begitu berani, keras kepala, dan selalu
minta diperlakukan sama dengan kakak dan adiknya yang semuanya laki-laki.
“Tentu saja begitu, karena Mom takut terjadi sesuatu padamu.”
Kata Mom, sambil mengeluarkan sebuah benda dari tasnya. Apa itu?
Oh..God, Mom membelikan semprotan lada untuk Shannon.
“Tapi Mom tak pernah memberikan syarat apapun pada James dan
Ralph kalau mereka pergi jauh. Kalau tahu begini kenapa Mom tidak
lahirkan aku sebagai seorang laki-laki saja.” Shannon semakin
marah saat semakin yakin yang dikeluarkan Mom dari tas adalah benar-benar
semprotan lada.
“Sayang, ada kalanya seorang perempuan itu tidak boleh bersikap
sebagai laki-laki dan seorang laki-laki adakalanya tak boleh bersikap
seperti seorang perempuan. Namun menjadi seorang laki-laki maupun
menjadi seorang perempuan memiliki hal-hal yang harus disyukuri.
Suatu saat nanti kamu akan memahami benar mengapa Mom lahirkan kamu
sebagai seorang perempuan. Tidak seperti James dan Ralph.”
Ujar Mom panjang lebar. Shannon tetap tidak memahami Mom. Shannon
hanya berpikir Mom pilih kasih, jahat, dan tidak bisa membiarkannya
merasa gembira.
“Lalu untuk apa semprotan lada itu, Mom?” Tanya Shannon
“Semprotan lada. Mom ingin memberikan ini untukmu, untuk jaga-jaga.”
Rasanya Shannon ingin berteriak mendengarnya. Apakah Mom tidak mempercayainya
dapat menjaga diri sendiri sehingga harus memberikan semprotan lada,
padahal Shannon sudah bersabuk hitam untuk karatenya.
“Mom, jahat!” teriak Shannon lalu berlari ke kamar dan
bruk dibantingnya pintu kamar. Mom hanya menggeleng.
***
Hari
ini Shannon berangkat ke Bali. Mom masih sibuk dengan berbagai bekal
yang harus Shannon bawa. Mulai dari mantel, topi, kacamata, dan
berbagai makan ringan. Mom benar-benar memperlakukannya seperti
anak 7 tahun.
“Mom, untuk apa mantel? Di Bali kan panas” Shannon kembali
protes.
“Ini untuk jaga-jaga” jawab Mom sambil terus merapikan
koper.
“Jangan lupa Mom bawakan juga tisu, agar tidak repot saat
Shannon menangis karena homesick” ejek James yang sedari tadi
memperhatikan mereka. Shannon memukul lengan James gemas.
“Aku gak bakalan homesick” ujar Shannon yakin
“Sudah, jangan berantem. Shannon memang tidak mungkin homesick,
James. Ini adalah liburan pertama yang diidam-idamkannya. Berlibur
bersama teman-teman, pasti akan membuat Shannon melupakan kita.
“ mata mama memandang Shannon sekilas. Tentu saja, Mom. Shannon
tak tahan dengan berbagai peraturan Mom, berbagai larangan Mom,
berbagai nasehat Mom. Shannon merasa semua yang dilakukan Mom telah
membuatnya bosan dan ingin secepatnya pergi dari rumah.
Suara deru mobil di luar mengagetkan…
“Shannon…Shannon…” panggil sekumpulan anak
remaja di luar.
“Nah, teman-temanmu sudah menjemput. Cepat berangkat nanti
ketinggalan.” Shannon mengecup pipi Mom, serta menjitak kepala
James.
“Awas ya..” kata James sambil terus mengejar Shannon.
“Bye, Mom” riang benar suara Shannon. Tangannya menjulur
dari jendela mobil dan tidak berhenti melambai ke arah Mom dan James
hingga ditelan tikungan blok.
***
“Bali,
I’m coming…” teriak Shannon gembira begitu melihat
daratan Bali dari kapal laut.
“Wah, lu seneng banget ya bisa ke Bali. Biasanya lu kan selalu
diapit keluarga.” Komentar Sean
“Yap, aku memang sangat gembira bisa berlibur bersama kalian.
Mom akhirnya mengijinkan aku pergi, setelah aku lama memaksa. Tapi
Mom tetap saja memperlakukanku seperti anak kecil. Petuahnya terus
diulangi berkali-kali. Aku sampe bosan.” Ujar Shannon sambil
membayangkan wajah Mom yang cerewet dan sangat protector.
“Mom bilang aku harus bersikap layaknya sebagai seorang perempuan,
bukan seperti James ataupun Ralph.”
“Memangnya ada perbedaan antara anak laki-laki dan perempuan?”Tanya
Cary nimbrung.
“Mom bilang, ada. Tapi sudahlah lupakan sejenak nasehat Mom.
Aku ingin bersenang-senang.” Shannon memasang topi yang disiapkan
Mom di tas.
Mobil yang ditumpangi Shannon melaju dengan kencang. Shannon, Sean,
Cary, Jack, Cassy, Joey, dan Lulu bernyanyi menirukan lagu Britney
Spears yang diputar dengan volume memekakkan telinga.
“Hei, lihat. Pemandangan laut udah mulai terlihat. Berarti
Kuta sebentar lagi ya?” Tanya Shannon bloon.
“Enak aza. Butuh waktu satu setengah jam lagi untuk sampai
Denpasar. Kita kan harus ke rumah sepupuku dulu disana, biar bisa
menginap gratis.” Ujar Carry
“Oh ya, aku tak tahu rencana ini. Bukankah kita akan menginap
di Hotel?” Tanya Shannon.
“Rencana berubah. Sepupuku sedang berlibur ke Texas. Dia memperbolehkan
kita menginap di sana.” Jawab Carry.
“ Dan jangan lupa kita bisa makan enak dan bisa menghirup
ini.” Sean menunjukkan sebuah plastik berisi serbuk berwarna
putih.
“Apa itu?” mata Shannon terbelalak. Kalau tidak salah
itu serbuk..
“Ini heroin, nanti gue ajarin lu pakenya.” Jawab Jack
sambil menyenggolkan tanggannya ke pinggang Shannon. Shannon jadi
merinding melihat wajah teman-temannya yang berubah menjadi jahat.
Sepanjang perjalanan menuju rumah sepupu Carry, Shannon terdiam.
***
“Shannon,
lu mau ikut gabung di kamar gua? Aku dan teman-teman akan memakai
Heroin.” Ajak Carry. Shannon menggeleng pelan.
“Bener nih lu gak mau coba?” Tanya Carry tidak menyerah.
Shannon menggeleng lagi. Tiba-tiba saja dia teringat pada Mom. Mom
benar, tak seharusnya dia pergi. Mereka adalah teman baru yang belum
lama dikenal Shannon. Baru setengah tahun saja Shannon bergabung
dengan perkumpulan mereka, tapi Shannon sudah memaksa Mom untuk
membiarkannya berlibur. Mom benar, tak seharusnya dia berangkat.
Maafkan Shannon, Mom. Seharusnya Shannon mengikuti nasehat Mom.
Dan air mata Shannon jatuh perlahan, dia merasa homesick.
For my little brother “Agung” Jangan pernah menyerah
pada hidup.
|