|
Dikutip
dari Harian SIB,
03 Oktober 2001
|
Kabanjahe (SIB)
Kebutuhan benih kentang bermutu untuk daerah Sumut dan masyarakat Karo khususnya belum terpenuhi sehingga perlu dilakukan pengembangan ataupun pemuliaan benih tanaman kentang agar produksi tercapai.
Untuk pengembangan benih kentang yang berkualitas di Sumut telah dilakukan kerja sama Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Jepang yang dilaksanakan JICA (Japan International Cooperation Agency). Provinsi Sumut merupakan salah satu pengembang kentang di Indonesia yang mengambil lokasi di Balai Benih Induk Hortikultura (BBI) Kutagadung, Berastagi.
Demikian dikatakan Ir. Lukmanul Hakim Dalimunthe Kepala Unit Pelaksana Teknis Balai Benih Induk (UPT.BBI) Hortikultura Kutagadung didampingi stafnya Ir.Lambok Turnip kepada SIB, Rabu (26/9) di ruang kerjanya.
Lukman menjelaskan kebutuhan benih kentang yang varitasnya unggul serta bermutu dari tahun ke tahun terus meningkat sejalan luas tanaman dan intensifikasi. Sehingga untuk memasyarakatkan benih kentang yang bermutu kepada petani harus didukung wawasan dan pengetahuan yang mendalam maupun pengawasan benih kentang. Produksi kentang di Sumut masih kurang untuk memenuhi kebutuhan Provinsi Sumut serta kebanyakan masih impor dari Belanda, Jerman, dan Australia," tegasnya.
Ia memaparkan dalam kegiatan kerja sama ini dengan pihak Jepang dikembangkan varietas Granola. L (G), karena masyarakat petani lebih mengenal jenis tersebut karena banyak dikonsumsi masyarakat dan untuk kebutuhan non industri, tegas Lukman.
Dalam pengembangan benih kentang, ucap Lukman diperoleh bibit kentang Granola (GO) dari BBI Kentang Pengalengan Provinsi Jawa Barat sebanyak 15.000 knol setiap tahun untuk dikembangkan di Screen House (SH) menjadi benih kentang G1.
Ia menambahkan benih kentang G1 yang diproduksi di BBI Hortikultura Kutagadung, Berastagi Kab Karo produksinya 50% ditanam kembali di lahan BBI Kutagadung, Berastagi untuk menghasilkan benih kentang G2. Sedangkan 25% didistribusikan ke Provinsi Sumatera Barat dan Jambi.
Setelah itu, benih kentang G2 yang ditanam selama ± 100 hari akan memproduksi benih kentang G3 yang siap disalurkan kepada penangkar kentang/petani di Sumut khususnya masyarakat Karo di mana petani/penangkar kentang terlatih.
Pada saat penanaman benih kentang G3 di lapangan dan direncanakan pada bulan Nopember 2001 akan dipanen dengan produksi 12-26 ton/Ha sehingga petani penangkar kentang yang berminat akan dapat bertanam pada bulan Maret/April 2002 dari produksi kentang BBI Hortikultura Kutagadung, ujarnya.
Dengan adanya varitas unggul dan alur benih yang jelas merupakan faktor penentu dalam sistem agribisnis dalam peningkatan produksi kentang di Provinsi Sumut serta mengurangi benih/bibit palsu dan benih/bibit kadaluarsa yang beredar di pasaran," ujarnya.
(C6/r)
|