Aku
Bukan Pilihan
Nyaris
saja aku bertabrakan dengan cowok keras kepala di kampusku ini setelah
matanya yang jelalatan sedang memandangi cewek cantik di ujung ruangan.
'Ups..sorry...'ujar Randal meminta maaf.
Sepertinya memang hanya kepadaku Randal bisa sedikit sopan, entah
kenapa, yang jelas si Be-Randal ini paling suka berbuat onar dan
gonta ganti cewek.
'It's oke..'jawabku dingin. Satu yang aku tahu kenapa dia begitu
menghormatiku karena aku memang tak pernah berusaha mengenalnya
seperti yang lain, aku cuek dan tidak peduli akan keberadaannya
yang begitu mencolok dibandingkan yang lain, kepopuleran Randal
tidak membuatku simpatik apalagi jatuh hati.
Satu yang membekas dalam ingatanku adalah saat sahabatku, Louge
menjadi pacarnya selama tiga bulan dan kemudian mendapatkan sakit
hati karena dikhianati Randal yang memiliki selingkuhan dengan cewek
baru di fakultas lain. Lauge sangat mencintai Randal, dan Randal
mendepaknya tanpa perasaan.
'Lupakan dia..'nasehatku pada Lauge, Lauge hanya menangis sambil
memelukku, mencurahkan perasaannya yang telah hancur, 'Aku yakin
kamu akan mendapatkan yang lebih baik dari sekedar buaya darat macam
dia.' lanjutku sambil membelai rambut Lauge yang panjang. Lauge
gadis yang baik dan manis, tega-teganya Randal mengkhianatinya seperti
ini.
'Tapi aku tak sanggup terus melihatnya bermesraan dengan pacar barunya,
aku merasa terhina dan marah.'
'Lalu, apa kamu akan mengusirnya dari sini. Dia kan sekolah di sini,
begitu pula dengan pacar barunya itu.' Lauge masih terisak, aku
menangkap ada sesuatu yang akan disampaikannya.
'Aku akan pindah kuliah ke universitas lain' ujarnya mantap.
'Kamu gila apa? Masa gara-gara dia kamu rela mengorbankan kuliah
dan uang. Hei...pikir dulu sebelum memutuskan itu, pindah universitas
tidak gampang dan itu perlu uang lagi..'
'Gak masalah, yang penting aku bisa menghindarinya...'rupanya keinginan
Lauge sudah bulat.
'Memangnya kenapa sih kamu bisa begitu kehilangan dia? Forget that
bad man..ur wonderfull girl whose i know in my life, jadi jangan
kalah hanya karena dia...'Lauge menggelengkan kepalanya.
'Aku harus pergi, daripada kuliahku berantakan karena kehilangan
konsentrasi, Kamu sendiri tahu Randal adalah satu-satunya lelaki
yang berhasil membuatku jatuh cinta, dia cinta pertamaku dan dia
juga yang membuatku hancur setelah menawarkan banyak mimpi indah
padaku'
'Brengsek dia...'
'Oh,Jess..kamu tak perlu membencinya, biar aku saja yang benci padanya.
Actually, Randal sebenarnya cowok yang menyenangkan untuk menjadi
teman.' Lauge masih juga memuji si Be-Randal itu, amit-amit deh
kalau aku jadi temannya.
Akhir Lauge memang pindah dari sini, dan aku masih juga memandangi
Randal dengan marah.
'Kalau boleh tahu, Lauge sekarang kuliah dimana?' tanya Randal suatu
pagi setelah keenambulannya Lauge pergi.
'Rasanya aku tak perlu memberitahukan dia dimana, itu tidak penting
buatmu.' ujarku judes.
'Ya itu memang tidak penting, karena yang terpenting adalah kamu
bisa bersikap baik padaku.' ujarnya enteng.
'Aku bersikap baik padamu, kenapa? Rasanya aku juga tidak penting
untuk berbuat itu.'
'Aku hanya ingin jadi temanmu.'
Aku tersenyum sinis,'Maaf, aku tak punya waktu untuk berbasa-basi.'
lalu aku pergi meninggalkannya.
Tapi entah kenapa sejak itu Randal menjadi sering mendekatiku, walaupun
hanya sekedar menanyakan kabar. Randal just Berandal for me..nothing
special..itu sebabnya aku menganggap basa basinya sangat murahan,
atau aku merasa sikapnya telah menggangguku..
'Jess..aku hanya ingin berteman denganmu..'
'But i dont like to be ur friend..sorry..'aku mulai menolaknya,
kakiku semakin cepat melangkah meninggalkan Randal.
'Jessminda...'teriak Randal, aku kaget mendengar Randal memanggil
nama lengkapku, aku menoleh padanya.
'What?...jangan ganggu aku, please..' ujarku sambil membelalakkan
mata.
Randal berlari ke arahku, 'Kenapa kamu tidak pernah mempedulikan
aku.?'
'Lalu, kenapa kamu mempedulikan aku, hah! Pedulikan saja cewek-cewek
yang mengelilingimu dan ingatkan aku bahwa aku bukan salah satu
dari mereka, sampai kapanpun. Dan sekarang jangan ganggu aku lagi!'
'Hei, apakah kamu cemburu dengan mereka?' tiba-tiba tatapan Randal
berubah meredup, aku melihatnya sebagai tatapan menang. Enak saja
dia bicara. Dia pikir siapa dirinya itu, Arjuna! Bukan , dia tak
lebih dari seorang berandal.
'Cemburu! Jangan GR kamu...mana mungkin aku cemburu sama mereka
hanya karena seorang Randal.' aku tertawa mengejeknya.
Dan raut wajah Randal memerah bak kepiting rebus, mungkin saja dia
tersinggung dengan ucapanku, tapi aku tak peduli. Kenapa aku mesti
peduli pada perasaannya sedangkan dia sama sekali tidak mempedulikan
banyaknya hati yang kecewa karena rayuan gombalnya. Randal akhirnya
meninggalkan aku dengan langkah gontai, aku tak peduli karena aku
tak mau menjadi salah satu cewek dari sekian banyak cewek yang dipermainkan
olehnya.
***
Aku kira penolakan itu benar-benar akan membuatnya menjauhi aku,
ternyata Randal justru semakin gencar memperhatikan aku terlebih
saat aku mulai disibukkan dengan berbagai kegiatan final karya tulis
di kampus, Randal malah menawarkan bantuannya untuk membantuku menulis
atau memfoto copy materi kuliah yang tertinggal.
'Ini materi saat kamu gak masuk kuliah.' Randal menyerahkan satu
map penuh berkas kuliah.
'Itu tidak perlu, Marisa sudah membantuku.' tolakku tanpa memandangnya,
ah sudahlah, Randal sebenarnya tak perlu bersikap seperti itu padaku,
itu tidak akan membuatku menyukainya.
'Jadi, kamu menolak bantuanku?'tanyanya.
'Sudah tau nanya, aku kan sudah bilang aku tidak mau jadi temanmu.'
'Apalagi pacarku?' hah, pacar....
'Jangan mimpi....'apa-apaan ini, Randal menyebut-nyebut pacar, dasar
cowok gak tahu diri, sudah ditolak masih juga nyosor.
'Jessminda, tolong perhatikan aku sebentar saja.' Randal memaksaku
menatapnya, dia menarik bahuku agar berhadapan dengannya.
'Hei, siapa yang mengijinkanmu menyentuhku!' teriakku marah.
'Maaf...' Randal melepaskan pegangannya. ' Aku hanya ingin menjadi
temanmu, ' lanjutnya.
'Aku tidak ingin menjadi temanmu, karena kamu bukan orang yang menyenangkan
buatku, apalagi kamu sudah membuat Lague terluka.' ujarku lantang.
'Jess, aku tahu kamu marah padaku dan mungkin sudah lama kamu tidak
menyukaiku. Tapi sungguh, sekarang aku mengakui semua kesalahan
itu, aku telah memanfaatkan mereka yang menyukaiku.'
'Lalu kamu berharap aku akan menyukaimu, tidak akan pernah.'
'Maafkan aku, Jess. '
'Kamu tak perlu meminta maaf padaku, apapun yang kamu lakukan bukan
urusanku..'
'Jess..berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya...karena
kamu berbeda dengan yang lainnya..'
'Kesempatan! memang sejak kapan kita pernah bersama?'
'Kesempatan untuk mengenalku, berikan kesempatan untukku mengenalmu.'
'Maaf aku sibuk...Hei, Marisa...' untunglah Marisa cepat datang,
kalau tidak, entah kalimat apa lagi yang akan aku keluarkan untuk
menyakitinya.
Aku langsung melesat meninggalkan Randal dan berlari menuju Marisa.
'Aku rasa beberapa minggu ini Randal aneh..'komentar Marisa.
'Kenapa memangnya?' tanyaku sedikit penasaran
'Dia sekarang berani menolak fans-fansnya, dan dia memutuskan Friska.'
aku terbelalak mendengar ucapan Marisa. Oo...
'Dan dia sekarang rajin banget cari informasi tentang kamu, tumben
banget kan?..' aku tak berkomentar apapun mengenai itu, rasanya
aku juga tak perlu mengatakan pada Marisa kalau Randal sekarang
memang sangat memperhatikan aku.
'Kupikir, ada satu alasan mengapa dia begitu...' Marisa tak melanjutkan
'Apa?..'
'Randal jatuh cinta sama kamu...' what? Konyol sekali itu.....
'Gak mutu sekali...' sungutku
'Kenapa gak mutu? Itu haknya dia kan jatuh cinta sama kamu?' jujar
Marisa.
'Dan dari sudut mana kamu bisa mengatakan itu?'
'Randal sendiri yang mengatakan itu padaku.' hei, kurang ajar sekali
kecoa itu sampai bergosip dengan Marisa. Mungkin Randal berani mengatakan
itu karena setelah Lague pergi, Marisa adalah satu-satunya teman
dekatku.
'Kapan?'
'Waktu kamu lagi final Karya tulis di Bogor, Randal menceritakan
semuanya sama aku. Dia jatuh cinta sama kamu karena kamu berbeda
dengan yang lain, kamu selalu membuatnya merasa menghargai dengan
semua kelebihan dan ketegasan kamu, dan satu lagi dia begitu mengenal
kamu dari cerita Lague, dia merasa kamu berbeda, Dan apa kamu juga
tahu kalo Randal memutuskan Lague agar dia juga bisa melupakan kamu?'
'Kamu percaya omongannya. Dont believe that! Randal cuma seorang
kecoa buatku, dia tak bisa kupercaya.Aku takkan pernah mempercayainya.'
'Jika apa yang dia lakukan tidak pernah kamu hiraukan, lalu apa
sebabnya kamu begitu membencinya? Apakah hanya karena Lague atau
kamu sebenarnya mencintainya juga?'tembak Marisa.
'Aku benci dengan ulahnya, mempermainkan perasaan cewek seenak perutnya
sendiri. I hate that guy a lot!' ujarku lantang.
'Aku gak peduli kalau kamu membenciku tapi aku memang benar-benar
mencintaimu.' tiba-tiba suara Randal hadir diantara kami.
'Aku sudah mendengarkan percakapan kalian, dan aku tahu sebesar
apa kamu membenciku.' lanjut Randal sambil mendekatiku...
'Oh, aku mau pesan bakso dulu ya?..'ujar Marisa hendak meninggalkan
kami.
'Ya, aku memang mau bicara dengan Jess sendiri.'
'Biarkan Marisa di sini.' pintaku, tapi Marisa sudah kabur meninggalkan
kami.
Randal menatap mataku, jantungku mulai berdebar...aku takut tatapan
itu membuatku gentar untuk menolaknya. Harus aku akui ucapan Marisa
benar, aku sebenarnya mencintainya, tapi karena keegoisanku aku
tak bisa memperhatikannya, aku berusaha melupakannya dengan mengingat
hal-hal yang buruk tentangnya.
'Aku menyanyangimu, Jess...'
'Lalu...' aku bersikap acuh tak acuh
'Aku ingin menjadi orang yang berbeda sekarang, mungkin kamu adalah
cewek paling tepat untukku agar aku bisa berubah.' ujarnya sambil
merengkuh tanganku, aku berusaha menolak genggaman tangannya, tapi
tak bisa..jantungku makin berdebar dan itu membuatku lemas..'Katakanlah,
apa kamu mencintaiku juga?' lanjut Randal, aku menghembuskan nafas
panjang...apa yang harus aku jawab.
'Aku tahu Jess, kamu mencintaiku juga...bolehlah kamu bilang aku
GR tapi aku tahu itu, dan karena Laguelah kamu mencari cara untuk
melupakan aku.'
'A..a..aku...' mulutku seperti terkunci.
'Ya?..'mata Randal membulat, sepertinya dia ingin kejujuran itu
keluar dari mulutku.
'Baiklah, jika kamu tak ingin menjawabnya sekarang, aku akan menunggumu..'ujar
randal bijak.
'Kamu tak perlu menungguku Randal...'akhirnya aku bisa juga ngomong,
'Karena aku bukan orang yang tepat untukmu walaupun kamu merasakan
akulah yang tepat untukmu.'lanjutku.
'Kenapa?'
'Karena kita takkan pernah cocok.'
'Give me the reason why?'
'Entahlah, aku hanya ingin menikmati hidup ini tanpa masalah.'
'Kamu pikir berhubungan denganku akan membuat banyak masalah buatmu?'aku
menggeleng.
'Sudahlah, kita takkan pernah cocok, aku memang mencintaimu, Randal
tapi itu sudah berakhir...'
'Benarkah ? Jadi sekarang kamu tidak mencintaiku lagi?'
Aku menggeleng, 'Aku hanya merasa aku bukan orang yang tepat untukmu.'
'Berikan kita kesempatan untuk saling mengenal.'
Sekali lagi aku menggeleng, ' Lupakan aku, dan kita jalani kehidupan
kita masing-masing. Aku yakin kamu akan mendapatkan orang yang benar-benar
tepat untukmu.'
Bola mata Randal berair, kali ini hatinyalah yang hancur.
'Maaf, aku harus pergi.' pamitku sambil membereskan buku yang berserakan.
'Jess, aku cinta kamu.' Kali ini aku memberikan senyum untuknya,
senyum yang sejak lama ingin aku hadiahkan untuk satu-satunya laki-laki
yang membuatku jatuh cinta. (Untuk sahabatku, Ari M Rivai...aku
yakin kamu akan menemukan orang yang tepat untukmu.)
|